Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Wafatnya Ustadz Cholid Mahmud

HARUS PERGI


Oleh Akhid Nur Setiawan


Ahad 29 Oktober 2023 foto beliau kembali banyak beredar di media sosial. Sayangnya keramaian itu bukan karena beliau dicalonkan lagi untuk menjadi anggota DPD RI mewakili masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Foto-foto beliau tersebar beriring ucapan belasungkawa. Telah tunai amalnya di dunia: ustadz Cholid Mahmud "Kopyah Putih".


Kopyah Putih kini dikenakan oleh H. Ahmad Khudhori, Lc. yang insyaallah nama dan fotonya akan tercantum di surat suara Pemilu 2024. Generasi pengganti itu harus dipersiapkan. Dengan ataupun tanpa rencana, yang dipastikan ialah selalu ada upaya, biar Allah tunjukkan jalan-jalannya. "Kelak saya akan tidak bisa lagi," mungkin semestinya kalimat itu ada di dalam pikiran setiap da'i.


Perjuangan yang tiada henti dan berharap di jalan itu kita mati tak boleh menjadikan kita mengutamakan diri sendiri, merasa bahwa hanya kita pribadi yang bisa melalui perjuangan ini. Ingin syahid sendiri tanpa mempersilakan seribu tunas pengganti sama saja menginginkan kafilah perjuangan lekas berlipat kaki. Setiap kali keluar rumah, seorang da'i selalulah siap untuk tak kembali. Ditulisnya wasiat, ditinggalkannya jejak, disemainya mimpi, agar sepeninggal nanti para generasi penerus tak perlu meratap duka berhari-hari.


Usia dakwah lebih panjang dari usia da'i. Di silih berganti datang dan perginya para da'i, ada saja cara Allah mempertahankan nafas dakwah agar tak berhenti. Dalam terang maupun tersembunyi, para da'i seperti memiliki kesepakatan hati ke hati: "Kamu di sana, aku di sini, sewaktu-waktu bisa bertukar posisi atau saling menjadi ganti, siapapun yang lebih dulu menghadap Ilahi"


Memang tak harus urut senioritas, hanya saja keterbatasan nalar manusia memaksa orang tua menyiapkan pengganti yang lebih muda. "Telur ayam itu kalau mau menetas ya harus diengkremi."


Setelah dierami, anak-anak ayam yang sudah menetas dan cukup masa akan "dipendeli", diusir, disuruh pergi menjalani kehidupan sendiri.


Dengan ekspresi wajah yang kurang lebih sama sebagaimana dimanapun bertemu, beliau melepas kami, "Saya justru senang antum semua sudah tidak akan di sini lagi. Orang-orang baik itu harus menyebar, tidak boleh hanya berkumpul di satu tempat. Bangunan itu bisa kokoh bukan karena tiang besar di satu titik tapi banyaknya tiang yang menopang beban di banyak titik."


Layaknya orang tua yang begitu mengerti bahwa ada fase-fase normal yang harus dijalani seorang anak, yang oleh orang-orang terdahulu juga pernah dilalui, kami dibuat gagal dramatis mengakhiri kebersamaan sebagai murid dan guru. Buang jauh bayangan video penuh tangis di acara wisuda yang marak hari-hari ini.


Tatap mata yang menyiratkan tsabat, bahwa pekerjaan kita banyak, sederhanalah berpikir, jalani saja, tidak perlu diambil hati, lepas melintas seraya berpesan, "Saya pergi dulu, kalau saya di sini terus nanti antum tidak bisa berkembang, tidak segera mandiri. Masalah-masalah dan segala dinamika yang terjadi memang harus dihadapi. Semakin banyak mengalami benturan, insyaallah antum semua akan semakin banyak belajar."


Selamat jalan syaikhona. Selamat berjumpa dengan ar rafiq al a'la.

Anak-Anak SD Semangat Berpuasa dan Shalat Malam Tanpa Disuruh

Anak-Anak SD Semangat Berpuasa dan Shalat Malam Tanpa Disuruh


Oleh Akhid Nur Setiawan


Dalam sebuah sesi halaqah seorang guru SD menyampaikan kebiasaan berpuasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada murid-muridnya. Ia bercerita bagaimana baginda Nabi gemar sekali berpuasa Senin dan Kamis. Para sahabat dan orang-orang shalih juga memiliki kebiasaan berpuasa sebagaimana Nabi teladankan.


