Reuni Krik Krik

Empat orang pria mengadakan reuni lalu berbincang tentang perjalanan kehidupan selama ini berikut capaian-capaian kondisi kekinian mereka.

Pria 1 : Alhamdulillah, sejak sering shalat dhuha rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses, banyak investor pengen buka cabang, sebentar lagi anak saya lulus SMA, rencananya akan sekolah ke luar negeri.

Pria 2 : Subhanallah, sejak naik haji lalu berusaha umroh tiap tahun ibadah rasanya menjadi lebih greget. Alhamdulillah anak juga sukses, rumahnya ada dua, punya villa dan beberapa kavling, aset semakin bertambah. Orang tua pun sangat bangga, berkat doa saya di tempat2 mustajab di haromain.

Pria 3 : Masya Allah sungguh nikmat tak terkira sejak merutinkan puasa dan bersedekah rezeki bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak saya baru selesai kuliah diluar negeri dan langsung diangkat jadi staff khusus mentri.

Ketiga pria tersebut kemudian melirik ke arah pria ke-4 yang sejak awal hanya terdiam. Salah satu dari mereka bertanya kepada pria ke-4.

“Bagaimana dirimu? Kawan, mengapa diam saja?”

Pria 4 : Saya tidak sehebat kalian. Jangankan kesuksesan, bahkan saya tidak tahu ibadah yang saya lakukan ada yang diterima oleh Allah atau tidak.

...Krikk.. ..krikk...

Jauh dari Keramaian Muktamar NU dan Muhammadiyah; Siapakah 'Abdullah Dahlan Asy'ari?

Akhir-akhir ini ramai orang-orang memperbincangkan muktamar NU dan Muhammadiyah yang hampir berbarengan. NU mengadakan muktamar ke-33 di Jombang Jawa Timur pada tanggal 1-5 Agustus 2015. Muhammadiyah mengadakan muktamar ke-47 di Makassar Sulawesi Selatan pada tanggal 3-7 Agustus 2015. Keduanya merupakan ormas besar dengan pendiri masing-masing yang memiliki kedekatan jalur nasab keturunan maupun sanad guru.

KH Muhammad Hasyim Asy'ari dan KH Muhammad Darwis Ahmad Dahlan tentu terkenal di seluruh penjuru nusantara. Keduanya mendirikan organisasi massa yang hingga saat ini bisa dikatakan menjadi dua ormas terbesar di Indonesia: Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah. Berbagai perbedaan simpulan fiqh diadukan antarkeduanya. Agar mereka tak bersatu, mungkin kehendak para penjajah zaman dahulu. Benar, jika umat islam bersatu, kedua ormas besar islam bersatu, barangkali penjajah akan lari tunggang langgang saat itu.

Suatu saat pernah terbentuk Masyumi atau Majlis Syuro' Muslimin Indonesia yang mewadahi semua ormas islam di Indonesia. Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah ada di dalamnya. Sebelum PEMILU '55 NU keluar dari Masyumi lalu mendirikan partai sendiri. Konon hal tersebut dikarenakan para kiai NU dikerdilkan perannya, hanya boleh mengurus pesantren. Setelah PEMILU '55 Muhammadiyah juga perlahan menarik diri dari Masyumi. Masyumi hanyalah cara Jepang mengumpulkan lalu memegang "kepala" umat islam, selain melalui keberadaan departemen agama di bawah pemerintahan Jepang ketika itu.

Bayangkan, saat PEMILU '55 Partai Masyumi memperoleh lebih dari 20% suara di parlemen sedangkan Partai Nahdlatul Ulama memperoleh sekitar 16% suara. Jika tidak ada Dekrit 5 Juli oleh Presiden Soekarno yang membekukan konstituante mungkin wajah Indonesia akan berbeda saat itu. Selain itu memang setelah memerdekakan bangsa para kiai dan santri cenderung kembali ke pesantren sehingga pos-pos kepemimpinan dan kekuasaan diserahkan kepada kalangan lain dari bangsa ini. Batallah negeri kita jadi Republik Indonesia Syari'ah.

Saat perang kemerdekaan Masyumi memiliki Laskar Hizbulloh sebagai barisan mujahidin pengusir penjajah. Santri-santri baik dari Nahdlatul Ulama maupun Muhammadiyah berada dalam satu komando untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kisah mengenai presiden Soekarno yang meminta fatwa kepada Ulama mengenai hukum berperang melawan penjajah, sowannya Bung Tomo, sowannya Jenderal Soedirman ke pesantren-pesantren mungkin pernah menjadi fakta sejarah yang didengar banyak orang dari luar bangku sekolah.

