Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Wafatnya Ustadz Cholid Mahmud

HARUS PERGI


Oleh Akhid Nur Setiawan


Ahad 29 Oktober 2023 foto beliau kembali banyak beredar di media sosial. Sayangnya keramaian itu bukan karena beliau dicalonkan lagi untuk menjadi anggota DPD RI mewakili masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto-foto beliau tersebar beriring ucapan belasungkawa. Telah tunai amalnya di dunia: ustadz Cholid Mahmud "Kopyah Putih".


Kopyah Putih kini dikenakan oleh H. Ahmad Khudhori, Lc. yang insyaallah nama dan fotonya akan tercantum di surat suara Pemilu 2024. Generasi pengganti itu harus dipersiapkan. Dengan ataupun tanpa rencana, yang dipastikan ialah selalu ada upaya, biar Allah tunjukkan jalan-jalannya. "Kelak saya akan tidak bisa lagi," mungkin semestinya kalimat itu ada di dalam pikiran setiap da'i.


Perjuangan yang tiada henti dan berharap di jalan itu kita mati tak boleh menjadikan kita mengutamakan diri sendiri, merasa bahwa hanya kita pribadi yang bisa melalui perjuangan ini. Ingin syahid sendiri tanpa mempersilakan seribu tunas pengganti sama saja menginginkan kafilah perjuangan lekas berlipat kaki. Setiap kali keluar rumah, seorang da'i selalulah siap untuk tak kembali. Ditulisnya wasiat, ditinggalkannya jejak, disemainya mimpi, agar sepeninggal nanti para generasi penerus tak perlu meratap duka berhari-hari.


Usia dakwah lebih panjang dari usia da'i. Di silih berganti datang dan perginya para da'i, ada saja cara Allah mempertahankan nafas dakwah agar tak berhenti. Dalam terang maupun tersembunyi, para da'i seperti memiliki kesepakatan hati ke hati: "Kamu di sana, aku di sini, sewaktu-waktu bisa bertukar posisi atau saling menjadi ganti, siapapun yang lebih dulu menghadap Ilahi"


Memang tak harus urut senioritas, hanya saja keterbatasan nalar manusia memaksa orang tua menyiapkan pengganti yang lebih muda. "Telur ayam itu kalau mau menetas ya harus diengkremi."


Setelah dierami, anak-anak ayam yang sudah menetas dan cukup masa akan "dipendeli", diusir, disuruh pergi menjalani kehidupan sendiri.


Dengan ekspresi wajah yang kurang lebih sama sebagaimana dimanapun bertemu, beliau melepas kami, "Saya justru senang antum semua sudah tidak akan di sini lagi. Orang-orang baik itu harus menyebar, tidak boleh hanya berkumpul di satu tempat. Bangunan itu bisa kokoh bukan karena tiang besar di satu titik tapi banyaknya tiang yang menopang beban di banyak titik."


Layaknya orang tua yang begitu mengerti bahwa ada fase-fase normal yang harus dijalani seorang anak, yang oleh orang-orang terdahulu juga pernah dilalui, kami dibuat gagal dramatis mengakhiri kebersamaan sebagai murid dan guru. Buang jauh bayangan video penuh tangis di acara wisuda yang marak hari-hari ini.


Tatap mata yang menyiratkan tsabat, bahwa pekerjaan kita banyak, sederhanalah berpikir, jalani saja, tidak perlu diambil hati, lepas melintas seraya berpesan, "Saya pergi dulu, kalau saya di sini terus nanti antum tidak bisa berkembang, tidak segera mandiri. Masalah-masalah dan segala dinamika yang terjadi memang harus dihadapi. Semakin banyak mengalami benturan, insyaallah antum semua akan semakin banyak belajar."


Selamat jalan syaikhona. Selamat berjumpa dengan ar rafiq al a'la.

Adab Hadir di Hadapan Guru

HADIR

Oleh Akhid Nur Setiawan


Pagi itu saya mendatangi pengajian di sebuah masjid. Saat melepas sandal saya mendengar suara murottal dari luar masjid. Saya kira sebelum mulai pengajian memang disetelkan murottal.


Saya sapukan pandangan ke ruangan yang masih kosong. Ketika mata saya sampai di depan mihrab, terkejutlah saya melihat syaikh sedang tilawah di meja yang disiapkan untuk pembicara. Beliau masih muda tapi kami memanggilnya syaikh. Bacaan Al Quran beliau sebelas dua belas dengan bacaan para syaikh dari timur tengah karena beliau memang berasal dari timur tengah yaitu Libya.


Usai menggelar sajadah untuk tahiyatul masjid saya menikmati lantunan tilawah yang beliau sajikan. Sekalipun insyaallah sama-sama berpahala, mendengarkan bacaan Al Quran secara langsung ternyata dapat menghadirkan ruh dan emosi yang berbeda dibanding mendengarkan rekaman murottal dari perangkat pemutar suara. Ketika menemui ayat sajdah, sujud pun bisa sempurna.


"Jika dibacakan Al Quran maka dengarkan dan perhatikan agar kalian mendapat rahmat!"


Di hadapan syaikh kita akan berusaha menjaga aurat, menjaga adab, menjaga sikap. Di hadapan pemutar suara terkadang kita membiarkan bacaan Al Quran berlalu begitu saja sambil menyapu, memasak, mencuci baju, menyetrika, makan, berkendaraan, bercakap-cakap, bahkan tidur-tiduran. Ayat yang dibaca sama, riwayatnya sama, merdunya sama, pahalanya insyaallah juga sama, tapi berbeda fadhilahnya, tidak sama kadar barokahnya.


Begitu pula dengan belajar, ilmu yang didapat mungkin bisa sama, menghasilkan skor ujian yang sama, tapi "nilai"nya tak akan sama antara mereka yang menghadap guru langsung dengan mereka yang terhijab di balik layar kaca.


"Apa mau dikata? Inilah sekarang yang kita bisa."


Ketika kita terhalang untuk mendatangi guru atau bertemu dengannya, carilah cara untuk bisa menggantikannya, sekalipun tak pernah bisa menyamainya. Perbanyak istighfar dalam belajar, minta ampun atas segala kelemahan dan ketidakmampuan kita untuk memenuhi adab-adab sebagai murid. Perbanyak doa untuk guru-guru kita. Bayangkan wajahnya, mintakan ampun pada Allah atas segala kekurangannya.


Sungguh segala ilmu adalah milik Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja sekehendak-Nya. Kita bisa mendapatkan ilmu salah satunya melalui guru-guru kita. Doakan mereka agar selalu Allah bimbing dengan cahaya sehingga cahaya itu akan masuk juga ke sanubari kita.

Kekhalifahan Bukan Otoritarian

Dari kisah malaikat yang mengajukan peninjauan kembali terhadap keputusan Allah menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah di muka bumi, kita belajar betapa demokratisnya Allah. Allah sebenarnya bisa saja langsung menjadikan Nabi Adam sebagai khalifah tanpa mendengarkan pendapat malaikat, tapi Allah tidak menghendaki itu. Allah melakukan public hearing dengan malaikat, mengizinkan malaikat menyampaikan pendapat, bahkan sampai melakukan uji argumen.

Lapang pandang malaikat nampaknya kurang luas dan memang tiada bandingannya dengan ilmu Allah. Faktor-faktor yang melandasi keputusan Allah menjadikan manusia sebagai khalifah belum sepenuhnya mereka pahami. Mereka hanya membandingkan faktor-faktor bawaan antara mereka dengan calon pemimpin bumi itu. Ketika malaikat dan manusia diuji dengan soal yang sama, malaikat baru sadar bahwa mereka telah mengajukan argumen yang salah tempat.


Malaikat tidak tahu kenapa manusia yang memiliki sifat buruk suka merusak dan menumpahkan darah justru dipilih menjadi khalifah padahal secara karakter dasar malaikat bisa dibilang lebih unggul karena senantiasa bertasbih, bertahmid, dan menyucikan Allah. Manusia memang dzolim tapi mereka bisa bertaubat. Manusia memang bodoh tapi mereka bisa belajar. Manusia memang tempat salah dan lupa tapi mereka bisa memperbaikinya. Manusia tidak seperti malaikat yang hanya bisa taat. Manusia dibekali akal yang memungkinkan mereka belajar dan saling mengajarkan, tak seperti malaikat yang tidak tahu apa-apa kecuali diberi tahu oleh Yang Maha Tahu.


Dengan segala kemampuan yang dikaruniakan kepada mereka, manusia tidak lantas boleh berkuasa tak terbatas. Allah melarang manusia terpancing mendekat pada kekuasaan yang absolut. Hal itu digambarkan dalam larangan, "Jangan kalian dekati pohon ini, agar kalian tidak menjadi orang yang dzolim."


