Tak Kan Tertukar

Pernahkah kita sangat sedang ingin mengumandangkan adzan lalu bergegas ke masjid namun ternyata sudah ada orang lain berdiri di depan mikrofon? Atau kita pernah tanpa persiapan tiba-tiba mendapat tugas menggantikan khotib jumat yang berhalangan hadir? Kira-kira apakah semua itu semata kebetulan?

Jika kita beriman pada qodho dan qodar Alloh, tentu tak ada istilah kebetulan dalam setiap kejadian. Ya, semua ada dalam ketentuan dan rencana Alloh. Bukankah selembar daun yang jatuh dari pohon juga telah tertulis di Lauhil Mahfudz?

Pasti di antara kita pernah ada yang mendengar kisah orang-orang yang wafat dalam keadaan sujud, sholat, tilawah, atau saat mengisi pengajian. Bisakah mereka menyengaja? Ada orang yang diwafatkan di medan perang. Ada pula yang berharap syahid di tengah pertempuran namun tak satupun peluru menghampirinya. Amal kita tak kan tertukar.

Ibu kedua saya, ibu yang saya temui telah membesarkan istri saya, beliau wafat meninggalkan kunyit, kencur, dan jeruk nipis yang sudah berada di dalam sebuah blender. Belum sempat beliau menyelesaikan membuat jamu untuk adik-adiknya yang pada hari itu biasanya berkumpul, Alloh telah mencukupkan amalnya. Akhirnya istri saya yang menyelesaikan membuat jamu itu beberapa hari berikutnya. Amal kita tak kan tertukar.

Sekitar empat jam perjalanan Jogja Banyumas pernah saya tempuh dengan sepeda motor demi mencari tanda tangan izin untuk penelitian saya di Instalasi Rawat Inap RSUD Banyumas. Ruang demi ruang saya telusuri hingga mendapat informasi bahwa Ka IRNA baru saja keluar, mau pulang, mau ada acara, naik bis. Tiba-tiba semacam ada pilihan: berjalan santai atau bergegas lari.

Saya pun berlari di halaman rumah sakit menuju halte bis di seberang rumah sakit. Seorang ibu berseragam segera saya temui. Saya sampaikan maksud saya dan saya minta izin tanda tangan. Hanya hitungan detik setelah berkas saya ditandatangani berhentilah sebuah bis di hadapan kami dan tiba-tiba beliau berlalu, naik ke dalam bis.

Alloh selalu tepat waktu. Apa yang terlewat tak perlu disesal. Apa yang belum didapat tak perlu membuat kesal. Setiap umat memiliki ajal. Ketika datang ajal mereka, maka tak akan bisa mereka menunda dan tak akan bisa mereka memajukannya.

Ketika ada peluang-peluang amal di depan mata, senantiasalah bersegera mengambilnya sebelum peluang itu berlalu dari hadapan kita. Sekalipun amal-amal kita tak akan tertukar dengan amal orang lain, sekalipun amal kita tak dapat dimajukan atau dimundurkan, tentu bukan semata kebetulan Alloh menampakkan peluang itu ada di depan mata kita dan kita memiliki pilihan, bersegera atau melewatkannya.

Saya teringat ucapan Cak Nun yang kurang lebih, "Kemerdekaan bangsa Indonesia itu sudah dirancang dan dikehendaki oleh Alloh. Kenapa kok harus tanggal tujuh belas bulan delapan tahun empat lima, sehingga bisa disimbolkan dalam bilangan jumlah bulu-bulu burung garuda yang jadi lambang negara sekarang ini dengan sangat indah. Coba kalau Indonesia itu ternyata merdeka bukan pada tanggal itu. Piye yen pak Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ditunda tanggal siji januari tahun patang puluh enem? Rak yo ra sido burung garuda, malah iso mung manuk emprit, sewiwine wulune siji, buntute siji, iyo po ra?"

Maka mari kita syukuri kemerdekaan bangsa kita ini, kemerdekaan yang didapat atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa. Sungguh, kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Kemerdekaan tak kan tertukar. Hari, tanggal, jam, dan detiknya sudah ditentukan, kita hanya menempuh perjalanan menuju alamat-alamatnya. Ada yang menempuh dengan perjuangan, ada yang merasa cukup berpangku tangan. Mereka sama mendapat kemenangan, tapi amal tak kan tertukar, amal mereka tidaklah sama.