Pekan-pekan setelahnya banyak sekali murid berusaha menjalankan puasa Senin dan Kamis padahal guru itu tak pernah mewajibkan mereka. Jangankan mewajibkan, sekedar memerintahkan atau menganjurkan pun tidak ia lakukan. Siapa yang sedang diikuti murid-murid itu? Betul sekali! Bukan guru yang mereka ikuti tapi Nabi, dari cerita gurunya tentang Nabi, shallallahu 'alaihi wasallam.


Di kesempatan lain guru muda itu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah meninggalkan qiyamullail. Shalat malam itu hukumnya wajib bagi Nabi secara pribadi. Para sahabat dan orang-orang sholih mengikuti Nabi dengan senantiasa menghidupkan malam-malam mereka. Mereka memperbanyak shalat, dzikir, tilawah, dan munajat.


Kejadian serupa terulang, murid-murid SD itu berusaha bangun malam tanpa diminta. Bayangkan! Anak usia SD bangun tengah malam dan tidak tidur lagi, tidak hanya sekali dua kali. Betapa resahnya orang tua melihat anak-anak yang belum baligh mengurangi separuh jam tidur malam mereka atas kemauan sendiri.


Akhirnya para wali murid sepakat menghadap ke kepala sekolah, "Ustadz, kami sangat senang anak-anak kami rajin berpuasa Senin Kamis. Kami berterima kasih sekali, Ustadz. Tapi ustadz, kami tidak tega melihat anak-anak bangun tengah malam dan tidak tidur lagi."


Mungkin para wali murid berpikir, jika anak-anak bangun malam itu karena tugas dari guru di sekolah, barangkali bisa meminta untuk diringankan, toh bukan amalan wajib. Masalahnya, anak-anak itu berusaha bangun malam sendiri dan tidak mau tidur lagi, bukan atas perintah guru atau sekolah. Mereka dibangunkan oleh kecintaan pada Nabi, karena sangat inginnya meniru Nabi.


Apa kira-kira tanggapan kepala sekolah? Ah, rasanya jawaban sang kepala sekolah saat itu tidak perlu untuk dibahas. Bagaimana masa depan anak-anak itu kelak, mungkin juga tidak perlu dipertanyakan, karena sekolah dasar itu ada di jalur Gaza.


Guru yang membimbing halaqoh murid-murid itu sudah lumpuh dan harus memakai kursi roda sejak remaja karena cedera. Dalam keterbatasan fisiknya Allah karuniakan hikmah untuk menolong agama-Nya. Sepanjang hidup ia tak henti bergerak bersama rakyat, khususnya anak-anak muda di sana, berjuang untuk kemerdekaan Palestina. Ya, guru SD itu kemudian dikenal oleh dunia dengan panggilan Syaikh Ahmad Yassin.


https://pejuangperadaban.blogspot.com/2022/09/anak-anak-sd-semangat-berpuasa-dan-shalat-malam-tanpa-disuruh.html

Jangan Menyerah Bunda

Jangan Menyerah Bunda

Oleh Akhid Nur Setiawan


Suatu saat seorang ibu benar-benar merasa telah habis segala upayanya demi memperbagus sikap dan perilaku putranya. Mungkin lebih tepatnya ibu itu merasa deadlock atau terkunci mati, menghadapi jalan buntu untuk memperbaiki atau membalik keadaan sang putra. Betapa sulitnya ananda mendengarkan nasihat orang tuanya, betapa menjengkelkannya tingkah laku kesehariannya, betapa susah diaturnya ia oleh guru-gurunya.


Datanglah ibu itu ke salah satu ustadz. "Bacakan ia Al Qur'an," pesan sang ustadz.

"Saya tidak bisa membaca Al Quran, Ustadz," jawab ibu itu.

"Bacakan apa saja yang ibu bisa dari Al Quran," kata ustadz itu.


Dengan seluruh harap pada Yang Maha Membolak-balik hati, dengan segenap cinta pada sang buah hati, suatu siang sang ibu menunggu ananda di depan pintu. Saat ananda pulang sekolah, ibunda bukakan pintu rumah. Seketika, disambut dan dipeluknya ananda erat-erat. Dibisikkannya Al Fatihah, Ayat Kursi, dan surat-surat pendek apa saja yang dihafalnya. Setelah itu ananda diciuminya, ditumpahkannya semua kasih sayang yang dicurahkan Allah untuk seorang ibu pada anaknya.