Sejak manusia pertama, keinginan abadi tak tergantikan sudah menjadi masalah. Nabi Adam dan Siti Hawa diputuskan dari hak mereka untuk menikmati surga karena mengamini khasiat keabadian buah pohon larangan. Ibarat pengantin baru mendapat tawaran investasi, mereka berdua tergiur presentasi everlast kingdom yang disampaikan oleh syaitan, "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon keabadian dan kerajaan yang tidak akan binasa?"


Demi menjerumuskan Nabi Adam dan Siti Hawa, syaitan berdusta atas nama Tuhan. Selain keabadian, memakan buah khuldi juga berkhasiat bisa mengubah manusia menjadi malaikat, makhluk suci yang selalu taat, klaim syaitan. Syaitan memberi penawaran seolah-olah membisikkan rahasia, “Tuhanmu hanya melarang kamu berdua mendekati pohon ini, agar kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang yang kekal (dalam surga).”


Rupanya keabadian dan kesucian menjadi godaan yang sangat berat untuk ditolak oleh kedua penghulu manusia. Mungkin hingga kini anak cucu keturunannya juga mendapat godaan yang tak jauh berbeda. Pada kenyataannya manusia memang diciptakan tidak sesuci malaikat, juga tidak abadi, hidup mati dan berkuasa silih berganti. Wajar jika iming-iming akan dua hal itu terasa amat menggiurkan.


Dalam Islam kepemimpinan biasa diistilahkan dengan kekhalifahan. Kekhalifahan berasal dari kata khalifah yang artinya pengganti. Akar kata khalifah ialah khalafa yang berarti menggantikan. Pada dasarnya kepemimpinan selalu berganti atau dipergilirkan satu sama lain. Jika ada pemimpin yang tak pernah (mau/ merasa) salah dan memiliki obsesi memimpin dalam jangka waktu lama, maka sesungguhnya ia telah menyalahi titah khalifah.


Sebuah adagium mengatakan, "Power tends to corrupt. Absolute power, corrupts absolutely."

Setiap kekuasaan memiliki kecenderungan untuk korup. Jika kekuasaan sampai absolut, maka korupnya juga absolut, mutlak, tak terbendung. Dari sana dirumuskanlah aturan bahwa kepemimpinan perlu dibatasi oleh masa jabatan. Setiap periode, bahkan setiap saat kinerja kepemimpinan harus bisa dievaluasi. Jika saatnya tiba, siapapun berhak menjadi pengganti.


Indonesia pernah mengalami puluhan tahun dipimpin oleh presiden yang begitu karismatik pada eranya hingga ada nasihat, "Walaa taqrobaa haadzihisy syajarah!". Jangan kalian berdua dekati pohon ini! Saat itu penguasa menggunakan sebuah pohon sebagai simbol partai yang melanggengkan keluasaannya. Simbol pohon tentu mengingatkan kita dengan pohon larangan dalam kisah Nabi Adam.


Barangkali memang sudah menjadi rencana Allah, sesuci dan seabadi apapun pemimpin pasti akan sampai pada ajal kepemimpinannya. Disengaja atau tidak, di belakang pemimpin lama sudah siap pemimpin-pemimpin pengganti yang menjadi tulang punggung saat masanya tiba. Cepat atau lambat kepemimpinan pasti bergulir.


Semakin kultus pemimpin, semakin gagal ia memimpin. Jika seseorang sedang berada dalam posisi sebagai pemimpin lalu terlintas keinginan untuk terus memperpanjang masa jabatan, apalagi dikolaborasikan dengan sikap antikritik dan tindakan-tindakan represif, selayaknya segera kita munajatkan doa Nabi Adam 'alaihissalaam, "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi."

PERPUSTAKAAN DARING

Sejak ada kebijakan sekolah dari rumah atau sekolah jarak jauh anak saya asyik menikmati meminjam dan membaca buku di perpustakaan daring. Bagaimana itu perpustakaan daring? Ia mirip sekali dengan perpustakaan biasa, hanya saja serba dalam jaringan. Di perpustakaan daring kita mendaftar sebagai anggota, memilih buku, menjelajahi katalog, mengecek jumlah ketersediaan buku, mengantri buku jika stok habis, membaca melalui perangkat, mengembalikan buku, bahkan bisa berkenalan dengan sesama pengunjung.

Anak saya sangat terkesan dengan buku-buku serial "Ana Solehah" yang bisa dibacanya tanpa biaya. Maklum, komik berwarna dengan tema keseharian anak pondok itu harganya cukup spesial di toko buku. Awalnya anak saya hanya bisa meminjam dua buku dalam sehari. Sekejap selesai membaca dan ingin mengembalikan buku, ternyata tidak bisa, lama peminjaman minimal sehari. Betapa gembiranya ia ketika beberapa hari kemudian bisa meminjam lebih dari dua buku dalam sehari.

Alhamdulillah, kami turut merasa bersyukur bisa agak menghemat anggaran membeli buku. Jika sudah ke toko buku rasanya memang sulit menolak untuk tidak membawa ke kasir buku-buku yang dimasukkan anakanak ke dalam keranjang. Minusnya, koleksi buku di perpustakaan kami jadi tidak bertambah.

Perpustakaan daring bisa diunduh di Google Play Store dengan judul "iPusnas". Anda bisa juga mengunjunginya dengan mengeklik bit.ly/perpusdaring. Aplikasi ini diluncurkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan tidak berbayar. Pendaftaran untuk masuk ke aplikasi ini bisa menggunakan akun facebook atau surat elektronik.

Selain mempermudah para pembaca menikmati buku-buku tanpa harus membeli, perpustakaan daring juga berguna mencegah pembajakan buku. Para penulis dan penerbit banyak dirugikan dengan adanya buku bajakan yang dijual murah. Dengan perpustakaan daring kita bisa menikmati buku secara gratis dan legal, hanya membutuhkan jaringan internet yang memadai.

HALAL

"Nyuwun halale nggih," pamit kang Abas setelah menerima upah atas pekerjaannya.

Kalimat itu terasa berat terdengar bagi saya. Bukan karena berat untuk menghalalkan tapi berat mengingat betapa banyak keharaman yang tanpa sadar saya ambil dari orang lain. Seberapa sering saya meminta halal pada orang yang saya pergauli?

Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara meragukan. Minta halal menjadi sebentuk upaya agar urusan yang berada di wilayah samar bergeser ke wilayah halal. Minta halal mungkin sederhana tapi sangat penting dan pasti ada perhitungannya.

Ini bukan bab meminta sesuatu yang nampak harus dihalalkan seperti memetik daun singkong milik tetangga karena kita butuh hijau-hijauan untuk sayur. Ini bukan juga seperti kisah "Slilit Sang Kiai" yang menggambarkan kesusahan seorang kiai di alam kubur karena telah tanpa izin mematahkan selidi bambu dari pagar tuan rumah untuk membersihkan makanan yang terselip di giginya seusai menikmati hidangan hajatan. Ini tentang muamalah yang di dalamnya memuat syarat ridho sama ridho.

Penggunaan kata halal sering saya dengar dari para jamaah haji yang menceritakan pengalaman mereka tinggal di tanah suci. Asal sudah dibilang halal, berarti boleh diambil, dipakai, atau dimakan. Saat berbelanja di sana, halal artinya sepakat dengan harga yang ditawar. Dengan kata "halal" pemilik barang merelakan perpindahan kepemilikan barangnya kepada orang lain secara ridho.

"Monggo Mas, halal!"
Terdengar begitu menenteramkan bukan? Ada dua hal terlahir dalam satu kata halal: halal barangnya dan halal kepemilikannya.

Barangkali karena di tengah masyarakat kita belum umum orang saling menghalalkan saat berinteraksi dalam pergaulan sehari-hari, diciptakanlah tradisi halal bil halal setahun sekali. Tradisi ini semacam ikrar sapu jagat agar semua masyarakat terbebas dari perkara yang tidak halal satu sama lain.
"Pokoknya, apa-apa yang mungkin haram atau belum jelas kehalalannya di antara kita selama satu tahun ini, sejak sekarang mohon dihalalkan ya," begitu kira-kira.