Tadi malam di acara tirakatan kampung saya penceramah menyampaikan sekira, "Di Palestina sana saat ini mungkin dzohiron mereka belum merdeka namun haqiqotnya mereka merdeka. Setiap bayi lahir langsung dikenalkan pada Alloh, pada Rosululloh, pada Al-Qur'an. Di negeri kita mungkin sudah tujuh puluh dua tahun kita merdeka, namun kita masih saja menjadi budak selain Alloh. Anak-anak kita sejak kecil bukan belajar mengenal Alloh tapi lebih dahulu mengenal hape, diajak ngaji milih televisi. Israel itu membunuhi anak-anak Palestina karena apa? Karena mereka takut kalau sampai anak-anak itu tumbuh dewasa. Masalahnya pemuda palestina itu tak takut mati, jika sampai dewasa mereka akan jadi musuh berbahaya bagi tentara israel. Kita di sini bahkan tidak sadar kalau sajatinya kita sedang terjajah."

DIRGAHAYU INDONESIA!
Sekali merdeka tetap merdeka. Hanya kepada Alloh kita menghamba, jangan tertukar!

MELAWAN ARUS

Kemarin malam (25/7) saya bermimpi sedang dikumpulkan di sebuah ruangan semacam serambi masjid dengan ruangan tertutup. Ada beberapa orang di sana, salah satunya teman masa kecil saya yang saat ini baru saya carikan calon istri. Kami mau berangkat berombongan ke barat, entah dalam rangka apa.

Malam sebelumnya saya bermimpi bahwa kondisi dakwah sedang sangat genting, rombongan longmarch para relawan dakwah harus menyamar saat melewati wilayah tertentu. Kendaraan saya pun dicegat saat melewati wilayah perbatasan. Sesuatu dicek dan dicari oleh dua orang lelaki bertampang biasa namun berani membuka-buka kursi dan memukuli kendaraan kami dengan batu seukuran bungkusan nasi padang.

Di ruangan bercat putih, dari pintu tanpa daun pintu yang terletak di sebelah pojok kanan depan muncul seorang pria berjanggut, rambutnya hitam, kurus hingga nampak tulang-tulang wajahnya, bibirnya agak tebal, bajunya kemeja putih, celananya panjang warna hitam. Saya mengenali sosok itu seperti seorang ustadz yang wafat beberapa bulan yang lalu. Beliau nampak begitu muda, rambut dan jenggotnya masih hitam. Hanya pakaiannya bukan jubah putih sebagaimana sering beliau kenakan di akhir-akhir kehidupan beliau.

Beliau memberikan taujih atau arahan pada kami. Beliau wasiatkan agar kami tetap kokoh melawan arus.

"Mengikuti arus itu mudah, enak, tidak sulit, akan tetapi sesungguhnya penuh dengan kesempitan dan kesusahan. Adapun melawan arus, perjuangan itu begitu berat, akan tetapi sesungguhnya penuh dengan kabar gembira dan kebahagiaan."

Beliau menyampaikan mengenai kabar gembira dan kebahagiaan orang-orang yang melawan arus itu dengan wajah berbinar penuh keceriaan sampai beliau tertawa. Beliau sampai tertawa terduduk seakan menggambarkan betapa tertipunya orang-orang kafir dengan kehidupan dunia ini.

"Maka pada hari ini orang-orang yang beriman yang menertawakan orang-orang kafir. Mereka duduk di atas dipan-dipan melepas pandangan. 'Apakah orang-orang kafir itu diberi balasan hukuman terhadap apa yang telah mereka perbuat?'"
(Al-Muthaffifin: 34-36)

Orang yang bersyukur itu sedikit, orang yang bersabar itu sedikit, mereka melawan arus kebanyakan orang yang lalai. Mereka tidak mengikuti langkah-langkah syaithan, langkah-langkah yang menjauhkan diri dari Allah. Melawan arus ialah memilih menjadi golongan kanan dan menegakkan hujjah atas firman Allah, "Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan. Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki dan sukar." (Al-Balad: 10-11)

Semoga oleh Allah kita diberi keistiqomahan menempuh jalan mendaki nan sukar, ditetapkan hati dalam melawan arus, dikokohkan pijakan kaki kita agar tidak tergelincir. Sungguh berat memang, namun jangan cengeng dengan merasa dicurangi, jangan nglokro dengan merasa didzolimi, jangan berpaling dengan merasa tidak diadili. Yakinlah, ada kabar gembira bagi orang-orang beriman, ada kebahagiaan menanti orang-orang yang sabar.

