Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Psikologi. Tampilkan semua postingan

Sang Kakek Pemasok Tikus Mencit dan Dua Pemuda Berkacamata

 DISTRAKSI

Oleh Akhid Nur Setiawan

Seorang kakek pemasok tikus mencit untuk penelitian di sebuah laboratorium membawa tikus-tikusnya dari desa ke kota menaiki angkutan umum. Di perjalanan ia terus menerus diamati oleh dua orang pria muda berkacamata yang duduk di bangku seberang.

“Cat cit cat cit wae kit mau, mbahe kae nggowo opo yo Min, neng njero bagor?” bisik Denis pada Yamin.

“Tikus paling Nis. Cobo takono!”

“Permisi Pak. Perkenalkan saya Denis, dan ini teman saya Yamin. Mohon izin bertanya,” Denis memberanikan diri bertanya pada kakek berkumis dengan topi koboi yang nampak seram itu.

“Oh, nggih Mas. Monggo. Perkenalkan, saya Jarwo. Pripun?”

“Itu lho Pak. Kalau boleh tahu Bapak membawa apa di dalam karung? Kok dari tadi bunyi cit cit cit. Dan setiap mau berhenti berbunyi, saya lihat Bapak terus menggoyang-goyangkan karungnya lalu jadi berisik lagi,” tanya Denis sambil menunjuk karung yang dibawa pak Jarwo.

“Oalah, ini to Mas. Maaf ya Mas. Ini tikus mencit untuk percobaan di laboratorium!” jawab pak Jarwo.

“Loh loh loh, ndak bahaya ta?” Yamin menyahut kaget dengan logat khasnya.

“Tenang Mas, justru kalau berisik begini tandanya semua sesuai rencana.”

“Maksudnya bagaimana Pak?” tanya Denis penasaran.

“Kalau tikus-tikus ini sampai diam, berarti mereka sedang berusaha mencari jalan keluar dari karung. Lengah sebentar saja Mas, karungnya bisa jebol mereka gigiti. Makanya sebentar-sebentar saya goyangkan karungnya biar mereka berisik, berkelahi satu sama lain, tidak sempat mikir untuk nyari jalan keluar.”

“Oo…” Denis dan Yamin sama-sama mengangguk sambil mengerutkan dahi.


-----***-----


Seberapa sering pikiran kita seperti tikus-tikus itu? Ketika kita sedang mulai konsentrasi sedikit, ternyata ada saja gangguan yang datang. Saat kita baru mulai enjoy mengerjakan suatu rencana, tiba-tiba ada saja kejadian mendadak di luar rencana. Atau pernah kita fokus sekali pada sebuah visi, sudah menjabarkannya juga dalam misi-misi, strategi, program, bahkan rancangan kegiatan, eh ada tawaran menarik dari seorang kawan.

Bagaimana cara meraih ketenangan jiwa, sehingga sekalipun raga dan pikiran kita berkecamuk terbentur masalah di sini dan di sana, hati kita tetap dalam kondisi kokoh untuk menjalaninya? Bagaimana kita berusaha tidak semata melalui badai dengan tenang namun terus bisa mencari jalan keluar di tengah guncangan-guncangan yang terjadi?

Bismillah. Miliki segera buku “Meraih Ketenangan Jiwa” karya ustadzah Linda A. Zaini, penulis buku best seller “Parenting Langit” dengan membalas WhatsApp ini https://wa.me/6289629766108. Bisa juga dengan menghubungi nomor atau mengunjungi tautan yang tertera dalam foto yang kami sertakan di pesan ini.

Barakallahu fikum.

https://belanja.merapimengaji.com/bukulinda



Jangan Menyerah Bunda

Jangan Menyerah Bunda

Oleh Akhid Nur Setiawan


Suatu saat seorang ibu benar-benar merasa telah habis segala upayanya demi memperbagus sikap dan perilaku putranya. Mungkin lebih tepatnya ibu itu merasa deadlock atau terkunci mati, menghadapi jalan buntu untuk memperbaiki atau membalik keadaan sang putra. Betapa sulitnya ananda mendengarkan nasihat orang tuanya, betapa menjengkelkannya tingkah laku kesehariannya, betapa susah diaturnya ia oleh guru-gurunya.


Datanglah ibu itu ke salah satu ustadz. "Bacakan ia Al Qur'an," pesan sang ustadz.

"Saya tidak bisa membaca Al Quran, Ustadz," jawab ibu itu.

"Bacakan apa saja yang ibu bisa dari Al Quran," kata ustadz itu.


Dengan seluruh harap pada Yang Maha Membolak-balik hati, dengan segenap cinta pada sang buah hati, suatu siang sang ibu menunggu ananda di depan pintu. Saat ananda pulang sekolah, ibunda bukakan pintu rumah. Seketika, disambut dan dipeluknya ananda erat-erat. Dibisikkannya Al Fatihah, Ayat Kursi, dan surat-surat pendek apa saja yang dihafalnya. Setelah itu ananda diciuminya, ditumpahkannya semua kasih sayang yang dicurahkan Allah untuk seorang ibu pada anaknya.


Maasyaaallah, laa quwwata illaa billaah. Atas izin dan kehendak Allah, hari demi hari ananda mulai berubah. Tiba-tiba hatinya seperti melunak usai dibisiki ayat-ayat Al Quran oleh ibunda. Tak henti doa ibunda bagai air yang terus membasuh batu cadas. Semakin lembut ia, semakin halus ia, semakin terasahlah kepribadiannya.


Jangan menyerah Bunda. Ia milik-Nya. Sentuh hatinya dengan ayat-ayat-Nya. Sampaikan pada putra-putrimu walau satu ayat yang dibisa, apa yang telah Allah titipkan padamu. Insyaallah satu ayat itu akan menerangi setiap sudut ruang hatinya, membebaskannya dari gulita.


Dengan kuasa Allah, satu ayat itu akan bekerja menggemburkan hati mereka, insyaallah. Hati mereka akan kian subur, siap menerima benih-benih kebaikan, siap menumbuhkan dan memelihara kebaikan, bahkan menyebarkan kebaikan, insyaallah.


-----***-----

Ikuti Webinar Parenting!

GRATIS

"Agar Anak Sukarela Terbiasa dan Bahagia Melakukan Kebaikan"

Ahad 12 Desember 2021

Pukul 09.00-11.00 WIB

Daftarkan diri Anda melalui

www.kreasilila.com/webinar

bit.ly/webinarngaglik

wa.me/6281904403388

Jangan Jadikan Mereka Tabulampot

Jangan Jadikan Mereka Tabulampot

Oleh Akhid Nur Setiawan


Jika kita melihat kegigihan keluarga para ulama menjalani kehidupan mereka hingga lahir permata-permata di zamannya, selain memuji atas kebesaran Allah tentu kita menjadi bertanya apakah keluarga kita juga bisa seperti mereka. Saat melihat potret sebuah keluarga yang hampir semuanya hafal Al Quran dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, muncul keraguan untuk meneladani mereka setelah melihat kenyataan bahwa sampai sekarang kita belum memulai apa-apa. Apakah bisa keluarga kita meniru apa yang ada pada keluarga mereka?


Rasanya terlalu melangit mengharapkan ayam bertelur emas padahal katanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Wajar saja, pantas saja, tidak mengherankan, dan kalimat-kalimat lain mungkin akan muncul saat menanggapi kondisi orang tua mereka yang sudah tidak harus memulai dari awal dalam mengasuh anak. Sedangkan kita? Raihan yang terlalu tinggi kadang justru memicu kita mematahkan galah karena ia terlalu berat untuk ditegakkan. Sebenarnya bukan targetnya yang terlalu tinggi, hanya otot lengan kita yang belum kuat mengimbangi.