NB:
Selamat Idul Fitri 1441 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Kami sekeluarga minta halalnya ya
πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

Jodoh untuk Kaum Marhaen

Atas takdir Allah kami menikah dua puluh hari setelah pertemuan pertama kami. Bertemu pada 10 April, kami pun melangsungkan akad nikah pada 1 Mei di tahun yang sama. Ya, tepatnya delapan tahun yang lalu kami menikah.
Sekedar untuk mengenang momentum itu kami menonton sebuah film kreatif. Kami memutar sebuah film yang tak sengaja kami temukan saat mencari film pendek islami untuk persiapan kegiatan di bulan Ramadhan nanti. Film yang kami tonton berjudul "Teman ke Surga".
Bagi para jomblo fi sabilillah yang bertekad menjadikan bulan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terakhir dalam kesendirian, cobalah tonton film ini: https://m.youtube.com/watch?v=hgGsRoFaiZ0
JODOH ITU SEDERHANA
Sesungguhnya jodoh itu sederhana, kamu menikah dengannya, lalu mencintainya, itu saja.
Jika Allah berkehendak, tak butuh alasan apa-apa untuk menjadikan dua insan yang tidak memiliki cerita sebelumnya tiba-tiba saja menikah pada akhirnya. Allah telah menciptakan pasangan kita dari diri kita sendiri. Ada kesamaan, kecocokan, kesesuaian, kesejiwaan yang telah tertanam sejak kita masih dalam kandungan.
Seorang penyair mengatakan, "Jangan kau kira cinta datang dari keakraban yang lama dan pendekatan yang tekun. Cinta adalah anak kecocokan jiwa, dan jika itu tidak pernah ada, cinta tak akan pernah tercipta dalam hitungan tahun bahkan milenia."
Kecocokan itu akan saling memberi sinyal pada waktu yang telah disetel oleh-Nya. Mungkin ada sebagian dari kita yang mencoba mengingkari munculnya tanda-tanda dan gejalanya. Ada pula yang menyangka sudah saatnya padahal hanya karena gede rasa.
Sangat manusiawi jika sesama anak manusia saling berusaha menyamakan frekuensi. Wajar juga ketika mereka berusaha mencari-cari dimanakah pemilik frekuensi yang sama. Kemampuan manusia memang hanya meraba-raba.
Ada salah satu tips sederhana: cobalah untuk menemukan frekuensi sejati pada masing-masing pribadi. Beningkan, jernihkan. Semakin sedikit noise-nya, insyaalloh semakin dekat dengan frekuensi asli yang juga dipancarkan oleh seseorang di sana.
KAPAN SIAP MENIKAH
Menurut penuturan salah seorang guru saya, Soekarno pernah memaknai kemerdekaan Indonesia sebagai sebuah jembatan emas. Kemerdekaan menjadi momentum yang siap tidak siap harus dilalui. Semangat seorang Marhaen harus ada pada diri bangsa Indonesia.
Marhaen, hanya mengayuh becak, gubuknya reyot, bahkan hanya dengan bermodal tikar dia berani menikah. Marhaen menikah tak perlu menunggu punya ini itu. Bangsa Indonesia pun menyatakan kemerdekaan tidak perlu menunggu ini itu. Proklamasi hanya harus dilalui.
Seorang Marhaen mungkin membutuhkan waktu dua tiga generasi untuk bisa memperbaiki taraf hidup sosialnya. Jika harus terus menunggu, kapan kira-kira momentum yang tepat untuk mengatakan "kita berjuang sama-sama ya mas" atau "insyaalloh kita perjuangkan bersama dek". Ya, barangkali justru dengan menikah itulah seorang Marhaen menemukan momentum untuk akselerasi perbaikan masa depannya.
Jomblo punya masalah, berpasangan punya masalah. Jomblo punya tanggungan, suami istri punya tanggungan. Bedanya hanyalah jomblo sendirian sedangkan suami istri bisa saling menguatkan.
Tidak sesederhana itu mas. Sederhana, jika kita seorang Marhaen. Para Marhaen terlatih hidup berbagi, suka maupun duka. Karena sesungguhnya menikah bukanlah tentang apa yang kita miliki saat ini, tapi siap atau tidak kita untuk benar-benar hidup berbagi.
Selamat hari buruh!
Milikilah semangat Marhaen. Menikahlah bukan hanya karena ingin meraih kebahagiaan di dunia. Menikahlah untuk keberlanjutan dan kebaikan generasi setelah kita. Menikahlah dan berjuanglah bersama. Jadilah teman ke surga bagi pasangan Anda.

Kisah Perselisihan antara Jonet dengan Gareng

Jonet dan Gareng terlibat konflik dalam begerapa hari. Konflik itu mengakibatkan keduanya tak mau saling bertegur sapa. Padahal mereka jarang sekali bersikap serius, lebih sering saling gojlog dan adu banyolan. Kondisi tersebut dimanfaatkan oleh seseorang yang tidak bertanggung jawab untuk membuat Jonet dan Gareng semakin berselisih.

Suatu sore Jonet ditemui seseorang lalu diberi kabar bahwa Gareng memiliki penyakit di punggungnya yang sangat parah.
“Jika tidak percaya, buktikan saja!” kata orang itu.
“Gareng pasti akan menyembunyikan punggungnya jika bertemu denganmu, dia akan selalu berusaha menghindar jika ingin dilihat punggungnya,” lanjutnya.

Pada kesempatan lain orang itu menemui Gareng lalu memberitakan bahwa Jonet terkena penyakit parah. Jonet seperti dirasuki vampir.
“Jika tidak percaya, buktikan saja!” kata orang itu.
“Tapi ingat, kalau ketemu Jonet, jangan sampai kamu membelakangi Jonet karena dia pasti akan berusaha menggigitmu dari belakang,” pesan sang pembawa berita.

Pertemuan antara Jonet dengan Gareng akhirnya terjadi pada suatu sore di angkringan Wisben. Benarlah semua sabda orang tak bertanggung jawab itu. Jonet senantiasa mencari punggung Gareng. Gareng berusaha untuk tidak pernah membelakangi Jonet. Nampak nyata Jonet seperti selalu ingin menggigit gareng dari belakang. Gareng seperti selalu menyembunyikan punggungnya.

Kabar bahwa Jonet berpenyakit seperti vampir hingga selalu mencari lengahnya Gareng dari belakang serta berita bahwa Gareng berpenyakit parah di punggungnya hingga tak mau dilihat akhirnya mendapat konfirmasi. Keduanya saling membenarkan kabar dari orang tak bertanggung jawab itu. Sempurnalah pekerjaan syetan menanamkan benih permusuhan pada dua orang yang tadinya bersaudara, bahakan yang sebelumnya mereka adalah sahabat dekat.

Beruntung sekali ada orang seperti Wisben si pemilik angkringan yang bisa melihat kondisi dua pelanggannya secara objektif dan lebih arif. Wisben sangat yakin bahwa dua bersahabat itu hanya dikerjai oleh orang tak bertanggung jawab. Ya, mungkin juga seorang Wisben punya logika sederhana: jika Jonet dan Gareng bertengkar angkringannya akan kehilangan dua pelanggan loyal. Selain itu beresiko juga pelanggan lain akan pergi dari angkringannya karena selama ini Jonet dan Gareng lah yang membuat suasana angkringannya selalu gerr.

Pesan moral:
1. Jangan bertengkar dengan saudaramu hingga mendiamkannya lebih dari tiga hari.
2. Jangan percaya begitu saja berita tentang saudarau saat dalam kondisi jiwa tidak tenanag atau pikiran tidak jernih.
3.Jangan lebih percaya ucapan orang lain dibanding ucapan saudaramu sendiri
4. Jangan mengedepankan rasa curiga, utamakan untuk selalu berprasangka baik pada saudaramu.
5. Jangan menilai saudaramu hanya dari yang nampak. Dalam bahasa sosiologi ada istilah “the subjective meaning of action”. Dua perilaku yang sama bisa memiliki makna tersendiri.
6. Untuk bisa bersaudara dengan baik, tidak cukup hanya dengan mengenali, perlu memahami.
7. Jika mengalami konflik dengan saudaramu, carilah penengah yang arif.
8. Damaikanlah jika mengetahui ada di antara dua saudaramu sedang berselisih.

Perintah Alloh dalam Al-Qur’an yang artinya:
“Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu. Dan takutlah pada Allah supaya kamu dirahmati.’ (Al Hujurat: 10)

 Surat Al Hujurat ayat 12 artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sesungguhnya sebagian tindakan berprasangka adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”

Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya:
“Berhati-hatilah kalian dari tindakan berprasangka buruk, karena prasangka buruk adalah sedusta-dusta ucapan. Janganlah kalian saling mencari berita kejelekan orang lain, saling memata-matai, saling mendengki, saling membelakangi, dan saling membenci. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Bukhori/ Muslim)

Semoga kita senantiasa dikaruniai rasa lapang terhadap saudara kita, dada yang selamat, dan prasangka yang baik.

Pentingnya Bendera untuk Alat Komando dalam Pengelolaan Massa

BENDERA

Oleh Akhid Nur Setiawan

"Jika perintah tidak dapat didengar, maka gunakanlah tanda atau genderang. Jika prajurit tidak dapat saling membedakan satu sama lain dalam situasi perang yang membingungkan, maka gunakanlah bendera dan panji-panji kebesaran."