Simbah kakung dari istri saya merupakan veteran Hizbulloh. Beliau seorang Muhammadiyah. Beliau sering menuturkan epik kepahlawanan zaman perjuangan kepada istri saya. Bapak ibu mertua saya juga Muhammadiyah. Keluarga besar istri saya bisa dibilang keluarga Muhammadiyah. Lain dengan keluarga saya, keluarga saya merupakan basis keluarga Nahdlatul Ulama. Sampai saat ini bapak ibu saya berkhidmat pada salah satu pondok pesantren besar NU di Yogyakarta. Orang-orang NU tentu tahu Pondok Pesantren Sunan Pandanaran.

Takdir Alloh mengantar saya menjadi santri di Pondok Pesantren Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta pada pertengahan tahun 2004 tepatnya mulai 17 Agustus 2004. Pesantren NU itu berada di lingkungan wilayah Muhammadiyah. Akulturasi budaya dan tradisi kedua ormas menemukan titik toleransi di sana. Uniknya, konon KH Asyhari Marzuki pendiri pondok pesantren tersebut mengagumi pergerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir dilihat dari koleksi buku-bukunya. Hal ini dituturkan oleh seorang alumni pondok yang pernah mengkodifikasi buku di perpustakaan "ndalem". Saya sendiri belum pernah bertemu beliau karena saya mulai mondok beberapa hari setelah beliau wafat.

Sembari nyantri di PP Nurul Ummah saya juga mengaji kepada murobbi dan ustadz-ustadz Tarbiyah yang gerakan dakwahnya terinspirasi gerakan Ikhwanul Muslimin di Mesir. Saya pun akhirnya pindah mondok ke Pondok Pesantren Mahasiswa Islamic Centre Al-Muhtadin Seturan yang diasuh oleh KH Cholid Mahmud, salah seorang perintis dakwah Tarbiyah di Yogyakarta. Sementara itu usia remaja istri saya dihabiskan di Pondok Pesantren Modern Islam Assalam Solo lalu dilanjutkan di Madrasah 'Aliyah di Yogyakarta. Dalam masa yang sekira hampir sama istri saya sempat mengikuti pergerakan Muhammadiyah sampai akhirnya bertemu dengan orang-orang Tarbiyah.

Hari itu tiba ketika kami bertemu dalam sebuah akad nikah. Putri dari keluarga Muhammadiyah menikah dengan putra dari Keluarga Nahdhatul 'Ulama'. Teman-teman dari orang tua kami banyak yang mengherankan hal itu. "Ben podo bersatu, aku wes nglekasi," kata ibu mertua saya.

Putri pertama kami lahir saat kami merasakan begitu banyaknya masalah umat di negeri Indonesia. Pastinya secara hitungan manusia tak cukup satu dua orang untuk menyelesaikannya, bahkan satu dua generasi pun rasanya belum cukup. Kami beri nama putri pertama kami Halilah Halimah Mursyidah. Halilah bermakna solusi. Kami mendoa pada Alloh agar kelak ia dan anak keturunannya menjadi bagian dari solusi atas masalah-masalah umat.

Halimah bermakna lembut. Pada awalnya kami berharap anak pertama kami lahir laki-laki namun ternyata Alloh menghendaki lahir perempuan. Halimah merupakan nama seorang wanita yang menyusui Rosululloh saw. Di balik nabi yang mulia ada seorang wanita yang tak setenar istri-istri nabi, hanya dikisahkan wanita itu dilimpahi barokah karena membawa pulang bayi calon nabi, namun melalui perantara wanita itulah sesungguhnya Alloh memberi rizki pada permulaan kehidupan sang nabi. Semoga kalaupun ia tak menjadi orang yang berada di depan sebagai pemimpin, kelak ia memiliki peran dalam melahirkan pemimpin-pemimpin besar yang menjadi solusi.