Kita memang bukan Maryam yang suci sehingga tak mungkin anak kita lahir langsung bisa berkata-kata. Kita memang juga bukan Aminah yang selama kehamilannya ditemani ruh para nabi sehingga anak kita dibersihkan isi dadanya oleh malaikat meskipun tidak langsung kita bersamai masa kecilnya. Kita bukan ulama, kiai, atau ustadz, bahkan santri pun bukan. Apa yang bisa kita perbuat?


Salah satu jebakan kepengasuhan ialah orang tua menginginkan hasil yang dahsyat dalam waktu yang cepat. Jadilah para orang tua kelabakan menyetarakan diri dengan orang tua dari orang-orang hebat itu. Kesenjangan "modal" yang jauh antara kita dengan mereka membuat kita ingin melahap semua teori dan tips kepengasuhan. Semua contoh dari mereka ingin segera kita praktikkan.


Inilah godaan hawa nafsu yang bisa membuat kita salah jalan. Jika nafsu yang diperturutkan, kedamaian tak akan kita rasakan sekalipun anak-anak kita kaya akan capaian. Jalan dunia yang fana kita sangka jalan Tuhan. Berpayah-payah dalam lelah tanpa arah akhirnya bisa menjerumuskan kita dalam kalimat "Sudahlah, menyerah sajalah!"


Anak-anak yang pengasuhannya terlalu dipaksakan ibarat tabulampot, ia indah dan mengagumkan tapi akan segera mati saat asupan nutrisi mereka dihentikan. Yang kita harapkan pastinya anak-anak kita tumbuh bagai pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi, dahannya menjulang ke langit, memberikan keteduhan, dan menghadirkan buah yang manis untuk dimakan. Ia bisa bertahan di musim panas maupun musim hujan. Ia tak akan roboh oleh angin kencang. Ia tetap bertahan sekalipun sudah tidak mendapatkan perawatan. Hingga saatnya tiba, ia akan melahirkan pohon-pohon baru yang telah menyesuaikan diri dengan kondisi lahan.


"Warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa," begitulah penggalan doa kita untuk kedua orang tua. Ya Allah, kasihilah keduanya sebagaimana mereka mentarbiyah kami sewaktu kami kecil. Salah satu makna tarbiyah ialah menumbuhkembangkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan. Yang dilakukan para orang tua pada prinsipnya sama, dengan perlahan menyiapkan anak-anak untuk bisa menanggung beban kehidupan.


Proses tarbiyah setahap demi setahap membutuhkan waktu dan tidak bisa instan. Benar, pupuk-pupuk tambahan bisa membantu mempercepat tanaman menemukan jalan keseimbangan tapi bisa juga membuat kecanduan bahkan berujung kematian. Orang tualah yang paling tahu dosis pupuk yang diperlukan. Perlakuan apa saja yang dibutuhkan agar anak kita tumbuh kokoh di segala cuaca hingga berbuah manis melebihi orang tuanya?


Mungkin buku ini jawabannya…


www.kreasilila.com/parentingorganik

Pesawat, Pilot, dan Penumpangnya

Pada masanya manusia ingin bisa terbang. Dua orang bersaudara saling bantu melakukan eksperimen untuk terbang dan menerbangkan sesuatu. Memang otot dan kerangka tubuh manusia tidak didesain untuk terbang, harus ada suatu alat yang dinaiki agar bisa terbang.
"Apakah kamu melihat pada burung yang bisa terbang? Siapakah yang menahannya agar tetap di angkasa?"
"Tembuslah langit! Tidaklah kamu bisa menembusnya kecuali dengan kekuasaan."
"Maha suci Alloh yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho..."
Umat manusia mungkin memang dikondisikan memiliki mimpi untuk bisa terbang, menembus langit, dan menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat. Alloh seakan memancing-mancing nalar kritis manusia melalui kalam-Nya, "Carilah cara untuk bisa terbang!"
Tidak hanya memancing, Alloh menantang manusia untuk bisa terbang.

Setelah menemukan cara untuk bisa terbang sendiri manusia ingin bisa terbang bersama-sama manusia lain, sebanyak mungkin kalau bisa. Setelah bisa terbang bersama banyak orang ternyata mereka mulai menyadari bahwa semestinya mereka terbang tidak hanya untuk hepi-hepi. Ada banyak hal bisa diraih dengan terbang. Akhirnya arah tujuan terbang mereka berbeda-beda.
Terlalu lama jika kemana-mana harus selalu bersama. Mereka pun berusaha membuat pesawat dengan ukuran yang lebih kecil untuk memenuhi kebutuhan arah tujuan penumpang yang berbeda-beda itu. Kelak manusia akan kembali mencari cara agar bisa terbang sendiri-sendiri.
Jika boleh membandingkan, mungkin bangsa Indonesia juga mengalami perjalanan sebagaimana yang dialami oleh perkembangan pesawat. Berbagai suku bangsa di Nusantara bersatu untuk mengusir penjajah. Setelah menyatakan diri merdeka pesawat Indonesia mengangkut penumpang yang sangat banyak. Energi untuk menerbangkannya cukup besar, biaya pun besar, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai urusan menjadi cukup lama. Hanya ada satu kemudi dan semua orang harus mengikuti sang kapten yang ada di belakang kemudi.
Penumpang mulai gelisah dan menghendaki pesawat mendarat sejenak. Gaya mengemudi sang kapten dirasa nggak asyik. Maka diserahkanlah kemudi pada ahlinya ahli merancang pesawat.
"Indonesia ini cocoknya dijelajahi dengan pesawat-pesawat yang tidak terlalu besar," orang-orang mulai berani berbicara.
Beberapa kelompok orang pun akhirnya diberi kendali kemudi untuk mengemudikan pesawat yang lebih kecil dari maskapai yang sama. Beberapa yang lain memilih melompat dari pesawat dengan menggendong parasut.

"Kita masih terlalu lambat," bisik orang-orang.
"Pilotnya harusnya kita pilih sendiri, biar perjalanan kita lebih terasa kebersamaannya," yang lain menimpali.

Di antara para penumpang ada pilot-pilot berbakat yang tidak mendapat kesempatan memegang kemudi. Untuk mereka maskapai menyediakan pesawat kecil yang bukan merupakan pesawat penumpang. Mereka boleh mengemudikan pesawat tempur dengan kemampuan terbang cepat untuk melakukan manuver-manuver yang tidak bisa dilakukan oleh pesawat penumpang.
Pada suatu ketika kita harus menjadi penumpang yang duduk manis mengikuti kemana pesawat airbus diarahkan, atau menjadi pilotnya. Airbus terbang dengan kecepatan lambat, perjalanan sangat jauh, hampir tak terasa bergerak sama sekali. Para penumpang menjalani hidup di atas pesawat. Mereka makan, minum, tidur, ee, mencari penghidupan, dan melakukan apa saja di dalam sana.
Pada saat yang lain kita harus terbang dengan pesawat-pesawat kecil. Guncangan dan turbulensi udaranya lebih terasa mendebarkan. Kecilnya kapasitas tangki bahan bakar memaksa pesawat hanya mampu menempuh jarak yang tak terlalu jauh. Penumpang harus siap lebih sering naik turun pesawat di tempat-tempat transit.
Ada kalanya kita harus bergerak cepat menggunakan pesawat tempur. Hidup mati terletak di antara panel-panel kemudi dan navigasi. Pilot pesawat tempur harus siap terbang seorang diri. Hilangnya komunikasi bisa diasumsikan gagal misi. Jika tak kembali otomatis dianggap telah mati.
Tentu seorang pilot pesawat airbus tak boleh menerbangkan pesawatnya dengan gaya pesawat tempur. Pesawat kecil juga tak akan tepat penggunaannya jika dikemudikan layaknya airbus. Pesawat tempur menjadi sia-sia kemampuannya jika dikemudikan layaknya pesawat penumpang.
Pada akhirnya sampailah kita pada kesimpulan bahwa sesungguhnya tak ada pemimpin terbaik sepanjang masa. Yang ada hanyalah pemimpin yang nampak hebat karena hadir di tempat dan saat yang tepat, dengan cara memimpin yang membuat seisi pesawat terbang berhasil mengangkasa dan mendarat dengan selamat. Masing-masing kita adalah pilot pesawat. Pertanyaannya, saat ini kita sedang berada di pesawat yang mana?
__________________
ABDI Consulting
Lembaga Konsultasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Bisnis, dan Kepribadian
+6281904403366
Jalan Kaliurang km 12,5 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Makna Pohon Sawo di Lingkungan Masjid-masjid Jami' Jawa

Jika sebelumnya kita pernah membahas "Kenapa Halaman Masjid Agung di Jawa Ditanami Pohon Sawo?" Kali ini akan coba kita gali kenapa di lingkungan masjid jami' selain masjid agung juga ditanami pohon sawo. Adakah hubungan antara pohon sawo di masjid agung dengan pohon sawo di masjid-masjid jami'?

