Asal Muasal Istilah Debat Kusir

Bapak mertua saya pada tahun 2016 ini memasuki usia 79 tahun. Beliau turut menjadi saksi perang kemerdekaaan, clash Belanda, pemberontakan PKI, serta berbagai peristiwa sejarah lainnya hingga hiruk pikuk reformasi dan kini “menikmati” eranya pak Jokowi. Beliau masih ingat peristiwa-peristiwa penting nasional di masa lalu termasuk apa yang menjadi sebab munculnya istilah debat kusir.
“Tahu tidak asal muasal istilah debat kusir?” kata bapak suatu hari.
“Bagaimana, Pak?” tanya saya.
“Debat kusir itu adalah cerita Agus Salim saat naik delman,” terang bapak.

Ya, ternyata istilah debat kusir mulai populer ketika tokoh nasional tersebut menceritakan kepada khalayak tentang apa yang dialaminya sepulang dari kantor. Dialah KH Agus Salim salah satu dari sekian banyak pahlawan nasional. Ia seorang muslim. Ia dikenal sebagai jurnalis dan diplomat ulung. Ia menguasai setidaknya tujuh bahasa asing. Pada awal pembentukan dasar negara Indonesia ia menjadi anggota Panitia Sembilan. Pada masa pemerintahan Sjahrir hingga Hatta KH Agus Salim didapuk di kementerian luar negeri, mulai dari menjadi menteri muda hingga akhirnya menjadi penasihat menteri.

Hari itu parlemen memanas akibat adu argumen yang tiada habisnya antar anggota parlemen. KH Agus Salim mengingatkan agar para hadirin tidak berdebat kusir. Debat kusir tidak akan ada habisnya. Orang-orang terdiam mendengar istilah debat kusir yang dilontarkan oleh KH Agus Salim.

“Begini ceritanya. Suatu saat saya pulang kantor naik delman, saat itulah saya tak bisa mengalahkan lawan debat saya untuk pertama kalinya. Bukan di PBB saya kalah bicara tapi di atas delman dan hanya berhadapan dengan seorang kusir lah saya justru tak bisa memenangkan perdebatan saya. Saya sebut peristiwa itu sebagai debat kusir.”

“Anda semua jangan mengikuti jejak saya untuk debat kusir, debat tanpa tujuan akhir, hanya ingin membuktikan bahwa kita berada di pihak yang benar, tanpa pemecahan masalah sama sekali.”

“Saat itu,” kenang Agus Salim, “kami sama-sama memandangi pantat kuda yang menarik delman kami.”

“Tiba-tiba kudanya kentut. Saya katakan pada pak kusir, ‘Ini kudanya masuk angin Pak!’”

“Kusirnya bilang, ‘Bukan Pak, kuda saya keluar angin!’”

“Iya, dia kentut, keluar angin, tapi itu artinya dia masuk angin!”

“Tapi Pak, itu artinya dia keluar angin, bukan masuk angin!”

“Coba dipriksakan Pak, kuda Bapak sakit itu, masuk angin!”

“Sudah diobati Pak, makanya dia sudah bisa keluar angin!”

“Begitulah, debat kusir itu hanya selesai saat saya sudah sampai depan rumah. Apabila kami bertemu lagi mungkin kami masih akan memperdebatkan kentut kuda itu.”

“Hadirin sekalian, mari kita tinggalkan debat kusir, mari kita cari pemecahan masalah ini bersama-sama demi persatuan dan kesatuan bangsa.”


Begitulah, konon peristiwa ini sangat terkenal sehingga jika orang tua Anda lahir sebelum tahun 40an, tentu beliau juga mengenal asal muasal istilah debat kusir yang dicetuskan oleh KH Agus Salim.

Makna Pohon Sawo di Lingkungan Masjid-masjid Jami' Jawa

Jika sebelumnya kita pernah membahas "Kenapa Halaman Masjid Agung di Jawa Ditanami Pohon Sawo?" Kali ini akan coba kita gali kenapa di lingkungan masjid jami' selain masjid agung juga ditanami pohon sawo. Adakah hubungan antara pohon sawo di masjid agung dengan pohon sawo di masjid-masjid jami'?

