Tampilkan postingan dengan label Kisah menyentuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah menyentuh. Tampilkan semua postingan

Sang Kakek Pemasok Tikus Mencit dan Dua Pemuda Berkacamata

 DISTRAKSI

Oleh Akhid Nur Setiawan

Seorang kakek pemasok tikus mencit untuk penelitian di sebuah laboratorium membawa tikus-tikusnya dari desa ke kota menaiki angkutan umum. Di perjalanan ia terus menerus diamati oleh dua orang pria muda berkacamata yang duduk di bangku seberang.

“Cat cit cat cit wae kit mau, mbahe kae nggowo opo yo Min, neng njero bagor?” bisik Denis pada Yamin.

“Tikus paling Nis. Cobo takono!”

“Permisi Pak. Perkenalkan saya Denis, dan ini teman saya Yamin. Mohon izin bertanya,” Denis memberanikan diri bertanya pada kakek berkumis dengan topi koboi yang nampak seram itu.

“Oh, nggih Mas. Monggo. Perkenalkan, saya Jarwo. Pripun?”

“Itu lho Pak. Kalau boleh tahu Bapak membawa apa di dalam karung? Kok dari tadi bunyi cit cit cit. Dan setiap mau berhenti berbunyi, saya lihat Bapak terus menggoyang-goyangkan karungnya lalu jadi berisik lagi,” tanya Denis sambil menunjuk karung yang dibawa pak Jarwo.

“Oalah, ini to Mas. Maaf ya Mas. Ini tikus mencit untuk percobaan di laboratorium!” jawab pak Jarwo.

“Loh loh loh, ndak bahaya ta?” Yamin menyahut kaget dengan logat khasnya.

“Tenang Mas, justru kalau berisik begini tandanya semua sesuai rencana.”

“Maksudnya bagaimana Pak?” tanya Denis penasaran.

“Kalau tikus-tikus ini sampai diam, berarti mereka sedang berusaha mencari jalan keluar dari karung. Lengah sebentar saja Mas, karungnya bisa jebol mereka gigiti. Makanya sebentar-sebentar saya goyangkan karungnya biar mereka berisik, berkelahi satu sama lain, tidak sempat mikir untuk nyari jalan keluar.”

“Oo…” Denis dan Yamin sama-sama mengangguk sambil mengerutkan dahi.


-----***-----


Seberapa sering pikiran kita seperti tikus-tikus itu? Ketika kita sedang mulai konsentrasi sedikit, ternyata ada saja gangguan yang datang. Saat kita baru mulai enjoy mengerjakan suatu rencana, tiba-tiba ada saja kejadian mendadak di luar rencana. Atau pernah kita fokus sekali pada sebuah visi, sudah menjabarkannya juga dalam misi-misi, strategi, program, bahkan rancangan kegiatan, eh ada tawaran menarik dari seorang kawan.

Bagaimana cara meraih ketenangan jiwa, sehingga sekalipun raga dan pikiran kita berkecamuk terbentur masalah di sini dan di sana, hati kita tetap dalam kondisi kokoh untuk menjalaninya? Bagaimana kita berusaha tidak semata melalui badai dengan tenang namun terus bisa mencari jalan keluar di tengah guncangan-guncangan yang terjadi?

Bismillah. Miliki segera buku “Meraih Ketenangan Jiwa” karya ustadzah Linda A. Zaini, penulis buku best seller “Parenting Langit” dengan membalas WhatsApp ini https://wa.me/6289629766108. Bisa juga dengan menghubungi nomor atau mengunjungi tautan yang tertera dalam foto yang kami sertakan di pesan ini.

Barakallahu fikum.

https://belanja.merapimengaji.com/bukulinda



SPEAKER AKTIF KADER SENIOR PKS

ROMAITA

Oleh Akhid Nur Setiawan

" …dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar… " (Al Anfal 17)

Mungkin kita sudah sering mendengar kisah atau melihat video sebuah tank tempur penjajah meledak begitu saja saat diketapel oleh bocah intifadhah. Mungkin kita juga pernah mendengar cerita santri yang melihat kiai nya mengambil tanah lalu melemparkan tanah itu ke langit yang sedang dilalui pesawat tempur penjajah dan dhuarr! Ya, serupa saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meminta sahabat Ali bin Abi Thalib mengambilkan segenggam pasir untuk dilemparkan ke arah musuh sehingga tak ada satupun musuh yang matanya tidak terkena pasir itu.

Tombak, pedang, anak panah, dan perangkat apapun yang digerakkan kaum muslimin untuk melawan musuh-musuh Allah, hakikatnya bukan kaum muslimin yang melempar tapi Allah-lah yang melempar. Jangan pernah ragu melempar ke arah musuh sekalipun yang kita lempar hanya segenggam kerikil. Yakinlah semua itu akan tepat sasaran karena Allah yang menginginkannya tepat sasaran.

Allah bisa mengutus angin, hujan, dan tentara-tentara yang tak kasat mata untuk meniupkan rasa gentar lalu memporak-porandakan pasukan musuh. Selain itu ternyata Allah juga memasukkan ikhtiar melempar ke arah musuh sebagai bagian dari pertolongan-Nya untuk mendatangkan kemenangan. Sesederhana melempar batu yang secara teknis peluangnya kecil sekali untuk bisa memukul jatuh pesawat musuh, jika Allah yang dibela, Allah-lah yang melemparnya dan tak ada yang mustahil bagi-Nya.

Strategi, perlengkapan, dan keterampilan apapun yang kita kuasai, lemparkanlah, gunakan untuk memperjuangkan agama Allah. Tidak perlu menunggu harus punya ini itu, karena Allah tak butuh fasilitas lengkap sebagai alasan untuk memberikan pertolongan dan kemenangan kepada kaum muslimin, cukup: lempar. Tak ada yang boleh berani meremehkan jika seorang mujahid sudah bergerak, seremeh dan selemah apapun gerakannya, karena gerak mereka di bawah bimbingan Ilahiyah.

Seorang kader PKS senior membopong speaker aktif jadul untuk nonton bareng pengajian. Jangan meremehkan suara speaker aktif seken yang dibeli dua puluh tahun yang lalu itu. Ia memang kusam, tak bisa memutar memori USB flashdisk atau micro SD, colokannya pun harus digerak-gerakkan agar bisa menyala, tapi ia menjadi saksi bahwa sekalipun diliputi berbagai keterbatasan, kita harus terus bergerak.

Sabtu hingga Ahad 21-22 Oktober 2023 kader PKS Turi mengadakan acara menginap di masjid Bin Ghuromah. Mereka mengikuti rangkaian kegiatan Pelatihan Cinta Al Quran 3 yang diadakan oleh DPD PKS Sleman online dan offline sejak Jumat. Dalam taujihnya, ustadz Abdul Aziz Abdur Rauf mengatakan, "Indonesia itu jumlah kaum musliminnya keren ya, minimal ada 200 juta, tujuh puluh delapan tahun belum pernah memimpin secara maksimal negeri ini. Kemana aja mereka?"

Bismillah. Semoga 2024 nanti akan hadir pemimpin-pemimpin yang dinantikan, yang amanah, penuh rahmah, adil, bersih dan berkah, untuk semua. AMIN.

*) Caleg DPRD Propinsi DIY dapil 6 (Sleman Utara)



Jangan Menyerah Bunda

Jangan Menyerah Bunda

Oleh Akhid Nur Setiawan


Suatu saat seorang ibu benar-benar merasa telah habis segala upayanya demi memperbagus sikap dan perilaku putranya. Mungkin lebih tepatnya ibu itu merasa deadlock atau terkunci mati, menghadapi jalan buntu untuk memperbaiki atau membalik keadaan sang putra. Betapa sulitnya ananda mendengarkan nasihat orang tuanya, betapa menjengkelkannya tingkah laku kesehariannya, betapa susah diaturnya ia oleh guru-gurunya.


Datanglah ibu itu ke salah satu ustadz. "Bacakan ia Al Qur'an," pesan sang ustadz.

"Saya tidak bisa membaca Al Quran, Ustadz," jawab ibu itu.

"Bacakan apa saja yang ibu bisa dari Al Quran," kata ustadz itu.