Kisah bermula dari peristiwa Perang Diponegoro yang oleh orang Jawa dikenal dengan Perang Sabil. Konon untuk mengubur jejak Mataram Islam salah satunya para penulis sejarah sengaja menyebut bahwa Perang Diponegoro dilatarbelakangi perebutan kekuasaan di Kraton Ngayogyakarta (Pangeran Diponegoro merupakan anak raja yang tak berkesempatan naik tahta) dan dipicu penggusuran makam leluhur Pangeran Diponegoro oleh Belanda, jauh dari makna Sabil yang maksudnya fii sabilillah (di jalan Alloh, jihad membela agama). Jika didalami sejatinya Perang Diponegoro 1825-1830 disulut oleh adanya intervensi Belanda terhadap paugeran Kraton Ngayogyakarta. Setelah memecah Kerajaan Mataram menjadi dua: Ngayogyakarta dan Surakarta, Belanda menyisipkan misi Zendingnya menggeser penerapan adat-adat Islam di lingkungan Kraton. Kita tidak bisa memastikan misi Zending Belanda itu benar misi pengkabaran Injil atau ajaran lain karena yang ternampak di Tugu Jogja hingga kini justru stempel Bintang David / Bintang Daud / Segienam Israel / Yahudi / Theosofi, bukan Salib yang lazim sebagai simbol Nasrani penganut Injil.

Pangeran Diponegoro lari dari Kraton lalu mengadakan perlawanan dari luar istana dengan menggalang kekuatan para ulama, priyayi, rakyat, dan santri. Lebih dari separuh Kerabat Dalem Kraton yang terdiri dari para pangeran mendukung perjuangannya. Usai perang yang menewaskan hampir separuh penduduk Yogyakarta ketika itu, beliau Pangeran Diponegoro memerintahkan para pengikutnya untuk menyebar ke berbagai pelosok negeri. Mereka ini membawa satu ciri yang sama yaitu selalu menanam pohon Sawo Kecik di lingkungan masjid yang mereka tinggali.

"Podho nanduro sawo kecik" berarti tanamlah oleh kalian pohon Sawo Kecik. Kalimat ini sebenarnya merupakan sebuah "wangsalan" yang bermakna podho nanduro samubarang kang sarwo becik (sawo kecik) alias tanamlah oleh kalian segala hal yang senantiasa baik (selalu dan hanya kebaikan).

Selain pesan untuk menebar dan menanam kebaikan, Sawo merupakan sebuah akronim dari perkataan "SAmi'naa Wa athO'naa". Sami'naa wa atho'naa menjadi pilihan satu-satunya para prajurit yang menerima perintah dari pimpinan. Ketika pimpinan memerintahkan "Showwuu shufufakum!" maka prajurit menjawab dengan "Sami'naa wa atho'naa".

"Luruskanlah barisan-barisan kalian!"
"Kami dengar dan kami taat!"

Jadi hampir sama dengan alasan keberadaan pohon sawo di masjid agung jawa, dilestarikannya pohon sawo di masjid jami' ini terkait permasalahan alqiyadah wal jundiyah. Ya, sekali lagi pohon sawo di masjid-masjid jami' jawa mengingatkan kita pada salah satu prinsip kepemimpinan dalam islam yaitu Tho'ah atau ketaatan.

Bisa kita simpulkan bahwa Sawo di Masjid-masjid Agung Jawa dengan Sawo di Masjid-masjid Jami' Jawa memang memiliki kaitan yang sangat erat terutama dalam hal hierarki kepemimpinan. Masjid Agung Kraton menjadi masjid besar di ibu kota kesultanan, masjid-masjid jami' menjadi masjid satelit atau masjid perwakilan untuk menampung umat Islam di wilayah geografi yang tak terjangkau masjid agung. Masjid jami' dan beberapa masjid pathok negoro berada dalam satu komando kesultanan/ kerajaan. Masjid jami' membawahi beberapa musholla, langgar atau surau sebagai pusat kegiatan keagamaan sehari-hari masyarakat, termasuk pesantren.

Bisa kita lihat shof umat Islam begitu rapi dengan jenjang komando terstruktur kala itu. Hingga keluar sabda raja 2015 oleh Sri Sultan HB X yang menuai pro dan kontra, seluruh sultan Kraton Ngayogyakarta dahulu bergelar Sayyidin Panatagama Khalifatullah ing Ngayogyakarta Hadiningrat yang berarti penghulu pemegang urusan agama sekaligus perwakilan Alloh di Yogyakarta. Di atas kesultanan ada khalifah yang memegang pucuk pimpinan umat Islam di seluruh dunia. Khalifah terakhir yang membawahi seluruh kesultanan Islam di dunia ialah Khalifah 'Abdul Majid II. Khilafah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki akhirnya tumbang pada tahun 1924 (tepatnya tanggal 3 Maret 1924) atas inisiasi Kemal Attaturk sebagai tokoh utama dan dukungan musuh-musuh Islam di belakangnya. Meskipun sempat para ulama membentuk komite khilafah pasca digantikannya khilafah islamiyah dengan demokrasi, semangat mengembalikan khilafah itu luntur dengan adanya masalah-masalah dan konflik di banyak wilayah. Tanpa khilafah hingga kini shof umat islam tercerai berai bagai anak ayam kehilangan induk.

Kembali ke tanah Jawa. Pada masa dahulu hanya masjid agung dan masjid-masjid jami' yang boleh menyelenggarakan sholat jum'at. Sampai saat ini sebagian masyarakat muslim wilayah Jawa Tengah masih memegang kode etik otoritas tersebut. Selain ritual ibadah, sholat jum'at juga menjadi salah satu apel konsolidasi umat Islam. Dari wasiat takwa hingga wasiat amanat khalifah disampaikan oleh khatib melalui mimbar-mimbar masjid jami'.

Sholat jumat sangat kental dengan nuansa "sami'naa wa atho'naa". Di masjid-masjid jaringan Sawo Kecik hingga kini masih ada kebiasaan yang mungkin dianggap bid'ah oleh sebagian umat Islam kekinian yaitu sebelum khotib naik mimbar sang muadzin memberikan pesan kepada jama'ah mengenai fadhilah jum'at, pentingnya diam, mendengar, dan taat. Setelah itu muadzin akan menyerahkan tombak/ tongkat kepada khotib sebagai simbol otoritas dari khalifah. Baru setelahnya sholat Jumat dimulai dengan salam dari khotib diikuti kumandang adzan muadzin.

Prosesi serah terima tombak/ tongkat itu barangkali tak lagi menggetarkan hati umat Islam mutakhir tentang pentingnya mendengar dan taat pada pimpinan resmi. Sekalipun banyak riwayat mengenai tongkat yang dipegang khatib saat sholat jumat baik di masa Rosululloh maupun para khulafaur rasyidin serta para pengikutnya, kini banyak masjid tak menjadikannya sunnah. Bahkan para pemuka masjid yang masih mempertahankannya bisa jadi dianggap kolot dan klenik. Akhirnya prosesi itu banyak dihapus karena dianggap tanpa dalil, tidak perlu, dan menambah-nambahi ritual sholat Jumat. Sempurnalah keruntuhan sendi-sendi kepemimpinan umat Islam. Sholat Jumat sebatas ibadah mahdhoh.