"Yaa muqollibal quluub, tsabbit quluubanaa 'alaa diinik..."

DAMPAK EKONOMI GLOBAL PASCA KEMENANGAN DONALD TRUMP

Seorang pengusaha akhirnya menjadi presiden Amerika Serikat. Kita semua tahu bahwa kedigdayaan negeri Paman Sam hanya ditopang perekonomian semu yang sewaktu-waktu bisa meledak. Apa maknanya jika seorang berlatar belakang pengusaha akhirnya memegang kebijakan negara berpengaruh global seperti itu?

Ya, semakin banyak masyarakat Amerika menyadari hal tersebut sehingga mereka mulai menyiapkan diri. Simpanan-simpanan dalam bentuk Dollar mulai mereka alihkan menjadi emas dan perak. Jauh-jauh hari Robert Kiyosaki mengatakan bahwa investasi masa depan yg pada masa sekarang belum populer namun kelak akan sangat menjanjikan ialah investasi dalam bentuk perak.

Indonesia saat ini juga dikepalai oleh seorang berlatar belakang pengusaha. Perekonomian berbasis hutang dan pengadaan proyek-proyek raksasa sudah kita lihat secara nyata pengerjaannya dimana-mana. Apa artinya semua itu?

Proyeksi terjadinya krisis keuangan global yang melanda dunia dan meruntuhkan satu per satu negara memaksa negara-negara berkembang mengevaluasi kebijakan ekonomi dalam negeri mereka.

Dipanggilnya kembali Sri Mulyani menjadi Menteri Keuangan Republik Indonesia menyiratkan ancaman krisis keuangan di negeri ini. Total utang negara yang kian membesar melebihi nilai APBN semakin membuat para pelaku ekonomi khawatir.

Situasi politik dan keamanan yang kian menghangat dan banyak orang menyebut krisis moneter 98 bisa sangat mungkin terulang dalam waktu dekat membuat para pengamat ekonomi menebak-nebak arah kebijakan ekonomi pemerintah.

Menurut orang dalam, ada kemungkinan pemerintah akan membekukan aktivitas beberapa bank BUMN maupun swasta. Bagi Anda yang memiliki tabungan atau simpanan di beberapa bank berikut, hendaknya selalu waspada dan terus memantau perkembangan bank dimana Anda menyimpan dana. Alangkah baiknya jika Anda juga mengantisipasi terjadinya kesulitan untuk mencairkan dana Anda di bank sewaktu-waktu.

Daftar bank terancam DITUTUP:
1.Bank Bukopin
2.Bank Panin
3.Bank HSBC
4.Bank BTN
5.Bank Danamon
6.Bank Agro
7.Bank BII
8.Bank Permata
9.Bank Niaga
10.Bank BCA
11.Bank ABN
12.Citibank
13.Bank Mandiri
14.Bank BRI
15.Bank Standard Chartered
16.Bank BNI
17.Bank BJB Banten

Jika dana Anda di bank kurang dari Rp 5.000.000,00 sebaiknya segera tarik dana Anda karena hanya nasabah kelas kakap yang uangnya akan diamankan oleh bank maupun LPS. Hampir mustahil pemilik dana kecil menyewa lawyer yang kemungkinan biayanya lebih besar daripada jumlah uang yang ingin diselamatkan.

Jangan alihkan dana Anda ke bank manapun termasuk koperasi dan BPR karena dampak sistemik pasti akan ikut memukul mereka. Segera gunakan dana Anda untuk membeli aset produktif yang bisa menghasilkan bahan pangan karena krisis ekonomi tentu akan berdampak juga pada krisis pangan.

Bank-bank tersebut di atas dikabarkan akan ditutup tiap sore. Layanan kas bank-bank tersebut tutup pukul 15.00 dan layanan kantor tutup sekitar pukul 16.00. Bank-bank tersebut akan dibuka kembali esok pagi dari Senin sampai Jumat sekitar pukul 08.00.

Wes, ngono wae Kang... haha! Rasah nemen-nemen le mikir negoro. Sing penting isih bagas waras ati awak lan pikiran, iso dinggo sregep ngibadah maring Pengeran.