Maasyaaallah, laa quwwata illaa billaah. Atas izin dan kehendak Allah, hari demi hari ananda mulai berubah. Tiba-tiba hatinya seperti melunak usai dibisiki ayat-ayat Al Quran oleh ibunda. Tak henti doa ibunda bagai air yang terus membasuh batu cadas. Semakin lembut ia, semakin halus ia, semakin terasahlah kepribadiannya.


Jangan menyerah Bunda. Ia milik-Nya. Sentuh hatinya dengan ayat-ayat-Nya. Sampaikan pada putra-putrimu walau satu ayat yang dibisa, apa yang telah Allah titipkan padamu. Insyaallah satu ayat itu akan menerangi setiap sudut ruang hatinya, membebaskannya dari gulita.


Dengan kuasa Allah, satu ayat itu akan bekerja menggemburkan hati mereka, insyaallah. Hati mereka akan kian subur, siap menerima benih-benih kebaikan, siap menumbuhkan dan memelihara kebaikan, bahkan menyebarkan kebaikan, insyaallah.


-----***-----

Ikuti Webinar Parenting!

GRATIS

"Agar Anak Sukarela Terbiasa dan Bahagia Melakukan Kebaikan"

Ahad 12 Desember 2021

Pukul 09.00-11.00 WIB

Daftarkan diri Anda melalui

www.kreasilila.com/webinar

bit.ly/webinarngaglik

wa.me/6281904403388

Jangan Jadikan Mereka Tabulampot

Jangan Jadikan Mereka Tabulampot

Oleh Akhid Nur Setiawan


Jika kita melihat kegigihan keluarga para ulama menjalani kehidupan mereka hingga lahir permata-permata di zamannya, selain memuji atas kebesaran Allah tentu kita menjadi bertanya apakah keluarga kita juga bisa seperti mereka. Saat melihat potret sebuah keluarga yang hampir semuanya hafal Al Quran dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, muncul keraguan untuk meneladani mereka setelah melihat kenyataan bahwa sampai sekarang kita belum memulai apa-apa. Apakah bisa keluarga kita meniru apa yang ada pada keluarga mereka?


Rasanya terlalu melangit mengharapkan ayam bertelur emas padahal katanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Wajar saja, pantas saja, tidak mengherankan, dan kalimat-kalimat lain mungkin akan muncul saat menanggapi kondisi orang tua mereka yang sudah tidak harus memulai dari awal dalam mengasuh anak. Sedangkan kita? Raihan yang terlalu tinggi kadang justru memicu kita mematahkan galah karena ia terlalu berat untuk ditegakkan. Sebenarnya bukan targetnya yang terlalu tinggi, hanya otot lengan kita yang belum kuat mengimbangi.


Kita memang bukan Maryam yang suci sehingga tak mungkin anak kita lahir langsung bisa berkata-kata. Kita memang juga bukan Aminah yang selama kehamilannya ditemani ruh para nabi sehingga anak kita dibersihkan isi dadanya oleh malaikat meskipun tidak langsung kita bersamai masa kecilnya. Kita bukan ulama, kiai, atau ustadz, bahkan santri pun bukan. Apa yang bisa kita perbuat?


Salah satu jebakan kepengasuhan ialah orang tua menginginkan hasil yang dahsyat dalam waktu yang cepat. Jadilah para orang tua kelabakan menyetarakan diri dengan orang tua dari orang-orang hebat itu. Kesenjangan "modal" yang jauh antara kita dengan mereka membuat kita ingin melahap semua teori dan tips kepengasuhan. Semua contoh dari mereka ingin segera kita praktikkan.


Inilah godaan hawa nafsu yang bisa membuat kita salah jalan. Jika nafsu yang diperturutkan, kedamaian tak akan kita rasakan sekalipun anak-anak kita kaya akan capaian. Jalan dunia yang fana kita sangka jalan Tuhan. Berpayah-payah dalam lelah tanpa arah akhirnya bisa menjerumuskan kita dalam kalimat "Sudahlah, menyerah sajalah!"


