Bagaimana perawat yang baik menurut Islam?

Karena jumlah pasien yang sangat banyak dalam rumah sakit, pada umumnya dokter mempunyai waktu yang sangat pendek untuk memeriksa dan memantau perkembangan kesehatan pasiennya. Di rumah sakit dokter hanya berfungsi untuk menetapkan diagnosis, melakukan pembedahan, menetapkan obat yang sesuai, dan mengontrol perkembangan penyakit dan kesehatan pasien. Dokter tidak mempunyai cukup waktu untuk lebih lama berbicara dengan pasien maupun dengan keluarga pasien, karena banyak pekerjaan lain menunggunya. Kemudian banyak pekerjaan dalam perawatan pasien diserahkan kepada para perawat.

Perawat adalah suatu profesi kedokteran dengan fungsi utama untuk membantu dokter dalam menangani pasien, antara lain:
  1. Menerima instruksi tentang obat, diet, dan sebagainya
  2. Mencatat secara teratur tensi darah, denyut nadi, atau suhu tubuh pasien
  3. Memperhatikan keadaan emosi pasien: apakah tidurnya tenang, gelisah, atau bahkan tidak dapat tidur sama sekali? Apakah pasien sering batuk, berapa kali buang air besarnya dalam sehari, bagaimana warna air kencingnya, dan sebagainya.
  4. Membantu memberi makan pasien yang tidak mampu makan sendiri, minum, mandi, menukar pakaian, menjaga kebersihan, mengganti perlengkapan tidur, dan sebagainya
  5. Membantu melatih berjalan bagi pasien yang menderita penyakit lumpuh, atau bagi pasien yang baru sembuh setelah lama terbaring di ranjang rumah sakit.
  6. Menyiapkan bahan-bahan untuk diperiksa di laboratorium, seperti darah, dahak, air kencing, atau tinja pasien kalau diperlukan.
  7. Menjelaskan kepada dokter sewaktu visitasi (kunjungan) tentang perkembangan kesehatan pasien.
Pada umumnya perawat inilah yang mempunyai banyak waktu bergaul mengawasi pasien, menolong pasien, dan mendengarkan keluhan mereka. Tidak saja yang berhubungan dengan keadaan di rumah sakit, tetapi juga yang berhubungan dengan keluarga pasien. Dia jauh lebih akrab dengan penderita daripada dokternya. Oleh karena itu sebagai perawat, dia harus dapat menenangkan pasiennya, menanamkan bahwa ALLOH Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang akan menyembuhkan penyakitnya. Semua itu dilakukan dengan tujuan untuk memperkuat iman pasien dan mempercepat proses penyembuhan penyakitnya.

Selain itu perawat harus menjadi penghubung antara pasien dengan dokter, dan sekaligus juga penghubung antara dokter dengan keluarga pasien. Dia dapat berbuat baik kepada keluarga pasien yang tentu ikut cemas dan gelisah ingin mengetahui tentang penyakit saudaranya, dan kemudian memberikan keterangan tentang penyakit yang diderita pasien dan dapat memberikan nasihat kepada mereka agar bersabar dalam menghadapi semua cobaan ini.

Mengingat tugas yang sangat luhur dan mulia ini, perawat harus mempunyai pengetahuan tentang psikologi pasien, sehingga ia dapat memahami tingkah laku penderita, dan dapat pula menyampaikan kondisi yang diderita oleh pasiennya, baik kepada pasien sendiri maupun kepada keluarganya dengan cara yang bijaksana. Terutama sekali perawat harus lebih banyak mengetahui tentang ajaran agama islam, sehingga perawat akan menjaga pasien yang kritis dengan sabar, sambil membaca surat Ya Sin, atau mentalqinkan pasien untuk membaca laa ilaha illallah ke dekat telinga pasien sehingga bila pasien meninggal, dia akan menemui Tuhan-nya dengan kalimat tauhid sebagai tanda orang yang memperoleh khusnul khatimah (akhir yang baik).

Begitu luhurnya tugas seorang perawat, betapa banyak amal kebaikan yang dapat dilakukannya. Oleh karena itu, islam telah menetapkan beberapa sifat terpuji bagi manusia. Sifat-sifat itu niscaya harus dimiliki oleh para dokter dan perawat muslim, karena orang yang merawat orang sakit haruslah mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:
  1. Tulus ikhlas
    Orang yang tulus ikhlas adalah orang yang berhati bersih dan benar-benar terbit dari hati yang suci, jujur, tidak berpura-pura, dan hanya mengharap keridhaan ALLOH semata. 
    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “Mereka hanya diperintahkan untuk mengabdikan diri kepada ALLOH dengan ikhlas dan lurus mengerjakan agama karena Dia” (Q. S. 98: 5) 
    “Mereka memberi makan orang miskin, yatim, dan tawanan perang, sedangkan mereka sendiri masih memerlukan makanan itu. Kami hanya karena ALLOH memberi makan kamu, dengan tidak mengharapkan balasan dan terima kasih dari kamu (kata mereka)” (Q. S. 76: 8-9) 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya segala perbuatan itu dengan niat, dan sesungguhnya tiap-tiap seseorang itu mendapat sesuatu hanya menurut niatnya” (H. R. Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i, dari Umar bin Khoththob) 
    “Sesungguhnya ALLOH ‘assa wa jalla tidak menerima suatu amal perbuatan jika tidak disertai dengan keikhlasan, dan mengharapkan kerihoan-NYA” (H. R. Abu Dawud dan Nasa’i)  