Dengan seluruh harap pada Yang Maha Membolak-balik hati, dengan segenap cinta pada sang buah hati, suatu siang sang ibu menunggu ananda di depan pintu. Saat ananda pulang sekolah, ibunda bukakan pintu rumah. Seketika, disambut dan dipeluknya ananda erat-erat. Dibisikkannya Al Fatihah, Ayat Kursi, dan surat-surat pendek apa saja yang dihafalnya. Setelah itu ananda diciuminya, ditumpahkannya semua kasih sayang yang dicurahkan Allah untuk seorang ibu pada anaknya.


Maasyaaallah, laa quwwata illaa billaah. Atas izin dan kehendak Allah, hari demi hari ananda mulai berubah. Tiba-tiba hatinya seperti melunak usai dibisiki ayat-ayat Al Quran oleh ibunda. Tak henti doa ibunda bagai air yang terus membasuh batu cadas. Semakin lembut ia, semakin halus ia, semakin terasahlah kepribadiannya.


Jangan menyerah Bunda. Ia milik-Nya. Sentuh hatinya dengan ayat-ayat-Nya. Sampaikan pada putra-putrimu walau satu ayat yang dibisa, apa yang telah Allah titipkan padamu. Insyaallah satu ayat itu akan menerangi setiap sudut ruang hatinya, membebaskannya dari gulita.


Dengan kuasa Allah, satu ayat itu akan bekerja menggemburkan hati mereka, insyaallah. Hati mereka akan kian subur, siap menerima benih-benih kebaikan, siap menumbuhkan dan memelihara kebaikan, bahkan menyebarkan kebaikan, insyaallah.


-----***-----

Ikuti Webinar Parenting!

GRATIS

"Agar Anak Sukarela Terbiasa dan Bahagia Melakukan Kebaikan"

Ahad 12 Desember 2021

Pukul 09.00-11.00 WIB

Daftarkan diri Anda melalui

www.kreasilila.com/webinar

bit.ly/webinarngaglik

wa.me/6281904403388

Adab Hadir di Hadapan Guru

HADIR

Oleh Akhid Nur Setiawan


Pagi itu saya mendatangi pengajian di sebuah masjid. Saat melepas sandal saya mendengar suara murottal dari luar masjid. Saya kira sebelum mulai pengajian memang disetelkan murottal.


Saya sapukan pandangan ke ruangan yang masih kosong. Ketika mata saya sampai di depan mihrab, terkejutlah saya melihat syaikh sedang tilawah di meja yang disiapkan untuk pembicara. Beliau masih muda tapi kami memanggilnya syaikh. Bacaan Al Quran beliau sebelas dua belas dengan bacaan para syaikh dari timur tengah karena beliau memang berasal dari timur tengah yaitu Libya.


Usai menggelar sajadah untuk tahiyatul masjid saya menikmati lantunan tilawah yang beliau sajikan. Sekalipun insyaallah sama-sama berpahala, mendengarkan bacaan Al Quran secara langsung ternyata dapat menghadirkan ruh dan emosi yang berbeda dibanding mendengarkan rekaman murottal dari perangkat pemutar suara. Ketika menemui ayat sajdah, sujud pun bisa sempurna.


"Jika dibacakan Al Quran maka dengarkan dan perhatikan agar kalian mendapat rahmat!"


Di hadapan syaikh kita akan berusaha menjaga aurat, menjaga adab, menjaga sikap. Di hadapan pemutar suara terkadang kita membiarkan bacaan Al Quran berlalu begitu saja sambil menyapu, memasak, mencuci baju, menyetrika, makan, berkendaraan, bercakap-cakap, bahkan tidur-tiduran. Ayat yang dibaca sama, riwayatnya sama, merdunya sama, pahalanya insyaallah juga sama, tapi berbeda fadhilahnya, tidak sama kadar barokahnya.


Begitu pula dengan belajar, ilmu yang didapat mungkin bisa sama, menghasilkan skor ujian yang sama, tapi "nilai"nya tak akan sama antara mereka yang menghadap guru langsung dengan mereka yang terhijab di balik layar kaca.


"Apa mau dikata? Inilah sekarang yang kita bisa."


Ketika kita terhalang untuk mendatangi guru atau bertemu dengannya, carilah cara untuk bisa menggantikannya, sekalipun tak pernah bisa menyamainya. Perbanyak istighfar dalam belajar, minta ampun atas segala kelemahan dan ketidakmampuan kita untuk memenuhi adab-adab sebagai murid. Perbanyak doa untuk guru-guru kita. Bayangkan wajahnya, mintakan ampun pada Allah atas segala kekurangannya.


Sungguh segala ilmu adalah milik Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja sekehendak-Nya. Kita bisa mendapatkan ilmu salah satunya melalui guru-guru kita. Doakan mereka agar selalu Allah bimbing dengan cahaya sehingga cahaya itu akan masuk juga ke sanubari kita.

Pewarisan Mimpi Antargenerasi

Seorang kakek menangis haru usai mendengar salah seorang cucunya melantunkan surat An Naba'.

"Saya dulu baru sampai surat Al Ma'un, guru saya wafat. Alhamdulillah, sekarang sudah ada yang meneruskan," kata sang kakek.

Sekitar tujuh tahun kemudian cucu dari kakek itu selesai menghafal 30 Juz Al Qur'an.

Usia dakwah terlalu panjang untuk ditopang oleh satu atau dua generasi. Dakwah membutuhkan banyak generasi. Dakwah harus terus bergulir hingga hari akhir.

Adakala suatu generasi hanya sempat menyemai benih, generasi berikutnya hanya sempat menyiangi rumput, generasi berikutnya mengairi. Generasi selanjutnya mungkin melihat tanaman saat sedang berbunga, selainnya Allah beri kesempatan bisa memetik buah. Terkadang satu generasi menemui tanaman layu hingga hanya bisa mempertahankan diri dari kepunahan, sembunyi. Setelahnya ada generasi yang menyuburkan ulang lahan lalu menyemai benih kembali.

Seakan mengajarkan bahwa jalan dakwah memang panjang, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidak berdoa agar dakwah menang pada masa kenabiannya. Beliau berdoa pada Allah agar kelak di tengah-tengah penduduk Makkah diutus seorang Rasul yang membacakan ayat, mengajarkan hikmat, dan menyucikan jiwa umat. Cukuplah meninggikan bangunan Ka'bah menjadi salah satu proyek dakwah yang harus diselesaikan oleh generasinya.

Adanya kesadaran bahwa waktu yang tersedia amat singkat memaksa para da'i untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang tiba. Kenyataan akan sumberdaya yang terbatas mengarahkan para da'i agar menyusun prioritas. Karena merasa perlu menyiapkan dakwah di masa depan, para da'i berusaha memperbanyak peluang dan memperbesar ruang gerak bagi generasi setelahnya.

Sebuah ungkapan mengatakan, "Orang biasa merencanakan Sabtu malam, orang besar merencanakan tiga generasi."

Kalau boleh menambahkan, "Orang beriman merencanakan hingga hari pembalasan."

Mimpi-mimpi dakwah tak mungkin selesai hanya dalam satu malam. Penting bagi para dai untuk mewariskan mimpi kepada generasi berikutnya. Kelak generasi itu akan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh generasi pendahulu mereka.

"Kalau Abah masih ada, kira-kira apa yang akan Abah lakukan dengan kondisi kita saat ini?"

"Dari dulu simbah pengen banget begini."

"Ummi itu biasanya begini."

Mungkin itu kalimat-kalimat yang otomatis muncul dari anak keturunan ideologis saat mereka menghadapi masalah atau merumuskan strategi dakwah sepeninggal leluhurnya.

Jika pewarisan mimpi berhasil, ada manusia-manusia yang hidupnya singkat tapi umurnya panjang. Mimpi mereka terus berlanjut meskipun maut telah menjemput. Dakwah mereka berkesinambungan, tidak hanya selama mereka masih hidup tapi sambung menyambung antargenerasi setelah mereka mati.

Dengan pewarisan, para dai mutaakhir tidak harus memulai dakwah dari awal. Mereka hanya perlu melanjutkan apa yang telah dimulai sebelumnya. Susah payah para pendahulu meniscayakan mudah jalan para pembaharu.

Mereka yang masih bertahan harus menemukan jejak-jejak kebaikan para pendahulunya. Penelusuran jejak itu bukan untuk sekedar meneladani baiknya kepribadian tetapi berusaha agar bisa menyambung benang merah kerja-kerja dakwah. Semoga Allah bimbing kita semua.

