Belajar Sabar Akh...

Aku tahu senyuman itu senyum kelelahan, senyum yang juga selalu saja menjadi senyum penawar lelah. Sekalipun hambar, insya'alloh senyum itu berpahala. Senyum itu menggambarkan harapan dan keinginan yang sangat kuat.

Genggam lebih erat, akh! Kepalkan tangan sekeras mungkin! Pijakkan kaki sekokoh mungkin! Jangan pernah melepas ikatan kita! Ikatan iman yang akan menjaga kita dari terhuyung dan terjatuh. Kuatlah! Tegarlah! Sabar, akh!

Keniscayaan-keniscayaan jalan dakwah bukan sekedar teori. Dakwah itu panjang jalannya. Dakwah itu banyak rintangannya. Dakwah itu sedikit sekali pengusungnya. Jumlah kita yang banyak bukan lantas menjadikan beban terbagi rata lalu terasa ringan. Beban dakwah selamanya akan terasa berat bagi segolongan orang. Sisanya juga bukan berarti tiada. Mereka memperindah, mereka menikmati, mereka bersimpati. Syukuri, harus kita syukuri. Kerja keras tak perlu dikurangi. Jika hendak menghibur diri, katakan saja "Beginilah jalan dakwah mengajarkan kami".

Sabar, akhi... Sabar, akhi... Sabar, akhi... Bagimu bidadari bermata jeli cantik tak tertandingi, bagimu surga abadi seluas langit dan bumi, bagimu dipan-dipan tinggi, bagimu bantal-bantal tertata rapi, bagimu hamparan permadani, bagimu gelas-gelas terisi, bagimu minuman bersegel miski, bagimu buah-buahan nan dekat dan mudah dipetiki, bagimu pakaian sutra mewangi, bagimu istri-istri sebaya lagi suci, semua bagimu insya'alloh... Sekali lagi, sabar, akhi...

Doakanlahku di Sholat Malammu

Dua Ahad berturut-turut tim nasyid TAFADHOL VOICE tampil di depan mempelai yang berbahagia dalam acara walimatul ‘ursy. Mereka yang berbahagia yaitu Heni Indarwati dengan Hendy Purnomo pada tanggal 7 Maret 2010 lalu Ristinandari dengan Sukihananto pada tanggal 14 Maret 2010. Dalam dua kesempatan itu TAFADHOL VOICE membawakan senandung dari SEISMIC berjudul “Rembulan di Langit Hatiku”. Sepertinya penampilan mereka cukup membuat para mempelai tersenyum-senyum, entah karena merasa aneh dengan personil nasyid yang semuanya “gembrobyosh” grogi, merasa nayidnya keren, atau tersipu bahagia, hehe...

Doakanlahku di sholat malammu, pelita perjalananku... Doakanlahku di sholat malammu, rembulan di langit hatiku...

Syair itu dalemmm bangets kalau dipikir-pikir. Betapa bahagianya menemukan pendamping hidup yang bisa saling membangunkan sholat malam, saling mendoakan. Hmmm... mungkin sebelum mereka dipertemukan Alloh pun mereka sudah saling mendoakan, “Ya Alloh, karuniakanlah kepada kami pasangan dan keturunan yang menyejukkan pandangan mata...”.

Setelah menikah mereka punya banyak amalan baru yang dulu tidak pernah bisa dilakukan ketika masih lajang, misalnya ya itu tadi, yang duluan bangun malam bisa membangunkan yang lain, jika pasangan tidak mau bangun wajahnya bole diperciki air. Dalam sebuah buku ada sebait narasi seperti ini... Sang suami mimpi bertemu bidadari tapi tiba-tiba terbangun dan ternyata sang bidadari ada di depan mata sedang merapikan mukena di sekitar wajahnya, mengajak sholat malam. Subhanalloh, romantis sekali... ^_^
Intinya apa mas? Pengen? Hahaha! Tau aja ente! :D

Baiklah, bagi yang masih bujang mari kita sholat malam sendiri dulu. Doakan ia, bidadari tanpa nama yang mungkin juga sedang berdoa untuk kita. Jangan coba-coba membangunkan lawan jenis yang bukan mahrom, bahaya! Sementara, bangunin sahabat-sahabat sejenis saja. Berpahala juga lho... :D


NB: 
Bagi teman-teman yang mau mantenan dan pengen ada penampilan nasyid yang lain daripada yang lain bisa menghubungi TAFADHOL VOICE Management di 0813 2888 4226 (Akhid). Insya’alloh GRATIS, asal diongkosi bensin sama dikasih makan, hehe... :D

Bait Pelipur Hati

Suatu saat kita akan sampai pada titik di mana air mata tidak bisa lagi menetes, karena saking ridhonya kita pada takdir Alloh...

Kelak pula kita akan mencapai sebuah senyum termanis, karena saking dalamnya rasa syukur kita pada Alloh...

Air mata kini, sekedar untuk mengasah hati kita, menyuburkannya...
Bangkitlah saudaraku, harapan itu masih ada!
Luruskan niat, terus berkarya dan tetap semangat! :D

Karena Rasa Ini Sudah Takdirku


Aku memutuskan untuk tidak mengusiknya 
Kubiarkan saja seperti adanya 
Seperti inilah pemberian-Nya 
Kusyukuri betul keberadaannya


Senyum berkaca-kaca selalu muncul tiap kali rasa itu melintas 
Alloh... 

Nafas panjang menjadi salah satu cara meredamnya 
Astaghfirulloh... 
Masing-masing nafas pun lalu beriring istighfar 
Astaghfirulloh... 
Astaghfirulloh...