    Adanya harapan untuk mendapatkan hasil dari sesuatu pekerjaan tidak bertentangan dengan sifat-sifat tulus ikhlas di atas, karena Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam pernah bersabda, “Bahwasanya harapan itu rahmat dari ALLOH bagi umatku. Kalau tidak ada harapan tidaklah seorang ibu menjuruskan anak, dan tidak ada seorangpun akan menanam sebatang pohon” (H. R. Al-Khathib dari Anas bin Malik)

  2. Penyantun
    Penyantun ialah orang yang halus perasaan, baik budi bahasa dan lakunya, orang yang suka menaruh belas kasihan dan lekas merasakan kesukaran orang lain; turut berduka cita dengan orang yang kesusahan, serta suka menolong orang lain dengan sekuat tenaga. 
    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya rahmat ALLOH itu dekat kepada orang yang berbuat kebajikan” (Q. S. 7: 56) 

    “Tutur bahasa yang baik dan pemaaf lebih utama daripada pemberian yang diiringi dengan sesuatu yang menyakiti. Dan ALLOH Maha Kaya lagi Maha Penyantun” (Q. S. 2: 263) 

    Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Setiap orang yang menyantuni disantuni oleh ALLOH Yang Maha Penyantun. Santunilah orang yang di bumi, niscaya yang di langit menyantuni kamu” (H. R. Tirmidzi dan Abu Dawud) 

    “Orang yang tidak menyantuni manusia tidak disantuni oleh ALLOH” (H. R Bukhori, Muslim, dan Tirmidzi)

  3. Peramah
    Orang yang bertabiat ramah adalah orang yang baik hati dan menarik budi bahasanya; manis tutur kata dan sikapnya; suka bergaul dan menyenangkan dalam pergaulan. 
    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: 
    “Maka karena rahmat ALLOH-lah engkau berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau berlaku kasar dan berhati bengis, niscaya mereka menjauhkan diri dari sekitarmu” (Q. S. 3: 159) 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Senyuman terhadap saudaramu adalah kebajikan” (H. R. Tirmidzi) 

    “Sesungguhnya kamu tidak dapat melapangkan manusia dengan hartamu, tetapi manis-muka dan baik-budimulah yang dapat melapangkan mereka (H. R. Abu Ya’la)

  4. Sabar
    Orang yang sabar di antaranya adalah orang yang tidak lekas marah dalam mengerjakan sesuatu, tidak lekas putus asa dan tidak lekas patah hati. 

    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sungguh orang yang sabar dan pemaaf adalah pekerjaannya itu termasuk pekerjaan yang sangat perlu dipelihara” (Q. S. 42:43) 
    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Seorang muslim yang bergaul dengan orang lain, dan sabar menghadapi perbuatan mereka yang menyakiti, lebih utama dari seorang muslim yang tidak bergaul dan tidak sabar” (H. R. Tirmidzi dan Abu Huroiroh) 

    “Sebaik-baik senjata orang mukmin adalah sabar dan doa” (H. R. Ad-Dailami dari Ibu Abbas)  

  5. Tenang
    Orang yang tenang di antaranya adalah orang yang tidak tergesa-gesa dalam mengerjakan seuatu pekerjaan. 

    Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Tetaplah kamu bersifat tenang” (H. R. Thabrani dan Baihaqi) 

    “Bila engkau melakukan sesuatu pekerjaan, hadapilah dengan tenang, hingga ALLOH menunjukkan kepada engkau jalan keluar (dari kesulitanmu)” (H. R. Bukhori)

  6. Teliti
    Orang yang teliti adalah orang yang hati-hati, saksama, cermat, dan rapi. 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ALLOH Ta’ala menyukai bila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan supaya dilakukannya dengan teliti” (H. R. Baihaqi, Abu Ya’la, dan Ibnu ‘Asakir dari Siti Aisyah r.a) 

    “Bila seseorang mengerjakan suatu pekerjaan, hendaklah dia mengerjakannya dengan teliti, karena yang demikian itu meyenangkan hati si penderita (H. R. Ibnu Sa’ad dari ‘Atha)

  7. Tegas
    Orang yang tegas adalah orang yang tentu dan pasti, dan tidak ragu-ragu lagi dalam mengerjakan sesuatu. 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Bila ada keraguan dalam hatimu, tinggalkanlah” (H. R. Ahmad, Ibnu Hibban, dan Hakim dari Abu Umamah) 