Malam Idul Fitri 1437 H yang lalu lebih dari 50 santri TPA di masjid kami berkumpul. Mereka berasal dari dua TPA yang berlainan. Agak berbeda dengan malam takbiran sebelum-sebelumnya, jumlah panitia sangat terbatas dan sepertinya persiapan kurang matang. Mungkin sudah banyak panitia mudik ke kampung halaman sebelum malam takbiran.

Kami tunjuk beberapa santri yang sekiranya telah baligh dan bisa diajak komunikasi. Kami bariskan santri-santri yang lain. Kami kelilingi mereka dengan tali rafia. Santri yang telah kami tunjuk berada di tepi barisan memegangi tali rafia. Dua santri laki-laki kami amanahi memegang lampu senter security dan kami posisikan di barisan paling depan.

"Nanti yang kita ikuti adalah pak Wardini!"

"Rutenya lewat mana, yang penting ikuti pak Wardini!"

"Siapa yang harus kita ikuti?"

"Pak Wardini!" seru para santri.

Tidak semua panitia mengikuti perjalanan takbir keliling. Ada beberapa panitia stand by di masjid untuk terus mengumandangkan takbir. Sebagian panitia menyiapkan logistik untuk menyambut ketika rombongan kembali ke masjid. Sebagian panitia yang lain bersama wali santri mengikuti rombongan dengan sepeda motor, mengantisipasi jika ada santri yang kelelahan.

Takbir keliling berjalan dengan tertib. Tanpa suara petasan di perjalanan, beda dengan takbir keliling tahun sebelumnya yang penuh kegaduhan suara petasan. Para santri benar-benar berada dalam satu komando. Mereka tak bisa keluar barisan dan tak bisa saling mendahului. Santri yang langkahnya cepat harus mengimbangi teman-temannya yang langkahnya lambat, begitu juga sebaliknya.

Dalam sebuah pengajian akbar yang menghadirkan seorang habib ribuan orang berkumpul membawa bendera organisasi masing-masing. Mereka menandai bendera dengan warna, logo, gambar, atau tulisan sesuai wilayah dan nama kelompoknya. Tiap kelompok datang berombongan, ketika di lokasi semua berbaur dengan kelompok lain, saat pulang mereka kembali berombongan.

Pernah bisnis kami CV KREASILILA dipesani sebuah bendera dan puluhan sapu tangan bermotif seragam, batik khas kelompok bimbingan ibadah haji. Mereka menggunakan sapu tangan sebagai penanda anggota kelompok dan bendera sebagai isyarat memanggil anggota kelompok serta menunjukkan lokasi berkumpul. Di antara jutaan manusia, mereka memiliki cara tersendiri untuk menandai siapa yang harus diikuti.

Masing-masing kerajaan atau tiap-tiap negara memiliki bendera dan simbol kebesaran. Bukan suatu hal yang mistis dan sakral sekalipun warna dan simbol bendera mungkin memiliki makna. Bendera hanya digunakan untuk menandai. Bendera kebesaran seringkali dibuat seistimewa, semewah, semenarik, semencolok, dan sebeda mungkin agar mudah dikenali pengikutnya.

Jika ada orang-orang yang mencium atau menghormat bendera, sesungguhnya mereka bukan sedang melakukan ritual peribadatan. Mereka hanya sedang menunjukkan pada bendera mana ketaatannya diletakkan. Mereka akan taat pada pemimpin yang menggunakan bendera tersebut untuk memberi komando.

Jangan heran ketika Rosululloh saw diriwayatkan memiliki bendera hitam dan putih bertuliskan kalimat syahadat untuk menunjukkan eksistensi umat islam kala itu. Kaum Muhajirin dan kaum Anshor pun memiliki bendera masing-masing. Bahkan, beliau saw selalu membuat urutan pemegang bendera dalam peperangan, "Jika dia gugur, bendera dibawa dia, jika dia gugur, bendera dipegang dia" dan seterusnya. Juga para pemegang bendera diriwayatkan selalu mempertahankan tegaknya bendera Rosululloh saw sekalipun kedua tangan dan kakinya ditebas musuh.

Tidak semua orang boleh memegang bendera. Tidak sembarang prajurit bisa memegang bendera. Bendera adalah alat komando. Bendera bukan alat bergaya untuk difoto. Jika kita bukan pemimpin pemegang komando atau bukan orang yang diberi amanah untuk memegang bendera komando, letakkan bendera, lipat saja, posisikan diri sebagai prajurit biasa dengan tugas "sami'na wa atho'na".

Inilah konsensus sejak sebelum adanya Islam. Bendera menunjukkan eksistensi. Dalam peperangan, jangan harap pasukan akan terus bertempur mati-matian jika bendera pasukannya sudah tidak lagi berkibar. Inilah pula kenapa di istana-istana atau kantor pemerintah selalu dikibarkan bendera. Inilah kenapa bendera penjajah merah putih biru disobek sehingga tinggal merah dan putih.

Alloh memerintahkan umat Islam pergi ke medan perang secara bersama-sama atau secara berkelompok-kelompok. Sama sekali tidak disarankan menuju medan perang sendirian atau berangkat secara pribadi. Kenapa? Allohu a'lam. Barangkali agar kita tahu bendera mana yang harus kita ikuti dan agar pemegang bendera tahu benar berapa dan siapa saja pengikutnya.

Dan jika sekelompok pasukan bertemu dengan musuh, tak ada pilihan mundur. Pilihan mundur hanya akan mendatangkan murka Alloh. Kita hanya boleh berbelok/ berbalik untuk mengatur siasat atau menggabungkan diri dengan pasukan yang lain. Maka kenalilah kelompok-kelompok pasukan lain, berikut bendera dan simbol-simbolnya. Jika terpisah dari kelompok, segeralah menggabungkan diri dengan kelompok terdekat, perkenalkan diri dan ucapkan akad, berikan ketaatan, jangan merusak barisan.

Dalam sebuah aksi demonstrasi apalagi yang melibatkan ratusan ribu massa aksi, bendera sangatlah penting. Siapa yang harus diikuti, pemegang bendera mana yang harus ditaati, kemana harus mengikuti, kemana harus berlari, jangan sembarangan. Jangan ikuti bendera selain pemimpin kita! Jangan ikuti bendera kelompok lain selain kelompok-kelompok yang kita kenal! Bendera yang terlalu umum atau simbol yang terlalu mudah diduplikasi, jangan ikuti. Hati-hati provokasi.

Semoga Alloh ijabah doa-doa qunut kami di sini.

Asal Muasal Istilah Debat Kusir

Bapak mertua saya pada tahun 2016 ini memasuki usia 79 tahun. Beliau turut menjadi saksi perang kemerdekaaan, clash Belanda, pemberontakan PKI, serta berbagai peristiwa sejarah lainnya hingga hiruk pikuk reformasi dan kini “menikmati” eranya pak Jokowi. Beliau masih ingat peristiwa-peristiwa penting nasional di masa lalu termasuk apa yang menjadi sebab munculnya istilah debat kusir.
“Tahu tidak asal muasal istilah debat kusir?” kata bapak suatu hari.
“Bagaimana, Pak?” tanya saya.
“Debat kusir itu adalah cerita Agus Salim saat naik delman,” terang bapak.

Ya, ternyata istilah debat kusir mulai populer ketika tokoh nasional tersebut menceritakan kepada khalayak tentang apa yang dialaminya sepulang dari kantor. Dialah KH Agus Salim salah satu dari sekian banyak pahlawan nasional. Ia seorang muslim. Ia dikenal sebagai jurnalis dan diplomat ulung. Ia menguasai setidaknya tujuh bahasa asing. Pada awal pembentukan dasar negara Indonesia ia menjadi anggota Panitia Sembilan. Pada masa pemerintahan Sjahrir hingga Hatta KH Agus Salim didapuk di kementerian luar negeri, mulai dari menjadi menteri muda hingga akhirnya menjadi penasihat menteri.

Hari itu parlemen memanas akibat adu argumen yang tiada habisnya antar anggota parlemen. KH Agus Salim mengingatkan agar para hadirin tidak berdebat kusir. Debat kusir tidak akan ada habisnya. Orang-orang terdiam mendengar istilah debat kusir yang dilontarkan oleh KH Agus Salim.

“Begini ceritanya. Suatu saat saya pulang kantor naik delman, saat itulah saya tak bisa mengalahkan lawan debat saya untuk pertama kalinya. Bukan di PBB saya kalah bicara tapi di atas delman dan hanya berhadapan dengan seorang kusir lah saya justru tak bisa memenangkan perdebatan saya. Saya sebut peristiwa itu sebagai debat kusir.”