Kisah bermula dari peristiwa Perang Diponegoro yang oleh orang Jawa dikenal dengan Perang Sabil. Konon untuk mengubur jejak Mataram Islam salah satunya para penulis sejarah sengaja menyebut bahwa Perang Diponegoro dilatarbelakangi perebutan kekuasaan di Kraton Ngayogyakarta (Pangeran Diponegoro merupakan anak raja yang tak berkesempatan naik tahta) dan dipicu penggusuran makam leluhur Pangeran Diponegoro oleh Belanda, jauh dari makna Sabil yang maksudnya fii sabilillah (di jalan Alloh, jihad membela agama). Jika didalami sejatinya Perang Diponegoro 1825-1830 disulut oleh adanya intervensi Belanda terhadap paugeran Kraton Ngayogyakarta. Setelah memecah Kerajaan Mataram menjadi dua: Ngayogyakarta dan Surakarta, Belanda menyisipkan misi Zendingnya menggeser penerapan adat-adat Islam di lingkungan Kraton. Kita tidak bisa memastikan misi Zending Belanda itu benar misi pengkabaran Injil atau ajaran lain karena yang ternampak di Tugu Jogja hingga kini justru stempel Bintang David / Bintang Daud / Segienam Israel / Yahudi / Theosofi, bukan Salib yang lazim sebagai simbol Nasrani penganut Injil.

Pangeran Diponegoro lari dari Kraton lalu mengadakan perlawanan dari luar istana dengan menggalang kekuatan para ulama, priyayi, rakyat, dan santri. Lebih dari separuh Kerabat Dalem Kraton yang terdiri dari para pangeran mendukung perjuangannya. Usai perang yang menewaskan hampir separuh penduduk Yogyakarta ketika itu, beliau Pangeran Diponegoro memerintahkan para pengikutnya untuk menyebar ke berbagai pelosok negeri. Mereka ini membawa satu ciri yang sama yaitu selalu menanam pohon Sawo Kecik di lingkungan masjid yang mereka tinggali.

"Podho nanduro sawo kecik" berarti tanamlah oleh kalian pohon Sawo Kecik. Kalimat ini sebenarnya merupakan sebuah "wangsalan" yang bermakna podho nanduro samubarang kang sarwo becik (sawo kecik) alias tanamlah oleh kalian segala hal yang senantiasa baik (selalu dan hanya kebaikan).

Selain pesan untuk menebar dan menanam kebaikan, Sawo merupakan sebuah akronim dari perkataan "SAmi'naa Wa athO'naa". Sami'naa wa atho'naa menjadi pilihan satu-satunya para prajurit yang menerima perintah dari pimpinan. Ketika pimpinan memerintahkan "Showwuu shufufakum!" maka prajurit menjawab dengan "Sami'naa wa atho'naa".

"Luruskanlah barisan-barisan kalian!"
"Kami dengar dan kami taat!"

Jadi hampir sama dengan alasan keberadaan pohon sawo di masjid agung jawa, dilestarikannya pohon sawo di masjid jami' ini terkait permasalahan alqiyadah wal jundiyah. Ya, sekali lagi pohon sawo di masjid-masjid jami' jawa mengingatkan kita pada salah satu prinsip kepemimpinan dalam islam yaitu Tho'ah atau ketaatan.

Bisa kita simpulkan bahwa Sawo di Masjid-masjid Agung Jawa dengan Sawo di Masjid-masjid Jami' Jawa memang memiliki kaitan yang sangat erat terutama dalam hal hierarki kepemimpinan. Masjid Agung Kraton menjadi masjid besar di ibu kota kesultanan, masjid-masjid jami' menjadi masjid satelit atau masjid perwakilan untuk menampung umat Islam di wilayah geografi yang tak terjangkau masjid agung. Masjid jami' dan beberapa masjid pathok negoro berada dalam satu komando kesultanan/ kerajaan. Masjid jami' membawahi beberapa musholla, langgar atau surau sebagai pusat kegiatan keagamaan sehari-hari masyarakat, termasuk pesantren.