Sekarang mungkin Anda tahu kenapa di ibu kota negara kita sampai ada kebijakan "pantau ceramah para khotib". Di masjid-masjid kampus juga begitu. Di Mesir pun begitu semenjak digulingkannya Muhammad Mursi, para khotib disortir afiliasinya. Di masa Presiden Soeharto "penertiban" itu juga dilakukan namun dengan halus. Umat islam dirapikan garis komandonya tapi dipegang pucuk pimpinannya. Beliau dirikan DMI, ICMI, MUI, BKPRMI, dsb untuk memudahkan kontrol terhadap umat islam. Sebenarnya pak Harto itu sosok pemimpin yang baik, pandai, dan cakap mengelola kekuasaan. Sayang ketika beliau mulai dekat dengan umat islam dan mulai ingin memajukan industri dalam negeri, ada yang tidak suka. Mereka yang tidak suka ini memiliki motivasi berbeda-beda namun bekerja sama menjalankan aksi yang sama: "Lengserkan Soeharto!"

Sawo Kecik tinggal sawo kecik, tak lagi melambangkan garis komando apapun. Sekarang zaman demokrasi, semua orang boleh membangun masjid, langgar, dan musholla. Semua masjid boleh mendirikan sholat Jumat, bahkan satu kampung dua mimbar sudah biasa. Khotib dan imam bisa siapa saja. Entah ini tanda kebangkitan atau kehancuran.

Nasta'inu billah...

Allohu a'lam...

Mencari Jodoh Itu Seperti Mencari Masjid untuk Sholat Jumat

Yang pertama menikah itu bagian dari sebentuk ibadah kepada Alloh. Ia separuh agama yang niat dan caranya harus benar. Separuhnya lagi takwa. Kita menunaikan sholat Jumat bukan sekedar gaya-gayaan.

Mandi besar, potong kuku, cukur kumis, berpakaian rapi, beraroma wangi, baca surat Al-Kahfi, siap-siap menghadap Ilahi. Meski tak harus, mempersiapkan pernikahan membuat aktivitas kita lebih bernilai, pahala tercatat di sisi-Nya. Bukan sekedar biar seger ketemu sodara seiman di masjid, sekali lagi aktivitas preparation itu berpahala tersendiri.

Kadang seorang pria cukup menjangkah beberapa langkah untuk menemukan masjid di dekat rumahnya. Kadang ada yang perlu menjalani gang berliku-liku atau bahkan perlu naik bis beberapa kali karena ingin sholat Jumat di masjid tertentu. Kadang seorang pria sengaja mengagendakan ke masjid anu karena khotibnya ustadz anu, akhirnya bisa ketemu.

Ada pula perjalanan ke masjid idaman ternyata harus tertahan lantas seorang pria terpaksa sholat di masjid kecil pinggir jalan. Ada pria mendaki gunung melewati lembah ke masjid terpencil untuk berkhutbah. Ada juga pria sekedar sholat Jumat seperti biasa di tempat kerja. Ada para musafir dan pengusaha yang sholat Jumat di tengah kesibukannya.

"Innash sholaata kaanat 'alal mu'miniina kitaabam mauquuta"
Ketika sudah berkumandang adzan segeralah tinggalkan jual beli, sesungguhnya sholat itu atas orang-orang beriman telah ditetapkan waktunya. Orang Jawa bilang, "Yen wes mangsane rabi mbok yo ndang rabi."
Ada pria yang mempersiapkan Jumatnya sejak malam hari atau pagi buta. Ada pria tergesa-gesa ke masjid karena khutbah hampir usai. Ada pria yang menjalani hari Jumatnya biasa saja namun saat adzan berkumandang ia siap sedia.

Ada pria yang lalai bahkan lupa jika hari itu hari Jumat. Ada pria lupa sholat Jumat saking sibuknya. Ada yang tak kuasa melangkah ke masjid lalu mendapat rukhshoh-Nya. Ada yang tahu namun tak mau, ada yang mau namun tak mampu. Semua ada ceritanya.

Terkadang ada musafir kebingungan mencari masjid, bertanya kesana kemari, lalu diberitahukan kepadanya sebuah masjid sederhana. Terkadang juga ada para pria yang perlu diingatkan bahwa sebentar lagi adzan sholat Jumat. Ada yang menyesal berangkat terlambat sehingga dapat shof di halaman masjid yang panas mencekat. Tentu ada juga yang berlomba-lomba duduk di shof paling depan. Ada juga pria oportunis pencari celah kosong di antara dua saudaranya.

Jangan lupa, ada juga pria yang harus mendirikan masjid, mendakwahi orang-orang, lalu baru mendirikan sholat Jumat.

Bermacam-macam cara mencari masjid untuk sholat Jumat. Apakah ada bedanya? Berbagai upaya, cara, cerita para pria menemukan masjid seakan mirip dengan cara mereka menemukan jodoh. Bagaimanapun cara menemukan masjid, yang jelas sholat Jumat itu ibadah. Tidak peduli masjid kecil atau megah, siapa yang berkhutbah, jika sudah waktunya maka menikahlah. Dipersiapkan sesiap apapun, di masjid mana kita dihimpun, itu urusan-Nya.

Jangan tidak sholat Jumat hanya karena tidak di masjid sana. Paham kan maksud saya? :)

Lima Solusi Masalah-masalah Berat (Sekolah Pendidikan Skripsi Karir Pekerjaan Asmara Jodoh Kesehatan Pernikahan Keturunan Penyakit Rezeki Bisnis Keuangan Utang dsb)

Sob, kalo ente merasa galau, kalut, banyak masalah, bagai telur di ujung tanduk, coba ini:

1. Perbaiki hubungan dengan Alloh. Mantepin ibadah wajib dan sunnah. Terus perjuangkan hingga merasa bahwa tugas manusia hanya beribadah. Masalah dunia nggak ada bandingannya sama tugas manusia untuk beribadah. Contoh action: lakukan satu ibadah saja yang khusus dan ikhlas, nggak perlu yang berat-berat. Apapun yang bisa dilakukan, lakukan!

2. Perbaiki hubungan dengan orang tua. Muliakan orang tua. Minta maaf sama orang tua. Maafkan mereka. Minta ridho keduanya. Doakan mereka. Muliakan saudara dan keluarga mereka. Contoh action: lakukan apa saja untuk memuliakan orang tua, termasuk orang tua ialah guru. Lakukan kebaikan yang menyenangkan mereka, terutama orang tua kandung, kakek, nenek, pakde, bude, paklil, bulik, dsb.

3. Stop dan jauhi maksiat. Tutup peluang-peluang maksiat. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Tobat setobat-tobatnya. Contoh action: istighfar sebanyak-banyaknya. Jaga mata, jaga mulut.

4. Penuhi kewajiban-kewajiban terhadap sesama. Yang punya utang dilunasin. Yang punya tanggungan diselesaiin. Yang punya janji dipenuhin. Contoh action: bayar gaji karyawan sesuai haknya. Renegosiasi kewajiban-kewajiban yang belum bisa diselesaikan.

5. Lakukan usaha untuk menyelesaikan masalah dibarengi doa sungguh-sungguh pada Alloh. Yang kelima ini baru dilakukan setelah yang nomor satu sampai empat dijalanin. Ketika sedang berproses melakukan nomor satu sampai empat, nggak usah mikirin yang kelima. Jangan ngandelin otak sama otot doang. Nggak usah mikir gimana-gimana dulu. Yakin bahwa solusi udah disiapin sama Alloh. Contoh action: pikir sendiri. Kalo mau minta tolong orang atau mencari jalan penyelesaian masalah, berdoalah seemosional mungkin di tengah perjalanan. Ingat, solusi hanya dari Alloh.