Hanya Tinggal Klik

Pada suatu pagi saya terpaksa mengisi ember dengan air dari sumur depan rumah untuk mengisi bak kamar mandi di dalam rumah kami. Sejak malam harinya air keran tidak bisa mengalir. Sepertinya mesin pompa air kami rusak.

Saat hari sudah terang kami mencoba memperbaiki mesin pompa air kami. Saya sambungkan kabel dari mesin langsung ke stop kontak. Alhamdulillah mesinnya masih bisa menyala.

Masalahnya di mana? Saya pun mengecek saklar yang ada di dinding. Ternyata saklarnya sudah soak sehingga lempengan penghubung listriknya tidak bisa saling tersambung jika dinyalakan.

Karena tidak menemukan saklar pengganti yang pas, saya menyambungkan langsung kabel saklar itu tanpa saklar, hanya diberi selotip. Alhamdulillah mesin pompa air kami kembali bisa mengalirkan air dari dalam sumur naik masuk ke dalam bak penampungan. Ternyata masalahnya di bagian saklar. Mesin oke, sumber listrik oke, tapi hubungan keduanya terputus.

Di kesempatan lain saya dimintai tolong salah seorang teman untuk mengecek koneksi wifi laptop barunya. Laptop itu baru tapi sudah tangan kedua. Jujur saja saya tidak mengeceknya tapi langsung menawarkan solusi. Kebetulan istri saya memakai laptop yang koneksi wifinya menggunakan alat tambahan semacam USB kecil karena perangkat wifi asli dari laptop tidak bisa menangkap sinyal.

Setelah di toko online menemukan barang yang dimaksud, teman saya ragu karena harganya lumayan perlu diperhitungkan. Meskipun tidak terlalu mahal, jika ternyata alatnya tidak berfungsi tentu membelinya menjadi kesalahan belanja yang amat disayangkan. Saya pun menawarkan untuk mencobakan dulu USB wifi dari laptop yang dipakai oleh istri saya.

Setelah saya pasang USB wifi ke laptop teman saya, koneksinya tidak berubah sama sekali. Saya lalu mengecek troubleshoot koneksi wifi di laptop itu. Masyaallah, ternyata laptop itu memiliki saklar khusus untuk menyalakan perangkat wifinya. Koneksi wifi tidak tersambung hanya karena saklar belum dinyalakan.

"Klik!"

Alhamdulillah. Atas izin Allah akhirnya semua sinyal wifi bisa masuk ke laptop teman saya. Dicoba untuk berselancar juga langsung oke setelah mesin perambannya diperbarui. Masalah pun teratasi tanpa perlu biaya tambahan.

Mungkin banyak hal lain dalam hidup kita yang sebenarnya hanya butuh "klik" lalu semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Di mana letak saklarnya, itulah yang terkadang kita belum menemukan. Barangkali ia terletak di tempat tersembunyi, barangkali ia sedang rusak, atau barangkali sekedar menunggu waktu yang tepat hingga yang seharusnya terhubung sudah sama-sama siap.

"...dan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)."

Jika keduanya belum klik, bolehlah kita coba menyalakan saklarnya.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."

Kalau sudah klik, insyaallah sakinah, insyaallah barakah.

Selamat menempuh tahun hidup baru 1443 Hijriyah 😍😍😍

Golek Geni Nggowo Oncor

Ketika kompor gas dengan dapur belum seakrab sekarang, di antara kita atau orang tua kita mungkin ada yang pernah mengalami kehabisan korek api ketika hendak memasak lalu harus meminta api kepada tetangga. Di pagi buta seorang ibu mengetok pintu dapur tetangganya sambil membawa segenggam blarak kering. Biasanya blarak didapat dari daun kelapa yang jatuh. Blarak itu dimasukkannya ke dalam tungku tetangga yang apinya menyala.

Jika blarak sudah tersulut api, sang ibu akan membalik posisi blarak yang terbakar menjadi berada di bawah agar api bisa membesar. Ibu itu akan bersegera pulang menuju tungku di dapurnya. Dimasukkanlah blarak yang membawa api itu ke dalam tungku yang sebelumnya sudah diberi sabut kelapa dan kayu-kayu kecil.

Coba kita telusuri jalan perjuangan ibu itu untuk bisa memasak. Ibu itu telah berjuang untuk bangun lebih pagi dari anggota keluarga yang lain. Ia ingin berjuang untuk memasakkan sarapan pagi bagi seisi rumah.

Sang ibu berjuang meracik bumbu dan bahan-bahan yang akan diolah setelah sehari sebelumnya membelinya di pasar atau memanennya di kebun. Ia berjuang menyiapkan tungku dengan sabut kelapa sekalipun apinya belum ada. Ia pun berjuang mencari api dengan membawa blarak yang ia punya. Ia berjuang melawan rasa tidak enak pada tetangga dengan mengetuk pintu dapurnya.

Ia berjuang menyalakan api dan menjaganya sepanjang jalan hingga tungkunya sendiri ikut menyala. Oncor blarak tidak menyala dalam waktu lama. Ia pun berjuang menyemprong tungku agar api bisa tetap menyala. Setelah api menyala, barulah akan dimulai perjuangan yang sesungguhnya.

Untuk bisa menjalani sesuatu yang besar kita perlu menjalani banyak langkah kecil dengan sabar. Untuk bisa benar-benar berjuang kita perlu banyak belajar berjuang. Setiap tapak perjuangan selalu menjadi pijakan untuk tapak perjuangan berikutnya.

Di Madinah Imam Malik diam-diam mengetahui bahwa ternyata salah satu muridnya telah hafal Al Muwatho' sebelum berguru padanya. Sang murid berusaha mempersiapkan diri dengan hafalan sebelum mempelajari penjelasan atas kitab yang ditulis oleh gurunya. Murid itu kelak terkenal dengan sebutan Imam Asy Syafi'i.

Mencari ilmu itu butuh ilmu. Mau menuntut ilmu harus berbekal. Siapkanlah apa saja yang kita mampu hingga semakin dimampukan. Golek banyu apikulan warih, golek geni adedamar.

SEKALI DAYUNG

"Kira-kira apa alasan Bapak Ibu menyekolahkan putranya di sini?" tanya petugas pendaftaran saat mewawancara calon wali murid.
"Kami ingin anak kami jadi anak yang shalih, Ustadz."

"Baik. Kalau Bapak Ibu hanya ingin agar putranya menjadi anak yang shalih, sekolah lain mungkin banyak juga yang tujuan pendidikannya sesuai dengan harapan Bapak Ibu. Sayang kalau Bapak Ibu hanya ingin putranya menjadi anak yang shalih."
Kedua orang tua itu terdiam.

"Di sini," lanjut petugas.
"Kami berharap alasan orang tua menyekolahkan putra putrinya di sekolah ini sama dengan alasan kami mendirikan sekolah ini."
"Apa itu, Ustadz?" sang ibu penasaran namun merasa sedang berada di tempat yang tepat.

"Kita ingin tidak hanya mendidik anak yang shalih tapi sekaligus berusaha mendidik keturunan mereka menjadi keturunan yang shalih. Sayang jika doa kita hanya sampai pada anak-anak kita. Kalau bisa doa kita ditujukan sekalian untuk anak kita dan anak keturunannya."

Tak salah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu memilihkan istri untuk putranya. 'Ashim bin Umar dilamarkan seorang putri penjual susu. Seorang khalifah memilih menantu dari kalangan rakyat jelata. Apa yang sedang diharapkannya? Sesungguhnya khalifah Umar tidak hanya sedang memilihkan istri untuk putranya tapi calon penghulu shalihah untuk anak keturunannya.

Suatu malam Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu melakukan patroli dan mendengar dari luar rumah suara seorang putri menolak ide ibunya untuk mencampur susu dengan air agar penjualan susunya bisa mendapatkan untung lebih banyak. Rasa takutnya pada Allah membuat putri penjual susu itu nampak begitu istimewa di mata khalifah.
"Khalifah Umar tidak tahu, tapi Rabb-nya khalifah Umar Maha Tahu," tuturnya lembut pada sang ibu.

Kelak masyhur bahwa cucu dari manantu shalihah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu itu menjadi sultan yang amil zakatnya kesulitan mencari mustahiq di seluruh negeri karena kesejahteraan rakyat sudah merata pada masa kepemimpinannya. Dialah Umar bin Abdul Aziz, sultan yang dijuluki khalifah kelima. Ia lahir sebagai jawaban atas doa kakek buyutnya, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan 'Ajam.”