Bisa kita lihat shof umat Islam begitu rapi dengan jenjang komando terstruktur kala itu. Hingga keluar sabda raja 2015 oleh Sri Sultan HB X yang menuai pro dan kontra, seluruh sultan Kraton Ngayogyakarta dahulu bergelar Sayyidin Panatagama Khalifatullah ing Ngayogyakarta Hadiningrat yang berarti penghulu pemegang urusan agama sekaligus perwakilan Alloh di Yogyakarta. Di atas kesultanan ada khalifah yang memegang pucuk pimpinan umat Islam di seluruh dunia. Khalifah terakhir yang membawahi seluruh kesultanan Islam di dunia ialah Khalifah 'Abdul Majid II. Khilafah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki akhirnya tumbang pada tahun 1924 (tepatnya tanggal 3 Maret 1924) atas inisiasi Kemal Attaturk sebagai tokoh utama dan dukungan musuh-musuh Islam di belakangnya. Meskipun sempat para ulama membentuk komite khilafah pasca digantikannya khilafah islamiyah dengan demokrasi, semangat mengembalikan khilafah itu luntur dengan adanya masalah-masalah dan konflik di banyak wilayah. Tanpa khilafah hingga kini shof umat islam tercerai berai bagai anak ayam kehilangan induk.

Kembali ke tanah Jawa. Pada masa dahulu hanya masjid agung dan masjid-masjid jami' yang boleh menyelenggarakan sholat jum'at. Sampai saat ini sebagian masyarakat muslim wilayah Jawa Tengah masih memegang kode etik otoritas tersebut. Selain ritual ibadah, sholat jum'at juga menjadi salah satu apel konsolidasi umat Islam. Dari wasiat takwa hingga wasiat amanat khalifah disampaikan oleh khatib melalui mimbar-mimbar masjid jami'.

Sholat jumat sangat kental dengan nuansa "sami'naa wa atho'naa". Di masjid-masjid jaringan Sawo Kecik hingga kini masih ada kebiasaan yang mungkin dianggap bid'ah oleh sebagian umat Islam kekinian yaitu sebelum khotib naik mimbar sang muadzin memberikan pesan kepada jama'ah mengenai fadhilah jum'at, pentingnya diam, mendengar, dan taat. Setelah itu muadzin akan menyerahkan tombak/ tongkat kepada khotib sebagai simbol otoritas dari khalifah. Baru setelahnya sholat Jumat dimulai dengan salam dari khotib diikuti kumandang adzan muadzin.

Prosesi serah terima tombak/ tongkat itu barangkali tak lagi menggetarkan hati umat Islam mutakhir tentang pentingnya mendengar dan taat pada pimpinan resmi. Sekalipun banyak riwayat mengenai tongkat yang dipegang khatib saat sholat jumat baik di masa Rosululloh maupun para khulafaur rasyidin serta para pengikutnya, kini banyak masjid tak menjadikannya sunnah. Bahkan para pemuka masjid yang masih mempertahankannya bisa jadi dianggap kolot dan klenik. Akhirnya prosesi itu banyak dihapus karena dianggap tanpa dalil, tidak perlu, dan menambah-nambahi ritual sholat Jumat. Sempurnalah keruntuhan sendi-sendi kepemimpinan umat Islam. Sholat Jumat sebatas ibadah mahdhoh.