Coba deh sob, lima hal itu. Nggak perlu dalil-dalil dari ayat Al-Quran atau Al-Hadits kayaknya ya, insyaalloh shohih cespleng. Atas izin Alloh, beres semua masalah.

Bedanya Ujian Sekolah dengan Ujian Bisnis

Ujian Sekolah, Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, Tes Kendali Mutu, dan sebagainya merupakan nama-nama untuk ujian yang dilaksanakan di lembaga pendidikan formal. Dalam ujian diharapkan para siswa teruji bahwa mereka telah menguasai mata pelajaran atau mata kuliah yang selama ini telah ditekuni. Akhir dari ujian siswa mendapatkan sertifikat kelulusan.

Sesungguhnya hidup ini penuh ujian. Sebagai seorang siswa atau mahasiswa ada peristiwa ujian kenaikan tingkat. Sebagai pengusaha ada peristiwa ujian bisnis. Terkadang merasa janggal ketika melihat cara sekolah formal menguji kompetensi anak didiknya. Cara-cara dalam menguji siswa di sekolah formal tidak memberikan simulasi sama sekali bagaimana sebenarnya ujian hidup termasuk ujian bisnis.

Dalam hal waktu, ujian sekolah ditentukan jelas tanggal dan jamnya. Ujian bisnis tidak pernah mengenal jadwal, sewaktu-waktu bisa saja ujian bisnis terjadi. Waktu ujian ini menentukan bagaimana persiapan menghadapi ujian. Sejak awal masuk sekolah siswa telah mempersiapkan ujian terbesar di akhir masa sekolah. Di dunia bisnis yang terpenting kita mengetahui bahwa sewaktu-waktu akan diuji, terkadang tidak perlu dipersiapkan, hanya diantisipasi, bahkan jika bisa dihindari.

Dari sisi soal ujian, anak sekolah selalu diuji terkait apa yang memang sudah pernah dipelajari. Seorang pengusaha tidak pernah peduli sudah pernah belajar sebuah permasalahan atau belum, ujian datang begitu saja dan mungkin justru lebih banyak ujian-ujian baru yang sebelumnya belum pernah ditemui. Hal ini memaksa pengusaha terus belajar.

Siswa diuji dalam semua bidang mata pelajaran. Seorang pengusaha lebih sering diuji dalam hal-hal yang ia lemah di dalamnya. Siswa diuji agar merasa perlu belajar giat dalam mata pelajaran tertentu. Pengusaha diuji agar merasa perlu belajar dan waspada terus menerus terhadap berbagai macam masalah.

Cara peserta ujian menyelesaikan soal dengan cara pengusaha menyelesaikan ujian bisnis sangat berbeda. Seorang siswa diharuskan menyelesaikan soal secara individual. Siswa yang mencontek dianggap melakukan pelanggaran. Seorang pengusaha tidak boleh sama sekali menyelesaikan soal ujian bisnis seorang diri. Pengusaha diharuskan belajar bahkan mencontek orang lain. Pengusaha harus bertanya dan saling bekerja sama.

Siswa benar-benar dituntut sempurna secara pribadi. Dalam ujian sekolah mereka harus melampaui standar kelulusan setiap mata pelajaran. Di dunia bisnis kita tidak perlu menjadi seseorang yang sempurna. Bisnis tidak menuntut kita bisa dalam segala hal. Bisnis menuntut ada orang lain yang bisa menutupi kekurangan kita. Dalam bisnis semua peserta ujian saling mencari win-win solution agar bisa mengolah potensi dan kekurangan masing-masing menjadi sebuah keberhasilan.

Mengenai hasil ujian, para siswa akan merasakan betul betapa bahagianya berhasil lulus melewat satu ujian. Seorang pengusaha bahkan bisa jadi sangat dingin dalam menghadapi keberhasilan lulus ujian karena belum tentu ujian selesai, akan datang ujian-ujian berikutnya dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan. Ujian sekolah merupakan ujian bertingkat, dengan level-level yang jelas. Ujian bisnis tidak mengenal tingkat. Pengusaha yang tidak berhasil belajar dari pengalaman akan diberi ujian yang sama terus-menerus.

Siswa sekolah akan mendapat sertifikat kelulusan setelah ujian. Pengusaha tidak mendapatkan apa-apa selain berhasil mempertahankan bisnis. Siswa dianggap mampu ketika telah mengantongi ijazah atau gelar. Pengusaha dianggap mampu jika benar-benar berhasil menyelesaikan suatu masalah atau soal.

Dari sekian banyak perbedaan antara ujian sekolah dengan ujian bisnis, semoga menjadi pelajaran bagi kita. Alloh menguji kita dalam kehidupan ini dengan banyak hal. Banyak hal yang menjadi soal ujian kehidupan pada dasarnya hanya dibagi menjadi dua : ujian kebaikan dan ujian keburukan. Kebaikan maupun keburukan yang kita alami atau dapatkan keduanya merupakan ujian. Keduanya merupakan ujian untuk mengetahui apakah seorang anak manusia bersyukur atau kufur.

Allohu a'lam.

*tulisan ini pernah dimuat di primacorner.com

Pria Pendosa yang Sholih

Suatu malam Sultan Murod Ar-Robi` merasa sangat gundah. Dia tidak mengetahui sebabnya. Sang Sultan memanggil kepala penjaga dan memberitahukan kegundahannya.

Sultan mempunyai kebiasaan memeriksa keadaan rakyatnya scara sembunyi-sembunyi. Sultan berkata kepada kepala penjaga, "Mari kita keluar berjalan di antara penduduk (untuk memeriksa dan memantau keadaan mereka)."

Mereka berjalan hingga sampai di sebuah pemukiman. Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah. Sultan menggerak-gerakkannya dan ternyata pria itu telah tewas.

Anehnya orang-orang berlalu lalang di sekitarnya tidak mempedulikan pria itu. Sultan pun memanggil mereka tapi mereka tidak mengenali Sang Sultan. Mereka berseru, "Ada apa?"
"Kenapa pria ini tewas dan tak seorangpun membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?"
Mereka berujar, "Ini orang zindiq (pendosa), suka minum khomar, dan pezina."
Sultan menimpali, "Bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? Ayo bawa dia ke rumah keluarganya!"

Mereka membawa jenazah pria itu. Sesampai di rumah istri pria itu melihat suaminya dan langsung menangis. Orang-orang segera beranjak pergi kecuali Sang Sultan dan kepala penjaga.

Di tengah tangisannya sang istri berseru kepada dua pengantar jenazah yang belum juga pergi, "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa Engkau sungguh wali Allah."
Sultan Murod terheran-heran mendengar ucapan wanita tersebut lalu berkata, "Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayit hingga mereka enggan mengurusi mayatnya?"

Mendengar kata-kata sang Sultan yang merasa tidak mungkin wali Alloh menolong jenazah pendosa wanita itu mengatakan, "Aku sudah menduga hal itu. Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual khomar lalu membeli seberapa banyak yang dia bisa beli kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar ke toilet dan dia berkata, 'Semoga aku bisa meringankan keburukan khomar dari kaum muslimin.' Suamiku juga selalu pergi kepada para pelacur lalu memberinya uang dan berkata, 'Malam ini engkau kubayar dan jangan kaubuka pintu rumahmu hingga pagi.' Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar, 'Alhamdulillah, semoga dengan begitu aku bisa meringankan keburukannya dari pemuda-pemuda muslim malam ini.' Sementara itu orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar dan masuk ke rumah pelacur sehingga mereka membicarakan suamiku dengan penuh keburukan. Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku, 'Sungguh jika seandainya engkau mati tentu tak ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.' Suamiku tersenyum dan menjawab, 'Jangan khawatir Sayangku, pemimpin kaum muslimin yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.'"