Rasulullah Muhammad, shalawat dan salam atasnya, utusan terakhir penutup para nabi, lahir dari garis keturunan bapaknya para nabi alaihimussalaam. Mungkin Nabi ibrahim tak pernah melihat pengabulan salah satu doanya itu usai meninggikan bangunaan Ka'bah, "Duhai Rabb, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka (penduduk Makkah) seorang utusan dari golongan mereka yang membacakan mereka ayat-ayatmu dan mengajarkan mereka kebijaksanaan dan menyucikan mereka."

Dari jalur Siti Sarah, lahirlah Nabi Ishaq sebagai putra Nabi Ibrahim. Nabi Ishaq memiliki putra yang juga seorang nabi yaitu Nabi Ya'qub. Menjelang ajal Nabi Ya'qub mengaminkan doa kakeknya dengan mengumpulkan seluruh putranya. Ditanyakan kepada para putranya, "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

Nabi Ya'qub merasa tenteram mendengar jawaban para putranya, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Iman Nabi Ibrahim yang lurus terus berlanjut. Nabi demi Nabi lahir dari garis keturunannya. Doa Nabi Ibrahim terpelihara dari generasi ke generasi. Sekian generasi dari doa itu dipanjatkan diutuslah di negeri Makkah seorang Nabi. Nabi itu menjadi tauladan hingga kini, shalawat dan salam teruntuk baginda Rasulullah Muhammad, semulia-mulia Nabi.

Beliau yang mulia mengajarkan kita do'a, "Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman..."

Iman kita hari ini tidak bisa dilepaskan dari iman para pendahulu kita. Barangkali kita bisa melaksanakan shalat bukan semata-mata karena mendapat karunia hidayah melalui doa yang kita minta. Boleh jadi shalat itu merupakan pengabulan atas doa-doa orang tua kita, kakek nenek kita, buyut kita, atau bahkan pengabulan doa Nabi kita, "Ya Rabb, jadikanlah aku penegak shalat, dan juga keturunanku."

Sudah sewajarnya dan sepatutnya jika saat ini kita munajatkan doa serupa untuk anak keturunan kita, untuk generasi-generasi setelah kita, bukan hanya untuk anak-anak kita.

MENUNGGU GURU

Seorang santri duduk sendiri di baris belakang mushala dekat pintu masuk. Ia menunggu kiainya yang sedang menyelesaikan wirid. Ia memiliki pertanyaan penting yang ingin ditanyakan kepada sang kiai. Santri itu baru mendekat kepada sang kiai saat tanpa berbalik badan sang kiai memanggilnya.

Kejadian serupa pernah saya alami. Saya mendatangi salah satu guru saya di kantornya. Saya menunggu guru saya di luar kantor dengan harapan guru saya sudah selesai urusannya lalu bersedia menemui saya. Saya sudah membuat janji untuk bertemu beliau sebelumnya.

Seseorang datang dan bertanya pada saya, "Mau ketemu siapa?"
"Mau ketemu ustadz."
"Sudah janjian belum?"
"Sudah."
"Jam berapa janjiannya?"
"Pagi."
"Kalau janjian itu dipastikan jamnya!"
"Nggih. Saya tunggu saja."

Seketika saya merasa bingung. Apakah salah jika saya menunggu dan membiarkan guru saya menyelesaikan urusannya lalu baru bertemu dengan saya saat waktunya luang? Apakah kepada ustadz saya boleh meminta cepat atau memaksanya hadir pada jam yang tepat? Oh, mungkin saya salah menempatkan diri karena saya sedang berada di lingkungan industri, bukan sedang menjadi santri. Begitu saja saya berpikir waktu itu.

Lama sekali saya berusaha mencari pembenaran atas kata-kata orang itu. Bagi saya, memandang rumah guru tanpa melanjutkan niat bertemu dengannya itu terkadang sudah menjadi jawaban tersendiri atas pertanyaan yang rencananya ingin saya tanyakan pada guru saya. Mungkin terlalu aneh ya? Terlalu menunggu kesempatan, tidak menciptakan momentum? Entahlah, menurut saya menunggu guru itu bagian dari adab.

Bertemu dengan guru, bercakap-cakap, bertanya, berkesempatan menimba ilmu, menurut saya semua itu sama misterinya dengan perkara jodoh. Saya sangat bersyukur ketika Allah mempertemukan saya dengan seorang guru karena barangkali ada ilmu yang tak akan pernah bisa saya pahami dari salah seorang guru namun mudah tersingkap begitu saja saat bertemu dengan seorang guru yang lain. Kata salah satu guru saya, "Sesungguhnya tidak ada yang namaya murid bodoh. Dia hanya belum bertemu dengan guru yang tepat."
Saya tambahkan, "atau waktunya belum tepat," sebagaimana Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir 'alaihimassalaam.

Saya pun teringat kisah Sunan Kalijaga. Beliau diminta menunggu gurunya kembali ke tempat mereka bertemu sampai seluruh tubuh Sunan Kalijaga dipenuhi lumut di pinggir sungai. Syaikh Abdulqadir AlJilani juga harus menetap di bantaran sungai tepi kota Baghdad sebelum akhirnya diizinkan bertemu dan bermulazamah dengan gurunya. Menunggu guru itu bagian dari tarbiyah ilahiyah, masih menurut saya.

Dengan berkembangnya metode pembelajaran jarak jauh, semoga tidak melunturkan adab para penuntut ilmu dalam memuliakan guru. Kesempatan untuk berkomunikasi dengan guru melalui jalur pribadi yang bisa dilakukan sewaktu-waktu tak boleh menafikan bahwa guru memiliki privasi yang merupakan bagian dari adab untuk dihormati. Jangan sampai ilmu kita terhalang untuk masuk ke dalam sanubari hanya karena guru yang tidak ridho tersebab kita terlalu menuntut cepat hingga guru kita tak punya cukup waktu untuk beristirahat atau menjadi terhambat memenuhi hajat.

Abu ‘Ubaid Al Qosim bin Salam berkata, “Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,
'Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (Al Hujurat: 5)

Kisah Perselisihan antara Jonet dengan Gareng

Jonet dan Gareng terlibat konflik dalam begerapa hari. Konflik itu mengakibatkan keduanya tak mau saling bertegur sapa. Padahal mereka jarang sekali bersikap serius, lebih sering saling gojlog dan adu banyolan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat Jonet dan Gareng semakin berselisih.

Suatu sore Jonet ditemui seseorang lalu diberi kabar bahwa Gareng memiliki penyakit di punggungnya yang sangat parah.
“Jika tidak percaya, buktikan saja!” kata orang itu.
“Gareng pasti akan menyembunyikan punggungnya jika bertemu denganmu, dia akan selalu berusaha menghindar jika ingin dilihat punggungnya,” lanjutnya.

Pada kesempatan lain orang itu menemui Gareng lalu memberitakan bahwa Jonet terkena penyakit parah. Jonet seperti dirasuki vampir.
“Jika tidak percaya, buktikan saja!” kata orang itu.
“Tapi ingat, kalau ketemu Jonet, jangan sampai kamu membelakangi Jonet karena dia pasti akan berusaha menggigitmu dari belakang,” pesan sang pembawa berita.

Pertemuan antara Jonet dengan Gareng akhirnya terjadi pada suatu sore di angkringan Wisben. Benarlah semua sabda orang tak bertanggung jawab itu. Jonet senantiasa mencari punggung Gareng. Gareng berusaha untuk tidak pernah membelakangi Jonet. Nampak nyata Jonet seperti selalu ingin menggigit gareng dari belakang. Gareng seperti selalu menyembunyikan punggungnya.

Kabar bahwa Jonet berpenyakit seperti vampir hingga selalu mencari lengahnya Gareng dari belakang serta berita bahwa Gareng berpenyakit parah di punggungnya hingga tak mau dilihat akhirnya mendapat konfirmasi. Keduanya saling membenarkan kabar dari orang tak bertanggung jawab itu. Sempurnalah pekerjaan syetan menanamkan benih permusuhan pada dua orang yang tadinya bersaudara, bahakan yang sebelumnya mereka adalah sahabat dekat.