Sekarang mungkin Anda tahu kenapa di ibu kota negara kita sampai ada kebijakan "pantau ceramah para khotib". Di masjid-masjid kampus juga begitu. Di Mesir pun begitu semenjak digulingkannya Muhammad Mursi, para khotib disortir afiliasinya. Di masa Presiden Soeharto "penertiban" itu juga dilakukan namun dengan halus. Umat islam dirapikan garis komandonya tapi dipegang pucuk pimpinannya. Beliau dirikan DMI, ICMI, MUI, BKPRMI, dsb untuk memudahkan kontrol terhadap umat islam. Sebenarnya pak Harto itu sosok pemimpin yang baik, pandai, dan cakap mengelola kekuasaan. Sayang ketika beliau mulai dekat dengan umat islam dan mulai ingin memajukan industri dalam negeri, ada yang tidak suka. Mereka yang tidak suka ini memiliki motivasi berbeda-beda namun bekerja sama menjalankan aksi yang sama: "Lengserkan Soeharto!"

Sawo Kecik tinggal sawo kecik, tak lagi melambangkan garis komando apapun. Sekarang zaman demokrasi, semua orang boleh membangun masjid, langgar, dan musholla. Semua masjid boleh mendirikan sholat Jumat, bahkan satu kampung dua mimbar sudah biasa. Khotib dan imam bisa siapa saja. Entah ini tanda kebangkitan atau kehancuran.

Nasta'inu billah...

Allohu a'lam...

Misteri Dua Pohon Beringin Kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta Versi Islam

[Baca sampai selesai sebelum Like, Share atau Komentar]

Jika Anda pernah tinggal atau berkunjung ke Jogja dan penasaran dengan mitos dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, sebaiknya Anda membaca tulisan ini. Orang yang dengan mata tertutup berhasil melewati jalan di antara dua pohon beringin Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta tanpa berbelok atau melenceng berarti hatinya lurus, bersih, begitulah mitosnya. Mereka yang tidak berhasil melewatinya atau melenceng dari jalan seharusnya maka hati mereka dalam kondisi sebaliknya. Anda pernah mencobanya?

Banyak yang mencobanya dan banyak yang memang tidak berhasil melalui dua pohon beringin itu. Setidaknya kami pernah membuktikan statistik banyak yang gagal itu saat masih menjadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jogja. Barangkali memang karena hati kami kotor, penuh maksiat, cinta dunia, serakah, sombong, dan berbagai penyakit lainnya menjadikan jalan kami "melenceng", atau itu sebenarnya hanya karena sistem navigasi kami kacau saat mata ditutup, entahlah. Anda boleh mecobanya. Anda mungkin akan terheran-heran. Bahkan saat salah satu dari kami menggunakan langkah tegap ala baris-berbaris yang secara logika pasti jalannya lurus, ternyata tetap menyerong hampir menabrak pagar beton segi empat yang mengelilingi pohon beringin sebelah barat. Percaya tidak percaya, hehe...

Eniwai, sampai saat ini keramaian Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta telah membuka banyak lapangan pekerjaan. Mulai dari pedagang kaki lima yang menjadi khas kota Jogjakarta menurut Kla Project, persewaan sepeda tandem, persewaan mobil kayuh odong-odong, penjaja mainan anak, pedagang asongan, hingga persewaan kain penutup mata untuk uji kebersihan hati melewati dua pohon beringin. Jika Anda mengunjungi Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta pada malam hari, Anda bisa merasakan suasana negeri cahaya dengan hujan bintang kemerlip yang berasal dari baling-baling bambu bertempelkan lampu led terlontar ke langit lalu terjun bak meteor.

Begini...
Beberapa hal berikut ini perlu Anda ketahui mengenai misteri mitos dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta versi Islam. Anda harus membacanya, termasuk Anda yang menganggap aktivitas melewati beringin kembar ialah hal musyrik, gugon tuhon, konyol, takhayul, tipu-tipu. Juga Anda yang merasa suci karena berhasil melalui "uji kebersihan hati", apalagi Anda yang jengkel dan kesal karena dicap berhati kotor oleh teman-teman Anda hanya gara-gara gagal melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, Anda semua harus membacanya.