    “Abu Sa’id meriwayatkan, bahwa ada seorang laki-laki mendatangi Nabi Muhammad shollalohu ‘alayhi wa sallam dan berkata, ‘Saudaraku sakit perut.’ Nabi bersabda, ‘Minumkanlah madu!’ Kemudian dia datang kedua kalinya, dan Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Minumkanlah madu!’ Kemudian dia datang lagi seraya berkata, ‘Sudah kukerjakan!’ Nabi bersabda, ‘Benarlah ALLOH dan berdustalah perut saudaramu, minumkanlah madu!’ Maka diminumkannyalah madu dan lantas dia sembuh” (H. R. Bukhori)

    Hadits ini menyatakan bahwa si penanya merasa ragu-ragu memberikan obat (madu), tetapi Nabi tetap tegas menyuruhnya meminumkan madu tersebut kepada saudaranya yang sedang sakit itu.

  8. Patuh
    Orang yang patuh adalah orang taat pada perintah dan aturan, baik yang diberikan oleh agama maupun oleh atasan. 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Anas bin Malik meriwayatkan, bahwa Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Dengarkanlah dan patuhilah, walaupun yang dijadikan pemimpin atasmu seorang budak hitam’” (H. R. Bukhori) 

    “Abdulloh bin Umar r.a. bersabda, ‘Mendengarkan dan mematuhi wajib atas seorang islam dalam hal-hal yang disukainya atau tidak, selama dia tidak diperintahkan melakukan maksiat (pelanggaran hukum). Bila dia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak boleh dia mendengarkan dan mematuhinya” (H. R. Bukhori, Muslim, dan Abu Dawud)

  9. Bersih
    Orang yang bersih adalah orang jelas, rapi, apik, dan suci. 

    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “ALLOH menyukai orang-orang yang bersih” (Q. S. 9: 108) 

    “Pakaianmu bersihkanlah” (Q. S. 74: 4) 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ALLOH Ta’ala baik, menyukai kebaikan. Ia pemurah, menyukai kepemurahan. Ia pemberi, menyukai kedermawanan. Maka bersihkanlah pekaranganmu” 

    “Jabir bin Abdulloh meriwayatkan, bahwa Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam melihat seorang laki-laki dengan rambut kusut masai, lalu beliau bersabda, ‘Apakah orang ini tidak mempunyai sesuatu untuk merapikan rambutnya?’ Dan beliau melihat laki-laki lain, pakaiannya kotor, lalu beliau bersabda, ‘Apakah orang ini tidak mempunyai sesuatu untuk mencuci pakaiannya?’” (H. R. Abu Dawud)

  10. Penyimpan rahasia
    Orang yang bertugas merawat orang sakit haruslah pandai menyimpan rahasia pasiennya, terutama kepada orang yang tidak berkepentingan. Sebab kemungkinan besar hal itu akan membuka aib diri pasien atau keluarganya, dan mungkin juga akan mengeruhkan suasana sehingga dapat memperburuk kesehatan pasiennya. 

    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “ALLOH tidak menyukai orang yang mengeluarkan kata-kata keji (menyebutkan dan menyebarkan keaiban orang lain) kecuali bila ia dianiaya” (Q. S. 4: 148) 

    “Sesungguhnya orang-orang yang menyukai tersiarnya kekejian pada orang-orang yang beriman, untuk mereka siksa yang pedih di dunia dan di akhirat” (Q. S. 24: 19) 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, ‘Barangsiapa menyimpan rahasia (keaiban) temannya, ALLOH menyimpan pula rahasianya di hari kiamat. Dan barangsiapa membuka rahasia temannya sesama muslim, ALLOH membukakan pula rahasianya, hingga ALLOH memberi malu dia dalam rumah tangganya” “Barangsiapa menyimpan rahasia (keaiban), seakan-akan dia menghidupkan kembali anak yang dikubur hidup-hidup” (H. R. Abu Dawud dan Nasa’i) 

    “Bila seseorang menutup rahasia (keaiban) orang lain di dunia, pasti ALLOH menutup pula rahasia (keaiban)nya di hari kiamat” (H. R. Muslim dari Abu Huroiroh)

  11. Dapat dipercaya
    Seorang perawat harus menjadi orang yang dapat dipercaya, baik oleh dokter, pasien, atau keluarga pasien. 