Sultan pun menangis dan berkata, "Suamimu benar, demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi', besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya."

Akhirnya di antara yang menyaksikan jenazah pria itu ialah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.

*Sultan Murad IV adalah Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-17 (1623-1640). Dia hidup pada tahun 1021-1049 H (1612-1640 M). Dia diangkat menjadi Sultan Kekhilafahan Utsmaniyah pada usia 11 tahun.

Umat Islam, Kita Ini Tokoh Utama

Kemarin di Jogja ada pameran expo anak, juga ada pameran islamic book fair. Yang di expo anak rame banget, nggak ada yang ngingetin sholat. Yang di islamic book fair ada yang ngingetin sholat tapi nggak serame yang di expo anak. Bagaimana sikap kita?

Bikin pameran sebesar expo anak sekaligus ada yang ngingetin sholat!

Selama ini dakwah kita selalu defensif. Dari zaman yang rame-rame baru kristenisasi, hingga islam radikal, islam liberal, NII, islam jamaah, ahmadiah, syiah, sampai ISIS, posisi kita selalu "Bagaimana ini? Bagaimana cara membentengi saudara-saudara kita? Dan sebagainya."

Setiap dilempar serangan (serangan selalu ada, hanya blow up nya yang pakai timing), kita seprti kebakaran jenggot. Musuh-musuh islam berhasil menggentarkan barisan kita dengan menyebar berita, "musuh ribuan di balik bukit", padahal cuma puluhan musuh berputar-putar dengan hentakan kaki kuda mereka menerbangkan debu sehingga nampak banyak.

Jika kita memang telah mengerjakan kewajiban kita berupa dakwah ilalloh, memperkenalkan dan mengajarkan islam kepada umat, insyaalloh tak gentar kita hingga menerbitkan buku, ceramah, mengadakan seminar, "ciri-ciri aliran sesat, bahaya ini, bahaya itu". Ibarat kita sibuk memompa jalan yang kebanjiran saat musim hujan karena selama ini kita belum bikin drainase yang baik.

Ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran kita menunjukkan sebenarnya kita belum melakukan apa-apa, belum maksimal dalam menjalankan peran kita sebagai 'abid dan khalifah di muka bumi.

Banyaknya gempuran musuh semestinya tak hanya dibalas dan dibalas. Layaknya main badminton, kita hanya diombang-ambing kanan kiri kanan kiri tanpa punya determinasi bahwa kita yang harus menundukkan musuh.

"Pahami cara berpikir mereka, jangan berpikir sebagaimana mereka berpikir tentang cara kita berpikir"

Dilempar serangan blokir situs, rame kita bahas blokir situs. Dipancing konflik, kita ikut konflik. Ini semacam umpan, "test the water" bukan semata untuk mengetahui reaksi umat terhadap suatu isu/wacana, ini seperti mereka sedang menyusun kepingan puzzle. Pola gerak kita sedang dipolakan sehingga musuh akan tahu lebih banyak tentang kita, kelak lebih mudah bagi mereka untuk "membuat kita mengikuti mereka".

Di wilayah konflik sebagaimana Palestina, Mesir, dan sebagainya yang dakwahnya sangat butuh amniyah, tentu kondisinya tak sedemokratis Indonesia. Kita pernah berada di masa seperti mereka, dakwah perlu hati-hati. Namun nampaknya kita lupa. Inilah jebakan demokrasi, kita masih gagap hidup di alam demokrasi. Kita terlalu larut dalam fatamorgana, asyik dengan drama. Mindset kita masih ODB (Orang Demokrat Baru), meminjam istilah OKB (Orang Kaya Baru). Sebagaimana kekayaan harta dunia hanya alat, demokrasi juga demikian. Semoga bisa ditangkap maksudnya.

Di alam orde baru yang represif gerakan-gerakan dakwah mengakar kuat di bawah tanah tanpa bisa diberangus. Di alam pascareformasi yang serba demokrasi semua gerakan muncul ke permukaan, sangat mudah didata. Sangat mudah dibaca arah geraknya.

Gerakan-gerakan kecil digebuk dengan cap teroris (sekarang ISIS), petugas negaranya Densus 88. Gerakan-gerakan yang sudah besar dipermalukan dengan cap koruptor, petugasnya KPK. Kelompok-kelompok Islam yang tak populis siap-sia digerebek Densus. Kelompok Islam yang populis siap-siap ditelanjangi oleh media. Semuanya merupakan bagian dari resiko perjuangan dan bukan itu fokus kita.

Apapun yang sedang kita hadapi, musuh berupa siapapun yang sedang dibabakkan dalam episode perjalanan dakwah kita, kita harus punya narasi. Kita yang harus menguasai jalan cerita, firman ilahiyah dan sabda nubuwah yang jadi skenario kita.

Umat islam ini tokoh utama, jangan mau dikerjai oleh figuran-figuran konyol yang membuat tokoh antagonis tertawa di balik layar. Jangan mau nampak bodoh di atas panggung. Jangan larut dalam tiap adegan. Mari kita buat tokoh antagonis dan para penonton selalu waspada, bukan sebaliknya. Bila perlu buatlah, "Kok begitu? Kok diam? Apa yang direncanakan mereka?" Mereka tak boleh tahu bagaimana cara kita akan membalik keadaan hingga akhirnya kita yg menguasai jalan cerita.

"Mereka merasa telah membuat makar terbaik. Sesungguhnya Alloh lah sebaik-baik pembuat makar."

Hasbunalloh wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir, laa haula wa laa quwwata illaa billah al'aliy al'adhim.

Salam...

Malaikat Menampakkan Diri Sebagai Pengemis


Bukhari-Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka malaikat.

Pertama-tama datanglah malaikat itu kepada si penderita lepra dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.' Maka diusap-usaplah penderita lepra itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya, serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Unta dan sapi.' Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.' Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikatpun bertanya lagi kepadanya, 'Kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Sapi atau Unta.' Maka diberilah ia seekor sampi bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.'

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatan-ku sehingga aku dapat melihat orang-orang.' Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Kambing.' Maka diberilah seekor kambing bunting.

Waktu berselang, maka berkembang biaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga orang pertama mempunyai selembah unta, orang kedua mempunyai selembah sapi, dan orang ketiga mempunyai selembah kambing.

Kemudian datanglah malaikat itu lagi kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya dan berkata, 'Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizqi) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor onta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Tetapi dijawab, 'Hak-hak (tanggunganku) banyak.' Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata, 'Sepertinya aku mengenal anda. Bukankah anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?' Dia malah menjawab, 'Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.' Maka malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.'

Lalu malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan semula.'

Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, 'Aku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalanan ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Orang itu menjawab, 'Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang anda sukai dan tinggalkan apa yang anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.' Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, 'Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.'"

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab hadits tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di kalangan Bani Israil (6/500 no. 3464). Dan Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitabul Iman wan Nudzur, (11/540), no. 6653.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabuz Zuhd war Raqaiq (4/2275), no. 2964. Hadis ini dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 18/398.

Kenapa Artikel Berita tentang Hari Kiamat Selalu Menjadi Viral?

Kenapa artikel-artikel dan berita mengenai telah munculnya tanda-tanda kiamat atau bukti ilmiah akan terjadinya kiamat sangat mudah menjadi viral di media sosial dan cepat mewabah di media pemberitaan online? Seakan-akan hari kiamat sangat dinantikan dan diharapkan kepastian waktu kebenarannya segera terungkap. Barangkali kisah berikut bisa menjawab pertanyaan itu.


----------



Adanya hasil pengamatan mengenai asteroid besar yang kemungkinan akan menghantam bumi dalam waktu dekat membuat para pemimpin dunia mengadakan pertemuan di bawah koordinasi PBB. Proyek "Perahu Nabi Nuh" memunculkan banyak pandangan dan usulan strategi apa yang mungkin digunakan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dan makhluk hidup lainnya dari pemusnahan massal.