Sebagaimana saya pernah menulis "Kenapa Halaman Masjid Agung di Jawa Ditanami Pohon Sawo?" (baca tulisannya di link berikut: http://bit.ly/SawoMasjid), orang Jawa itu selalu penuh wewarah melalui berbagai condro atau sanepo yang perlu peleburan ego untuk bisa memahaminya. Jangan berkomentar apapun sebelum mendekati, melihat, mempelajari, menanyakan, menyentuh, dan merasakan apa yang sejati dari pandangan mata semata. Selanjutnya setelah Anda mengetahui, Anda hanya perlu tersenyum, "Oh, gitu ya..."

Biarkan mitos sekedar mitos, inilah seni pariwiasata. Mitos itu diciptakan oleh manusia agar berbondong-bondong turis mengunjungi sebuah objek wisata. Begitu pula yang dilakukan media dalam rangka meyakinkan konstituen tentang keberadaan "Ratu Adil" di dunia politik. Populer sekarang kita mengganti istilah mitos yang dipropagandakan media dengan istilah pencitraan atau framing. Membuat masyarakat percaya bahwa orang atau sekelompok orang hadir untuk bisa menyelesaikan masalah di tengah-tengah masyarakat, itu merupakan mitos juga meskipun terdengar aneh jika kita menyebutnya mitos. Agar bisa diterima maka kajian ilmiah dimunculkan untuk mendukung mitos itu, wajar. Dahulu kita kenal Hercules anak hasil perkawinan dewa dengan manusia sebagai tokoh pahlawan dalam mitologi penduduk Yunani, kini kita kenal mitos "Manusia Setengah Dewa" karangan Iwan Fals di Indonesia.

Kembali ke pohon beringin kembar...
Ada apa sebenarnya dengan dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta?
Misteri apa yang disimpan di sana?
Wewarah apa yang disematkan di sana?
Makna apa yang disiratkan di sana?

Berikut ini jawabannya:
1. Syahadatain
Dua pohon beringin melambangkan syahadatain atau dua kalimat syahadat. Melalui syahadat tauhid "asyhadu an laa ilaaha illalloh" kita bersaksi dengan hati, dengan lisan, dan dengan perbuatan bahwa tiada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Alloh. Melalui syahadat rosul "Asyhadu anna Muhammadan rosululloh" kita bersaksi bahwa nabi Muhammad ialah utusan Alloh yang petunjuknya paling benar sesuai wahyu Alloh.

2. Al Qur'an dan As Sunnah
Dua kalimat syahadat diejawantahkan di kehidupan dunia melalui dua petunjuk yaitu Al Qur'an sebagai kalam atau firman Alloh dan As Sunnah sebagai jalan hidup Rosululloh Muhammad dalam menjalankan wahyu Alloh. Dua hal ini yang dijanjikan oleh Alloh akan menjadi petunjuk abadi, tak akan ada orang tersesat dengan keduanya.

"Telah kutinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Alloh dan Sunnah Rasul-Nya."
(H.R. Malik, Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).

Sampai di sini semoga Anda sudah mulai mengerti.

3. Shirothol Mustaqim
Ya, dengan dibimbing Al Qur'an di sisi kanan dan As Sunnah di sisi kiri insyaalloh kita akan bisa berjalan lurus, berjalan di atas shirothol mustaqim. Al Qur'an dan As Sunnah  menjadi pagar kita dalam melewati jalan orang-orang sebelum kita yang telah diberi nikmat oleh Alloh yaitu para nabi dan rosul, para sahabat, syuhada, shodiqin, sholihin, ulama, 'amilin, bukan jalan orang-orang yang dimurkai Alloh, bukan pula jalan mereka yang sesat. Shirothol mustaqim akan bisa kita lalui biidznillah sekalipun mata kita tertutup. Alloh memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, begitu pula sebaliknya. Alloh memberikan pandangan "furqon" kepada hamba-hamba yang berpegang erat pada petunjuk Al Qur'an dan petunjuk As Sunnah. Itulah makna melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

4. Syari'at, Hakikat, Thoriqot, Ma'rifat
Jika Anda pernah ke Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta tentu Anda melihat bahwa masing-masing pohon beringin diberi pagar beton berbentuk segi empat di sekelilingnya. Kenapa tidak lingkaran? Kenapa tidak segi lima, segi enam, dan seterusnya? Keempat sudut dan sisi pagar tersebut bermakna bahwa dalam memegang teguh Al Qur'an dan As Sunnah kita harus membingkainya dengan empat pendalaman ilmu yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yaitu syari'at, hakikat, thoriqot, dan ma'rifat.