Asal Muasal Istilah Debat Kusir

Bapak mertua saya pada tahun 2016 ini memasuki usia 79 tahun. Beliau turut menjadi saksi perang kemerdekaaan, clash Belanda, pemberontakan PKI, serta berbagai peristiwa sejarah lainnya hingga hiruk pikuk reformasi dan kini “menikmati” eranya pak Jokowi. Beliau masih ingat peristiwa-peristiwa penting nasional di masa lalu termasuk apa yang menjadi sebab munculnya istilah debat kusir.
“Tahu tidak asal muasal istilah debat kusir?” kata bapak suatu hari.
“Bagaimana, Pak?” tanya saya.
“Debat kusir itu adalah cerita Agus Salim saat naik delman,” terang bapak.

Ya, ternyata istilah debat kusir mulai populer ketika tokoh nasional tersebut menceritakan kepada khalayak tentang apa yang dialaminya sepulang dari kantor. Dialah KH Agus Salim salah satu dari sekian banyak pahlawan nasional. Ia seorang muslim. Ia dikenal sebagai jurnalis dan diplomat ulung. Ia menguasai setidaknya tujuh bahasa asing. Pada awal pembentukan dasar negara Indonesia ia menjadi anggota Panitia Sembilan. Pada masa pemerintahan Sjahrir hingga Hatta KH Agus Salim didapuk di kementerian luar negeri, mulai dari menjadi menteri muda hingga akhirnya menjadi penasihat menteri.

Hari itu parlemen memanas akibat adu argumen yang tiada habisnya antar anggota parlemen. KH Agus Salim mengingatkan agar para hadirin tidak berdebat kusir. Debat kusir tidak akan ada habisnya. Orang-orang terdiam mendengar istilah debat kusir yang dilontarkan oleh KH Agus Salim.

“Begini ceritanya. Suatu saat saya pulang kantor naik delman, saat itulah saya tak bisa mengalahkan lawan debat saya untuk pertama kalinya. Bukan di PBB saya kalah bicara tapi di atas delman dan hanya berhadapan dengan seorang kusir lah saya justru tak bisa memenangkan perdebatan saya. Saya sebut peristiwa itu sebagai debat kusir.”

“Anda semua jangan mengikuti jejak saya untuk debat kusir, debat tanpa tujuan akhir, hanya ingin membuktikan bahwa kita berada di pihak yang benar, tanpa pemecahan masalah sama sekali.”

“Saat itu,” kenang Agus Salim, “kami sama-sama memandangi pantat kuda yang menarik delman kami.”

“Tiba-tiba kudanya kentut. Saya katakan pada pak kusir, ‘Ini kudanya masuk angin Pak!’”

“Kusirnya bilang, ‘Bukan Pak, kuda saya keluar angin!’”

“Iya, dia kentut, keluar angin, tapi itu artinya dia masuk angin!”

“Tapi Pak, itu artinya dia keluar angin, bukan masuk angin!”

“Coba dipriksakan Pak, kuda Bapak sakit itu, masuk angin!”

“Sudah diobati Pak, makanya dia sudah bisa keluar angin!”

“Begitulah, debat kusir itu hanya selesai saat saya sudah sampai depan rumah. Apabila kami bertemu lagi mungkin kami masih akan memperdebatkan kentut kuda itu.”

“Hadirin sekalian, mari kita tinggalkan debat kusir, mari kita cari pemecahan masalah ini bersama-sama demi persatuan dan kesatuan bangsa.”


Begitulah, konon peristiwa ini sangat terkenal sehingga jika orang tua Anda lahir sebelum tahun 40an, tentu beliau juga mengenal asal muasal istilah debat kusir yang dicetuskan oleh KH Agus Salim.

Makna Pohon Sawo di Lingkungan Masjid-masjid Jami' Jawa

Jika sebelumnya kita pernah membahas "Kenapa Halaman Masjid Agung di Jawa Ditanami Pohon Sawo?" Kali ini akan coba kita gali kenapa di lingkungan masjid jami' selain masjid agung juga ditanami pohon sawo. Adakah hubungan antara pohon sawo di masjid agung dengan pohon sawo di masjid-masjid jami'?