“Anda semua jangan mengikuti jejak saya untuk debat kusir, debat tanpa tujuan akhir, hanya ingin membuktikan bahwa kita berada di pihak yang benar, tanpa pemecahan masalah sama sekali.”

“Saat itu,” kenang Agus Salim, “kami sama-sama memandangi pantat kuda yang menarik delman kami.”

“Tiba-tiba kudanya kentut. Saya katakan pada pak kusir, ‘Ini kudanya masuk angin Pak!’”

“Kusirnya bilang, ‘Bukan Pak, kuda saya keluar angin!’”

“Iya, dia kentut, keluar angin, tapi itu artinya dia masuk angin!”

“Tapi Pak, itu artinya dia keluar angin, bukan masuk angin!”

“Coba dipriksakan Pak, kuda Bapak sakit itu, masuk angin!”

“Sudah diobati Pak, makanya dia sudah bisa keluar angin!”

“Begitulah, debat kusir itu hanya selesai saat saya sudah sampai depan rumah. Apabila kami bertemu lagi mungkin kami masih akan memperdebatkan kentut kuda itu.”

“Hadirin sekalian, mari kita tinggalkan debat kusir, mari kita cari pemecahan masalah ini bersama-sama demi persatuan dan kesatuan bangsa.”


Begitulah, konon peristiwa ini sangat terkenal sehingga jika orang tua Anda lahir sebelum tahun 40an, tentu beliau juga mengenal asal muasal istilah debat kusir yang dicetuskan oleh KH Agus Salim.

Makna Pohon Sawo di Lingkungan Masjid-masjid Jami' Jawa

Jika sebelumnya kita pernah membahas "Kenapa Halaman Masjid Agung di Jawa Ditanami Pohon Sawo?" Kali ini akan coba kita gali kenapa di lingkungan masjid jami' selain masjid agung juga ditanami pohon sawo. Adakah hubungan antara pohon sawo di masjid agung dengan pohon sawo di masjid-masjid jami'?

Kisah bermula dari peristiwa Perang Diponegoro yang oleh orang Jawa dikenal dengan Perang Sabil. Konon untuk mengubur jejak Mataram Islam salah satunya para penulis sejarah sengaja menyebut bahwa Perang Diponegoro dilatarbelakangi perebutan kekuasaan di Kraton Ngayogyakarta (Pangeran Diponegoro merupakan anak raja yang tak berkesempatan naik tahta) dan dipicu penggusuran makam leluhur Pangeran Diponegoro oleh Belanda, jauh dari makna Sabil yang maksudnya fii sabilillah (di jalan Alloh, jihad membela agama). Jika didalami sejatinya Perang Diponegoro 1825-1830 disulut oleh adanya intervensi Belanda terhadap paugeran Kraton Ngayogyakarta. Setelah memecah Kerajaan Mataram menjadi dua: Ngayogyakarta dan Surakarta, Belanda menyisipkan misi Zendingnya menggeser penerapan adat-adat Islam di lingkungan Kraton. Kita tidak bisa memastikan misi Zending Belanda itu benar misi pengkabaran Injil atau ajaran lain karena yang ternampak di Tugu Jogja hingga kini justru stempel Bintang David / Bintang Daud / Segienam Israel / Yahudi / Theosofi, bukan Salib yang lazim sebagai simbol Nasrani penganut Injil.

Pangeran Diponegoro lari dari Kraton lalu mengadakan perlawanan dari luar istana dengan menggalang kekuatan para ulama, priyayi, rakyat, dan santri. Lebih dari separuh Kerabat Dalem Kraton yang terdiri dari para pangeran mendukung perjuangannya. Usai perang yang menewaskan hampir separuh penduduk Yogyakarta ketika itu, beliau Pangeran Diponegoro memerintahkan para pengikutnya untuk menyebar ke berbagai pelosok negeri. Mereka ini membawa satu ciri yang sama yaitu selalu menanam pohon Sawo Kecik di lingkungan masjid yang mereka tinggali.

"Podho nanduro sawo kecik" berarti tanamlah oleh kalian pohon Sawo Kecik. Kalimat ini sebenarnya merupakan sebuah "wangsalan" yang bermakna podho nanduro samubarang kang sarwo becik (sawo kecik) alias tanamlah oleh kalian segala hal yang senantiasa baik (selalu dan hanya kebaikan).

Selain pesan untuk menebar dan menanam kebaikan, Sawo merupakan sebuah akronim dari perkataan "SAmi'naa Wa athO'naa". Sami'naa wa atho'naa menjadi pilihan satu-satunya para prajurit yang menerima perintah dari pimpinan. Ketika pimpinan memerintahkan "Showwuu shufufakum!" maka prajurit menjawab dengan "Sami'naa wa atho'naa".

"Luruskanlah barisan-barisan kalian!"
"Kami dengar dan kami taat!"

Jadi hampir sama dengan alasan keberadaan pohon sawo di masjid agung jawa, dilestarikannya pohon sawo di masjid jami' ini terkait permasalahan alqiyadah wal jundiyah. Ya, sekali lagi pohon sawo di masjid-masjid jami' jawa mengingatkan kita pada salah satu prinsip kepemimpinan dalam islam yaitu Tho'ah atau ketaatan.

Bisa kita simpulkan bahwa Sawo di Masjid-masjid Agung Jawa dengan Sawo di Masjid-masjid Jami' Jawa memang memiliki kaitan yang sangat erat terutama dalam hal hierarki kepemimpinan. Masjid Agung Kraton menjadi masjid besar di ibu kota kesultanan, masjid-masjid jami' menjadi masjid satelit atau masjid perwakilan untuk menampung umat Islam di wilayah geografi yang tak terjangkau masjid agung. Masjid jami' dan beberapa masjid pathok negoro berada dalam satu komando kesultanan/ kerajaan. Masjid jami' membawahi beberapa musholla, langgar atau surau sebagai pusat kegiatan keagamaan sehari-hari masyarakat, termasuk pesantren.

Bisa kita lihat shof umat Islam begitu rapi dengan jenjang komando terstruktur kala itu. Hingga keluar sabda raja 2015 oleh Sri Sultan HB X yang menuai pro dan kontra, seluruh sultan Kraton Ngayogyakarta dahulu bergelar Sayyidin Panatagama Khalifatullah ing Ngayogyakarta Hadiningrat yang berarti penghulu pemegang urusan agama sekaligus perwakilan Alloh di Yogyakarta. Di atas kesultanan ada khalifah yang memegang pucuk pimpinan umat Islam di seluruh dunia. Khalifah terakhir yang membawahi seluruh kesultanan Islam di dunia ialah Khalifah 'Abdul Majid II. Khilafah Utsmaniyyah yang berpusat di Turki akhirnya tumbang pada tahun 1924 (tepatnya tanggal 3 Maret 1924) atas inisiasi Kemal Attaturk sebagai tokoh utama dan dukungan musuh-musuh Islam di belakangnya. Meskipun sempat para ulama membentuk komite khilafah pasca digantikannya khilafah islamiyah dengan demokrasi, semangat mengembalikan khilafah itu luntur dengan adanya masalah-masalah dan konflik di banyak wilayah. Tanpa khilafah hingga kini shof umat islam tercerai berai bagai anak ayam kehilangan induk.

Kembali ke tanah Jawa. Pada masa dahulu hanya masjid agung dan masjid-masjid jami' yang boleh menyelenggarakan sholat jum'at. Sampai saat ini sebagian masyarakat muslim wilayah Jawa Tengah masih memegang kode etik otoritas tersebut. Selain ritual ibadah, sholat jum'at juga menjadi salah satu apel konsolidasi umat Islam. Dari wasiat takwa hingga wasiat amanat khalifah disampaikan oleh khatib melalui mimbar-mimbar masjid jami'.

Sholat jumat sangat kental dengan nuansa "sami'naa wa atho'naa". Di masjid-masjid jaringan Sawo Kecik hingga kini masih ada kebiasaan yang mungkin dianggap bid'ah oleh sebagian umat Islam kekinian yaitu sebelum khotib naik mimbar sang muadzin memberikan pesan kepada jama'ah mengenai fadhilah jum'at, pentingnya diam, mendengar, dan taat. Setelah itu muadzin akan menyerahkan tombak/ tongkat kepada khotib sebagai simbol otoritas dari khalifah. Baru setelahnya sholat Jumat dimulai dengan salam dari khotib diikuti kumandang adzan muadzin.