    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sungguh berbahagialah orang-orang yang beriman yaitu yang khusuk dalam sembahyang, yang meninggalkan segala yang sia-sia, yang menunaikan zakat, yang memelihara kehormatannya selain kepada istri atau hamba sahayanya, buat ini mereka tidak tercela. Barangsiapa menghendaki selain dari itu, maka adalah mereka melampaui batas, yang memelihara amanat dan menetapi janji, yang menetapi segala sembahyangnya. Mereka itu memperoleh surga firdaus, di mana mereka akan kekal selama-lamanya” (Q. S. 23: 1-11) 

    “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati ALLOH dan Rosul-NYA, dan janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepada kamu, sedangkan kamu mengetahui” (Q. S. 8: 27) 

    “Sesungguhnya ALLOH memerintahkan kamu supaya menyampaikan segala amanat (yang dipercayakan) kepada yang berhak” (Q. S. 4: 48) 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Anas meriwayatkan, bahwa dalam khutbah atau pidatonya, Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam selalu bersabda, ‘Tidak ada iman pada orang yang tidak dapat dipercaya, tidak memelihara amanat, dan tidak ada agama pada orang yang tidak menepati janji” (H. R. Ahmad)

  12. Bertanggung jawab
    Seorang perawat haruslah bertanggung jawab dalam merawat pasiennya sesuai dengan tugas yang diembannya. 

    ALLOH subhanahu wa ta’ala berfirman: “Dan janganlah engkau menuruti apa-apa saja yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati itu masing-masingnya akan dimintai pertanggungjawabannya” (Q. S. 17: 36) 

    Rosululloh shollallohu ‘alayhi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya ALLOH akan memeriksa setiap orang tentang urusan yang dipertanggungjawabkan kepadanya, apakah diurusnya dengan baik atau disia-siakannya, sehingga pertanggungjawaban terhadap keluarga/ rumah tangganya pun akan diperiksa juga. (H. R. An-Nasa’i dan Ibnu Hibban dari Anas bin Malik) 

    “Tiap-tiap kamu adalah pemimpin/ pengurus, dan tiap-tiap kamu bertanggung jawab atas pimpinan/ urusannya; kepala negara adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas pimpinannya. Suami adalah pemimpin atas keluarganya dan ia bertanggung jawab atas pimpinannya. Istri adalah pengurus dalam rumah tangganya, dan dia bertanggung jawab atas urusannya. Pelayan adalah pengurus harta benda majikannya, dan dia bertanggung jawab atas urusannya. Laki-laki adalah pengurus harta benda orang tuanya, dan dia bertanggung jawab atas urusannya. Ringkasnya, tiap-tiap kamu adalah pemimpin/ pengurus dan bertanggung jawab atas pimpinan/ urusannya” (H. R. Ahmad, Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Tirmidzi dari Ibnu Umar)
Dikutip langsung dari buku “Bimbingan Ruhani bagi Pasien” karya Yayasan Kesehatan Ibnu Sina bekerja sama dengan Dompet Dhuafa Republika diterbitkan oleh Al-Bayan, Kelompok Penerbit Mizan cetakan Agustus 1995. Temuan tidak sengaja di tumpukan buku obral. Semoga bermanfaat bagi para perawat maupun calon perawat atau siapapun yang membaca tulisan ini.

Allohu a’lam...

Pandu Sejati


Pasukan inti berdedikasi, bersatu dalam amal jama’i 
Siap mengabdi, siap melayani, menjunjung tinggi kalimat ilahi 
Teruskan jihad warisan nabi


Menegakkan yang hak menjadi kewajiban 
Karena kebatilan penuh dengan tipuan 
Menjadi syahid adalah keniscayaan 
Asal ikhlas membela Al-Islam




Pandu sejati percaya diri, menjadi pilar aqidah yang suci 
Mengutamakan keteladanan, Rosul Muhammad menjadi panutan 
Walaupun lawan datang menyulitkan



Di hadapan lawan menghadang, di belakang lautan membentang 
Jangan pernah palingkan pandangan, kita sambut kemenangan Islam




Pandu sejati melatih diri, bersihkan hati, kuatkan jasadi 
Disiplin tinggi, membangun prestasi, bebaskan negeri dari tirani 
Hantarkan umat menuju madani



Walau prestasi di langit yang tinggi, tapi hati tetap ada di bumi 
Tiada jiwa letih menggapai diri, tugas mulia telah datang menanti



Pasukan inti berdedikasi hantarkan umat menuju madani

Di Manakah Kau Berada Kini???


“Allohu Akbar!!!”, pekikan takbir menyambut pamitanku pada bapak-bapak yang sedang syuro’. Seruan itu menggema setelah dengan agak gemetar aku memberi sedikit semangat pada mereka yang sedang merapatkan barisan agar dakwah di kecamatan itu semakin meluas.

“Kami pamit dulu Pak, pareng...”, sembari keluar ruangan itu aku salami beberapa bapak yang dekat dengan pintu, tak lupa pak Arif tuan rumah sekaligus mas’ul (penanggung jawab) kecamatan itu. 
Tiba-tiba HP-ku bergetar, “Qt ktmu di masjid dulu ya Pak.” 
Aku langsung menuju masjid di sebelah rumah yang digunakan untuk rapat itu.