Mursyidah bermakna penunjuk, instruktur, atau pengarah. Saat kehamilan pertama istri saya banyak membaca surat Al-Kahfi. Diriwayatkan bahwa Rosululloh saw pernah berpesan yang maknanya bahwa barangsiapa menghafal 10 ayat pertama surat Al-Kahfi maka ia akan dijaga dari fitnah dajjal. Hari-hari kita saat ini ialah hari-hari akhir zaman dimana suatu hari akan muncul fitnah dajjal. Kehidupan semakin kacau balau, gonjang-ganjing, terbolak-balik, serba buram, serba tidak jelas. Hajat kita semua kepada Alloh di akhir zaman ini ialah keberadaan Al-Mahdi, seorang imam yang dijanjikan Alloh untuk memberi satu komando kepada seluruh umat islam di dunia. Mursyidah, seorang mursyid wanita yang semoga menjadi perantara Alloh memberi petunjuk dan arahan kepada umat untuk menemukan solusi-solusi dan menelusuri jalan-Nya di zaman yang mulai kembali gelap gulita.

Saat putri pertama kami berusia sekitar delapan bulan kami mencoba mengaktifkan sebuah pesantren. Saya menyerahkan sebuah lembaga pendidikan Al-Qur'an yang saya dirikan di Yogyakarta kepada kawan-kawan yang dahulu juga bersama-sama mendirikannya. Saya memilih memulai mengelola pesantren tanpa santri. Berawal dari seorang santri, menjadi tiga, menjadi sepuluh, hingga menjadi tiga puluh lima saat akhirnya kami meninggalkan mereka. Pesantren Masyarakat As-Salam kini juga kami serahkan pengelolaannya kembali kepada pengurus yayasan.

Sebelum kami memutuskan mencoba mengelola pesantren, kami sowan kepada salah satu pengasuh pesantren di Imogiri. Beliau mendalami tasawuf, memberdayakan masyarakat, mendirikan pesantren, sekaligus menjalani kehidupan sebagai seorang budayawan dengan sekian banyak karya dan kesibukan. Gus Nas, beliau biasa disebut, kami memanggil beliau Pak Nas. Beliau salah satu guru istri saya. Beliau sebenarnya tidak mengizinkan kami mengurus pesantren. Beliau justru menawarkan kami mengelola pesantren beliau di salah satu bukit di daerah Imogiri. "Kamu tiga tahun tinggal di sana, setelah itu silakan. Mendirikan pesantren itu bukan hal yang mudah. Butuh keikhlasan yang besar. Para kiai itu mengalami proses pemurnian keikhlasan yang luar biasa. Tiga tahun, nanti kamu akan siap menghadapi segala macam manusia dengan berbagai karakter."

Kami melanjutkan kehidupan dengan tetap bertekad mendirikan sebuah pesantren. Saya meninggalkan Baitul Qur'an lalu tiba-tiba diajak mendirikan pesantren oleh yayasan. Tadinya saya memang berniat tiga atau lima tahun lagi baru akan mendirikan pesantren namun barangkali Alloh ingin segera membenturkan kami dengan tadhribat. Mulailah kami mengajarkan hafalan Juz 'Amma kepada anak-anak lingkungan sekitar pesantren hingga akhirnya kami memutuskan pindah tempat tinggal menjelang kelahiran anak kedua kami.

"Kita kan belum tahu yang akan menjadi kiainya As-Salam itu siapa."
Istri saya tersenyum dalam kesakitan, "Maksudnya anak ini? Aamiin."
Sesaat usai adzan Maghrib anak kedua kami lahir laki-laki padahal dua kali periksa USG dikatakan bahwa sepertinya janin berjenis kelamin perempuan. Nama yang sudah kami siapkan untuk anak pertama akhirnya kami berikan kepadanya. Putra kedua kami beri nama 'Abdullah Dahlan Asy'ari. Kami mendoa pada Alloh agar kelak ia dan anak keturunannya menjadi bagian dari pengawal bangkit dan bersatunya umat Islam.

Nama 'Abdullah kami ambil dari nama seorang pendiri gerakan Tarbiyah di Indonesia yaitu KH Rahmat 'Abdullah. Saat ini gerakan Tarbiyah lebih dikenal dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Beliau wafat sekitar tahun 2005. Sebuah film dibuat untuk mengenang beliau dengan judul "Sang Murobbi". Tidak lama lagi insyaalloh juga akan diluncurkan film "Rindu Sang Murobbi". Film Sang Murobbi mengisahkan perjalanan dakwah beliau keluar masuk kampung, bersembunyi dari rezim represif ketika itu, berbagai tantangan, ujian, masalah, ukhuwah, hingga akhirnya pada masa reformasi berdirilah Partai Keadilan yang sekarang berganti nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera.