Sebagian orang memyepelekan dan menganggap mudah melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta. Ini penyakitnya iblis yaitu sombong. Kita merasa telah mengunci koordinat dua pohon beringin di kiri dan kanan, menggaris lurus-lurus jalur yang hendak kita lewati.
"Dengan begini surga pasti dapat," pikir kita.

Jika tak hati-hati ternyata justru itu menjadi bukti bahwa kita hanya mengandalkan akal dan kemampuan diri, lupa pada Alloh. Hal tersebut menjadi perumpamaan orang-orang yang merasa telah menguasai Al Quran dan As Sunnah namun lalai dari membersihkan hati dan menebalkan tawakal pada Alloh, maka Alloh tak membuka hijab pandangannya, tak melembutkan kepekaan nuraninya, hingga syetan mudah menyesatkannya.

Bagaimana? Bisa Anda pahami? Inilah orang Jawa, semua ada maknanya.

Jadi, tantangan Masangin alias Masuk di antara Dua Beringin yang diberikan seorang wanita kepada calon pasangan hidupnya karena konon salah satu putri raja Hamengku Buwono pernah memberikan tantangan itu kepada keturunan Prabu Siliwangi yang melamarnya untuk mengetahui ketulusan dan kebersihan hatinya, prosesi melewati beringin kembar dengan mata tertutup pada malam satu Suro setelah mubeng beteng kraton, jika berhasil melewati maka beroleh keberuntungan dan keinginannya terlaksana, hingga mitos bahwa dua beringin itu merupakan gerbang menuju istana Nyi Roro Kidul di laut selatan, jangan sampai itu semua ditelan mentah-mentah.

Bolehlah Anda menguji calon suami Anda untuk melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, namun jangan lantas tidak jadi menikah disebabkan calon suami Anda gagal melewati beringin kembar atau semakin mantap menikah karena calon suami berhasil, jangan seperti itu.

Katakan saja, "Kangmas, tahukah makna dari melewati pohon beringin kembar ini? Aku ingin Engkau menjadi imamku, imam yang senantiasa berusaha membimbingku melalui jalan yang lurus. Dengan Al Qur'an dan As Sunnah mari kita bersama-sama meniti jalan itu, Kangmas. Pejamkan mata terhadap dunia, bersihkan akal dan hati, tawakkal pada Ilahi. Mari melangkah sambil terus mengaji dan nyinaoni hidup ini."

Leres Masdab, ini hanya semacam outbond. Pernah kan Anda outbond?
"Bapak Ibu, bayangkan Anda semua adalah anggota pasukan Densus 88. Anda akan menjinakkan bom di sana dengan bantuan beberapa potong bambu. Anda semua harus ditutup matanya kecuali pemimpin Anda. Dan Anda semua tidak boleh bicara, hanya pemimpin Anda yang boleh bicara dan memerintah Anda. Siap?"

Nah, setelah permainan selesai, berhasil ataupun tidak sebuah tim menjalankan misi, akan diberikan pemaknaan permainan oleh instruktur outbond. Melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta juga hanya semacam tantangan outbond, bumbu-bumbu mitos diberikan agar Anda totalitas menjalani permainan. Setelah selesai permainan jangan langsung pulang, jangan buru-buru menyimpulkan. Eksplor perasaan lalu lanjutkan dengan menggali pemaknaan.

