TASHIH

Bagi para calon guru Al Quran, uji kesesuaian bacaan Al Quran sebagaimana jalur riwayat bacaan yang akan ia gunakan untuk mengajar sangatlah mutlak diperlukan. Mengikuti tashih merupakan sebentuk tanggung jawab calon guru Al Quran untuk memastikan bahwa bacaan Al Quran yang akan ia ajarkan sudah semirip mungkin dengan bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai jalur riwayat yang ia ambil. Keterangan lulus ujian tashih menjadi salah satu pengesahan bahwa bacaan Al Quran seseorang jalur riwayatnya bersambung sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Para pentashih memiliki tugas yang amat berat untuk menyimak, memperhatikan, mengecek, menguji, mengoreksi, dan menjamin kesesuaian bacaan Al Quran antara murid dengan guru yang berada dalam satu jalur periwayatan. Proses tashih berusaha memastikan bahwa periwayatan bacaan Al Quran dilakukan secara tatap muka dan sudah benar-benar sesuai antara bacaan murid dengan gurunya. Para pentashih juga memiliki tugas memberi rekomendasi para calon guru alquran, dari mana harus memulai perbaikan bacaan Al Qurannya.

Lulus tashih bukan hanya kewajiban para calon guru Al Quran karena bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar semaksimal mungkin ialah kewajiban semua muslim. Standar baik dan benar dalam membaca Al Quran itu seperti apa? Lulus tashih. Maka dari itu, setiap muslim utamanya yang telah belajar melafalkan ayat-ayat Al Quran bersama seorang guru juga perlu menyesuaikan bacaannya dengan bacaan gurunya atau jalur di atasnya, gurunya guru dan seterusnya melalui ujian tashih.

Setelah sekian lama belajar dengan saling bertatap muka, seorang guru harus merelakan muridnya diuji oleh pentashih. Bagi sang guru situasinya mungkin seperti seorang wanita saat menghadirkan calon suami pada orang tuanya. Dia sudah mantap dengan pria itu tapi orang tuanya masih perlu mempertimbangkan dan menguji calon menantunya. Dari hasil pertemuan itu orang tuanya bisa langsung setuju namun bisa juga tidak.

Menjalani ujian tashih ibarat seorang pria menunggu jawaban wali nikah atas khitbahnya pada seorang wanita. Sekalipun antara pria dan wanita sudah saling merasa cocok dan mantap, wali nikah jua yang memutuskan. Proses ujian tashih begitu mendebarkan hati keduanya. Perasaan sang murid diliputi campur aduk antara khawatir ditolak dengan sangat berharap diterima, begitu juga sang guru.

Calon guru Al Quran bisa lulus tashih pastinya semata atas pertolongan Allah, lalu berkat bimbingan dari para guru, serta doa-doa dari banyak orang. Saat sang murid dinyatakan lulus oleh pentashih, perasaan murid dan guru pastilah lega luar biasa, bagaikan lolos dari lubang jarum. Sebagaimana bahwa akad nikah bukanlah akhir perjalanan, lolos dari lubang jarum juga baru titik awal untuk melanjutkan perjuangan.

Agar bisa mengajarkan Al Quran pada orang lain, mereka yang telah lulus tashih dan ingin menjadi guru Al Quran berhak diajari metodologi pengajaran Al Quran yang digunakan oleh guru-guru mereka. Setelah semua proses dijalani kelak mereka baru bisa secara resmi diizinkan untuk mengajarkan Al Quran. Para guru Al Quran harus senantiasa menjaga bacaan Al Quran mereka. Mereka harus siap jika sewaktu-waktu atau secara periodik diuji tashih ulang. Hal itu demi menjaga kesahihan bacaan sepanjang waktu.

Latepost dari Halaman Lain

Mohon maaf...

Dalam waktu yang cukup lama saya tidak memposting tulisan di blog ini. Beberapa tulisan dalam jangka waktu tersebut lebih sering saya posting melalui WhatsApp atau laman online lain semisal Facebook.