Nama Dahlan kami ambil dari nama seorang pendiri gerakan Muhammadiyah di Indonesia yaitu KH Muhammad Darwis Ahmad Dahlan. Pada peringatan satu abad Muhammadiyah beberapa tahun lalu sebuah film dibuat untuk mengenang beliau dengan judul "Sang Pencerah". Film Sang Pencerah menggambarkan betapa gelapnya kehidupan agama di sekitar Kraton Ngayogyokarto, bagaimana beliau berupaya mencerahkan Kauman sepulang berguru di Makkah, mengajar, melayani masyarakat, mendirikan sekolah, ditentang, langgar(surau)nya dibakar, bekerjasama dengan penjajah, mengajar di sekolah mereka, hingga akhirnya pada tahun 1912 berdirilah Persyarikatan Muhammadiyah.

Nama Asy'ari kami ambil dari nama seorang pendiri gerakan Nahdlatul Ulama di Indonesia yaitu KH Muhammad Hasyim Asy'ari. Sebuah film dibuat untuk mengenang beliau dengan judul "Sang Kiai". Film Sang Kiai mengisahkan bagaimana perjuangan para kiai dan santri berperan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Film ini lebih banyak mengambil setting waktu setelah berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Penggambaran bagaimana beliau mengasuh pesantren, mengayomi para petani, membersamai mereka, memberi pengertian-pengertian kepada para santri dengan begitu lembut, hingga ditangkap penjajah karena tidak mau melakukan Seikerei, membentuk Masyumi, menjadi menteri agama, menerima kunjungan pejuang-pejuang kemerdekaan, memberangkatkan para santri berjihad mengusir penjajah melalui Laskar Hizbulloh, sampai akhirnya wafat membuat penonton merasa rindu dengan sosok kiai seperti beliau.

Sesungguhnya kita ini memiliki tiga bapak: pertama; bapak kandung kita, kedua; yang menikahkan putrinya dengan kita, ketiga; yang mengajari ilmu pada kita. Ayah saya Nahdlatul Ulama, mertua saya Muhammadiyah, guru saya Tarbiyah (PKS). Melalui tulisan ini kami hanya meminta Al-Fatihah dan doa dari ikhwah sekalian, tolong mohonkan pada Alloh, semoga kelak 'Abdullah Dahlan Asy'ari berserta anak keturunannya Alloh jadikan sebagai bagian dari pengawal bangkit dan bersatunya umat Islam di negeri Indonesia. Tentunya dunia ini akan indah saat ada bumi, matahari, dan bulan yang beredar dan bertasbih dalam ketundukan pada-Nya. Wallohul muwaffiq ila aqwamith thoriq, albirru manittaqo, fastabiqul khoirot, allohu a'lam bish showab, wal 'afwa minkum, wa akhiru da'wana alhamdulillahi robbil 'alamin. Aamiin.

Titik Memulai Hari

Suatu saat saya bersama teman-teman diajak menginap di rumah guru kami di salah satu daerah di Jawa Tengah. Rumah guru kami lumayan berada di dataran tinggi ditandai dengan jalan yang agak menanjak dan tanah yang berwarna coklat kemerahan. Kami tidur di rumah beliau hingga pada dini hari dibangunkan untuk bersama sholat malam.

Dalam tidur saya bermimpi telah dibangunkan lalu melihat suasana kampung yang begitu ramai oleh orang-orang.
"Kehidupan di sini dimulai pukul satu atau dua dini hari," kata guru saya dalam mimpi.
Ketika bangun memang saya mendapati ayah beliau kalau tidak salah sedang sholat di halaman rumah. Saya agak lupa, entah itu mimpi atau nyata.

Kami lantas mendirikan sholat malam di mushola sekitar seratus atau dua ratus meter dari rumah guru kami. Sambil menunggu antrian wudhu beberapa dari kami memulai sholat. Sesaat setelah kami sholat bersama, jamaah subuh mulai berdatangan. Subuhan diakhiri dengan saling bersalaman di antara jamaah.