So, jika besok Anda seru-seruan bersama teman atau keluarga Anda dengan melewati beringin kembar di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, pastikan tantangan itu tidak lagi untuk menghakimi siapa berhati kotor siapa berhati bersih dengan mitos mistik yang menyertainya namun Anda bisa menjelaskan kepada mereka mengenai makna perjalanan dengan mata tertutup itu, tentang Al Qur'an dan As Sunnah, tentang jalan yang lurus, dan tentang pentingnya mempelajari petunjuk jalan lurus itu.

Semoga bermanfaat, jika ada benarnya maka itu milik Alloh, jika ada salahnya saya mohon maaf pada para pembaca dan saya mohon ampun pada Alloh.

Jogja memang istimewa...

Allohu a'lam...

Merdeka Artinya Menghamba, Apa Maksudnya?

Ya, sesungguhnya merdeka justru berarti menghamba. Merdeka berarti melepaskan diri dari penghambaan kepada sesama makhluk menuju penghambaan satu-satunya kepada Alloh Yang Maha Esa. Inilah kemerdekaan yang diserukan oleh seluruh Nabi utusan Alloh. Kita merdeka dari sesembahan lain selain Alloh. Kita merdeka dari mengadakan tandingan-tandingan lain selain Alloh, dan memproklamasikan diri hanya akan menghamba pada Alloh.

Mungkin kita lebih mengenal makna merdeka dengan istilah tauhid. Kita telah berulang kali memproklamasikan diri sebagai makhluk merdeka dengan naskah proklamasi yang memuat dua poin: pertama, memerdekakan diri dari menyembah sesembahan selain Alloh lalu menyatakan bahwa Alloh satu-satunya sesembahan yang haq untuk disembah; kedua, menyatakan bahwa Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam ialah utusan Alloh sebagai penjelas dan penuntun hidup kita di dunia.

Berulang-ulang dalam sholat setiap hari kita berikrar:

Asyhadu an laa ilaaha illalloh, wa asyhadu anna muhammadar rosuululloh.

Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan (yang haq) kecuali Alloh, dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad ialah utusan Alloh.

Kalimat inilah yang menggemparkan negeri Arab 1400 tahun yang lalu. Kalimat inilah yang mempersatukan berbagai suku, bangsa, etnis, kedudukan, status sosial, dan segala perbedaan menjadi satu identitas: muslim. Ketika kedzoliman merajalela, ketika kehidupan serba seenaknya, ketika aturan yang berlaku hanyalah hukum rimba, ketika manusia menghamba sesamanya, ketika manusia menyembah benda-benda tak bernyawa, seorang Nabi yang mulia diutus untuk membenahinya, membawanya dari kegelapan menuju cahaya.

Detik-detik Fathu Makkah

Alloh berfirman dalam surat An-Nashr ayat 1-3:

Ketika datang pertolongan Alloh dan kemenangan. Dan Engkau melihat manusia masuk ke dalam agama Alloh secara berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohon ampunlah pada-Nya. Sesungguhnya Ia Maha Penerima Taubat.

Surat tersebut dipahami para sahabat bahwa kemenangan Islam telah dekat, sang Nabi kelak mangkat.

Diriwayatkan sepanjang perjalanan Nabi menuju Makkah untuk memerdekakan kota itu beliau shollallohu alaihi wa sallam terus membaca surat Al-Fath. Akhirnya kemenangan itu nyata saat penduduk Makkah menghancurkan sendiri berhala-berhala mereka di sekitar Kabah. Tak ada paksaan bagi mereka yang tak mau memeluk agama Islam. Bagi yang berada di dalam rumah mereka semua aman. Bagi yang berada di rumah Abu Sufyan aman. Alloh pertontonkan bahwa saat datang pertolongan Alloh dan kemenangan, manusia berbondong-bondong memerdekakan diri dari penyembahan kepada selain Alloh. Mereka mengakui kebenaran risalah Nabi Muhammad shollallohu alaihi wa sallam. Itulah gambaran gebyar kemerdekaan di Makkah setelah satu dekade peristiwa Hijrah.