Beruntung sekali ada orang seperti Wisben si pemilik angkringan yang bisa melihat kondisi dua pelanggannya secara objektif dan lebih arif. Wisben sangat yakin bahwa dua bersahabat itu hanya dikerjai oleh orang tak bertanggung jawab. Ya, mungkin juga seorang Wisben punya logika sederhana: jika Jonet dan Gareng bertengkar angkringannya akan kehilangan dua pelanggan loyal. Selain itu beresiko juga pelanggan lain akan pergi dari angkringannya karena selama ini Jonet dan Gareng lah yang membuat suasana angkringannya selalu gerr.

Pesan moral:
1. Jangan bertengkar dengan saudaramu hingga mendiamkannya lebih dari tiga hari.
2. Jangan percaya begitu saja berita tentang saudarau saat dalam kondisi jiwa tidak tenanag atau pikiran tidak jernih.
3.Jangan lebih percaya ucapan orang lain dibanding ucapan saudaramu sendiri
4. Jangan mengedepankan rasa curiga, utamakan untuk selalu berprasangka baik pada saudaramu.
5. Jangan menilai saudaramu hanya dari yang nampak. Dalam bahasa sosiologi ada istilah “the subjective meaning of action”. Dua perilaku yang sama bisa memiliki makna tersendiri.
6. Untuk bisa bersaudara dengan baik, tidak cukup hanya dengan mengenali, perlu memahami.
7. Jika mengalami konflik dengan saudaramu, carilah penengah yang arif.
8. Damaikanlah jika mengetahui ada di antara dua saudaramu sedang berselisih.

Perintah Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan takutlah pada Allah supaya kamu dirahmati.’ (Al Hujurat: 10)

 Surat Al Hujurat ayat 12 artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Bukhori/ Muslim)

Semoga kita senantiasa dikaruniai rasa lapang terhadap saudara kita, dada yang selamat, dan prasangka yang baik.

Asal Muasal Istilah Debat Kusir

Bapak mertua saya pada tahun 2016 ini memasuki usia 79 tahun. Beliau turut menjadi saksi perang kemerdekaaan, clash Belanda, pemberontakan PKI, serta berbagai peristiwa sejarah lainnya hingga hiruk pikuk reformasi dan kini “menikmati” eranya pak Jokowi. Beliau masih ingat peristiwa-peristiwa penting nasional di masa lalu termasuk apa yang menjadi sebab munculnya istilah debat kusir.
“Tahu tidak asal muasal istilah debat kusir?” kata bapak suatu hari.
“Bagaimana, Pak?” tanya saya.
“Debat kusir itu adalah cerita Agus Salim saat naik delman,” terang bapak.

Ya, ternyata istilah debat kusir mulai populer ketika tokoh nasional tersebut menceritakan kepada khalayak tentang apa yang dialaminya sepulang dari kantor. Dialah KH Agus Salim salah satu dari sekian banyak pahlawan nasional. Ia seorang muslim. Ia dikenal sebagai jurnalis dan diplomat ulung. Ia menguasai setidaknya tujuh bahasa asing. Pada awal pembentukan dasar negara Indonesia ia menjadi anggota Panitia Sembilan. Pada masa pemerintahan Sjahrir hingga Hatta KH Agus Salim didapuk di kementerian luar negeri, mulai dari menjadi menteri muda hingga akhirnya menjadi penasihat menteri.

Hari itu parlemen memanas akibat adu argumen yang tiada habisnya antar anggota parlemen. KH Agus Salim mengingatkan agar para hadirin tidak berdebat kusir. Debat kusir tidak akan ada habisnya. Orang-orang terdiam mendengar istilah debat kusir yang dilontarkan oleh KH Agus Salim.

“Begini ceritanya. Suatu saat saya pulang kantor naik delman, saat itulah saya tak bisa mengalahkan lawan debat saya untuk pertama kalinya. Bukan di PBB saya kalah bicara tapi di atas delman dan hanya berhadapan dengan seorang kusir lah saya justru tak bisa memenangkan perdebatan saya. Saya sebut peristiwa itu sebagai debat kusir.”

“Anda semua jangan mengikuti jejak saya untuk debat kusir, debat tanpa tujuan akhir, hanya ingin membuktikan bahwa kita berada di pihak yang benar, tanpa pemecahan masalah sama sekali.”

“Saat itu,” kenang Agus Salim, “kami sama-sama memandangi pantat kuda yang menarik delman kami.”

“Tiba-tiba kudanya kentut. Saya katakan pada pak kusir, ‘Ini kudanya masuk angin Pak!’”

“Kusirnya bilang, ‘Bukan Pak, kuda saya keluar angin!’”

“Iya, dia kentut, keluar angin, tapi itu artinya dia masuk angin!”

“Tapi Pak, itu artinya dia keluar angin, bukan masuk angin!”

“Coba dipriksakan Pak, kuda Bapak sakit itu, masuk angin!”

“Sudah diobati Pak, makanya dia sudah bisa keluar angin!”

“Begitulah, debat kusir itu hanya selesai saat saya sudah sampai depan rumah. Apabila kami bertemu lagi mungkin kami masih akan memperdebatkan kentut kuda itu.”

“Hadirin sekalian, mari kita tinggalkan debat kusir, mari kita cari pemecahan masalah ini bersama-sama demi persatuan dan kesatuan bangsa.”


Begitulah, konon peristiwa ini sangat terkenal sehingga jika orang tua Anda lahir sebelum tahun 40an, tentu beliau juga mengenal asal muasal istilah debat kusir yang dicetuskan oleh KH Agus Salim.

Pria Pendosa yang Sholih

Suatu malam Sultan Murod Ar-Robi` merasa sangat gundah. Dia tidak mengetahui sebabnya. Sang Sultan memanggil kepala penjaga dan memberitahukan kegundahannya.

Sultan mempunyai kebiasaan memeriksa keadaan rakyatnya scara sembunyi-sembunyi. Sultan berkata kepada kepala penjaga, "Mari kita keluar berjalan di antara penduduk (untuk memeriksa dan memantau keadaan mereka)."

Mereka berjalan hingga sampai di sebuah pemukiman. Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah. Sultan menggerak-gerakkannya dan ternyata pria itu telah tewas.

Anehnya orang-orang berlalu lalang di sekitarnya tidak mempedulikan pria itu. Sultan pun memanggil mereka tapi mereka tidak mengenali Sang Sultan. Mereka berseru, "Ada apa?"
"Kenapa pria ini tewas dan tak seorangpun membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?"
Mereka berujar, "Ini orang zindiq (pendosa), suka minum khomar, dan pezina."
Sultan menimpali, "Bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? Ayo bawa dia ke rumah keluarganya!"

Mereka membawa jenazah pria itu. Sesampai di rumah istri pria itu melihat suaminya dan langsung menangis. Orang-orang segera beranjak pergi kecuali Sang Sultan dan kepala penjaga.

Di tengah tangisannya sang istri berseru kepada dua pengantar jenazah yang belum juga pergi, "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa Engkau sungguh wali Allah."
Sultan Murod terheran-heran mendengar ucapan wanita tersebut lalu berkata, "Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayit hingga mereka enggan mengurusi mayatnya?"

Mendengar kata-kata sang Sultan yang merasa tidak mungkin wali Alloh menolong jenazah pendosa wanita itu mengatakan, "Aku sudah menduga hal itu. Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual khomar lalu membeli seberapa banyak yang dia bisa beli kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar ke toilet dan dia berkata, 'Semoga aku bisa meringankan keburukan khomar dari kaum muslimin.' Suamiku juga selalu pergi kepada para pelacur lalu memberinya uang dan berkata, 'Malam ini engkau kubayar dan jangan kaubuka pintu rumahmu hingga pagi.' Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar, 'Alhamdulillah, semoga dengan begitu aku bisa meringankan keburukannya dari pemuda-pemuda muslim malam ini.' Sementara itu orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar dan masuk ke rumah pelacur sehingga mereka membicarakan suamiku dengan penuh keburukan. Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku, 'Sungguh jika seandainya engkau mati tentu tak ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.' Suamiku tersenyum dan menjawab, 'Jangan khawatir Sayangku, pemimpin kaum muslimin yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.'"

Sultan pun menangis dan berkata, "Suamimu benar, demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi', besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya."

Akhirnya di antara yang menyaksikan jenazah pria itu ialah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.

*Sultan Murad IV adalah Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-17 (1623-1640). Dia hidup pada tahun 1021-1049 H (1612-1640 M). Dia diangkat menjadi Sultan Kekhilafahan Utsmaniyah pada usia 11 tahun.

Malaikat Menampakkan Diri Sebagai Pengemis


Bukhari-Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka malaikat.