Sayangnya tidak ada kepastian program yang akan dikerjakan bersama di bawah koordinasi PBB. PBB menyerahkan kepada masing-masing negara untuk menyusun strategi semampunya. Ketidakseimbangan cadangan kekayaan dan sumber daya setiap negara sekaligus jumlah penduduk yang bervariasi menyebabkan tidak ada kesepakatan program bersama dalam proyek penyelamatan bumi itu.

Dalam pertemuan lanjutan setelah para pemimpin negara menyusun strategi bagi negara masing-masing ternyata Indonesia memiliki strategi paling menggemparkan. Banyak strategi bermunculan sebagai jalan misi program "Perahu Nabi Nuh". Sebagian besar negara mengamini rencana Amerika Serikat untuk membuat bunker bawah tanah dengan kekuatan tahan terhadap radiasi bom atom atau nuklir yang mungkin diciptakan. Sebagian lain menyambut baik rencana Rusia dan China membuat pesawat ruang angkasa raksasa. Jepang merencanakan Perahu Nabi Nuh dalam makna denotatif dengan asumsi bahwa air memiliki daya redam terhadap guncangan yang sangat stabil.

Para peserta dari berbagai negara saling mengajukan argumen ilmiah, politik, ekonomi, dan pandangan dari banyak aspek sebelum akhirnya mereka semua dibuat bungkam oleh Indonesia. Presiden Indonesia naik ke podium untuk menyampaikan strategi Indonesia dalam menghadapi "kiamat" planet bumi. Dengan wajah penuh optimis sang presiden membuka presentasinya. Peserta semua terdiam tegang, "Bagaimana presiden Indonesia bisa setenang itu di tengah kepanikan semua negara?"

Usai salam dan ucapan syukur presiden Indonesia diam sambil membuka kopyah hitamnya. Ia mengusap rambut ke belakang dengan tangan kiri sembari meletakkan kopyah hitam di samping mikrofon podium dengan tangan kanan.
"Ini bukan hanya masalah kami bangsa Indonesia, ini bukan hanya masalah agama apapun dengan ajaran mereka masing-masing tentang hari kiamat, ini tentang kita, ini masalah kita, ini masalah umat manusia, kemanusiaan, dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi."

"Kami bangsa Indonesia telah bulat mengambil sikap dan langkah ini dalam menghadapi kemungkinan bencana dunia yang akan terjadi dalam waktu dekat"

"Kami mengajak semua pemimpin negara yang hadir dalam pertemuan ini jika berkenan juga melakukan sebagaimana rencana kami."

Suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar di ruangan itu. Suasana begitu haru saat presiden Indonesia berkaca-kaca hendak melanjutkan pidatonya.

"Kami bangsa Indonesia telah sering, sering sekali mendapat musibah baik itu berupa bencana alam maupun bencana kemanusiaan."

"Selama ini kami berusaha terus bertahan dan dalam kesempatan ini saya selaku wakil dari seluruh rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada negara lain yang kerap memberikan uluran tangan kepada kami."

"Kami bangsa Indonesia telah bulat dengan keputusan kami."

"Bahwa kami akan mengadakan pesta rakyat selama empat puluh hari empat puluh malam untuk menghadapi bencana ini."

"Ooooh..." suara para pemimpin negara serentak merasa kaget dengan rencana Indonesia.

"Tenang.... Saya mohon tolong izinkan saya menyelesaikan pernyataan sikap selaku perwakilan dari bangsa Indonesia."

Peserta kongres pun kembali tenang.

"Ini, kami, kami akan mengadakan pesta rakyat empat puluh hari empat puluh malam sebagai wujud syukur terdalam kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah sangat berat rasanya penderitaan kami di dunia ini. Cobaan, ujian, musibah kami alami bertubi-tubi silih berganti. Kami bersyukur semua ini akan segera berakhir...."

Sang presiden Indonesia mengakhiri pidatonya dengan tangis sesenggukan, "Terima kasih."

Ia berlalu turun dari podium lalu menyalami para pemimpin dunia, memeluk erat mereka, "I'm sorry for all mistakes, thank you for being best partner in this hard world. See you in heaven, i hope..."

*Fiktif imajinatif, semoga nggak gitu2 banget... Harapan itu masih ada, Indonesia 

Salafy Mempersilakan PKS Memimpin


Sudah jamak kita temui antar gerakan dakwah Islam terjadi gesekan-gesekan. Berbagai perbedaan pandangan tentu wajar karena metode dakwah yang dijadikan jalan perjuangan juga berbeda. Gerakan dakwah Salafy yang berusaha memurnikan aqidah menghidupkan sunnah menghapus bid’ah dan anti demokrasi acapkali berselisih pendapat dengan gerakan dakwah Tarbiyah yang berusaha meletakkan kesempurnaan Islam di seluruh sisi kehidupan melalui partai politik yang dibentuknya yaitu PKS.

Jika kader Salafy membaca tulisan ini mungkin akan muncul kegeraman tersendiri terhadap PKS begitu juga sebaliknya. Masing-masing kalangan elit mereka boleh jadi tidak terlalu detail menanggapi isu-isu yang sensitif dan rawan memicu perpecahan. Bagi mereka semua itu adalah bumbu-bumbu perjuangan, satu sama lain sudah saling faham. Lain dengan para elit, kalangan akar rumput biasanya lebih sering bersitegang.

Sesungguhnya kedua gerakan dakwah ini yaitu Salafy dan PKS mempunyai potensi besar jika bekerja sama. Bila mereka bisa berkolaborasi dalam hal yang mereka sepakati dan bisa bertoleransi dalam hal yang mereka tidak sepakati, niscaya gelombang dakwah akan semakin menggulung tinggi dengan gegap gempita membahana. Mimpi yang sulit terwujud mungkin mengingat keduanya bagaikan air dan minyak, sama-sama cair namun sulit bercampur.

Pada dasarnya air dan minyak sulit bercampur namun dalam eksperimen sains keduanya bisa saling berikatan ketika diberi sabun. Barangkali sabun ini merupakan katalis yang bisa melarut di air maupun di minyak. Kelak sabun-sabun akan dan bahkan sudah meliputi Salafy dan PKS. Adab ta’aruf, tabayyun, tawashou, dan ta’awun mulai nampak dari keduanya.

Kini orang Salafy dan orang PKS tak segan berkolaborasi dalam dakwah yang sama-sama mereka sepakati. Dalam hal memakmurkan masjid, menggemakan al-quran, menolong sesama, keduanya memiliki pandangan yang sejalan. Tak lama lagi, insyaalloh keduanya akan berkoalisi dalam sebuah kepemimpinan Islam yang baik di negeri Indonesia, semoga.

Ada yang menarik dari fenomena trend saling memberi perhatian dan saling mendekat dari Salafy dan PKS. Ternyata Salafy mempersilakan PKS memimpin. Ketika masih menjadi aktivis dakwah di kampus saya dapati teman saya yang notabene Salafy mempersilakan teman saya yang berafiliasi dengan PKS untuk memimpin lembaga dakwah. Teman Salafy saya menjadi seorang kepala bidang sedangkan teman PKS saya menjadi seorang mas’ul padahal di awal syuro keduanya adalah calon mas’ul.

Saat saya kebetulan memegang sebuah lembaga dakwah al-qur’an independen, teman saya yang Salafy mempersilakan dan dengan begitu ridho menerima ditempatkan sebagai manajer sedangkan saya sebagai direktur. Saya berafiliasi dengan PKS. Kami menjalani dakwah dengan berbagai strategi dan perjuangan bersama. Kami saling menjaga pendapat masing-masing dan sudah saling tahu bagaimana semestinya bersikap satu sama lain.