Beberapa kali kami mabit menginap bersama guru kami, entah di masjid, di rumah salah satu dari kami, atau di perkemahan, jam berapapun beliau mulai tidur, hampir selalu jam setengah tiga dini hari beliau sudah mulai membangunkan kami. Mungkin itu sudah menjadi ritme beliau dalam memulai hari. Tentunya ritme irama sirkadian atau jam biologis kita berbeda-beda tergantung pola kebiasaan dan pembiasaan kita. Irama itu yang menjadikan kita mengantuk pada malam hari dan bangun pada pagi hari tanpa bantuan alarm.

Ada sebagian dari kita yang memulai hari saat berkumandang adzan subuh. Ada sebagiaan lain memulai pada pukul lima, pukul enam, pukul tujuh, dan sebagainya. Ada juga yang memulai hari justru saat matahari terbenam sebagaimana berlaku kalender qomariyah. Ada yang memulai hari pukul 00.00 seperti kalender syamsiyah. Semua hanyalah kesepakatan kita dengan diri kita masing-masing.

Para pegawai mungkin merasa memulai hari sejak memasuki kantor. Tentara memulai hari sejak apel pagi. Pedagang pasar induk memulai hari sejak dini hari. Pedagang angkringan bisa jadi merasa memulai hari saat menjelang maghrib. Pegawai dengan shift kerja harinya dimulai saat menjelang shift dimulai. Titik memulai hari menjadi awal kita menghadapi hari itu dengan penuh perjuangan. Orang sakit dan orang-orang yang tanpa aktivitas rutin pun pasti juga merasakan memulai hari.

Seorang anak kos di tanggal tua bisa jadi memundurkan titik memulai hari. Jika biasanya hari dimulai ketika sarapan lalu ke kampus, di tanggal tua anak kos menjamak sarapan dengan makan siang baru setelah itu hari dimulai. Seorang yang mengalami masalah berat, ditagih utang, dikejar deadline barangkali harinya dimulai seketika saat pagi hari membuka mata. Ada pula orang-orang yang tak bisa terlelap sesaat sekali terjaga dari tidurnya. Mungkin ada pula mereka yang harinya berjalan tanpa jeda, siang malam tak ada beda.

Di titik mana Anda menyepakati dengan diri sendiri untuk memulai hari? Dini hari, pagi hari, siang hari, sore hari, petang hari, atau malam hari? Atau Anda tak perlu kesepakatan sama sekali? Atau hari-hari Anda bergulir siang malam tanpa henti, hanya istirahat sejenak untuk meluruskan punggung dan mengistirahatkan badan, tak peduli siang malam? Bagaimanapun jua, semoga Alloh meridhoi setiap detik kehidupan kita.

Ashabul A'rof: Penghuni Perbatasan Surga dan Neraka

Jika selama ini Anda meyakini bahwa di akhirat nanti hanya ada dua pilihan tempat sebagai ketentuan dari Alloh yaitu surga dan neraka, mungkin Anda perlu menyimak tulisan ini. Ternyata kelak ada orang-orang yang tidak masuk surga namun juga tidak masuk neraka. Lalu bagaimana nasib mereka?

"Ya Alloh, aku bukanlah ahli surga namun aku tidak sanggup berada di neraka jahim. Maka terimalah taubatku dan ampunkanlah dosaku. Sesungguhnya Engkau-lah pengampun dosa-dosa besar."

Syair i'tirof Abu Nawas tersebut mungkin sering kita dengar. Syair seorang yang mengerti betul bahwa surga dan neraka ialah milik Alloh, wewenang dan kekuasaan menentukan tempat kembali manusia ialah hak dan kewajiban Alloh. Yang Maha Menghitung amal, menimbang, menilai, dan menyimpulkan hanyalah Alloh. Yang Maha Merahmati hanyalah Alloh. Yang memberi izin untuk memberi syafaat pada Nabi hanyalah Alloh.

Tak pantas rasanya kita masuk surga namun juga tak kuat kita masuk neraka. Hanya ampunan Alloh yang kita minta. Jika Alloh berkenan mengampuni niscaya kita pun akan dimasukkan-Nya ke dalam surga.