“Kita disuruh makan dulu...”, salah seorang dari dua akhowat itu mempersilakan. 
“Oalah, ngrepotin. Tadi udah pamitan tu.” 
“Sudah disiapkan koq”, istri pak Arif masuk dari pintu masjid sebelah utara. 
“Monggo, Pak!” 
“Ya, njenengan juga...”, pintaku pada dua akhowat itu. 
Akhirnya kami bertiga makan di dalam masjid dengan makanan yang telah disiapkan.


Sejenak aku mengamati masjid yang tidak terlalu besar itu. Seperti masjid-masjid lain, karpet hijau terhampar di ruang utama. “Inilah rumah asal peradaban Islam bangkit di sini”, pikirku. “Seperti pada masa rosululloh, beliau mulai membangun Madinah dari pendirian sebuah masjid”. Dan istri pak Arif pasti seorang wanita yang hebat. Tiba-tiba terbayang calon istriku nanti, “Siapa ya? Bisa seperti wanita ini kah? Mampukah ia tinggal bersamaku? Jauh dari peradaban karena berjuang membangun peradaban.”


Kedua akhowat itu berbincang. Aku cukup nyaman dengan makan sambil berdiam. 
“Sudah semester berapa Pak?”, pertanyaan salah satu dari mereka mengagetkanku. 
“Semester... delapan”, jawabku singkat. 

Aku memang tak banyak bicara dengan orang yang baru kukenal, apalagi akhowat, entah apa sebabnya. Pernah terpikir bahwa suatu saat nanti aku ingin menikah dengan orang yang tidak terlalu kukenal, agar pernikahan kami benar-benar karena-NYA. Rasa sungkan akan membuat suami istri saling memaklumi atau mengabaikan masalah-masalah kecil. Ketika suami istri mempunyai visi yang sama –visi Ilahiyah-, mereka akan lebih mudah menjalani rumah tangga. Itu menurutku. Lalu cinta? Ah, itu bukan masalah besar, bukankah cinta bisa ditumbuhkan? Buktinya banyak aktivis ikhwan dan akhowat dalam satu oraganisasi bisa saling jatuh cinta. Syuro’ sepekan sekali atau pertemuan-pertemuan singkat dalam kegiatan di lapangan bisa menjadi pemicu tumbuhnya cinta. Apalagi suami istri yang jelas-jelas halal bertemu setiap hari, halal berbagi masalah sehari-hari, bahkan bebas menumpahkan segenap ketertarikan satu sama lain, pun bercumbu rayu, dan masih banyak lagi hal yang akan menumbuhkan cinta.



Aku menghabiskan makanan dengan cukup cepat. Kadua akhowat itu seakan sangat lambat mencerna makanan sambil berbincang. Dari perbincangan mereka terdengar ekspresi perasaan lega. Aku merasa mereka berujar dalam hati, “Tugas berat hari ini akhirnya terlampaui”. 
“Habis ini ada acara jam berapa Pak?” 
“Sebenarnya acaranya jam setengah tiga tapi harus sampai di rumah jam dua.” 
“Oh, masih sempat kalau gitu, sekarang baru jam satu kurang,” sekali lagi nada lega kudengarkan dari salah satu akhowat itu.

---***---

Kedua akhowat itu berangkat bersamaku dari kota Yogyakarta menuju tempat pengajian pemuda di desa Gedangsari, daerah Gunung Kidul yang berbatasan dengan Klaten. Pukul 07.50, meski agak terlambat akhirnya kami tetap bisa beragkat setelah kupastikan lagi spion motorku masih dua dan bisa berfungsi dengan baik –aturan terbaru Kepolisian/ DLLAJ-


Sebelum berangkat dari rumah, aku sempat berpikir kalau acara ini akan ramai, dengan iring-iringan mobil dan motor berangkat ke lokasi. Ternyata hanya dua orang akhowat yang menjemput. Setelah berbincang baru kuketahui bahwa acara ini merupakan inisiasi kegiatan pengajian rutin di kelurahan itu. 
“Materinya yang ringan dulu aja ya Pak, yang penting bikin mereka senang ngaji dan punya cita-cita tinggi untuk diri sendiri maupun untuk Islam”, SMS yang dikirim Ukhti Zahro kemarin sore.


Perjalanan menempuh waktu lebih dari satu jam, melewati jalan Wonosari, Piyungan, Pathuk, lalu entah jalan apa namanya. Karena belum tahu jalan ke lokasi yang dituju, aku naik motor di belakang kedua akhowat yang berboncengan itu. Hatiku terpukul ketika melihat kedua akhowat itu sempat digoda sekumpulan lelaki yang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Kami terus melaju karena takut telat, harus sampai sana sebelum pukul 09.00. Jalan yang cukup jauh, tikungan tajam, licin, jembatan rusak, jalan menanjak, tapi tetap saja kedua akhowat itu memacu motor tanpa berpikir untuk berhenti sejenak.