Prosesi serah terima tombak/ tongkat itu barangkali tak lagi menggetarkan hati umat Islam mutakhir tentang pentingnya mendengar dan taat pada pimpinan resmi. Sekalipun banyak riwayat mengenai tongkat yang dipegang khatib saat sholat jumat baik di masa Rosululloh maupun para khulafaur rasyidin serta para pengikutnya, kini banyak masjid tak menjadikannya sunnah. Bahkan para pemuka masjid yang masih mempertahankannya bisa jadi dianggap kolot dan klenik. Akhirnya prosesi itu banyak dihapus karena dianggap tanpa dalil, tidak perlu, dan menambah-nambahi ritual sholat Jumat. Sempurnalah keruntuhan sendi-sendi kepemimpinan umat Islam. Sholat Jumat sebatas ibadah mahdhoh.

Sekarang mungkin Anda tahu kenapa di ibu kota negara kita sampai ada kebijakan "pantau ceramah para khotib". Di masjid-masjid kampus juga begitu. Di Mesir pun begitu semenjak digulingkannya Muhammad Mursi, para khotib disortir afiliasinya. Di masa Presiden Soeharto "penertiban" itu juga dilakukan namun dengan halus. Umat islam dirapikan garis komandonya tapi dipegang pucuk pimpinannya. Beliau dirikan DMI, ICMI, MUI, BKPRMI, dsb untuk memudahkan kontrol terhadap umat islam. Sebenarnya pak Harto itu sosok pemimpin yang baik, pandai, dan cakap mengelola kekuasaan. Sayang ketika beliau mulai dekat dengan umat islam dan mulai ingin memajukan industri dalam negeri, ada yang tidak suka. Mereka yang tidak suka ini memiliki motivasi berbeda-beda namun bekerja sama menjalankan aksi yang sama: "Lengserkan Soeharto!"

Sawo Kecik tinggal sawo kecik, tak lagi melambangkan garis komando apapun. Sekarang zaman demokrasi, semua orang boleh membangun masjid, langgar, dan musholla. Semua masjid boleh mendirikan sholat Jumat, bahkan satu kampung dua mimbar sudah biasa. Khotib dan imam bisa siapa saja. Entah ini tanda kebangkitan atau kehancuran.

Nasta'inu billah...

Allohu a'lam...

Misteri Dua Pohon Beringin Kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta Versi Islam

[Baca sampai selesai sebelum Like, Share atau Komentar]

Jika Anda pernah tinggal atau berkunjung ke Jogja dan penasaran dengan mitos dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, sebaiknya Anda membaca tulisan ini. Orang yang dengan mata tertutup berhasil melewati jalan di antara dua pohon beringin Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta tanpa berbelok atau melenceng berarti hatinya lurus, bersih, begitulah mitosnya. Mereka yang tidak berhasil melewatinya atau melenceng dari jalan seharusnya maka hati mereka dalam kondisi sebaliknya. Anda pernah mencobanya?

Banyak yang mencobanya dan banyak yang memang tidak berhasil melalui dua pohon beringin itu. Setidaknya kami pernah membuktikan statistik banyak yang gagal itu saat masih menjadi mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Jogja. Barangkali memang karena hati kami kotor, penuh maksiat, cinta dunia, serakah, sombong, dan berbagai penyakit lainnya menjadikan jalan kami "melenceng", atau itu sebenarnya hanya karena sistem navigasi kami kacau saat mata ditutup, entahlah. Anda boleh mecobanya. Anda mungkin akan terheran-heran. Bahkan saat salah satu dari kami menggunakan langkah tegap ala baris-berbaris yang secara logika pasti jalannya lurus, ternyata tetap menyerong hampir menabrak pagar beton segi empat yang mengelilingi pohon beringin sebelah barat. Percaya tidak percaya, hehe...

Eniwai, sampai saat ini keramaian Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta telah membuka banyak lapangan pekerjaan. Mulai dari pedagang kaki lima yang menjadi khas kota Jogjakarta menurut Kla Project, persewaan sepeda tandem, persewaan mobil kayuh odong-odong, penjaja mainan anak, pedagang asongan, hingga persewaan kain penutup mata untuk uji kebersihan hati melewati dua pohon beringin. Jika Anda mengunjungi Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta pada malam hari, Anda bisa merasakan suasana negeri cahaya dengan hujan bintang kemerlip yang berasal dari baling-baling bambu bertempelkan lampu led terlontar ke langit lalu terjun bak meteor.

Begini...
Beberapa hal berikut ini perlu Anda ketahui mengenai misteri mitos dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta versi Islam. Anda harus membacanya, termasuk Anda yang menganggap aktivitas melewati beringin kembar ialah hal musyrik, gugon tuhon, konyol, takhayul, tipu-tipu. Juga Anda yang merasa suci karena berhasil melalui "uji kebersihan hati", apalagi Anda yang jengkel dan kesal karena dicap berhati kotor oleh teman-teman Anda hanya gara-gara gagal melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, Anda semua harus membacanya.

Sebagaimana saya pernah menulis "Kenapa Halaman Masjid Agung di Jawa Ditanami Pohon Sawo?" (baca tulisannya di link berikut: http://bit.ly/SawoMasjid), orang Jawa itu selalu penuh wewarah melalui berbagai condro atau sanepo yang perlu peleburan ego untuk bisa memahaminya. Jangan berkomentar apapun sebelum mendekati, melihat, mempelajari, menanyakan, menyentuh, dan merasakan apa yang sejati dari pandangan mata semata. Selanjutnya setelah Anda mengetahui, Anda hanya perlu tersenyum, "Oh, gitu ya..."

Biarkan mitos sekedar mitos, inilah seni pariwiasata. Mitos itu diciptakan oleh manusia agar berbondong-bondong turis mengunjungi sebuah objek wisata. Begitu pula yang dilakukan media dalam rangka meyakinkan konstituen tentang keberadaan "Ratu Adil" di dunia politik. Populer sekarang kita mengganti istilah mitos yang dipropagandakan media dengan istilah pencitraan atau framing. Membuat masyarakat percaya bahwa orang atau sekelompok orang hadir untuk bisa menyelesaikan masalah di tengah-tengah masyarakat, itu merupakan mitos juga meskipun terdengar aneh jika kita menyebutnya mitos. Agar bisa diterima maka kajian ilmiah dimunculkan untuk mendukung mitos itu, wajar. Dahulu kita kenal Hercules anak hasil perkawinan dewa dengan manusia sebagai tokoh pahlawan dalam mitologi penduduk Yunani, kini kita kenal mitos "Manusia Setengah Dewa" karangan Iwan Fals di Indonesia.

Kembali ke pohon beringin kembar...
Ada apa sebenarnya dengan dua pohon beringin di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta?
Misteri apa yang disimpan di sana?
Wewarah apa yang disematkan di sana?
Makna apa yang disiratkan di sana?

Berikut ini jawabannya:
1. Syahadatain
Dua pohon beringin melambangkan syahadatain atau dua kalimat syahadat. Melalui syahadat tauhid "asyhadu an laa ilaaha illalloh" kita bersaksi dengan hati, dengan lisan, dan dengan perbuatan bahwa tiada sesembahan yang benar untuk disembah kecuali Alloh. Melalui syahadat rosul "Asyhadu anna Muhammadan rosululloh" kita bersaksi bahwa nabi Muhammad ialah utusan Alloh yang petunjuknya paling benar sesuai wahyu Alloh.

2. Al Qur'an dan As Sunnah
Dua kalimat syahadat diejawantahkan di kehidupan dunia melalui dua petunjuk yaitu Al Qur'an sebagai kalam atau firman Alloh dan As Sunnah sebagai jalan hidup Rosululloh Muhammad dalam menjalankan wahyu Alloh. Dua hal ini yang dijanjikan oleh Alloh akan menjadi petunjuk abadi, tak akan ada orang tersesat dengan keduanya.

"Telah kutinggalkan di tengah-tengah kalian dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang kepada keduanya, (yaitu) Kitab Alloh dan Sunnah Rasul-Nya."
(H.R. Malik, Al Hakim, Al Baihaqi, Ibnu Nashr, Ibnu Hazm).

Sampai di sini semoga Anda sudah mulai mengerti.

3. Shirothol Mustaqim
Ya, dengan dibimbing Al Qur'an di sisi kanan dan As Sunnah di sisi kiri insyaalloh kita akan bisa berjalan lurus, berjalan di atas shirothol mustaqim. Al Qur'an dan As Sunnah  menjadi pagar kita dalam melewati jalan orang-orang sebelum kita yang telah diberi nikmat oleh Alloh yaitu para nabi dan rosul, para sahabat, syuhada, shodiqin, sholihin, ulama, 'amilin, bukan jalan orang-orang yang dimurkai Alloh, bukan pula jalan mereka yang sesat. Shirothol mustaqim akan bisa kita lalui biidznillah sekalipun mata kita tertutup. Alloh memberi petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, begitu pula sebaliknya. Alloh memberikan pandangan "furqon" kepada hamba-hamba yang berpegang erat pada petunjuk Al Qur'an dan petunjuk As Sunnah. Itulah makna melewati beringin kembar dengan mata tertutup.