Semoga tulisan-tulisan yang bercecer itu bisa segera saya posting ulang di sini. Semoga juga bisa bermanfaat bagi para sahabat sekalian. Terutama pula semoga bisa menjadi penasihat bagi saya pribadi.

Bismillah! Mari terus berkarya dan tetap semangat!

Pesawat, Pilot, dan Penumpangnya

Pada masanya manusia ingin bisa terbang. Dua orang bersaudara saling bantu melakukan eksperimen untuk terbang dan menerbangkan sesuatu. Memang otot dan kerangka tubuh manusia tidak didesain untuk terbang, harus ada suatu alat yang dinaiki agar bisa terbang.
"Apakah kamu melihat pada burung yang bisa terbang? Siapakah yang menahannya agar tetap di angkasa?"
"Tembuslah langit! Tidaklah kamu bisa menembusnya kecuali dengan kekuasaan."
"Maha suci Alloh yang telah memperjalankan hambanya pada suatu malam dari Masjidil Harom ke Masjidil Aqsho..."
Umat manusia mungkin memang dikondisikan memiliki mimpi untuk bisa terbang, menembus langit, dan menempuh jarak yang jauh dalam waktu singkat. Alloh seakan memancing-mancing nalar kritis manusia melalui kalam-Nya, "Carilah cara untuk bisa terbang!"
Tidak hanya memancing, Alloh menantang manusia untuk bisa terbang.

Setelah menemukan cara untuk bisa terbang sendiri manusia ingin bisa terbang bersama-sama manusia lain, sebanyak mungkin kalau bisa. Setelah bisa terbang bersama banyak orang ternyata mereka mulai menyadari bahwa semestinya mereka terbang tidak hanya untuk hepi-hepi. Ada banyak hal bisa diraih dengan terbang. Akhirnya arah tujuan terbang mereka berbeda-beda.
Terlalu lama jika kemana-mana harus selalu bersama. Mereka pun berusaha membuat pesawat dengan ukuran yang lebih kecil untuk memenuhi kebutuhan arah tujuan penumpang yang berbeda-beda itu. Kelak manusia akan kembali mencari cara agar bisa terbang sendiri-sendiri.
Jika boleh membandingkan, mungkin bangsa Indonesia juga mengalami perjalanan sebagaimana yang dialami oleh perkembangan pesawat. Berbagai suku bangsa di Nusantara bersatu untuk mengusir penjajah. Setelah menyatakan diri merdeka pesawat Indonesia mengangkut penumpang yang sangat banyak. Energi untuk menerbangkannya cukup besar, biaya pun besar, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan berbagai urusan menjadi cukup lama. Hanya ada satu kemudi dan semua orang harus mengikuti sang kapten yang ada di belakang kemudi.
Penumpang mulai gelisah dan menghendaki pesawat mendarat sejenak. Gaya mengemudi sang kapten dirasa nggak asyik. Maka diserahkanlah kemudi pada ahlinya ahli merancang pesawat.
"Indonesia ini cocoknya dijelajahi dengan pesawat-pesawat yang tidak terlalu besar," orang-orang mulai berani berbicara.
Beberapa kelompok orang pun akhirnya diberi kendali kemudi untuk mengemudikan pesawat yang lebih kecil dari maskapai yang sama. Beberapa yang lain memilih melompat dari pesawat dengan menggendong parasut.

"Kita masih terlalu lambat," bisik orang-orang.
"Pilotnya harusnya kita pilih sendiri, biar perjalanan kita lebih terasa kebersamaannya," yang lain menimpali.