“Kami sudah sampai kelurahan, Pak”, Ukhti Zahro menelpon penanggung jawab acara. 
Kusalami beberapa anak –menurutku masih sangat muda- yang sepertinya akan mengikuti pengajian itu. 
“Mana temen-temennya?”, tanyaku pada mereka. 
“Belom pada datang, Pak. Bentar lagi”, jawab salah satu dari mereka. 

Di wajah mereka nampak binar harapan masa depan nan cerah. “Inilah wajah Indonesia 20 tahun lagi”, pikirku. Yah, mereka harus dibina, merekalah generasi penerus bangsa ini. Sayang sekali jika anak-anak kita hanya didoktrin dengan cita-cita kebahagiaan pribadi. Sekolah yang rajin; bantu orang tua; kalo mampu ya kuliah; lalu dapat pekerjaan yang layak; kalau perlu merantau; kampung halaman yang pembangunannya tertinggal biarkan saja; asal tiap tahun bisa pulang bawa uang banyak dan bikin orang tua seneng; setelah itu menikah dengan suami atau istri yang kaya; akhirnya hidup bahagia berdua selamanya. Aku berharap bukan itu yang dipesankan oleh para orang tua pada anak-anak mereka. “Migunani kanggo wong liyo”, sepertinya kalimat itu lebih bermakna luas. Sukses pribadi, juga sukses sosial. Ketika kesuksesan kita bisa membuat orang lain sukses, maka itulah kesuksesan yang benar-benar sukses.



Aku ingat, beberapa pekan sebelum hari itu salah seorang teman SMA-ku yang belajar di negeri Jepang pulang dan mengajak makan-bersama teman-teman SMA yang kebetulan sedang punya waktu luang. Panjang lebar ia menceritakan kehidupan di Jepang. Ia juga menceritakan teman-temannya yang juga kuliah di luar negeri ataupun sekedar student exchange, “Dari empat puluhan orang, yang pasti akan kembali ke Indonesia cuma empat orang. Kebanyakan memilih tinggal di luar negeri karena di sana mereka lebih dihargai, tidak seperti di Indonesia, dan kehidupan di luar negeri pasti lebih terjamin.” 

Layaknya seorang orator, ia mengobarkan semangat kami yang waktu itu hanya berjumlah delapan orang. Ia menceritakan mimpinya untuk membangun Indonesia dan mengajak kami berjuang bersama-sama, “Sejak sekarang aku harus terbiasa hidup susah, hidup sederhana. Kalau kita ingin menjadi seseorang yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, kalau kita ingin melakukan sesuatu yang lebih untuk orang lain, untuk Indonesia misalnya, memang harus berjuang lebih keras, hidup akan lebih berat, tenaga yang kita keluarkan akan lebih banyak dibandingkan jika kita hanya ingin hidup untuk kepentingan diri sendiri.”


Ruangan masjid menyambut kami bertiga setelah motor terparkir dengan rapi di halaman kelurahan. Di dalamnya sudah ada beberapa pemudi menunggu. Lalu berdatangan pemuda utusan dari berbagai dusun. Aku agak kaget waktu melihat peserta pengajian ternyata banyak juga yang masih cukup kecil, mungkin usianya sekitar kelas 4-6 SD. Tapi tidak kaget jika peserta putri memang lebih banyak dari peserta putra, perbandingannya 3 : 1. Pukul 09.15 acara dimulai dengan sedikit kalimat pembuka penghangat-hati dari pak Aswin -penanggung jawab acara-.

Aku menyampaikan materi pengenalan diri -mengenal diri sendiri- dan bagaimana meraih sukses. Sebenarnya bukan materi karena hanya permainan kecil, simulasi, serta sedikit pemaknaan. Awalnya para peserta sangat sulit diajak bermain, malu-malu. Untunglah keberadaan dua akhowat itu cukup membantu. Mereka nampak seperti penerjemah bagi para peserta. Ketulusan mereka berdua sangat bisa kurasakan. Seakan terpancar aura penuh harap akan berkembangnya Islam di daerah itu, “Anak-anak ini yang akan memperjuangkan Islam mati-matian di daerah ini.”
---***---


Benar-benar menyentuh hati saat kuingat kembali senyum anak-anak itu. Sesekali muncul kalimat-kalimat saling mengejek, namun sebatas canda. Ketika berpapasan di jalan menuju rumah pak Arif, terucap salam dengan iringan senyum dari mereka. Senyum yang begitu bermakna, menyejukkan dahaga perjalanan kami. 
“Sampai jumpa lagi”, semoga kalimat itu yang mereka pendam karena malu mengucapkannya.


Dalam perjalanan pulang aku membayangkan bagaimana keadaan Indonesia -setidaknya Yogyakarta- jika anak-anak usia remaja dibiarkan mencari jati diri mereka sendiri tanpa bimbingan. Orang tua yang semakin permisif akan menjadikan anak-anak berkembang tak terarah. Media yang semakin destruktif, pergaulan yang semakin tidak karuan, serta teknologi yang semakin berkembang harus dilawan demi perbaikan. Sedikit waktu yang kita sisihkan untuk pendidikan anak akan menjadi investasi yang sangat menguntungkan di hari nanti, hari akhir sebelum mati maupun hari akhir setelah mati.


