Teruslah Berjuang

Para pendiri bangsa tak pernah mengajarkan anak-anaknya untuk diam.
Kita merdeka karena kita memilih untuk berjuang.
Mereka tak pernah mengatakan, "Kita tetap saja akan kalah, senjata mereka lebih canggih."
Mereka yakin, berpikir, berstrategi, berjuang, dan berkorban.
Semua memberi dukungan meski hanya dengan sepotong sapu tangan tanpa nilai apapun selain, "Berjuang dan menanglah Mas, aku di sini menanti kepulanganmu."

Syair Lagu Mars Sleman Baik

Berbekal tekad di dadaku
Berkobar semangat bangsaku
Tak henti berbuat tuk negeriku
Terus maju ayo maju

Reff
Bersama mas Akhid Nur Setiawan
Hadirkan kebaikan raih ampunan
Bersama mas Akhid Nur Setiawan
Hadirkan kebaikan raih ampunan

Hadirkan kebaikan tuk Sleman
Sleman baik segalanya berkah
Berjuang meraih ampunan
Kepemimpinan itu amanah

Reff
Bersama mas Akhid Nur Setiawan
Hadirkan kebaikan raih ampunan
Bersama mas Akhid Nur Setiawan
Hadirkan kebaikan raih ampunan

Menghadirkan Demokrasi yang Atraktif

"Kita harus bisa mengubah demokrasi yang tadinya dianggap sebagai kompetisi berbahaya menjadi sebuah permainan yang menarik."

Pendewasaan kita menuju masyarakat terbuka dan siap berbeda pilihan memang bukan proses yang instan. Ada latar belakang dan pengalaman panjang yang membentuk cara berpikir kita. Politik dan kekuasaan mungkin masih kita samakan dengan bidak catur yang hanya berwarna hitam dan putih. Bidak atau pion hanya bisa maju lurus ke depan, berhenti jika terhalang, harus serong jika mau memakan buah catur lawan.

Di belakang bidak sesungguhnya ada bermacam buah catur lain dengan berbagai karakter beserta segala kelebihan dan kekurangannya. Mungkin Anda juga tahu bagaimana caranya melakukan trik "tiga langkah mati" untuk melawan seorang beginner. Hanya dengan memajukan seorang bidak lalu menggerakkan buah catur yang jangkauannya lebih jauh, Anda langsung bisa menusuk pertahanan lawan dan skak mat.

Yang unik dari permainan catur ialah kemenangannya tidak ditentukan melalui seberapa banyak buah catur lawan yang bisa dimakan. Pemain catur dikatakan menang jika bisa membuat sang raja dari pihak lawan ter-skak dan semua tak berkutik. Memang, mengurangi jumlah pasukan lawan termasuk salah satu strategi untuk mempermudah menyerang sang raja tapi inti permainannya bukan itu. Anda akan nampak brilian saat berhasil melakukan skak mat tanpa terlebih dahulu memakan buah catur lawan. Sayangnya inti permainan catur juga bukan itu. Dalam catur, merekayasa kondisi yang memaksa lawan untuk remis juga bisa menjadi sebuah opsi.

Sekalipun tidak pernah diiringi sorak sorai dan teriakan histeris penonton, bagi yang mengerti tentu setiap gerakan buah catur dari kedua pemain sangat dinanti detik demi detik dan terasa begitu mendebarkan. Catur menyajikan pertunjukan langkah demi langkah yang mungkin sulit dimengerti maksudnya oleh penonton. Bahkan maksud awal dari langkah seorang pemain bisa dan akan diubah setelah langkahnya direspon oleh lawan.

Durasi waktu dan skenario permainan catur sangat tak terbatas. Stamina, konsentrasi, dan konsistensi seorang pemain sangat diuji. Langkah yang terburu-buru dan terbaca lugas oleh lawan bisa membahayakan permainan. Saling pancing emosi dengan langkah-langkah liar bisa menjadi cara untuk mengenali alur berpikir lawan. Ya, kapasitas dan pola kerja lawan harus dikenali sebelum seorang pemain melancarkan berbagai serangan.

Tidak hanya dalam permainan catur, dalam sepak bola, voli, basket, karate, tinju, badminton dan permainan-permainan adu tangkas lain mengenali lawan menjadi bagian dari separuh strategi kemenangan. Terbawa ritme permainan lawan akan mengarahkan kita pada kekalahan. Kesadaran diri dan ketahanan emosi sangat penting dalam permainan-permainan adu tangkas.