Sesungguhnya ada di antara manusia kelak yang tidak masuk surga namun juga tidak masuk neraka. Mereka berada di perbatasan antara surga dengan neraka. Mereka bukan belum dihitung amalnya, bukan orang-orang yang meninggal dalam keadaan gila, bukan anak-anak yang meninggal sebelum baligh. Mereka ialah orang-orang sebagaimana firman Alloh:

"Dan di antara keduanya (penghuni surga dan neraka) ada tabir dan di atas A'rof (tempat yang tertinggi) ada orang-orang yang saling mengenal, masing-masing dengan tanda tandanya. Mereka menyeru penghuni surga. 'Salamun 'alaikum' (salam sejahtera bagimu). Mereka belum dapat masuk, tetapi mereka ingin segera (masuk). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghuni neraka, mereka berkata, 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang dzolim itu.'." (Al-A'rof: 46-49)

Ya, mereka itu Ashabul A'rof. Orang-orang yang menurut para mufassir berada di sana karena mati di jalan Alloh dalam keadaan bermaksiat kepada orang tuanya, atau mereka yang timbangan amal baiknya sama dengan amal buruknya, amal baik tak mampu mengantar ke surga sedangkan amal buruk juga tak mampu mengantar ke neraka, atau anak hasil zina, atau orang-orang sholih yang menghibur diri di al-a'rof, atau mereka yang diridhoi ayahnya namun tidak diridhoi ibunya dan sebaliknya, atau orang yang mati pada masa ketiadaan nabi namun tetap beragama yang lurus, atau para nabi, atau anak orang musyrik, atau orang yang beramal karena Alloh namun riya' dalam amalnya, atau pelaku dosa kecil yang dosanya tidak terhapus dengan sakit dan musibah di dunia sedangkan ia tidak melakukan dosa besar.

Jadi, di akhirat nanti ada manusia yang dimasukkan Alloh ke dalam surga tanpa hisab, ada yang karena rahmat Alloh, ada yang karena syafaat. Mereka yang berlomba dan bersegera dalam kebaikan termasuk mengorbankan harta maupun jiwanya di jalan Alloh bisa masuk surga tanpa hisab. Mereka yang konvensional dengan ketakwaannya, mengerjakan perintah dan menjauhi larangan sehingga timbangan amal kebaikannya lebih banyak, mereka masuk surga karena rahmat Alloh. Orang-orang yang termasuk golongan ketiga ialah mereka penghuni a'rof, atau orang-orang yang berada di neraka lalu diberi syafaat oleh Nabi Muhammad, para syuhada, dan orang-orang yang diberi hak memberi syafaat oleh Alloh, termasuk syafaat Al-Qur'an. Mereka menunggu syafaat agar bisa masuk surga setelah semua penghuni surga memasuki surga.

Ashabu A'rof, kelak akhirnya mereka pun dimasukkan Alloh ke dalam surga.
"Masuklah kamu ke dalam surga! Tidak ada rasa takut padamu dan kamu tidak pula akan bersedih hati." (Al-A'rof: 49)

Mungkin kita inilah para calon penghuni A'rof, sekuat takwa menghindari dosa besar namun terus saja mengerjakan dosa-dosa kecil. Amal kebaikan tak seberapa, tak punya amal istomewa, apalagi berkorban harta jiwa raga, rasanya tak ada pantas-pantasnya menghuni surga. Hanya rahmat dan syafaat kita harap.

Ilahi lastu lilfirdausi ahlan.
Wa laa aqwa 'alannaril jahimi.
Fahabli taubatan waghfir dzunubi.
Fainnaka ghofirudzdzanbil 'adzimi.

Allohu a'lam.
#catatan liqo'

Wasiat Kaos Kaki Bolong

Seorang pengusaha yang tengah menjalani masa tuanya meminta anak-anaknya berkumpul. Ia hendak memberi wasiat kepada ketiga anaknya. Seluruh anggota keluarga berkumpul untuk bersama mendengarkan wasiat sang ayah. Meskipun tidak dalam kondisi sakit di ujung kematian, ia merasa bahwa saat itulah saat yang tepat untuk berwasiat.

"Nak, kalian tahu bagaimana ayah membangun bisnis keluarga kita ini. Terutama Engkau sulung, masa kecilmu jauh lebih berat dari adik-adikmu karena saat itulah awal mula ayah memulai bisnis."

"Ayah sudah cukup tua, ayah ingin berwasiat pada kalian. Begini, ayah tidak perlu mempercayakan keberlanjutan perusahaan kepada salah satu di antara kalian. Ayah tahu kalian sudah cukup dewasa dan bisa mengurusnya bertiga."

"Ayah hanya ingin kalian memenuhi permintaan ayah ketika nanti ayah sudah meninggal."