4. Syari'at, Hakikat, Thoriqot, Ma'rifat
Jika Anda pernah ke Alun-alun Selatan Kraton Ngayogyakarta tentu Anda melihat bahwa masing-masing pohon beringin diberi pagar beton berbentuk segi empat di sekelilingnya. Kenapa tidak lingkaran? Kenapa tidak segi lima, segi enam, dan seterusnya? Keempat sudut dan sisi pagar tersebut bermakna bahwa dalam memegang teguh Al Qur'an dan As Sunnah kita harus membingkainya dengan empat pendalaman ilmu yang tak bisa dipisahkan satu sama lain yaitu syari'at, hakikat, thoriqot, dan ma'rifat.

Sebagian orang memyepelekan dan menganggap mudah melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta. Ini penyakitnya iblis yaitu sombong. Kita merasa telah mengunci koordinat dua pohon beringin di kiri dan kanan, menggaris lurus-lurus jalur yang hendak kita lewati.
"Dengan begini surga pasti dapat," pikir kita.

Jika tak hati-hati ternyata justru itu menjadi bukti bahwa kita hanya mengandalkan akal dan kemampuan diri, lupa pada Alloh. Hal tersebut menjadi perumpamaan orang-orang yang merasa telah menguasai Al Quran dan As Sunnah namun lalai dari membersihkan hati dan menebalkan tawakal pada Alloh, maka Alloh tak membuka hijab pandangannya, tak melembutkan kepekaan nuraninya, hingga syetan mudah menyesatkannya.

Bagaimana? Bisa Anda pahami? Inilah orang Jawa, semua ada maknanya.

Jadi, tantangan Masangin alias Masuk di antara Dua Beringin yang diberikan seorang wanita kepada calon pasangan hidupnya karena konon salah satu putri raja Hamengku Buwono pernah memberikan tantangan itu kepada keturunan Prabu Siliwangi yang melamarnya untuk mengetahui ketulusan dan kebersihan hatinya, prosesi melewati beringin kembar dengan mata tertutup pada malam satu Suro setelah mubeng beteng kraton, jika berhasil melewati maka beroleh keberuntungan dan keinginannya terlaksana, hingga mitos bahwa dua beringin itu merupakan gerbang menuju istana Nyi Roro Kidul di laut selatan, jangan sampai itu semua ditelan mentah-mentah.

Bolehlah Anda menguji calon suami Anda untuk melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, namun jangan lantas tidak jadi menikah disebabkan calon suami Anda gagal melewati beringin kembar atau semakin mantap menikah karena calon suami berhasil, jangan seperti itu.

Katakan saja, "Kangmas, tahukah makna dari melewati pohon beringin kembar ini? Aku ingin Engkau menjadi imamku, imam yang senantiasa berusaha membimbingku melalui jalan yang lurus. Dengan Al Qur'an dan As Sunnah mari kita bersama-sama meniti jalan itu, Kangmas. Pejamkan mata terhadap dunia, bersihkan akal dan hati, tawakkal pada Ilahi. Mari melangkah sambil terus mengaji dan nyinaoni hidup ini."

Leres Masdab, ini hanya semacam outbond. Pernah kan Anda outbond?
"Bapak Ibu, bayangkan Anda semua adalah anggota pasukan Densus 88. Anda akan menjinakkan bom di sana dengan bantuan beberapa potong bambu. Anda semua harus ditutup matanya kecuali pemimpin Anda. Dan Anda semua tidak boleh bicara, hanya pemimpin Anda yang boleh bicara dan memerintah Anda. Siap?"

Nah, setelah permainan selesai, berhasil ataupun tidak sebuah tim menjalankan misi, akan diberikan pemaknaan permainan oleh instruktur outbond. Melewati beringin kembar Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta juga hanya semacam tantangan outbond, bumbu-bumbu mitos diberikan agar Anda totalitas menjalani permainan. Setelah selesai permainan jangan langsung pulang, jangan buru-buru menyimpulkan. Eksplor perasaan lalu lanjutkan dengan menggali pemaknaan.

So, jika besok Anda seru-seruan bersama teman atau keluarga Anda dengan melewati beringin kembar di Alun-alun Kidul Kraton Ngayogyakarta, pastikan tantangan itu tidak lagi untuk menghakimi siapa berhati kotor siapa berhati bersih dengan mitos mistik yang menyertainya namun Anda bisa menjelaskan kepada mereka mengenai makna perjalanan dengan mata tertutup itu, tentang Al Qur'an dan As Sunnah, tentang jalan yang lurus, dan tentang pentingnya mempelajari petunjuk jalan lurus itu.

Semoga bermanfaat, jika ada benarnya maka itu milik Alloh, jika ada salahnya saya mohon maaf pada para pembaca dan saya mohon ampun pada Alloh.

Jogja memang istimewa...

Allohu a'lam...

Kini Yang Tersisa Hanya Kalian Para Buruh

Mayday...

Kini yang tersisa hanya kalian para buruh
Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Yang bersatu padu merebut demokrasi kala itu
Hanya buruh yang masih tetap buruh

Tani sudah kehilangan lahan
Mereka sudah bukan lagi tani
Sawah mereka berubah hotel apartemen dan perumahan

Mahasiswa sudah jadi akademisi
Mereka mendapat banyak beasiswa ke luar negeri
Mereka sudah jadi orang-orang penting di negeri ini

Rakyat miskin kota sudah tiada
Mereka berubah menjadi gelandangan tunawisma
Digusur disingkirkan dipulasara
Merusak keindahan dan ketertiban katanya

Kini tinggal buruh
Buruh yang bermutasi menjadi tenaga kerja terdidik
Buruh yang mulai paham bisnis
Buruh yang bukan sekedar sapi perah
Buruh yang dengan pengetahuan mampu bekerja lebih efektif dan efisien
Buruh yang berpenampilan layaknya pekerja kasar namun cara bicaranya intelek
Berpikirnya melek

Kelas buruh tercipta saat industrialisasi
Kelas buruh tersiksa selama kapitalisasi
Kelas buruh bertransformasi sejak reformasi
Kelak kelas itu tak akan ada lagi
Bukan karena punah atau mati
Buruh tetap buruh namun dengan independensi

Kita sama kita berkolaborasi
Hanya pemula atau ahli
Bukan majikan dengan kuli
Tak akan lagi ada industri
Yang ada paguyuban produksi

Akan terwujud kesetaraan dan kesejahteraan
Bukan karena terpenuhinya tuntutan
Namun karena kita berdampingan

Tangan buruh tangan melepuh yang dicium nabi

Salam dari kami
Buruh yang menikah empat tahun lalu tanggal 1 Mei

Akhid & Siti

Umat Islam, Kita Ini Tokoh Utama

Kemarin di Jogja ada pameran expo anak, juga ada pameran islamic book fair. Yang di expo anak rame banget, nggak ada yang ngingetin sholat. Yang di islamic book fair ada yang ngingetin sholat tapi nggak serame yang di expo anak. Bagaimana sikap kita?

Bikin pameran sebesar expo anak sekaligus ada yang ngingetin sholat!

Selama ini dakwah kita selalu defensif. Dari zaman yang rame-rame baru kristenisasi, hingga islam radikal, islam liberal, NII, islam jamaah, ahmadiah, syiah, sampai ISIS, posisi kita selalu "Bagaimana ini? Bagaimana cara membentengi saudara-saudara kita? Dan sebagainya."

Setiap dilempar serangan (serangan selalu ada, hanya blow up nya yang pakai timing), kita seprti kebakaran jenggot. Musuh-musuh islam berhasil menggentarkan barisan kita dengan menyebar berita, "musuh ribuan di balik bukit", padahal cuma puluhan musuh berputar-putar dengan hentakan kaki kuda mereka menerbangkan debu sehingga nampak banyak.

Jika kita memang telah mengerjakan kewajiban kita berupa dakwah ilalloh, memperkenalkan dan mengajarkan islam kepada umat, insyaalloh tak gentar kita hingga menerbitkan buku, ceramah, mengadakan seminar, "ciri-ciri aliran sesat, bahaya ini, bahaya itu". Ibarat kita sibuk memompa jalan yang kebanjiran saat musim hujan karena selama ini kita belum bikin drainase yang baik.

Ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran kita menunjukkan sebenarnya kita belum melakukan apa-apa, belum maksimal dalam menjalankan peran kita sebagai 'abid dan khalifah di muka bumi.