Pertama-tama datanglah malaikat itu kepada si penderita lepra dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.' Maka diusap-usaplah penderita lepra itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya, serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Unta dan sapi.' Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.' Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikatpun bertanya lagi kepadanya, 'Kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Sapi atau Unta.' Maka diberilah ia seekor sampi bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.'

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatan-ku sehingga aku dapat melihat orang-orang.' Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Kambing.' Maka diberilah seekor kambing bunting.

Waktu berselang, maka berkembang biaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga orang pertama mempunyai selembah unta, orang kedua mempunyai selembah sapi, dan orang ketiga mempunyai selembah kambing.

Kemudian datanglah malaikat itu lagi kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya dan berkata, 'Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizqi) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor onta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Tetapi dijawab, 'Hak-hak (tanggunganku) banyak.' Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata, 'Sepertinya aku mengenal anda. Bukankah anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?' Dia malah menjawab, 'Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.' Maka malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.'

Lalu malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan semula.'

Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, 'Aku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalanan ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Orang itu menjawab, 'Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang anda sukai dan tinggalkan apa yang anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.' Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, 'Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.'"

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab hadits tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di kalangan Bani Israil (6/500 no. 3464). Dan Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitabul Iman wan Nudzur, (11/540), no. 6653.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabuz Zuhd war Raqaiq (4/2275), no. 2964. Hadis ini dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 18/398.

Kenapa Artikel Berita tentang Hari Kiamat Selalu Menjadi Viral?

Kenapa artikel-artikel dan berita mengenai telah munculnya tanda-tanda kiamat atau bukti ilmiah akan terjadinya kiamat sangat mudah menjadi viral di media sosial dan cepat mewabah di media pemberitaan online? Seakan-akan hari kiamat sangat dinantikan dan diharapkan kepastian waktu kebenarannya segera terungkap. Barangkali kisah berikut bisa menjawab pertanyaan itu.


----------



Adanya hasil pengamatan mengenai asteroid besar yang kemungkinan akan menghantam bumi dalam waktu dekat membuat para pemimpin dunia mengadakan pertemuan di bawah koordinasi PBB. Proyek "Perahu Nabi Nuh" memunculkan banyak pandangan dan usulan strategi apa yang mungkin digunakan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dan makhluk hidup lainnya dari pemusnahan massal.


Sayangnya tidak ada kepastian program yang akan dikerjakan bersama di bawah koordinasi PBB. PBB menyerahkan kepada masing-masing negara untuk menyusun strategi semampunya. Ketidakseimbangan cadangan kekayaan dan sumber daya setiap negara sekaligus jumlah penduduk yang bervariasi menyebabkan tidak ada kesepakatan program bersama dalam proyek penyelamatan bumi itu.

Dalam pertemuan lanjutan setelah para pemimpin negara menyusun strategi bagi negara masing-masing ternyata Indonesia memiliki strategi paling menggemparkan. Banyak strategi bermunculan sebagai jalan misi program "Perahu Nabi Nuh". Sebagian besar negara mengamini rencana Amerika Serikat untuk membuat bunker bawah tanah dengan kekuatan tahan terhadap radiasi bom atom atau nuklir yang mungkin diciptakan. Sebagian lain menyambut baik rencana Rusia dan China membuat pesawat ruang angkasa raksasa. Jepang merencanakan Perahu Nabi Nuh dalam makna denotatif dengan asumsi bahwa air memiliki daya redam terhadap guncangan yang sangat stabil.

Para peserta dari berbagai negara saling mengajukan argumen ilmiah, politik, ekonomi, dan pandangan dari banyak aspek sebelum akhirnya mereka semua dibuat bungkam oleh Indonesia. Presiden Indonesia naik ke podium untuk menyampaikan strategi Indonesia dalam menghadapi "kiamat" planet bumi. Dengan wajah penuh optimis sang presiden membuka presentasinya. Peserta semua terdiam tegang, "Bagaimana presiden Indonesia bisa setenang itu di tengah kepanikan semua negara?"

Usai salam dan ucapan syukur presiden Indonesia diam sambil membuka kopyah hitamnya. Ia mengusap rambut ke belakang dengan tangan kiri sembari meletakkan kopyah hitam di samping mikrofon podium dengan tangan kanan.
"Ini bukan hanya masalah kami bangsa Indonesia, ini bukan hanya masalah agama apapun dengan ajaran mereka masing-masing tentang hari kiamat, ini tentang kita, ini masalah kita, ini masalah umat manusia, kemanusiaan, dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi."

"Kami bangsa Indonesia telah bulat mengambil sikap dan langkah ini dalam menghadapi kemungkinan bencana dunia yang akan terjadi dalam waktu dekat"

"Kami mengajak semua pemimpin negara yang hadir dalam pertemuan ini jika berkenan juga melakukan sebagaimana rencana kami."

Suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar di ruangan itu. Suasana begitu haru saat presiden Indonesia berkaca-kaca hendak melanjutkan pidatonya.

"Kami bangsa Indonesia telah sering, sering sekali mendapat musibah baik itu berupa bencana alam maupun bencana kemanusiaan."

"Selama ini kami berusaha terus bertahan dan dalam kesempatan ini saya selaku wakil dari seluruh rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada negara lain yang kerap memberikan uluran tangan kepada kami."

"Kami bangsa Indonesia telah bulat dengan keputusan kami."

"Bahwa kami akan mengadakan pesta rakyat selama empat puluh hari empat puluh malam untuk menghadapi bencana ini."

"Ooooh..." suara para pemimpin negara serentak merasa kaget dengan rencana Indonesia.

"Tenang.... Saya mohon tolong izinkan saya menyelesaikan pernyataan sikap selaku perwakilan dari bangsa Indonesia."

Peserta kongres pun kembali tenang.

"Ini, kami, kami akan mengadakan pesta rakyat empat puluh hari empat puluh malam sebagai wujud syukur terdalam kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah sangat berat rasanya penderitaan kami di dunia ini. Cobaan, ujian, musibah kami alami bertubi-tubi silih berganti. Kami bersyukur semua ini akan segera berakhir...."

Sang presiden Indonesia mengakhiri pidatonya dengan tangis sesenggukan, "Terima kasih."

Ia berlalu turun dari podium lalu menyalami para pemimpin dunia, memeluk erat mereka, "I'm sorry for all mistakes, thank you for being best partner in this hard world. See you in heaven, i hope..."

*Fiktif imajinatif, semoga nggak gitu2 banget... Harapan itu masih ada, Indonesia 

Mushaf Al-Qur'an yang Tergadai

Pagi itu seorang ustadz berangkat menuju lokasi pengajian dengan bergegas. Kali itu lokasi pengajian lumayan jauh. Sesampai di lokasi pengajian panitia telah menyambut sang ustadz. Jamaah pengajian pun sudah siap.

Pengajian berlangsung hingga siang hari. Para jamaah nampak antusias. Pengajian berjalan cukup interaktif.

Usai pengajian panitia menjamu sang ustadz dengan makan siang. Seorang panitia menyerahkan sebuah amplop. Awalnya sang ustadz menolak namun akhirnya beliau menerimanya setelah dikatakan bahwa itu sudah dianggarkan dan menjadi amanah panitia untuk menyampaikan pada sang ustadz.

Sepulang dari lokasi pengajian sang ustadz baru ingat bahwa ia harus mampir di sebuah warung. Ia mampir di sebuah warung di pinggir jalan dimana pada pagi harinya ia membeli bensin eceran. Dalam perjalanan berangkat menuju lokasi pengajian tadi pagi ia mendapati indikator bensin motornya menunjukkan bahwa bensin hampir habis.

Pagi itu sang ustadz tidak membawa uang untuk membeli bensin. Ia harus berutang pada penjual bensin. Ia memberikan mushaf Al Quran miliknya sebagai jaminan. Dengan sedikit ragu penjual bensin menerima mushaf sang ustadz sebagai jaminan. Atas izin Alloh siang hari itu juga sang ustadz melunasi bensinnya.

"(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di muka bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui."
(Al Baqarah: 273)

Di Mana Mushaf Ustadz?

Seperti biasa ustadz itu datang ke majlis pengajiannya dengan naik angkot. Ibu-ibu dan jamaah pengajian telah menunggunya memberikan ceramah. Usai ceramah panitia mengucapkan terima kasih pada sang ustadz. Ustadz itu tak pernah mau diberi upah atas ceramahnya.