Jika kaca itu pecah, kuambil segera air wudlu 
Dua rokaat saja, semoga bisa melapangkan dadaku 
Alloh... 
Alloh... 

Kuperpanjang sujudku 
Dalam sujud kuulang-ulangi pintaku 
Karena itulah saatku sedekat-dekat dengan Robb-ku


Salam di rokaat terakhir seakan mengakhiri sesakku 
Astaghfirulloh... 
Astaghfirulloh... 

Tiba-tiba pundak ini berguncang hebat 
Tangan tak kuasa kutengadahkan 
Kutundukkan wajah 
Kuperas air mataku dalam tangan setengah tengadah


Bergetar bibir dan kedua tanganku 
Mati rasa kaki hingga perutku 
Berat dada dan pundakku 
Hingga nyawa seakan berada di ujung kepala 
Hingga tubuhku tak kuat menahannya 
Aku terhempas, tak kuasa lagi meminta pada-Nya 

"Terserah pada-Mu ya Alloh..."


Kuputuskan membaca surat cinta-Nya 
Lirih, antara lemas dan pusing 
Tak banyak, hingga kutemui ayat yang membuatku kembali meledak 
Astaghfirulloh... 
Ya Alloh... 

Aku tidak mau rasa ini menjadi bagian dari dosa menyekutukan-Mu 
Aku masih ingin menaati segala syariat-Mu 
Maafkan aku... 

Aku tak kuasa, Engkau jualah yang telah memberikan segala rasa ini 
Apa dayaku?


Ya Alloh... 

Karena rasa ini sudah takdirku 
Karena ini pilihanku 
Karena-Mu...

*****


Yah, biarlah semua ini menjadi ibadahku pada Alloh 
Ibadah yang mungkin tak pernah dituntunkan tata caranya 
Ibadah hati, takut dan harap pada Alloh



Aku takut terjerumus pada rasa yang tidak halal 
Aku tahu, belum saatnya semua ini diketahui orang lain 

Biar aku dan Alloh saja, biar... 
Biar kurasa, biar kuderita, biar kusyukuri...



Asal semakin mendekatkanku pada Alloh 
Asal semakin membuatku tunduk 
Asal semakin meyakinkanku pada kuasa-Nya 
Asal semakin banyak aku jadi meminta pada-Nya 
Asal semakin membuatku mengingat-Nya 

Semoga rasa ini bagian dari ibadah


Karena rasa ini sudah takdirku, biar takdir lain yang menjawabnya 
Tak kan henti kunanti dan selalu kupinta, terserah apa jawab-Nya 

Aku sabar, aku berusaha sabar 
Aku ridho, insya'alloh aku ridho 
Aku bersyukur, semoga Ditambah nikmatku



Ya Alloh... 
Semoga segera Kau lapangkan dadaku 
Semoga segera Kau ganti semuanya dengan kebaikan yang lebih dan lebih 

Insya'alloh aku akan lebih lagi menghamba pada-Mu 
Izinkan ya Alloh, izinkan, izinkan, izinkan... 
Aku mohon... 
Tiada pengharapan lain selain pada-Mu

Astaghfirulloh...

Mungkin Memang Sebaiknya Kita Berpisah

Malam itu seakan tiada raut kesedihan sama sekali di wajah kami. Kami saling melebarkan senyum bahkan tawa di malam perpisahan itu. Bukan karena pertemuan kami selama ini kurang berkesan, sungguh, ukhuwah yang terjalin sangatlah indah dan klasik, kami tersenyum karena malam itu akan menjadi awal babak baru dalam hidup kami.


Ustadz Cholid Mahmud ketika itu berkata, "Saya justru senang antum semua sudah tidak akan di sini lagi." 
Kalimatnya lebih panjang dari itu, intinya perpisahan kami, selesainya masa tinggal kami di asrama, kembalinya kami ke wilayah masing-masing, menyebarnya kami ke penjuru-penjuru negeri bukanlah suatu hal yang perlu ditangisi. Kebersamaan memang tak kan ada lagi, rangkaian kenangan akan terhenti, tapi dengan itu Islam akan semakin bersemi di berbagai belahan bumi. Yah, artinya para da'i dengan dakwahnya akan segera melakukan ekspansi.


Diutusnya para sahabat ke berbagai negeri oleh Rosululloh menjadi hujjah kami. Berpisah bukan akhir segalanya karena kami sama-sama berharap untuk menuju surga, bertemu di sana. Surga itu bukan di barat atau di timur tapi di ujung perjalanan suci kita. Kami siap berpencar untuk bersatu.

"Tidak selayaknya orang-orang sholih itu berkumpul hanya di satu tempat. Bangunan itu kokoh bukan dengan satu tiang besar tapi dengan tiang-tiang yang tersebar beraturan," kira-kira begitu kata ustadz Cholid Mahmud yang merupakan lulusan Teknik Sipil UGM.

Berpisah dengan sahabat dakwah seringkali menjadi keharusan. Siapa yang syahid lebih dulu adalah kepastian. Tak perlu sedih menghadapi perpisahan, insya'alloh kita akan bertemu lagi, asal kita istiqomah sampai ujung jalan. Kita akan kembali dipertemukan dalam kesempatan yang lebih indah, jika tidak di dunia, mungkin di surga-Nya.


Lima tahun liqo' 
Belasan anggota datang pergi 
Sekali ganti murobbi 
Akhirnya kini aku yang harus pergi 
Ikhwati, mari saling mendoa, moga istiqomah, ingat aku dalam robithohmu 
Maaf jika aku banyak salah 
Terima kasih atas banyak pelajaran berharga 
Insya'alloh kalo aku nikah nanti, kalian kuundangi :D