Bentrok antar pemain, juga antar suporter, boleh jadi semua itu karena kurang sadarnya masing-masing pihak terhadap kenyataan bahwa pertarungan yang terjadi semata-mata sebuah permainan. Menang atau kalah bisa terjadi karena strategi. Menang atau kalah juga bisa terjadi karena keberuntungan. Yang tidak boleh terjadi ialah menang atau kalah karena kecurangan.

Lebih jauh lagi, menang atau kalah bukanlah akhir permainan. Justru saat salah satu pemain (nampak) kalah lalu berhasil membalik keadaan atau tetap berjuang mati-matian, penonton akan semakin mencintainya. Taufik Hidayat mungkin salah satu ahlinya ahli membuat emosi penggemar bulutangkis teraduk-aduk. Belakangan ada Anthony Sinisuka Ginting yang sekalipun kalah tetap dipuja sebagai pahlawan karena perjuangannya yang nggetih sampai tarikan otot penghabisan. Ada juga pembalap nyentrik Valentino Rossi yang suka kalap saat putaran lap terakhir di sirkuit.

Ya, tetap tenang dalam situasi krisis, mungkin itu yang perlu dimiliki oleh para atlet di atas. Ada pasangan ganda fenomenal di cabang bulutangkis putra Indonesia berjuluk Duo Minions yang tidak hanya tenang, mereka tetap tampil tengil dan atraktif di tengah lapangan sekalipun dalam kondisi skor tertinggal. Penonton memang tegang, tapi terhibur. Menang atau kalah para pemain idola, akhir permainan adalah standing applause dari semua penonton.

Menang ora umuk, kalah ora ngamuk. Slogan masyarakat Jawa yang bermakna "jika menang tidak sombong, jika kalah tidak berbuat onar" ini sangat patut diinternalisasikan ke dalam diri para petarung. Mungkin juga perlu diejawantahkan oleh para pendukung dengan sikap-sikap sportif. Tak boleh ada pemain takut menang karena merasa keselamatannya di luar lapangan bisa terancam. Tak boleh ada pemain takut kalah karena khawatir pendukungnya kecewa hingga melakukan aksi-aksi brutal.

Era demokrasi yang penuh ketakutan harus segera kita akhiri. Saling rusak alat peraga, saling intimidasi, saling pancing emosi, saling provokasi, saling serang pribadi, semua itu harus segera disudahi. Jika ada yang mengibaratkan pemilu seperti perang, sepertinya itu terlalu berlebihan. Kalau sekedar gimik, bolehlah, biar seru. Asal nggak kebablasan.

Yang jelas, mari kita sepakati bahwa demokrasi khususnya momentum pemilu bukanlah tempat untuk menebar teror dan ketakutan. Mari kita sajikan demokrasi yang asyik, happy, layaknya sebuah pesta. Mari kita jadikan pesta demokrasi ini beralih dari dangerous competition menuju attractive game. Demokrasi bukan suatu kompetisi yang berbahaya tapi merupakan sebuah permainan yang menarik.

Berbuatbaiklah...
Berbahagialah...
Untuk Indonesia yang lebih baik...
Untuk Sleman yang lebih baik...

Kisah Perselisihan antara Jonet dengan Gareng

Jonet dan Gareng terlibat konflik dalam begerapa hari. Konflik itu mengakibatkan keduanya tak mau saling bertegur sapa. Padahal mereka jarang sekali bersikap serius, lebih sering saling gojlog dan adu banyolan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat Jonet dan Gareng semakin berselisih.

Suatu sore Jonet ditemui seseorang lalu diberi kabar bahwa Gareng memiliki penyakit di punggungnya yang sangat parah.
“Jika tidak percaya, buktikan saja!” kata orang itu.
“Gareng pasti akan menyembunyikan punggungnya jika bertemu denganmu, dia akan selalu berusaha menghindar jika ingin dilihat punggungnya,” lanjutnya.

Pada kesempatan lain orang itu menemui Gareng lalu memberitakan bahwa Jonet terkena penyakit parah. Jonet seperti dirasuki vampir.
“Jika tidak percaya, buktikan saja!” kata orang itu.
“Tapi ingat, kalau ketemu Jonet, jangan sampai kamu membelakangi Jonet karena dia pasti akan berusaha menggigitmu dari belakang,” pesan sang pembawa berita.

