Buku "Bagaimana Menyentuh Hati"

Silakan download buku "Bagaimana Menyentuh Hati" karya Syaikh Abbas As-Siisi di sini.
Semoga bermanfaat...

Kitab Tauhid

Anda bisa mendownload Kitab Tauhid berikut ini:
  1. Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad At-Tamimi (pdf)
  2. Kitab Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab (help)
Semoga bermanfaat...

Thoghut Fasilitas

Akhir-akhir ini aliran listrik sering mati, sepertinya terjadi di berbagai tempat hingga banyak demonstrasi terjadi untuk memprotes kebijakan PLN. Pemadaman bergilir, pemadaman tiba-tiba dengan alasan penurunan pasokan ato perbaikan mengesalkan berbagai kalangan dari rumah tangga sampai industri dan bisnis yang memanfaatkan listrik sebagai bahan proses produksi. Bagaimana dengan anda? Ato para mahasiswa yang memerlukan listrik untuk menyalakan komputer?

Mungkin terlalu berlebihan tapi juga mungkin bisa menjadi bahan renungan bahwa sadar tidak sadar kita sudah menggantungkan diri pada selain Alloh.Tanpa listrik kita berhenti beramal, berhenti berkarya dan sebagainya. Bukan berarti ingin menyatakan bahwa PLN tidak perlu ditegur atas kurangnya pelayanan, hanya sekedar mengajak introspeksi hati. Di mana hati kita bergantung?

Seorang penulis yang begitu produktif dengan laptop senantiasa di sisi, apakah juga akan seproduktif itu jika hanya disanding kertas dan pena? Masa lalu telah mengajarkan banyak hal, pelepah kurma, kayu, tulang, batu, dinding penjara, dan banyak lagi media saat itu dengan berbagai keterbatasannya yang tidak menghalangi produktivitas menulis.

Kendaraan yang senantiasa menemani aktivitas dakwah, apakah rusak ato hilangnya menjadikan kita henti dakwah? Pengalaman mengajarkan bahwa sesungguhnya pesawat, kereta, mobil, motor, sepeda, bahkan kaki tak terlalu berpengaruh dalam pencarian sebuah hadits atau satu bidang ilmu di masa lampau. (Hiks... T_T jadi inget pas gak datang kajian karena gak punya bensin...)

Handphone yang selalu bisa menghubungkan kita dengan kolega dakwah, apakah lowbat atau lowpulse-nya menjadikan kita tak lagi gencar berkoordinasi? Bukankah pada awal abad ke-20 sampai menjelang abad ke-21 para aktivis dakwah berkomunikasi belum seintensif saat ini kala handphone dan internet semakin jamak? Dengan fasilitas minimalis mereka mampu menghasilkan karya yang menyejarah. Abad-abad sebelumnya? Jauh lebih minimalis.

Cukup, rasanya beberapa contoh di atas sudah cukup untuk mengingatkan kita agar tidak terjebak oleh kenyamanan fasilitas. Kalaulah hal itu menjadikan urusan kita mudah, alhamdulillah. Jikalau ketiadaannya menjadikan urusan kita kembali sulit, tetap alhamdulillah. Semoga hati kita senantiasa bergantung dan berharap hanya pada Alloh. Ada atau tiada fasilitas, selamat berkarya dan tetap semangat... :D

Wallohu almusta’an...

Tashfiyah dan Tarbiyah

Jika ingin luka kita cepat sembuh dan tidak mengalami infeksi atau komplikasi, sebelum dibalut dan diobati luka tersebut perlu dibersihkan dulu. Ya, agar pengobatan tidak sia-sia karena infeksi sekaligus medikasi tidak mungkin berjalan beriringan. Begitulah pula syirik dan tauhid tidak mungkin berdamai.

Tauhid baru akan tegak setelah kita menghapus semua syirik. Ini yang dimaksud tashfiyah dan tarbiyah. Keduanya harus dilakukan, tashfiyah sebagai proses penyucian dari segala bentuk syirik dan tarbiyah sebagai pembinaan tauhid. Belum disebut tauhid jika masih ada syirik.

Kita bisa membersihkan air keruh dalam sebuah gelas dengan terus-menerus menuanginya air jernih hingga luber dan air menjadi jernih atau membuang dulu air keruh kemudian menggantinya dengan air jernih. Yang jelas harus ada proses pembuangan kotoran dan pengisian air jernih, tidak bisa hanya salah satu. Tashfiyah dan tarbiyah tidak bisa dipisahkan.

Laa ilaaha illalloh bermakna menafikan segala sesembahan dan menetapkan bahwa hanya Alloh yang haqq untuk disembah. Bersihkan syirik, bangun tauhid. Syahadat kita tidak sah ketika kita mengaku menyembah Alloh namun masih menyembah selain-Nya. Semestinya ani’budulloha wajtanibuththoghut, menyembah hanya pada Alloh dan menjauhi thoghut.