Pekan setelahnya ada yang berbeda dari sang ustadz. Ustadz itu memang datang ke majlis pengajiannya naik angkot namun ia berjalan kaki saat pulang. Panitia merasa perlu untuk memberikan sekedar ongkos transport jika sang ustadz tidak mau menerima upah. Panitia menyusun sebuah rencana untuk pengajian pekan berikutnya.

Saat itu pengajian berjalan seperti biasa hingga sang ustadz undur diri karena ada hajat. Melihat mushaf sang ustadz tergeletak di atas meja dengan sigap salah seorang panitia segera menyelipkan uang transport untuk beliau.

"Semoga ustadz tidak marah."

Sang ustadz tak pernah marah. Hanya saja pekan-pekan berikutnya panitia tak pernah lagi mendapatkan kesempatan melihat mushaf sang ustadz terlepas dari penjagaan. Rupanya sejak saat itu sang ustadz selalu berusaha menyembunyikan mushafnya ketika mengisi pengajian. Para panitia pun kapok mencari-cari cara memberikan upah kepada sang ustadz.

"Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Alloh, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah: 'Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan (Al Quran).' Al Qur'an itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh alam.
(AL-AN'AAM: 90)

Mushaf Wasiat untuk Sahabat

Sebuah mushaf Al Qur'an memang hanya lembaran-lembaran Al Qur'an biasa namun berbeda dengan mushaf yang dimiliki santri itu. Mushaf berukuran seperempat folio itu bertuliskan wasiat khusus pak Kiai untuk sang santri. Di halaman belakang mushaf itu ada tulisan tangan pak Kiai.

Saat acara perpisahan santri seasrama secara khusus sang santri meminta pak Kiai memberikan nasihat untuknya di mushaf kesayangannya. Pak kiai memilih halaman belakang mushaf yang ada ruang kosongnya untuk diberi tulisan untuk sang santri.

"Semoga kita terus dipersatukan Alloh dalam wihdatul 'aqidah, wihdatul fikroh, dan wihdatul manhaj."

Kurang lebih seperti itu wasiat pak Kiai untuk sang santri. Bagaimanapun orang yang membaca mengartikannya, kalimat itu dirasa begitu dalam oleh sang santri.

Begitu para prajurit dipertemukan oleh Alloh, mereka berjuang bersama, mereka merasakan susah senang bersama, mereka memilih cita-cita yang sama, tentu perasaan enggan berpisah akan menggelayuti hati-hati manusiawi para jundi. Tidak demikian dengan cara pak Kiai melepas para santri.

"Saya justru senang Antum semua sudah tidak akan di sini. Orang-orang baik harus menyebar. Tidak selayaknya orang-orang sholih hanya berkumpul di satu tempat. Bangunan itu kokoh bukan karena ditopang satu tiang besar tapi tiang-tiang yang menyebar menanggung beban bersama."

Kehidupan sang santri berlanjut di luar asrama pondok. Mushaf bertuliskan wasiat pak Kiai senantiasa menemani hari-hari santri itu di segala situasi. Ketika mengaji, "mengisi", dan di saat-saat sendiri santri itu berusaha untuk terus berinteraksi dengan mushaf Kalam Ilahi.

Pengembaraan sang santri sampai pada kesimpulan bahwa pada akhirnya semua dai harus kembali. Mereka harus kembali ke sya'bi, istilah untuk kampung pribumi. Ya, dai-dai hasil didikan kampus mau tak mau harus pulang kampung.

Sang santri pulang kampung. Ia menjauhi gemerlap publisitas kampus menuju ke alam sunyi. Sya'bi, di sana pergerakan dakwah berputar lebih lambat, sangat lambat. Terus bersabar, terus mengaji, berusaha memahami, insyaalloh itulah kunci. Menjadi dai artinya memperbaiki diri sendiri.

Sembari terus mengaji memperbaiki diri para santri saling mengintrospeksi. Di forum pekanan mereka ada seorang santri yang selalu jebol target tilawahnya. Berbagai macam alasan dari padatnya kegiatan hingga mushaf ketinggalan mewarnai pembelaan diri sang santri. Tak hanya sepekan dua pekan, mungkin ada dua bulan hingga malam itu sesuatu terjadi.

"Qur'an saya hilang..."

Saat santri itu berharap 'afwannya kembali diijabah oleh sang guru dan nampaknya sang guru telah geleng-geleng kepala, seorang santri memecah kebekuan dengan menyodorkan sebuah mushaf pada santri itu.

"Akh, ini buat Antum. Ini mushaf kesayangan saya. Di dalamnya ada tulisan ustadz saya, pesan beliau waktu kami perpisahan asrama. Dibaca ya."

Entah bagaimana kabar mushaf itu berikutnya, yang ada dalam harapan sang santri pemilik mushaf wasiat hanyalah semoga sahabatnya tidak lagi terhambat membaca Al Qur'an, semoga ada kebaikan datang dari Alloh dengan sebab Al Qur'an, dan yang paling penting semoga tidak ada kecintaan berlebih pada sebuah makhluk berupa mushaf Al Qur'an bertanda tangan.

Beberapa pekan sebelum sang santri memberikan mushaf Al Qur'an pada sahabatnya ia sering memikirkan apa itu cinta, bagaimana mencintai yang tidak melebihi cinta seseorang pada Alloh, kenapa puncak kebaikan itu memberikan apa-apa yang kita cintai untuk saudara atau menginfakkan di jalan Alloh, seperti apa cinta yang berlebihan, bagaimana menghapus penyakit cinta dunia, bagaimana mengolah cinta dan mengendalikannya, dan sebagainya. Santri itu menyimpulkan semua itu dengan sederhana, "Jangan terlalu lama memiliki sesuatu."

Terlepas benar atau salah kesimpulan sang santri, akhirnya ia memaksakan diri untuk tidak lagi memiliki mushaf wasiat pak Kiai. Ia memberikannya pada sahabatnya. Agar cintanya hanya untuk Alloh, agar cintanya tidak ternoda cinta pada sebentuk makhluk berupa mushaf, ia terus berupaya memurnikan cinta.

Kita terkenang bagaimana mudahnya Rosululloh memberikan pakaian yang disukai sahabatnya. Kita terngiang kaum Anshor menolong, memberi, membagi-bagi segalanya dengan kaum Muhajirin. Kita teringat bagaimana para sahabat Nabi di jalan Alloh menginfakkan harta mereka bahkan jiwa. Rasanya memang benar, kita ini masih terlalu cinta dunia.

Sang Kiai dan Burung Beo Kesayangannya

Alkisah ada seorang kiai yang gemar memelihara burung. Beliau paling suka burung beo. Ada seekor burung beo yang amat beliau sayangi. Selain bisa mengucap dan menjawab salam, burung beo tersebut bisa mengucapkan kalimat-kalimat dzikir. Pak kiai melatihnya mengucapkan “laa ilaaha illalloh”, “astaghfirulloh”, “subhanalloh”, “alhamdulillah”, “allohu akbar”.

Begitu bahagianya pak kiai tiap pagi disuguhi kalimat-kalimat dzikir oleh burung beo itu. Tak heran jika pak kiai memberinya sangkar yang amat indah, makanan yang bergizi, dan perawatan yang berkelas. Burung beo itu benar-benar seperti santri kesayangan pak kiai.

Suatu hari ketika sedang asyik memberi makan sambil mendengarkan si Qoil berdzikir pak kiai dipanggil oleh bu nyai yang memberitahukan bahwa seorang wali santri menelpon perihal anaknya yang tidak mau kembali ke pondok. Pak kiai langsung menyongsong bu nyai dan segera menjawab telepon tanpa sadar pintu sangkar si Qoil belum ditutup. Si Qoil pun terbang keluar dari sangkar.

Sadar bahwa si Qoil lepas dari sangkar pak kiai meminta beberapa santri yang kebetulan sedang jadwal piket di ndalem untuk mengejar. Para santri sigap segera mengejar beo yang seperti mendapat kebebasan itu. Beo tersebut terus terbang, sesekali hinggap di pohon lalu terbang lagi sampai akhirnya sebuah motor menabraknya ketika ia terbang rendah.

“Masyaalloh!” seru para santri serentak ketika melihat burung beo itu tertabrak dan terlempar terkapar di pinggir jalan.
“Bagaimana ini kita harus melapor pada pak kiai?” seorang santri gugup ketakutan.
Ternyata Qoil si burung beo sekarat hingga menemui ajalnya.