Cara Mengisi Kemerdekaan

Sekalipun sebenarnya masih banyak tersimpan pertanyaan terkait kemerdekaan Republik Indonesia, Apakah sekarang atau sejak 70 tahun yang lalu kita benar-benar telah merdeka? Biarlah masing-masing kita menjawab pertanyaan itu dengan apa yang selama ini kita rasakan. Terlepas dari itu semua yang jelas saat ini kita sudah tidak perlu bergerilya angkat senjata melawan penjajah yang mendzolimi rakyat dan tanah tumpah darah kita. Katakanlah kita sudah merdeka, lalu apa yang bisa kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan kita?

Dalam surat An-Nashr Alloh memberikan tiga perintah jika pertolongan dan kemenangan Alloh telah datang:
1. Bertasbih
2. Bertahmid
3. Beristighfar

Terlalu sombong jika kita hendak mengisi kemerdekaan dengan ini itu, pembangunan, kemajuan, dan sebagainya. Tiga hal tersebut yang semestinya kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan.

Karena hakikat kemerdekaan ialah pertolongan dan pemberian Alloh, sepatutnya kita bertasbih, bertahmid, dan beristighfar pada-Nya. Barangkali ada dosa yang sebenarnya menghalangi kita ditolong Alloh namun ternyata Alloh tetap menolong kita, karena itu kita beristighfar. Kita kembalikan semuanya pada Alloh, merdeka atau mati.

Perlulah kita memperingati Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dengan mengheningkan cipta. Utamanya untuk bertasbih, bertahmid memuji Alloh, lalu mohon ampun. Bukan sekedar mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur mendahului, namun kita mohonkan ampun mereka pada Alloh.

Adapun soal pembangunan, kesejahteraan, pemerataan, dan keadilan sosial, tentulah itu semua kita upayakan sembari kita memperjuangkan ketaatan kita pada Alloh. Dia-lah yang telah memerdekakan kita, kepada-Nya-lah kita menghamba. Jika kita taat kepada-Nya, ridho mengikut ajaran Rosul-Nya, mengelola tanah air kita sebaik-baiknya, pasti Alloh turunkan rahmat dan barokah dari langit dan dari bumi secara berlimpah-limpah. Tak ada yang perlu kita khawatirkan. Allohu alam.

Sumber / Penulis : Abu Halilah bin Jamal

Reuni Krik Krik

Empat orang pria mengadakan reuni lalu berbincang tentang perjalanan kehidupan selama ini berikut capaian-capaian kondisi kekinian mereka.

Pria 1 : Alhamdulillah, sejak sering shalat dhuha rejeki menjadi lancar. Bisnis sukses, banyak investor pengen buka cabang, sebentar lagi anak saya lulus SMA, rencananya akan sekolah ke luar negeri.

Pria 2 : Subhanallah, sejak naik haji lalu berusaha umroh tiap tahun ibadah rasanya menjadi lebih greget. Alhamdulillah anak juga sukses, rumahnya ada dua, punya villa dan beberapa kavling, aset semakin bertambah. Orang tua pun sangat bangga, berkat doa saya di tempat2 mustajab di haromain.

Pria 3 : Masya Allah sungguh nikmat tak terkira sejak merutinkan puasa dan bersedekah rezeki bagaikan sungai mengalir tidak ada putus-putusnya. Anak saya baru selesai kuliah diluar negeri dan langsung diangkat jadi staff khusus mentri.

Ketiga pria tersebut kemudian melirik ke arah pria ke-4 yang sejak awal hanya terdiam. Salah satu dari mereka bertanya kepada pria ke-4.

“Bagaimana dirimu? Kawan, mengapa diam saja?”

Pria 4 : Saya tidak sehebat kalian. Jangankan kesuksesan, bahkan saya tidak tahu ibadah yang saya lakukan ada yang diterima oleh Allah atau tidak.

...Krikk.. ..krikk...