Sang ayah membuka sebuah kotak lalu mengeluarkan sepasang kaos kaki yang ujungnya berlubang.

"Nak, ini kaos kaki ayah. Kaos kaki ini sampai bolong karena saat memulai bisnis yang begitu beratnya waktu itu, hingga membuat ayah tak sempat membeli kaos kaki baru. Tak sempat atau tak ada dana, itu sama saja. Kaos kaki ini yang menemani langkah-langkah kecil ayah memulai bisnis. Ayah sengaja menyimpannya sebagai pepiling atau pengingat bahwa bisnis keluarga kita ini dahulu dimulai dari sebuah kerja keras, kesederhanaan, dan kesabaran. Kalian perlu memegang prinsip itu kelak jika nanti melanjutkan bisnis keluarga kita."

"Nah, anak-anakku, ayah ingin berwasiat pada kalian. Jika nanti suatu saat ayah meninggal, ayah ingin dikubur dengan mengenakan kaos kaki bolong ayah ini. Kalian bersedia melakukan wasiat ayah?"

Sesaat ketiga anak pengusaha itu terdiam dan saling berpandangan lalu si sulung menjawab, "Insyaalloh, wasiat ayah akan kami laksanakan."

"Terima kasih anak-anakku."

Waktu berlalu hingga akhirnya sang pengusaha meninggal. Sebelum pak Rois memakaikan kain kafan pada jenazah sang pengusaha si sulung membawakan sebuah bungkusan.

"Pak, ini dulu wasiat dari ayah. Ayah berwasiat bahwa jika kelak meninggal ayah ingin dikubur dengan mengenakan kaos kaki ini."

"Coba saya lihat Mas."

"Bagaimana Pak?"

"Sepertinya tidak bisa Mas. Sebagai seorang muslim bapak hanya boleh mengenakan kain kafan saat dimakamkan."

"Tapi ini wasiat ayah saya Pak."

"Sekalipun wasiat, jika tidak sesuai syariat tidak bisa dilaksanakan Mas."

"Lalu bagaimana Pak?"

"Coba bagaimana bunyi wasiatnya, barangkali ada suratnya?"

"Di kotaknya ayah Mas," kata si bungsu.

Si sulung mengambil kotak yang juga menjadi tempat penyimpanan kaos kaki bolong ayahnya. Selembar kertas terlipat berbungkus plastik diambil lalu diberikan si sulung kepada pak Rois.

"Apakah ahli waris pernah membaca surat ini?" tanya pak Rois.

"Belum pernah ada yang membacanya Pak. Kami hanya dipesani tentang kaos kaki di kotak ini," jawab si sulung.

"Baik, akan saya bacakan."

"Bismillahirrohmaanirrohiim. Teruntuk ketiga putraku... Saat kalian membaca surat ini Nak, mungkin ayah sudah tidak bisa berbincang dengan kalian. Ayah tahu kalian tentu kebingungan melaksanakan wasiat ayah, iya to? Pak Rois pasti tidak memperkenankan kalian memakaikan kaos kaki bolong ayah sebelum ayah dikafani."

Pak Rois dan ketiga anak pengusaha itu melihat jenazah yang belum dikafani, baru ditutup selembar kain jarik bermotif batik. Seakan jenazah sang pengusaha sedang berbicara dalam kematiannya.

Pak Rois melanjutkan pembacaan surat wasiat, "Ayah tahu, dan ayah memang sengaja mewasiatkan ini. Kalian tidak perlu memakaikan kaos kaki bolong ke kaki jenazah ayah. Ayah hanya ingin memberitahukan kepada kalian, ayah hanya ingin berpesan. Nak, tak ada sesuatupun harta bermanfaat dan bisa kita bawa mati. Sedikitpun tidak, bahkan kaos kaki bolong yang tak berharga juga tak akan kita bawa mati. Kalian harus ingat itu. Lanjutkan kehidupan kalian di dunia, kelola perusahaan dengan baik, teruslah beramal sholih, dan selalu ingatlah apa yang akan kalian bawa kelak ketika mati. Bukan harta, bukan keluarga yang akan kalian bawa mati, tapi amal sholih yang akan menemani kalian."

Kisah ini ditulis ulang dengan penyesuaian sebagaimana disampaikan dr Agus Taufiqurrahman dalam kultum di masjid yang disiarkan ADITV.