Di antara para penumpang ada pilot-pilot berbakat yang tidak mendapat kesempatan memegang kemudi. Untuk mereka maskapai menyediakan pesawat kecil yang bukan merupakan pesawat penumpang. Mereka boleh mengemudikan pesawat tempur dengan kemampuan terbang cepat untuk melakukan manuver-manuver yang tidak bisa dilakukan oleh pesawat penumpang.
Pada suatu ketika kita harus menjadi penumpang yang duduk manis mengikuti kemana pesawat airbus diarahkan, atau menjadi pilotnya. Airbus terbang dengan kecepatan lambat, perjalanan sangat jauh, hampir tak terasa bergerak sama sekali. Para penumpang menjalani hidup di atas pesawat. Mereka makan, minum, tidur, ee, mencari penghidupan, dan melakukan apa saja di dalam sana.
Pada saat yang lain kita harus terbang dengan pesawat-pesawat kecil. Guncangan dan turbulensi udaranya lebih terasa mendebarkan. Kecilnya kapasitas tangki bahan bakar memaksa pesawat hanya mampu menempuh jarak yang tak terlalu jauh. Penumpang harus siap lebih sering naik turun pesawat di tempat-tempat transit.
Ada kalanya kita harus bergerak cepat menggunakan pesawat tempur. Hidup mati terletak di antara panel-panel kemudi dan navigasi. Pilot pesawat tempur harus siap terbang seorang diri. Hilangnya komunikasi bisa diasumsikan gagal misi. Jika tak kembali otomatis dianggap telah mati.
Tentu seorang pilot pesawat airbus tak boleh menerbangkan pesawatnya dengan gaya pesawat tempur. Pesawat kecil juga tak akan tepat penggunaannya jika dikemudikan layaknya airbus. Pesawat tempur menjadi sia-sia kemampuannya jika dikemudikan layaknya pesawat penumpang.
Pada akhirnya sampailah kita pada kesimpulan bahwa sesungguhnya tak ada pemimpin terbaik sepanjang masa. Yang ada hanyalah pemimpin yang nampak hebat karena hadir di tempat dan saat yang tepat, dengan cara memimpin yang membuat seisi pesawat terbang berhasil mengangkasa dan mendarat dengan selamat. Masing-masing kita adalah pilot pesawat. Pertanyaannya, saat ini kita sedang berada di pesawat yang mana?
__________________
ABDI Consulting
Lembaga Konsultasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Bisnis, dan Kepribadian
+6281904403366
Jalan Kaliurang km 12,5 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Merawat Tunas Harapan

Sudah beberapa bulan pohon Tin kecil kami tidak menampakkan tanda-tanda pertumbuhan. Daunnya tak sampai lima, tak kunjung bertambah. Batangnya tak memperbanyak jumlah cabang, juga tak memperlihatkan mata tunas. Sepertinya sangat mustahil untuk berbuah, bahkan bisa jadi sebentar lagi mati. Sebagai pecinta tanaman yang seringkali berusaha menyelamatkan berbagai jenis tumbuhan, sayang rasanya jika tidak berusaha menyelamatkan pohon Tin yang kami beli dari seorang kawan itu.
Pada suatu sore akhirnya istri saya melakukan apa yang sebelumnya kami diskusikan.
"Boleh nggak buah Tin-nya takpotong, siapa tahu tumbuh tunas?"

Beberapa tanaman memang akhirnya bertunas setelah dipotong batangnya, meskipun ada juga yang tidak.
"Bismillah, kalau memang Allah berkenan pasti akan tumbuh lebih baik," harap kami.
Di sela harapan itu ada kekhawatiran jika pohon Tin kami justru mati. Masalahnya, pupuk kandang dan air yang selama ini kami berikan pada pohon itu seakan tidak memberikan efek perbaikan sama sekali. Ditambah cuaca yang sedang sangat panas belakangan ini, kami sempat ragu. Ah, tapi sesuatu harus dilakukan jika tak ingin pohon itu mati perlahan.
Bismillah! Kami tak hanya memangkas batang beserta semua daun pohon Tin itu tapi juga memindahkannya ke media tanam baru. Saat kami cek akarnya ternyata ada binatang pengganggu. Mungkin mereka yang selama ini menghambat pertumbuhan pohon Tin kami. Kami bersihkan akarnya lalu kami tanam di tempat yang baru.
Alhamdulillah, atas izin Allah sekitar sepekan kemudian dua buah tunas baru muncul dari pohon Tin itu. Wujud tunas memang masih jauh dari penampakan sebuah pohon berdaun rindang berbuah manis tapi kita semua tentu meyakini bahwa keberadaan tunas adalah titik terang untuk sebuah harapan. Ia ibarat awal kehidupan yang harus terus dirawat dan didoakan. Suatu saat nanti ia bisa saja menjelma sebagai penebar kebahagiaan yang membanggakan.
Teruslah bergerak!
Jangan hanya terpana dan bangga dengan kejayaan masa lalu!
Ciptakanlah sejarah baru!