“Nanti mampir dulu ke tempat kita ketemu tadi pagi ya Pak”, kata dua akhowat itu sambil menyalip motorku. 
“Ya”, seruku. 
Kali ini aku mengendarai motor di depan mereka karena sudah tahu jalan pulang. Pelan saja kulaju motor agar tetap bisa menjaga dan mengawasi mereka. Sesekali kulihat mereka dari spion, memastikan bahwa mereka baik-baik saja atau tidak tertinggal terlalu jauh.


Sebenarnya ada sebuah tamparan keras yang begitu menyakitkan ketika mengingat semua kejadian ini. Dua orang akhowat mujahidah pergi ke lokasi sejauh itu. Yah, dua orang akhowat, kenapa tidak ikhwan? Kedua akhowat itu sempat diganggu orang dalam perjalanan, ke mana para ikhwan? Jika perjalanan kami termasuk safar, semestinya kedua akhowat itu pergi bersama mahrom mereka. Siapa yang membiarkan mereka pergi tanpa mahrom? Apakah para ikhwan sedang menonton TV, tidur-tiduran, atau pergi rihlah? Atau mereka bertingkah seperti kaum nabi Musa pada masa lalu? “Mereka berkata: ‘Hai Musa, kami sekali-sekali tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya, karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.’" (Al-Maidah: 24) Semoga saja para ikhwan memang sedang melakukan kerja-kerja dakwah di tempat lain sehingga sampai kedua akhowat itu turun tangan.

Suatu kali seorang ustadz pernah bercerita pengalamannya melihat akhowat baru pulang saat menjelang tengah malam. Akhowat itu bukan langsung pulang tapi mampir membeli makanan di pinggir jalan. Bagaimana bisa sampai seperti itu? Ayyuhal-ikhwan, aina antum? Lalu hati ini menjadi ragu, apakah Islam akan dimenangkan-NYA? Apakah keberkahan akan dilimpahkan-NYA? Seorang teman pun pernah bercerita, “Wah, calon presiden BEM dari ‘kita’ nggak menang, mungkin emang kesalahan kita. Rapatnya aja udah nggak barokah, masa rapat sama akhowat sampai jam sepuluh malam.” Astaghfirullohal-‘adzim...


Pada masa rosululloh ada juga shohabiyat yang ikut pergi ke medan perang. Apa yang mereka lakukan? Allohu a’lam, mereka mengambil anak panah yang tidak mengenai sasaran, untuk dipanahkan kembali. Mereka membawakan air minum atau memasak untuk para mujahid. Mereka mengobati pasukan yang terluka. Tepat sekali! Bukan mereka yang menunggang kuda, mengibar-ngibarkan panji, menghunus atau mengibaskan pedang, apalagi berteriak lantang di depan orang-orang kafir. Para shohabiyat turut berjuang tapi mereka mendapat porsi yang sesuai dengan fitroh sebagai akhowat. Bahkan lebih banyak lagi dari mereka tidak ikut pergi berperang karena mendapat amanah mendidik anak, menjaga rumah dan harta suami yang ditinggalkan. 

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (At-Taubah: 122)



Terlepas dari pembahasan keikutsertaan wanita dalam perang pada masa rosululloh, mari kita mengingat salah satu firman ALLOH dalam surat An-Nisaa’ ayat 34, “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shaleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)...”

Sudah semestinya para ikhwan memimpin para akhowat, dalam hal apapun. Seharusnya ikhwan berada di barisan depan. Sholat jama’ah telah mengisyaratkan bahwa shof ikhwan itu di depan akhowat, dan ikhwan lah yang menjadi imam. Namun dalam hal tertentu memang ada wilayah yang hanya akan menjadi lebih baik jika ditempati oleh akhowat misalnya posisi ibu rumah tangga, kepala bidang kemuslimahan dalam suatu organisasi, menteri peranan wanita, dan sebagainya.



“...Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf. Akan tetapi para suami mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada istrinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqoroh: 228)

Bagaimanapun juga, ikhwan mempunyai kelebihan dibandingkan akhowat. Kelebihan itulah yang menjadikannya sebagai pemimpin. Apa jadinya jika ikhwan “memble” di hadapan akhowat? Atau bahkan para ikhwan bagai dicocok hidungnya oleh para akhowat.