Setiba kembali di pondok santri-santri yang tadi mengejar si Qoil saling dorong untuk melapor kejadian yang menimpa si Qoil.
“Mohon maaf pak kiai, kami tidak berhasil menangkap burung beo pak kiai,” lapor seorang santri.
“Alhamdulillah, semoga ia bebas di alam luas. Sampai mana kalian mengejar?” tanya pak kiai.
“Anu kiai, anu, kami mengejar sampai jalan raya,” jawab santri itu gagap.
“Oh, yasudah. Si Qoil terbang terlalu cepat ya? Apa yang akhirnya membuat kalian memutuskan untuk berhenti mengejar?” tanya pak kiai lagi.
“Anu, anu, anu pak kiai, inna lillahi wa inna ilaihi roji’un, si Qoil mati tertabrak motor pak kiai,” seorang santri senior menjawab ketika santri yang melapor tadi terdiam.
“Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un. Bagaimana ia mati?” selidik pak kiai.
“Waktu itu kami melihat dia hinggap di pohon, kami mau memanjat pohon tapi tiba-tiba dia terbang ke arah jalan raya dengan kecepatan tinggi dan ketinggian yang sangat rendah lalu bertabrakan dengan motor. Kami bingung pak kiai,” wajah santri senior itu semakin ketakutan.
“Adakah dia sakaratul maut? Atau langsung mati?” pak kiai penasaran.
“Setelah tertabrak si Qoil terlempar dan terkapar di pinggir jalan. Kaakh, kaaakh, kaaaaakh! Lalu kami dekati dan Qoil sudah mati pak kiai,” santri tersebut menjelaskan.
“Baiklah, tidak apa-apa, silakan kalian kembali beraktivitas,” pak kiai nampak merenung dan berkata-kata dengan nada datar.

Beberapa hari setelah kematian Qoil si burung beo ada yang berbeda dari pak kiai. Pak kiai nampak murung dan merenung. Tiga hari berturut-turut pak kiai puasa. Tiga hari berturut-turut pak kiai mengurangi tidur malam, diganti sholat dan dzikir. Kondisi tersebut membuat para santri bertanya-tanya. Mereka merasa ada yang janggal. Apakah kiai mereka belum cukup maqom sehingga hanya karena kehilangan burung beo menjadi begitu murung.

Salah seorang santri senior memberanikan diri menemui pak kiai. Ia mengajak beberapa santri termasuk para santri yang ikut mengejar Qoil hingga burung beo itu menemui ajalnya.
“Pak kiai, adakah yang pak kiai inginkan, adakah yang bisa kami lakukan untuk pak kiai?”
“Aku sedih nak, mengenang si Qoil.”
“Bukankah Qoil hanya makhluk pak kiai, ciptaan Alloh yang pasti mati. Apa yang membuat pak kiai sedih?”
“Aku terngiang-ngiang bagaimana kalian mengisahkan kematian si Qoil.”
“Apa yang menjadikan pak kiai terngiang-ngiang?”
“Sesungguhnya kita semua ini akan mati, dan yang kita inginkan khusnul khotimah bukan?”
“Betul pak kiai.”
“Si Qoil begitu fasih melafalkan kalimat-kalimat dzikir ketika hidup, namun bagaimana keadaannya ketika sakaratul maut? Kalian mengatakan bahwa dia hanya teriak ‘Kaakh, kaaakh, kaaaaakh!’ Tak ada jamina n bagi seseor    ang yang senantiasa fasih wiridan kelak akan meninggal dengan kalimat wiridnya. Makanya kita terus minta pada Alloh agar diberi kemudahan sakaratul maut dan diizinkan meninggal khusnul khotimah.”
Para santri hanya tertunduk mendengar keterangan dari kiai mereka.

Faktor Penghambat Anak Belajar (Al-Quran)

Siang itu kami berbincang di kantor seperti biasanya. Kami rapat diselingi kisah keseharian kami masing-masing. Topik yang kami bicarakan adalah kondisi anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur'an saat ini. Berbagai macam anak dengan karakteristik dan keunikan membutuhkan kesabaran yang luar biasa dari para asatidz.

"Tempat saya itu ada anak yang beda dengan anak-anak lain. Teman-temannya itu lumayan bisa mengikuti hafalan surat-surat pendek. Anak itu bahkan Al-Fatihah pun gak apal-apal. Saya heran dengan anak itu. Saya penasaran hingga saya melakukan penyelidikan," cerita ustadz Endri.

"Setelah saya amati lingkungan di rumah anak itu, masyaalloh. Barangkali ini yang membuat anak itu susah ngapalin Qur'an. Lha gimana mau hafal Qur'an, gimana pelajaran mau masuk, kalau tiap hari pagi siang sore di rumah selalu disetelin jathilan dan ndangndut," kira-kira seperti itu ungkap ustadz Endri.

Di kesempatan lain seorang guru SD bercerita pada saya mengenai anak didiknya.
"Rata-rata siswa di tempat saya bisa mengikuti pelajaran, hanya dua anak yang parah gak ketulungan. Anak itu sukanya njathil, kebetulan dekat sekolahan ada paguyuban kesenian jathilan. Dua anak itu benar-benar susah menerima pelajaran dibanding anak-anak pada umumnya," tutur mas Woko.

Bukan mengkambinghitamkan jathilan dan dangdut, kedua kisah di atas hanya menjadi semacam sampel. Mungkin kita tahu efek musik klasik pada perkembangan kecerdasan otak seorang anak. Mungkin kita tahu efek dzikir, doa dan bacaan Al-Qur'an pada anak semenjak dalam kandungan. Mungkin kita pernah membaca efek kata-kata baik dan buruk pada senyawa air. Kira-kira kita akan menyimpulkan apa?

Baiklah jika kita menganggap bahwa jathilan dan dangdut itu merupakan sebuah seni. Baiklah keduanya budaya Indonesia. Budaya merupakan hasil cipta rasa karsa manusia. Budaya haruslah berupa kebaikan, dalam bahawa Arab budaya sering disebut sebagai 'urf. 'Urf merupakan kebiasaan, keumuman, atau yang luas diketahui orang.

Antara 'urf dan ma'ruf itu harus beriringan. Dalam sebuah ayat Alloh menyuruh kita memerintahkan yang ma'ruf, di ayat lain Alloh menyuruh kita memerintahkan yang 'urf. Kebaikan itu harus dibudayakan. Kebaikan harus dikenal sebagai kebaikan oleh banyak orang. Kita menyebutnya sebagai syiar. Jathilan dan dangdut yang destruktif, apakah bisa disebut budaya?

Kembali pada pembahasan faktor yang menghambat anak menghafal Al-Qur'an. Jika demikian, mari kita simpulkan bahwa asupan lingkungan yang baik insyaalloh akan menjadikan perkembangan anak baik. Sebaliknya, asupan lingkungan yang tidak baik, dalam hal ini lagu/ musik yang urakan, sepertinya memang mengakibatkan perkembangan anak cenderung terganggu atau bahkan terhambat.

Dalam surat Luqman ayat enam (6) Alloh berfirman yang artinya, "Dan di antara manusia ada orang yang menggunakan percakapan kosong untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan."

Dahulu orang kafir Quraisy menyewa para penyanyi atau penyair perempuan untuk menarik perhatian orang-orang agar mereka tidak mendengarkan Al-Qur'an. Dalam ayat berikutnya Alloh berfirman yang artinya, "Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya. Maka gembirakanlah dia dengan azab yang menghinakan."

Jika terlalu banyak suara negatif dikonsumsi anak, bukan tidak mungkin anak akan terhambat perkembangan dan proses belajarnya. Bahkan Alloh mengancam orang yang menggunakan perkataaan kosong untuk memalingkan diri dari ayat Alloh. Alloh mengancam mereka dengan azab yang menghinakan.

Semakin dinasihati, semakin bagai tersumbat telinga mereka. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga putra-putri kita tidak termasuk yang demikian. Jika putra-putri kita mulai susah menerima pelajaran, susah diberi pemahaman dan nasihat, barangkali bisa dilacak apakah ada suaa negatif atau sia-sia yang memalingkannya dari ayat-ayat Alloh.

Atas studi kasus di awal tulisan ini, bolehlah kita simpulkan pula bahwa lagu/ musik urakan akan menghambat anak dalam menghafal Al-Qur'an. Allohu a'lam.