__________________
ABDI Consulting
Lembaga Konsultasi Manajemen Sumber Daya Manusia, Bisnis, dan Kepribadian
+6281904403366
Jalan Kaliurang km 12,5 Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta

Etape-etape dalam Dakwah

Sesunguhnya perguliran waktu dalam kehidupan manusia terbagi dalam etape-etape. Pada setiap etape Allah tetapkan tugas khusus pada para pengembannya. Begitulah para Nabi diutus untuk masing-masing umat.
Kelak semua Nabi akan dihadapkan untuk menjadi saksi bagi tiap umatnya. Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam barangkali menjadi Nabi yang memiliki etape terpanjang sampai hari kiamat. Beliau diutus untuk menjadi tauladan sepanjang masa. Setiap ucap dan lakunya dijadikan standar kebaikan paripurna.
Al Quran dan As Sunnah beliau wariskan sebagai pedoman petunjuk jalan. Syafaatnya kita nantikan. Pertolongan Allah kita harapkan. Di hari perhitungan kelak umat beliau menjadi umat yang jumlahnya paling banyak. Betapa beratnya mebayangkan beliau juga harus mempertanggungjawabkan umat yang tidak pernah beliau temui, umat separah kita ini. Allahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammad.
Usia umat Nabi Muhammad dibagi dalam lima etape lagi menurut sabda beliau: masa kenabian, masa khilafah yang mengikuti jejak nabi, masa pemimpin yang menggigit, masa pemimpin yang memaksa, lalu masa khilafah yang mengikuti jejak nabi. Sepeninggal Nabi, ada etape dari etape kekhalifahan saat sayyidina Abu Bakar Ash Shidiq menjaga kemurnian Islam dengan memerangi para nabi palsu, ada etape saat sayyidina Umar bin Khatab melakukan ekspansi besar-besaran, ada etape saat sayyidina Utsman bin Affan memperindah dan merapikan tatanan, ada pula etape saat sayyidina Ali bin Abi Thalib harus menanggung beban, dan seterusnya.
Terus dan terus para penerus Nabi melakukan apa yang menjadi tugas pada etapenya. Saat umat butuh penjelasan mengenai Al Quran dan As Sunnah, ada para penjelasnya. Saat umat butuh pengumpulan hadits, ada para pengumpulnya. Saat umat butuh belajar agama secara utuh, ada para perangkumnya. Saat umat butuh tema-tema tertentu dalam agama, ada para penjabarnya. Saat umat butuh kemudahan dalam penetapan hukum-hukum, ada para imam yang bersusah payah menyaripatikan kaidah-kaidahnya. Saat umat butuh fatwa dalam masalah-masalah mutaakhir, ada para muftinya. Saat umat butuh pandangan ilmiah mengenai kontroversi kasus per kasus kejadian terkini setiap hari, ada para influencer menulis status singkatnya.
Sesungguhnya kita tidak harus menyelesaikan misi dakwah hingga islam kembali berjaya. Kita tahu bahwa usia dakwah begitu panjang, tak terjangkau dengan usia kita. Kita hanya harus menyelesaikan etape kita. Kita hanya harus memastikan generasi setelah kita mendapatkan batu pijaknya. Kita hanya harus mengizinkan mereka menyelesaikan etape mereka.
Tantangan di etape mereka berbeda dengan tantangan pada saat kita menjalani etape kita. Cara-cara kita belum tentu cocok untuk menghadapi tantangan di depan sana. Kita hanya harus melakukan pewarisan dakwah pada generasi setelah kita sebagaimana generasi sebelum kita mewariskan jejak rekam dakwah mereka pada kita. Kita hanya harus meletakkan kepercayaan di pundak para pemuda, membesarkan hati mereka, lalu menyerahkan segala urusan mereka pada Sang Pemilik Rencana.
"Pada setiap etape ada tantangannya, setiap tantangan ada penakluknya."