Kisah bermula dari peristiwa Perang Diponegoro yang oleh orang Jawa dikenal dengan Perang Sabil. Konon untuk mengubur jejak Mataram Islam salah satunya para penulis sejarah sengaja menyebut bahwa Perang Diponegoro dilatarbelakangi perebutan kekuasaan di Kraton Ngayogyakarta (Pangeran Diponegoro merupakan anak raja yang tak berkesempatan naik tahta) dan dipicu penggusuran makam leluhur Pangeran Diponegoro oleh Belanda, jauh dari makna Sabil yang maksudnya fii sabilillah (di jalan Alloh, jihad membela agama). Jika didalami sejatinya Perang Diponegoro 1825-1830 disulut oleh adanya intervensi Belanda terhadap paugeran Kraton Ngayogyakarta. Setelah memecah Kerajaan Mataram menjadi dua: Ngayogyakarta dan Surakarta, Belanda menyisipkan misi Zendingnya menggeser penerapan adat-adat Islam di lingkungan Kraton. Kita tidak bisa memastikan misi Zending Belanda itu benar misi pengkabaran Injil atau ajaran lain karena yang ternampak di Tugu Jogja hingga kini justru stempel Bintang David / Bintang Daud / Segienam Israel / Yahudi / Theosofi, bukan Salib yang lazim sebagai simbol Nasrani penganut Injil.

Pangeran Diponegoro lari dari Kraton lalu mengadakan perlawanan dari luar istana dengan menggalang kekuatan para ulama, priyayi, rakyat, dan santri. Lebih dari separuh Kerabat Dalem Kraton yang terdiri dari para pangeran mendukung perjuangannya. Usai perang yang menewaskan hampir separuh penduduk Yogyakarta ketika itu, beliau Pangeran Diponegoro memerintahkan para pengikutnya untuk menyebar ke berbagai pelosok negeri. Mereka ini membawa satu ciri yang sama yaitu selalu menanam pohon Sawo Kecik di lingkungan masjid yang mereka tinggali.

"Podho nanduro sawo kecik" berarti tanamlah oleh kalian pohon Sawo Kecik. Kalimat ini sebenarnya merupakan sebuah "wangsalan" yang bermakna podho nanduro samubarang kang sarwo becik (sawo kecik) alias tanamlah oleh kalian segala hal yang senantiasa baik (selalu dan hanya kebaikan).

Selain pesan untuk menebar dan menanam kebaikan, Sawo merupakan sebuah akronim dari perkataan "SAmi'naa Wa athO'naa". Sami'naa wa atho'naa menjadi pilihan satu-satunya para prajurit yang menerima perintah dari pimpinan. Ketika pimpinan memerintahkan "Showwuu shufufakum!" maka prajurit menjawab dengan "Sami'naa wa atho'naa".

"Luruskanlah barisan-barisan kalian!"
"Kami dengar dan kami taat!"

Jadi hampir sama dengan alasan keberadaan pohon sawo di masjid agung jawa, dilestarikannya pohon sawo di masjid jami' ini terkait permasalahan alqiyadah wal jundiyah. Ya, sekali lagi pohon sawo di masjid-masjid jami' jawa mengingatkan kita pada salah satu prinsip kepemimpinan dalam islam yaitu Tho'ah atau ketaatan.

Bisa kita simpulkan bahwa Sawo di Masjid-masjid Agung Jawa dengan Sawo di Masjid-masjid Jami' Jawa memang memiliki kaitan yang sangat erat terutama dalam hal hierarki kepemimpinan. Masjid Agung Kraton menjadi masjid besar di ibu kota kesultanan, masjid-masjid jami' menjadi masjid satelit atau masjid perwakilan untuk menampung umat Islam di wilayah geografi yang tak terjangkau masjid agung. Masjid jami' dan beberapa masjid pathok negoro berada dalam satu komando kesultanan/ kerajaan. Masjid jami' membawahi beberapa musholla, langgar atau surau sebagai pusat kegiatan keagamaan sehari-hari masyarakat, termasuk pesantren.