Beberapa saat yang lalu saya begitu tersentuh dengan satu peristiwa sehingga akhirnya saya menuangkan pemikiran saya dalam tulisan ini. Peristiwa tersebut mendorong saya menyimpulkan bahwa “Salafy mempersilakan PKS memimpin”. Semoga setelah membaca tulisan ini ada sedikit pencerahan bagi kita. Tak diragukan lagi, meskipun Salafy begitu anti dengan gerakan dakwah di ranah politik praktis yang digencarkan oleh PKS, sesungguhnya mereka sangat rela dan mempersilakan PKS memimpin.

Siang itu menjelang adzan Dzuhur waktu kami tiba di sebuah rumah sakit khusus ibu dan anak di Yogyakarta. Kami sedang duduk di bawah pohon saat sebuah mobil berhenti di depan pintu masuk rumah sakit. Dari mobil itu keluar seorang wanita bercadar mengeluarkan beberapa barang bawaan. Menyusul tiga atau empat anak kecil dan seorang pria berjenggot tebal bercelana cingkrang keluar dari mobil tersebut.
“Salafy,” pikir saya.

Usai sholat Dzuhur setelah mendaftar dan diperiksa oleh seorang bidan istri saya mengabarkan bahwa dia sudah harus mondok. Bismillah, kami memutuskan untuk menyambut kelahiran anak kedua kami di rumah sakit itu. Di ruang bersalin yang terdapat dua tempat tidur itu sudah ada satu tempat tidur yang terpakai. Beberapa saat kemudian pasien itu pindah ke ruang lain. Ternyata pasien itulah yang tadi turun dari mobil bersama suami dan beberapa anaknya.

Begitu jam dinding menunjukkan sekitar pukul 18.00 dari ruang sebelah terdengar tangisan bayi. Rupanya sang ibu tadi sudah melahirkan. Menyusul pada pukul 18.10 istri saya melahirkan. Anak mereka perempuan, anak kami laki-laki. Segera kami mengabarkan kepada keluarga lalu pergi ke mushola untuk sholat Maghrib.

Berikut ini adegan berulang-ulang yang membuat saya tersentuh. Di mushola rumah sakit yang tidak terlalu luas sang bapak Salafy beserta anak-anaknya menunggu untuk sholat jama’ah bersama. Di lain kesempatan saya menunggu untuk sholat jama’ah bersama. Saya tersentuh ketika berkali-kali kesempatan sholat jama’ah bapak itu mengumandangkan iqomat dan mempersilakan saya menjadi imam sholat.

Saya merasa tidak lebih pantas menjadi imam dibandingkan sang bapak Salafy. Saya kalah umur, kalah jumlah anak, kalah panjang jenggot dan kalah cingkrang. Setidaknya ukuran-ukuran fisik tersebut membuat saya sedikit minder untuk menjadi imam. Saya merasa faham fiqh sholat, bacaan alquran saya lumayan tidak kurang dari standar, maka bismillah saya maju meskipun sempat saling dorong mempersilakan menjadi imam.

Dari banyak peristiwa yang saya alami saya merenungkan bahwa sesungguhnya orang-orang Salafy begitu tawadhu. Mereka tidak suka mengambil jabatan sebagai pemimpin. Bukan karena mereka tidak mampu namun mungkin karena kepemimpinan selalu dimintai pertanggungjawaban oleh Alloh dan itu berat. Allohu a’lam, dalam berbagai kesempatan saya lebih sering bertemu orang Salafy yang suka memberi kesempatan orang lain berada di depan mereka.

Mereka siap berada di shof terdepan, siapapun imamnya mereka akan taat. Tak terhitung sholat jama’ah yang saya lalui bersama orang-orang Salafy yang demikian. Subhanalloh, sepertinya berbagai kejadian seperti ini bisa digeneralisasikan bahwa orang Salafy siap dipimpin siapa saja. Betapapun keras mereka terhadap orang-orang PKS, ketika PKS memimpin mereka akan sami’na wa atho’na. Dalam wilayah kepemimpinan umat, sekritis-kritis orang Salafy terhadap PKS, sesungguhnya Salafy mempersilakan PKS memimpin. Insyaalloh mereka akan sangat lebih ridho dipimpin oleh orang PKS daripada dipimpin oleh orang kafir. Insyaalloh.

Abu Mursyid bin Jamal As-Sulaimani

Pasrah Bongkokan


Judul di atas bisa bermakna totalitas menyerahkan semua urusan kita. Kepada siapa? Kepada sesiapa yang kita pasrahi. “Pokoknya saya sudah pasrah bongkokan.”
Bongkokan berarti terikat, layaknya beberapa batang ranting yang diikat jadi satu dengan kuat dan sangat sulit dilepaskan. Istilah dalam bahasa umum: “terima jadi”.

Pernahkah Anda merasa begitu percaya pada seseorang sehingga menaruh semua urusan pada orang tersebut? Misalnya dalam membangun rumah Anda menyerahkan dari desain hingga finishing, bahkan anggaran biayanya pada pemborong. Yang penting Anda punya rumah.

Dalam dunia pendidikan kita banyak melihat kecenderungan fenomena ini. Wali siswa sudah pasrah bongkokan kepada para pengajar di sekolah perihal pendidikan anaknya. Seakan-akan mereka sudah kewalahan menghadapi anak sendiri. “Apapun yang diberikan oleh sekolah insyaalloh baik untuk anak saya, “ anggap mereka.

Mungkin sebuah sekolah memang bagus, berhasil mendidik anak-anak sehingga berprestasi, juara sana-sini, hafal ayat-ayat dalam kitab suci dan sebagainya. Tapi apakah itu artinya kita menyandarkan semua urusan terkait pendidikan anak kita pada sekolah itu? Rasanya tidak seperti itu semestinya.

Bagaimanapun juga, kewajiban mendidik anak merupakan kewajiban orang tua. Orang tua lah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Adapun para pendidik di sekolah insyaalloh mendapat pahala tersendiri di sisi Alloh.

Akan aneh ketika seorang ayah sibuk mengurusi bisnis bersama sang istri sedangkan anaknya “dititipkan” di sekolah elit dari pagi hingga petang. Aneh karena kedua orang tua tidak melakukan apa-apa tapi anaknya begitu sholih berkat pendidikan di sekolah. Tentu kita akan bertanya, sebenarnya anak itu anak siapa?

Aneh juga ketika anak lima tahun dikirim ke pesantren untuk menghafalkan Al-Qur’an, orang tua berharap hanya dari tumpukan Rupiah yang mereka infakkan di pesantren itu akan membuahkan seorang anak penghafal Al-Qur’an. Sungguh ironi tak terperi jika sampai para orang tua saling membanggakan jumlah hafalan anak-anak mereka padahal mereka tak melakukan muroja’ah bahkan satu ayat saja. Anak-anak sholih itu atas jerih payah siapa?

Baguslah jika kita mampu menyekolahkan anak kita di sekolah terbaik. Pastinya kita ingin anak kita jadi anak-anak yang baik dan berprestasi. Sepatutnya orang tua dan sekolah berkolaborasi. Sudah seharusnya orang tua dan sekolah berkongsi menjadi satu tim.

Tidak selayaknya orang tua menyerahkan begitu saja urusan pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah. Semoga kita tidak menjadi bagian dari orang tua yang karena kekurangpahaman mereka, kemerasabodohan mereka, kemerasamiskinan mereka akhirnya membiarkan anak-anak dididik oleh sekolah tanpa visi. “Yang penting anakku sekolah setinggi-tingginya supaya mudah dapat kerja.”

“Kenapa Anda ingin menyekolahkan anak Anda di sini?” seharusnya pertanyaan ini selalu muncul dari seorang kepala sekolah saat hendak menerima siswa baru. Dari situlah akan muncul kesepakatan-kesepakatan antara orang tua dengan sekolah sehingga orang tua tidak hanya pasrah bongkokan atas pendidikan anak-anak mereka.

Kesimpulan kita dari tulisan ini adalah jangan pernah pasrah bongkokan kepada siapapun kecuali hanya pada Alloh subhanahu wa ta’ala. Allohu a’lam.