Anak-anak yang pengasuhannya terlalu dipaksakan ibarat tabulampot, ia indah dan mengagumkan tapi akan segera mati saat asupan nutrisi mereka dihentikan. Yang kita harapkan pastinya anak-anak kita tumbuh bagai pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi, dahannya menjulang ke langit, memberikan keteduhan, dan menghadirkan buah yang manis untuk dimakan. Ia bisa bertahan di musim panas maupun musim hujan. Ia tak akan roboh oleh angin kencang. Ia tetap bertahan sekalipun sudah tidak mendapatkan perawatan. Hingga saatnya tiba, ia akan melahirkan pohon-pohon baru yang telah menyesuaikan diri dengan kondisi lahan.


"Warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa," begitulah penggalan doa kita untuk kedua orang tua. Ya Allah, kasihilah keduanya sebagaimana mereka mentarbiyah kami sewaktu kami kecil. Salah satu makna tarbiyah ialah menumbuhkembangkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan. Yang dilakukan para orang tua pada prinsipnya sama, dengan perlahan menyiapkan anak-anak untuk bisa menanggung beban kehidupan.


Proses tarbiyah setahap demi setahap membutuhkan waktu dan tidak bisa instan. Benar, pupuk-pupuk tambahan bisa membantu mempercepat tanaman menemukan jalan keseimbangan tapi bisa juga membuat kecanduan bahkan berujung kematian. Orang tualah yang paling tahu dosis pupuk yang diperlukan. Perlakuan apa saja yang dibutuhkan agar anak kita tumbuh kokoh di segala cuaca hingga berbuah manis melebihi orang tuanya?


Mungkin buku ini jawabannya…


www.kreasilila.com/parentingorganik

Adab Hadir di Hadapan Guru

HADIR

Oleh Akhid Nur Setiawan


Pagi itu saya mendatangi pengajian di sebuah masjid. Saat melepas sandal saya mendengar suara murottal dari luar masjid. Saya kira sebelum mulai pengajian memang disetelkan murottal.


Saya sapukan pandangan ke ruangan yang masih kosong. Ketika mata saya sampai di depan mihrab, terkejutlah saya melihat syaikh sedang tilawah di meja yang disiapkan untuk pembicara. Beliau masih muda tapi kami memanggilnya syaikh. Bacaan Al Quran beliau sebelas dua belas dengan bacaan para syaikh dari timur tengah karena beliau memang berasal dari timur tengah yaitu Libya.


Usai menggelar sajadah untuk tahiyatul masjid saya menikmati lantunan tilawah yang beliau sajikan. Sekalipun insyaallah sama-sama berpahala, mendengarkan bacaan Al Quran secara langsung ternyata dapat menghadirkan ruh dan emosi yang berbeda dibanding mendengarkan rekaman murottal dari perangkat pemutar suara. Ketika menemui ayat sajdah, sujud pun bisa sempurna.


"Jika dibacakan Al Quran maka dengarkan dan perhatikan agar kalian mendapat rahmat!"


Di hadapan syaikh kita akan berusaha menjaga aurat, menjaga adab, menjaga sikap. Di hadapan pemutar suara terkadang kita membiarkan bacaan Al Quran berlalu begitu saja sambil menyapu, memasak, mencuci baju, menyetrika, makan, berkendaraan, bercakap-cakap, bahkan tidur-tiduran. Ayat yang dibaca sama, riwayatnya sama, merdunya sama, pahalanya insyaallah juga sama, tapi berbeda fadhilahnya, tidak sama kadar barokahnya.


Begitu pula dengan belajar, ilmu yang didapat mungkin bisa sama, menghasilkan skor ujian yang sama, tapi "nilai"nya tak akan sama antara mereka yang menghadap guru langsung dengan mereka yang terhijab di balik layar kaca.


"Apa mau dikata? Inilah sekarang yang kita bisa."


Ketika kita terhalang untuk mendatangi guru atau bertemu dengannya, carilah cara untuk bisa menggantikannya, sekalipun tak pernah bisa menyamainya. Perbanyak istighfar dalam belajar, minta ampun atas segala kelemahan dan ketidakmampuan kita untuk memenuhi adab-adab sebagai murid. Perbanyak doa untuk guru-guru kita. Bayangkan wajahnya, mintakan ampun pada Allah atas segala kekurangannya.


Sungguh segala ilmu adalah milik Allah yang diberikan-Nya kepada siapa saja sekehendak-Nya. Kita bisa mendapatkan ilmu salah satunya melalui guru-guru kita. Doakan mereka agar selalu Allah bimbing dengan cahaya sehingga cahaya itu akan masuk juga ke sanubari kita.