Bisa kita lihat shof umat Islam begitu rapi dengan jenjang komando terstruktur kala itu. Hingga keluar sabda raja 2015 oleh Sri Sultan HB X yang menuai pro dan kontra, seluruh sultan Kraton Ngayogyakarta dahulu bergelar Sayyidin Panatagama Khalifatullah ing Ngayogyakarta Hadiningrat yang berarti penghulu pemegang urusan agama sekaligus perwakilan Alloh di Yogyakarta. Di atas kesultanan ada khalifah yang memegang pucuk pimpinan umat Islam di seluruh dunia. Khalifah terakhir yang membawahi seluruh kesultanan Islam di dunia ialah Khalifah 'Abdul Majid II. Khilafah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki akhirnya tumbang pada tahun 1924 (tepatnya tanggal 3 Maret 1924) atas inisiasi Kemal Attaturk sebagai tokoh utama dan dukungan musuh-musuh Islam di belakangnya. Meskipun sempat para ulama membentuk komite khilafah pasca digantikannya khilafah islamiyah dengan demokrasi, semangat mengembalikan khilafah itu luntur dengan adanya masalah-masalah dan konflik di banyak wilayah. Tanpa khilafah hingga kini shof umat islam tercerai berai bagai anak ayam kehilangan induk.

Kembali ke tanah Jawa. Pada masa dahulu hanya masjid agung dan masjid-masjid jami' yang boleh menyelenggarakan sholat jum'at. Sampai saat ini sebagian masyarakat muslim wilayah Jawa Tengah masih memegang kode etik otoritas tersebut. Selain ritual ibadah, sholat jum'at juga menjadi salah satu apel konsolidasi umat Islam. Dari wasiat takwa hingga wasiat amanat khalifah disampaikan oleh khatib melalui mimbar-mimbar masjid jami'.

Sholat jumat sangat kental dengan nuansa "sami'naa wa atho'naa". Di masjid-masjid jaringan Sawo Kecik hingga kini masih ada kebiasaan yang mungkin dianggap bid'ah oleh sebagian umat Islam kekinian yaitu sebelum khotib naik mimbar sang muadzin memberikan pesan kepada jama'ah mengenai fadhilah jum'at, pentingnya diam, mendengar, dan taat. Setelah itu muadzin akan menyerahkan tombak/ tongkat kepada khotib sebagai simbol otoritas dari khalifah. Baru setelahnya sholat Jumat dimulai dengan salam dari khotib diikuti kumandang adzan muadzin.

Prosesi serah terima tombak/ tongkat itu barangkali tak lagi menggetarkan hati umat Islam mutakhir tentang pentingnya mendengar dan taat pada pimpinan resmi. Sekalipun banyak riwayat mengenai tongkat yang dipegang khatib saat sholat jumat baik di masa Rosululloh maupun para khulafaur rasyidin serta para pengikutnya, kini banyak masjid tak menjadikannya sunnah. Bahkan para pemuka masjid yang masih mempertahankannya bisa jadi dianggap kolot dan klenik. Akhirnya prosesi itu banyak dihapus karena dianggap tanpa dalil, tidak perlu, dan menambah-nambahi ritual sholat Jumat. Sempurnalah keruntuhan sendi-sendi kepemimpinan umat Islam. Sholat Jumat sebatas ibadah mahdhoh.

Sekarang mungkin Anda tahu kenapa di ibu kota negara kita sampai ada kebijakan "pantau ceramah para khotib". Di masjid-masjid kampus juga begitu. Di Mesir pun begitu semenjak digulingkannya Muhammad Mursi, para khotib disortir afiliasinya. Di masa Presiden Soeharto "penertiban" itu juga dilakukan namun dengan halus. Umat islam dirapikan garis komandonya tapi dipegang pucuk pimpinannya. Beliau dirikan DMI, ICMI, MUI, BKPRMI, dsb untuk memudahkan kontrol terhadap umat islam. Sebenarnya pak Harto itu sosok pemimpin yang baik, pandai, dan cakap mengelola kekuasaan. Sayang ketika beliau mulai dekat dengan umat islam dan mulai ingin memajukan industri dalam negeri, ada yang tidak suka. Mereka yang tidak suka ini memiliki motivasi berbeda-beda namun bekerja sama menjalankan aksi yang sama: "Lengserkan Soeharto!"

Sawo Kecik tinggal sawo kecik, tak lagi melambangkan garis komando apapun. Sekarang zaman demokrasi, semua orang boleh membangun masjid, langgar, dan musholla. Semua masjid boleh mendirikan sholat Jumat, bahkan satu kampung dua mimbar sudah biasa. Khotib dan imam bisa siapa saja. Entah ini tanda kebangkitan atau kehancuran.

Nasta'inu billah...

Allohu a'lam...