Pertemuan antara Jonet dengan Gareng akhirnya terjadi pada suatu sore di angkringan Wisben. Benarlah semua sabda orang tak bertanggung jawab itu. Jonet senantiasa mencari punggung Gareng. Gareng berusaha untuk tidak pernah membelakangi Jonet. Nampak nyata Jonet seperti selalu ingin menggigit gareng dari belakang. Gareng seperti selalu menyembunyikan punggungnya.

Kabar bahwa Jonet berpenyakit seperti vampir hingga selalu mencari lengahnya Gareng dari belakang serta berita bahwa Gareng berpenyakit parah di punggungnya hingga tak mau dilihat akhirnya mendapat konfirmasi. Keduanya saling membenarkan kabar dari orang tak bertanggung jawab itu. Sempurnalah pekerjaan syetan menanamkan benih permusuhan pada dua orang yang tadinya bersaudara, bahakan yang sebelumnya mereka adalah sahabat dekat.

Beruntung sekali ada orang seperti Wisben si pemilik angkringan yang bisa melihat kondisi dua pelanggannya secara objektif dan lebih arif. Wisben sangat yakin bahwa dua bersahabat itu hanya dikerjai oleh orang tak bertanggung jawab. Ya, mungkin juga seorang Wisben punya logika sederhana: jika Jonet dan Gareng bertengkar angkringannya akan kehilangan dua pelanggan loyal. Selain itu beresiko juga pelanggan lain akan pergi dari angkringannya karena selama ini Jonet dan Gareng lah yang membuat suasana angkringannya selalu gerr.

Pesan moral:
1. Jangan bertengkar dengan saudaramu hingga mendiamkannya lebih dari tiga hari.
2. Jangan percaya begitu saja berita tentang saudarau saat dalam kondisi jiwa tidak tenanag atau pikiran tidak jernih.
3.Jangan lebih percaya ucapan orang lain dibanding ucapan saudaramu sendiri
4. Jangan mengedepankan rasa curiga, utamakan untuk selalu berprasangka baik pada saudaramu.
5. Jangan menilai saudaramu hanya dari yang nampak. Dalam bahasa sosiologi ada istilah “the subjective meaning of action”. Dua perilaku yang sama bisa memiliki makna tersendiri.
6. Untuk bisa bersaudara dengan baik, tidak cukup hanya dengan mengenali, perlu memahami.
7. Jika mengalami konflik dengan saudaramu, carilah penengah yang arif.
8. Damaikanlah jika mengetahui ada di antara dua saudaramu sedang berselisih.

Perintah Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan takutlah pada Allah supaya kamu dirahmati.’ (Al Hujurat: 10)

 Surat Al Hujurat ayat 12 artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Bukhori/ Muslim)

Semoga kita senantiasa dikaruniai rasa lapang terhadap saudara kita, dada yang selamat, dan prasangka yang baik.

Tak Kan Tertukar

Pernahkah kita sangat sedang ingin mengumandangkan adzan lalu bergegas ke masjid namun ternyata sudah ada orang lain berdiri di depan mikrofon? Atau kita pernah tanpa persiapan tiba-tiba mendapat tugas menggantikan khotib jumat yang berhalangan hadir? Kira-kira apakah semua itu semata kebetulan?

Jika kita beriman pada qodho dan qodar Alloh, tentu tak ada istilah kebetulan dalam setiap kejadian. Ya, semua ada dalam ketentuan dan rencana Alloh. Bukankah selembar daun yang jatuh dari pohon juga telah tertulis di Lauhil Mahfudz?

Pasti di antara kita pernah ada yang mendengar kisah orang-orang yang wafat dalam keadaan sujud, sholat, tilawah, atau saat mengisi pengajian. Bisakah mereka menyengaja? Ada orang yang diwafatkan di medan perang. Ada pula yang berharap syahid di tengah pertempuran namun tak satupun peluru menghampirinya. Amal kita tak kan tertukar.