Banyaknya gempuran musuh semestinya tak hanya dibalas dan dibalas. Layaknya main badminton, kita hanya diombang-ambing kanan kiri kanan kiri tanpa punya determinasi bahwa kita yang harus menundukkan musuh.

"Pahami cara berpikir mereka, jangan berpikir sebagaimana mereka berpikir tentang cara kita berpikir"

Dilempar serangan blokir situs, rame kita bahas blokir situs. Dipancing konflik, kita ikut konflik. Ini semacam umpan, "test the water" bukan semata untuk mengetahui reaksi umat terhadap suatu isu/wacana, ini seperti mereka sedang menyusun kepingan puzzle. Pola gerak kita sedang dipolakan sehingga musuh akan tahu lebih banyak tentang kita, kelak lebih mudah bagi mereka untuk "membuat kita mengikuti mereka".

Di wilayah konflik sebagaimana Palestina, Mesir, dan sebagainya yang dakwahnya sangat butuh amniyah, tentu kondisinya tak sedemokratis Indonesia. Kita pernah berada di masa seperti mereka, dakwah perlu hati-hati. Namun nampaknya kita lupa. Inilah jebakan demokrasi, kita masih gagap hidup di alam demokrasi. Kita terlalu larut dalam fatamorgana, asyik dengan drama. Mindset kita masih ODB (Orang Demokrat Baru), meminjam istilah OKB (Orang Kaya Baru). Sebagaimana kekayaan harta dunia hanya alat, demokrasi juga demikian. Semoga bisa ditangkap maksudnya.

Di alam orde baru yang represif gerakan-gerakan dakwah mengakar kuat di bawah tanah tanpa bisa diberangus. Di alam pascareformasi yang serba demokrasi semua gerakan muncul ke permukaan, sangat mudah didata. Sangat mudah dibaca arah geraknya.

Gerakan-gerakan kecil digebuk dengan cap teroris (sekarang ISIS), petugas negaranya Densus 88. Gerakan-gerakan yang sudah besar dipermalukan dengan cap koruptor, petugasnya KPK. Kelompok-kelompok Islam yang tak populis siap-sia digerebek Densus. Kelompok Islam yang populis siap-siap ditelanjangi oleh media. Semuanya merupakan bagian dari resiko perjuangan dan bukan itu fokus kita.

Apapun yang sedang kita hadapi, musuh berupa siapapun yang sedang dibabakkan dalam episode perjalanan dakwah kita, kita harus punya narasi. Kita yang harus menguasai jalan cerita, firman ilahiyah dan sabda nubuwah yang jadi skenario kita.

Umat islam ini tokoh utama, jangan mau dikerjai oleh figuran-figuran konyol yang membuat tokoh antagonis tertawa di balik layar. Jangan mau nampak bodoh di atas panggung. Jangan larut dalam tiap adegan. Mari kita buat tokoh antagonis dan para penonton selalu waspada, bukan sebaliknya. Bila perlu buatlah, "Kok begitu? Kok diam? Apa yang direncanakan mereka?" Mereka tak boleh tahu bagaimana cara kita akan membalik keadaan hingga akhirnya kita yg menguasai jalan cerita.

"Mereka merasa telah membuat makar terbaik. Sesungguhnya Alloh lah sebaik-baik pembuat makar."

Hasbunalloh wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir, laa haula wa laa quwwata illaa billah al'aliy al'adhim.

Salam...

Kenapa Artikel Berita tentang Hari Kiamat Selalu Menjadi Viral?

Kenapa artikel-artikel dan berita mengenai telah munculnya tanda-tanda kiamat atau bukti ilmiah akan terjadinya kiamat sangat mudah menjadi viral di media sosial dan cepat mewabah di media pemberitaan online? Seakan-akan hari kiamat sangat dinantikan dan diharapkan kepastian waktu kebenarannya segera terungkap. Barangkali kisah berikut bisa menjawab pertanyaan itu.


----------



Adanya hasil pengamatan mengenai asteroid besar yang kemungkinan akan menghantam bumi dalam waktu dekat membuat para pemimpin dunia mengadakan pertemuan di bawah koordinasi PBB. Proyek "Perahu Nabi Nuh" memunculkan banyak pandangan dan usulan strategi apa yang mungkin digunakan untuk menyelamatkan sebanyak mungkin manusia dan makhluk hidup lainnya dari pemusnahan massal.


Sayangnya tidak ada kepastian program yang akan dikerjakan bersama di bawah koordinasi PBB. PBB menyerahkan kepada masing-masing negara untuk menyusun strategi semampunya. Ketidakseimbangan cadangan kekayaan dan sumber daya setiap negara sekaligus jumlah penduduk yang bervariasi menyebabkan tidak ada kesepakatan program bersama dalam proyek penyelamatan bumi itu.

Dalam pertemuan lanjutan setelah para pemimpin negara menyusun strategi bagi negara masing-masing ternyata Indonesia memiliki strategi paling menggemparkan. Banyak strategi bermunculan sebagai jalan misi program "Perahu Nabi Nuh". Sebagian besar negara mengamini rencana Amerika Serikat untuk membuat bunker bawah tanah dengan kekuatan tahan terhadap radiasi bom atom atau nuklir yang mungkin diciptakan. Sebagian lain menyambut baik rencana Rusia dan China membuat pesawat ruang angkasa raksasa. Jepang merencanakan Perahu Nabi Nuh dalam makna denotatif dengan asumsi bahwa air memiliki daya redam terhadap guncangan yang sangat stabil.

Para peserta dari berbagai negara saling mengajukan argumen ilmiah, politik, ekonomi, dan pandangan dari banyak aspek sebelum akhirnya mereka semua dibuat bungkam oleh Indonesia. Presiden Indonesia naik ke podium untuk menyampaikan strategi Indonesia dalam menghadapi "kiamat" planet bumi. Dengan wajah penuh optimis sang presiden membuka presentasinya. Peserta semua terdiam tegang, "Bagaimana presiden Indonesia bisa setenang itu di tengah kepanikan semua negara?"

Usai salam dan ucapan syukur presiden Indonesia diam sambil membuka kopyah hitamnya. Ia mengusap rambut ke belakang dengan tangan kiri sembari meletakkan kopyah hitam di samping mikrofon podium dengan tangan kanan.
"Ini bukan hanya masalah kami bangsa Indonesia, ini bukan hanya masalah agama apapun dengan ajaran mereka masing-masing tentang hari kiamat, ini tentang kita, ini masalah kita, ini masalah umat manusia, kemanusiaan, dan seluruh makhluk yang ada di muka bumi."

"Kami bangsa Indonesia telah bulat mengambil sikap dan langkah ini dalam menghadapi kemungkinan bencana dunia yang akan terjadi dalam waktu dekat"

"Kami mengajak semua pemimpin negara yang hadir dalam pertemuan ini jika berkenan juga melakukan sebagaimana rencana kami."

Suara jarum jatuh pun mungkin akan terdengar di ruangan itu. Suasana begitu haru saat presiden Indonesia berkaca-kaca hendak melanjutkan pidatonya.

"Kami bangsa Indonesia telah sering, sering sekali mendapat musibah baik itu berupa bencana alam maupun bencana kemanusiaan."

"Selama ini kami berusaha terus bertahan dan dalam kesempatan ini saya selaku wakil dari seluruh rakyat Indonesia mengucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada negara lain yang kerap memberikan uluran tangan kepada kami."

"Kami bangsa Indonesia telah bulat dengan keputusan kami."

"Bahwa kami akan mengadakan pesta rakyat selama empat puluh hari empat puluh malam untuk menghadapi bencana ini."

"Ooooh..." suara para pemimpin negara serentak merasa kaget dengan rencana Indonesia.

"Tenang.... Saya mohon tolong izinkan saya menyelesaikan pernyataan sikap selaku perwakilan dari bangsa Indonesia."

Peserta kongres pun kembali tenang.

"Ini, kami, kami akan mengadakan pesta rakyat empat puluh hari empat puluh malam sebagai wujud syukur terdalam kami kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. Sudah sangat berat rasanya penderitaan kami di dunia ini. Cobaan, ujian, musibah kami alami bertubi-tubi silih berganti. Kami bersyukur semua ini akan segera berakhir...."

Sang presiden Indonesia mengakhiri pidatonya dengan tangis sesenggukan, "Terima kasih."

Ia berlalu turun dari podium lalu menyalami para pemimpin dunia, memeluk erat mereka, "I'm sorry for all mistakes, thank you for being best partner in this hard world. See you in heaven, i hope..."

*Fiktif imajinatif, semoga nggak gitu2 banget... Harapan itu masih ada, Indonesia