Hukuman Terbaik untuk Anak agar Menjadi Sholih

HUKUMAN ANAK SHOLIH

Oleh Akhid Nur Setiawan


Bagi para guru, hukuman menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Bersanding dengan pemberian penghargaan yang bisa menguatkan lekatan nilai kebaikan pada diri murid, hukuman bisa menjadi terapi untuk mengatasi penyimpangan atau memancing perubahan diri agar menjadi lebih baik. Keduanya harus diberikan secara proporsional, adil dan berimbang.


Pelajaran yang menyenangkan lebih mudah diingat murid daripada pelajaran yang horor. Guru killer membuat murid enggan menikmati pelajaran yang disampaikannya. Meskipun begitu, ketertarikan murid pada hadiah atau kebaikan seorang guru tidak boleh mengalahkan ketertarikan murid pada ilmu. Begitu pula ketidaknyamanan murid pada guru tidak boleh menghalanginya dari mendaras ilmu yang diajarkan guru.


Hukuman yang diberikan guru sebisa mungkin menghindarkan murid dari "main aman", rasa ketakutan, pandai beralasan, adiksi kebohongan, pengkambinghitaman, dan tumbuhnya kebencian. Hukuman diberikan agar menjadi pelecut semangat murid dan memberikan efek taubat. Cerahnya masa depan murid bisa jadi dimulai dari pengalamannya mendapatkan hukuman.


Murid-murid berperasaan halus akan menyadari bahwa tatapan mata guru yang berbeda dari biasanya bisa bermakna teguran. Menurut mereka, guru diam tanda marah, ada yang salah, dan sebagainya. Murid berhati bebal mungkin tidak merasa telah berbuat salah sekalipun sampai dilempar dengan penghapus atau dijewer telinganya.


Hukuman untuk murid sekolah dasar tentu berbeda dengan hukuman untuk mahasiswa pascasarjana. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membedakan hukuman untuk orang-orang beriman dengan orang-orang munafik ketika peristiwa Perang Tabuk, teguran untuk muslim Badui dengan muslim Madinah pun berbeda. Sikap arif dan bijak perlu diterapkan saat memberi hukuman pada murid.


Hukuman harus dimaknai sebagai bukti cinta guru kepada murid. Tak dimungkiri bahwa hukuman juga merupakan salah satu metode tarbiyah. Bahkan para penuntut ilmu lazim menganggap marahnya guru sebagai bagian dari barokah yang akan membuahkan kebermanfaatan ilmu di kemudian hari.


Meskipun demikian, jangan coba-coba memancing kemarahan seorang guru. Jika sampai guru mencabut ridhonya, ilmu yang sudah diterima seorang murid bisa menguap tak berbekas. Hal ini juga berlaku bagi orang tua atau wali murid yang telah memberikan kepercayaan kepada guru untuk menangani sebagian proses pendidikan anaknya.


Sabar, baik sangka, lemah lembut, dan minta maaflah apabila guru marah, apalagi kalau sampai memberi hukuman. Jika tidak paham alasan hukuman itu diberikan, istighfarlah. Jika sudah istighfar tapi belum paham juga, tambahlah istighfarnya. Jika masih belum paham, ambillah air untuk wudhu. Jika tetap belum paham, ambil wudhu lagi yang sempurna lalu kerjakan shalat dua rakaat, lanjutkan dengan istighfar.


Para penuntut ilmu dan orang tua atau wali murid hendaknya senantiasa memegang nasihat Imam Asy Syafi'i berikut ini:


“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya menuntut ilmu itu tersebab memusuhi (guru) nya”


Dari sekian banyak jenis hukuman, guru bisa menghukum murid dengan meminta mereka membaca doa untuk kedua orang tua. Apa keistimewaan hukuman itu? Saat membaca doa untuk kedua orang tua, seketika itu juga murid terhukum layak menjadi murid yang sholih.


Bukankah amal yang tidak putus pahalanya setelah kematian seseorang salah satunya berupa anak sholih yang berdoa untuknya? Dengan kata lain, anak sholih selalu mendoakan orang tuanya dan hanya anak yang sholih yang mau mendoakan orang tua. Sholih dan mendoakan orang tua bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.