Ibu kedua saya, ibu yang saya temui telah membesarkan istri saya, beliau wafat meninggalkan kunyit, kencur, dan jeruk nipis yang sudah berada di dalam sebuah blender. Belum sempat beliau menyelesaikan membuat jamu untuk adik-adiknya yang pada hari itu biasanya berkumpul, Alloh telah mencukupkan amalnya. Akhirnya istri saya yang menyelesaikan membuat jamu itu beberapa hari berikutnya. Amal kita tak kan tertukar.

Sekitar empat jam perjalanan Jogja Banyumas pernah saya tempuh dengan sepeda motor demi mencari tanda tangan izin untuk penelitian saya di Instalasi Rawat Inap RSUD Banyumas. Ruang demi ruang saya telusuri hingga mendapat informasi bahwa Ka IRNA baru saja keluar, mau pulang, mau ada acara, naik bis. Tiba-tiba semacam ada pilihan: berjalan santai atau bergegas lari.

Saya pun berlari di halaman rumah sakit menuju halte bis di seberang rumah sakit. Seorang ibu berseragam segera saya temui. Saya sampaikan maksud saya dan saya minta izin tanda tangan. Hanya hitungan detik setelah berkas saya ditandatangani berhentilah sebuah bis di hadapan kami dan tiba-tiba beliau berlalu, naik ke dalam bis.

Alloh selalu tepat waktu. Apa yang terlewat tak perlu disesal. Apa yang belum didapat tak perlu membuat kesal. Setiap umat memiliki ajal. Ketika datang ajal mereka, maka tak akan bisa mereka menunda dan tak akan bisa mereka memajukannya.

Ketika ada peluang-peluang amal di depan mata, senantiasalah bersegera mengambilnya sebelum peluang itu berlalu dari hadapan kita. Sekalipun amal-amal kita tak akan tertukar dengan amal orang lain, sekalipun amal kita tak dapat dimajukan atau dimundurkan, tentu bukan semata kebetulan Alloh menampakkan peluang itu ada di depan mata kita dan kita memiliki pilihan, bersegera atau melewatkannya.

Saya teringat ucapan Cak Nun yang kurang lebih, "Kemerdekaan bangsa Indonesia itu sudah dirancang dan dikehendaki oleh Alloh. Kenapa kok harus tanggal tujuh belas bulan delapan tahun empat lima, sehingga bisa disimbolkan dalam bilangan jumlah bulu-bulu burung garuda yang jadi lambang negara sekarang ini dengan sangat indah. Coba kalau Indonesia itu ternyata merdeka bukan pada tanggal itu. Piye yen pak Karno memproklamasikan kemerdekaan Indonesia ditunda tanggal siji januari tahun patang puluh enem? Rak yo ra sido burung garuda, malah iso mung manuk emprit, sewiwine wulune siji, buntute siji, iyo po ra?"

Maka mari kita syukuri kemerdekaan bangsa kita ini, kemerdekaan yang didapat atas berkat rahmat Alloh Yang Maha Kuasa. Sungguh, kemerdekaan ialah hak segala bangsa. Kemerdekaan tak kan tertukar. Hari, tanggal, jam, dan detiknya sudah ditentukan, kita hanya menempuh perjalanan menuju alamat-alamatnya. Ada yang menempuh dengan perjuangan, ada yang merasa cukup berpangku tangan. Mereka sama mendapat kemenangan, tapi amal tak kan tertukar, amal mereka tidaklah sama.

Tadi malam di acara tirakatan kampung saya penceramah menyampaikan sekira, "Di Palestina sana saat ini mungkin dzohiron mereka belum merdeka namun haqiqotnya mereka merdeka. Setiap bayi lahir langsung dikenalkan pada Alloh, pada Rosululloh, pada Al-Qur'an. Di negeri kita mungkin sudah tujuh puluh dua tahun kita merdeka, namun kita masih saja menjadi budak selain Alloh. Anak-anak kita sejak kecil bukan belajar mengenal Alloh tapi lebih dahulu mengenal hape, diajak ngaji milih televisi. Israel itu membunuhi anak-anak Palestina karena apa? Karena mereka takut kalau sampai anak-anak itu tumbuh dewasa. Masalahnya pemuda palestina itu tak takut mati, jika sampai dewasa mereka akan jadi musuh berbahaya bagi tentara israel. Kita di sini bahkan tidak sadar kalau sajatinya kita sedang terjajah."

DIRGAHAYU INDONESIA!
Sekali merdeka tetap merdeka. Hanya kepada Alloh kita menghamba, jangan tertukar!