Allohu akbar! Semoga syahadat kita tak hanya sampai di tataran akal tapi benar-benar menghujam di hati dan terwujud dalam amal. Laa haula wa laa quwwata illaa billah...
Allohu a’lam...

Cinta Ketujuh ^_^

Kata cinta selalu saja membuat pendengarnya merasa aduhai, tiba-tiba emosional, romantis, dan selalu ingin menebarkan kebaikan, bukan begitu? Kata yang menjadi strategi marketing Azzam dalam novel dan film KCB itu nampaknya benar-benar ampuh. Dengan brand “Bakso Cinta” tersentuhlah sisi sensitif anak muda khususnya mahasiswa sehingga hati mereka tergerak untuk mencicipi kelezatan bakso yang diramu oleh sang tukang tempe.

Saran bagi anda yang sedang mencari brand perusahaan atau produk, carilah merek dan logo yang “menyentuh”. Tidak harus cinta, kata tak bermakna namun unik dan manis yang logonya didisein simpel bisa jadi justru mudah lekat dalam ingatan konsumen dan “loveable”. Marketing tidak selalu membutuhkan pemaparan fungsi logis atau kelebihan suatu produk. Branding lebih penting dari itu semua. Bagaimana perasaan anda ketika mendengar “Yamaha, touching your heart”? Dibanding “Yamaha, murah, irit, gesit, cicilan pertama cukup 300 ribu.”?

Hey! Arep nulis tentang opo jhe? Mas’e ra jelas?

Ya, cinta kini menjadi salah satu qodhoyah umat di samping masalah-masalah lain seperti pendidikan, penegakan hukum, kemiskinan, pergaulan bebas, dsb. Zona merah jambu ini tak henti-hentinya menjadi perbincangan. Cinta erat kaitannya dengan jodoh, jodoh erat kaitannya dengan pernikahan, dan pernikahan..?? Hehe... Para jomblo mungkin mulai berusaha menebak arah tulisan ini. Tidak berbelit koq, ini hanya akan menjadi tulisan yang cukup singkat.

Hmm... coba lihat seorang Ummu Ghaida Ninih Muthmainah istri Aa’ Gym, subhanalloh... “Sudah dua puluh tahun saya menikmati karunia Alloh berupa kebahagiaan bersama suami. Saya terlalu cinta pada suami sehingga bisa menghalangi cinta saya pada Alloh. Cinta saya pada suami tidak boleh menghalangi cinta saya pada Alloh. Saya harus berbagi kebahagiaan.” kira-kira seperti itu yang diungkapkannya mengenai pernikahan kedua sang suami -Abdullah Gymnastiar-.


Tenang, kita belum akan membahas poligami. Yang sebenarnya ingin kita bahas adalah mengenai possitioning cinta. Bagaimana dan di mana kita memposisikan cinta kepada pasangan terhadap cinta kita pada Alloh. 

“Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah...” (Al-Baqoroh: 165)


Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhori dari Anas, “Tiga hal yang barangsiapa tiga hal tersebut ada padanya, ia menemukan manisnya iman: hendaklah Alloh dan Rosul-Nya lebih dicintai dibanding selain keduanya. Mencintai orang lain yang ia tidak mencintainya kecuali karena Alloh. Membenci kembali pada kekafiran seperti kebenciannya untuk dicampakkan ke dalam neraka.”

Singkat saja, Alloh menghendaki kita mencintai pasangan hidup berada pada peringkat ketujuh setelah cinta kita pada Alloh menempati peringkat pertama. Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik." (At-Taubah: 24)

Seorang ustadz pernah mengatakan, “Kalau para da’i itu mau nikah, calon istrinya harus siap. ‘Jika kamu jadi istriku, kamu akan menjadi cinta ketujuhku’. Maka sebenarnya istri-istri itu hanya menempati peringkat ketujuh dalam prioritas cinta seorang da’i.”

Tentunya tidak sekaku itu, yang jelas cinta pada Alloh dan Rosul-Nya harus mempunyai posisi tertinggi dibanding yang lain. Akan tetapi dari surat At-Taubah ayat 24 tersebut kita bisa mengurai bagaimana kita perlu mengurutkan cinta kita. Urutan tersebut yaitu:
  1. Alloh
  2. Rosul-Nya
  3. Jihad
  4. Orang tua
  5. Anak-anak
  6. Saudara-saudara
  7. Istri-istri
  8. Kaum keluarga
  9. Harta
  10. Bisnis
  11. Rumah
Ini bukan berari merendahkan posisi istri namun begitulah bunyi ayatnya. Apakah ini menunjukkan urutan? Allohu a’lam...

Jadi, bersiaplah menjadi cinta ketujuh... ^_^