Miris hati ini ketika menyaksikan sebuah sinetron di salah satu stasiun TV. Sinetron itu mengisahkan para suami yang senantiasa tunduk dan menuruti apa kata istri mereka. Memang selayaknya kita berbuat baik pada istri, tapi jangan sampai berlebihan, suami harus tetap bisa mengendalikan. Dari Abi Huroiroh, dari Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, ia bersabda, “Barang siapa percaya kepada ALLOH dan hari kemudian, maka janganlah menyakiti tetangganya dan terimalah pesenan (-ku untuk berbuat) kebaikan kepada perempuan-perempuan, karena mereka itu dijadikan dari tulang rusuk, sedang tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas. Jika engkau hendak luruskan dia, niscaya engkau patahkan dia; dan jika engkau biarkan dia, tetaplah ia bengkok. Oleh itu, terimalah pesenan (-ku untuk berbuat) kebaikan kepada perempuan-perempuan. (H. R. Bukhori)


Wahai akhowati fillah, tempatkan dirimu pada posisi yang tepat, hargai ikhwan, siapapun ia, jadikan ia pemimpin, ingatkan jika khilaf. Selalu lihat fitroh antunna sebagai akhowat, contohlah para shohabiyat yang mulia.


Wahai ikhwani fillah, tempatkan dirimu pada posisi yang tepat, hargai akhowat, siapapun ia, pimpinlah, luruskan jika menyimpang. Selalu lihat fitroh antum sebagai ikhwan, jadilah pemimpin, contohlah para shohabat yang mulia.
Mereka berdua, kedua akhwat itu menjadi inspirasi untuk terus berkarya, memimpin, dan selalu di depan....

Allohu a’lam...

Suhanakallohumma wa bihamdika asyhadu an laa ilaha illa anta astaghfiruka wa atuubu ilaik...

Di Saat yang Sama...


Di saat yang sama, ketika kita jatuh cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita bahagia 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita dilambungkan ke langit oleh cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita dihancurkan remuk redam oleh cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita dibuat merana oleh cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita meratapi cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita patah hati karena cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita bersedih mengenang cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita merasa dunia ini tak adil terhadap cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita merasa cinta tidak memahami keinginan-keinginan kita 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Di saat yang sama, ketika kita merasa sepertinya tidak akan bahagia seumur hidup karena kehilangan cinta 
Ada sekian banyak, beribu, berjuta orang di dunia ini merasakan hal yang sama, bahkan sama persis dengan apa yang kita rasa


Suatu saat, seseorang merasa dirinya adalah orang paling menderita di dunia karena kehilangan cinta yang didambanya 
Padahal sesungguhnya tak hanya dia, dia hanya satu dari jutaan orang yang mengalaminya 
Semestinya ia tak perlu terlalu dalam menyayat-nyayat hatinya 
Tenang saja, banyak yang juga mengalami hal serupa, tak menutup kemungkinan ada yang lebih menderita


Jadi, ngapain menderita demi cinta? 
(Hahaha... jadi ingat iklan sebuah produk permen yang ditayangkan di televisi ^_^)


Cinta agung, cinta ibadah... 
Pengorbanan dan derita menjadi sebuah bentuk penghambaan kepada Yang Tercinta 
Yah, jika dan hanya jika cinta kepada-NYA 
Mencintai dan tidak mencintai hanya karena-NYA 
Bertemu dan berpisah atas kehendak-NYA 
Berjalan, merangkak, berlari di jalan-NYA 
Hidup mati di atas keimanan kepada-NYA 
Cinta... cinta... 
Oh, cinta... 
ALLOH...

MP4-ku ngadat...

Penting gak ya...
Mau posting tapi alat transfer data alias MP4-ku not recognized. Flashdisku dulu dipinjem temannya temanku malah rusak. Setelah itu diganti ma yang baru. Lha, yang baru itu diminta sama adekku karena flashdisknya kupinjam dan tutupnya hilang, katanya minta ganti, tukeran. Flashdisk punya adikku yang dituker sama punyaku tu pecah, keinjek di warnet, soalnya colokan flashdisknya di bawah, pas asyik download kajian MP3 malah keinjek dan pecah, masih nyala sih, tapi nggak portable.

Yah, ngerjain skripsi aja lah... =)
Oya, selain itu MP4-ku tu bisa buat ngrekam tapi nggak bisa diputer di komputer, cuma bisa didengerin lewat MP4 itu, aneh gak sih.
Dulu, pas baru beli sekitar sepekan gitu, LCD-nya rusak, langsung diservis n mbayar.
Eh, skarang malah rusak lagi. Perlu "lem biru" apa ya? "Lempar, beli yang baru!". Tadi bapakku minta tolong dibeliin flashdisk buat sekolahannya. Minta dibeliin sekalian apa ya? He3x. Aku jadi kangen sebuah benda bernama Disket alias 3 1/2 floppy. Murah dan bisa dibuang sekali2. Gimana kabar benda itu ya? Apa sudah tidak diproduksi lagi?

Dah ah, postingnya kapan-kapan aja...
Ayo skripsi... katanya pengen lulus Februari?! Pecahkan rekor! Sebulan jadi... Hwahaha...