Anak yang mendoakan orang tuanya otomatis memenuhi kriteria sholih karena anak sholih pasti mendoakan orang tua. Murid dihukum biasanya karena sedang berkurang kadar sholihnya. Jika ingin meningkatkan kadar kesalehan murid, ajak mereka banyak-banyak berdoa untuk kedua orang tua.


"Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Dan kasihilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu aku kecil"

Baca! Hatimu akan Allah Buka

Baca! Baca! Baca!

Oleh Akhid Nur Setiawan


Saya harus memulai belajar Al Quran dari mana? Baca! Baca! Baca! Niscaya hatimu akan Allah buka. Sebagaimana Nabi yang mulia menerima perintah pertama, "Baca!"


Saya tidak bisa membaca Al Quran. Persis! Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengatakan hal serupa pada malaikat Jibril saat itu. Lalu bagaimana? Bacalah dengan nama Tuhanmu!


Jika kita membaca dengan nama-Nya, Dia-lah yang akan mengajarkan kepada kita harus bagaimana kita setelahnya. Menciptakan manusia dari segumpal darah saja Allah kuasa, apalagi hanya mengajarkan apa yang tidak diketahui oleh manusia.


"Robbi zidnii 'ilman, warzuqnii fahman," kita diperintahkan berdoa.

Berbeda dengan malaikat yang hanya bertasbih lalu mengagungkan Allah ketika menemui persoalan, manusia justru disuruh agar meminta diajari dan dipahamkan oleh Allah atas apa-apa yang tidak diketahui oleh mereka.


Baca! Maka Allah akan buka pintu-pintu berikutnya. "Dan orang-orang yang berjuang di jalan kami, sungguh kami akan tunjukkan untuk mereka jalan-jalan kami."


"Maka barangsiapa suka memberi dan bertakwa, juga membenarkan balasan kebaikan (surga), maka akan kami permudah ia kepada kemudahan (berbuat baik)."


Bacalah sekalipun tidak mengetahui makna-maknanya. Dia-lah yang berkehendak memberikan hikmah kepada siapapun yang dikehendaki. Membaca Al Quran membuka hati. Baca saja terus, nanti Allah akan tunjuki.


Bismillah akan membuka rahasia huruf Alif. Alif akan membuka rahasia huruf Ba'. Ba' akan membuka Ta', dan seterusnya. Pada saatnya kita akan sadar bahwa kebaikan masing-masing huruf tidak pernah berdiri sendiri, hatta huruf Nun, Qof, atau Shod. Karena kasih sayang-Nya pula, ada Alif, Wawu, dan Ya' yang terkadang dianggap tidak ada, tidak dibaca, tapi tetap saja tidak boleh dihilangkan keberadaannya.


Janji Allah untuk menghitung satu huruf sebagai satu kebaikan dan dicatat sebagai sepuluh kebaikan tentu tak akan membuat kita puas hanya dengan membaca satu huruf. Bayangkan jika setiap huruf adalah kenikmatan, setiap kalimat adalah kemuliaan, setiap ayat adalah kebahagiaan, setiap surat adalah keselamatan, setiap juz adalah balasan, dan keseluruhannya adalah pedoman, petunjuk kebenaran. Saat membacanya, setiap tarikan nafas mengandung keberkahan.


Dengan keberkahan, tak butuh awal yang besar untuk bisa membolasaljukan kebaikan. Baca saja, bismillah saja, satu huruf saja, satu kalimat saja, satu ayat saja. Biarkan ia menggelinding kian membesar atas izin dan kehendak-Nya.

Pertimbangan Memilihkan Sekolah Dasar

Sekolah dasar menjadi anak tangga pertama anak-anak menempuh pendidikan formal. Sekalipun semakin marak homeschooling dan sudah lebih dari satu tahun sekolahan tidak bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, tetap penting bagi orang tua memilih sekolah sebagai partner mendidik anak. Bagaimanapun juga sekolah telah berpengalaman mendidik sekian banyak generasi dibandingkan kita sebagai orang tua.

Sekolah seperti apa yang sebaiknya kita pilih? Enam tahun belajar di bangku sekolah dasar bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal bisa didapat oleh anak-anak kita tapi juga ada banyak hal bisa terlewat selama waktu pendidikan itu.

Berikut ini beberapa pertimbangan yang penting untuk menentukan sekolah ananda.

1. Visi dan misi sekolah

Visi dan misi sekolah sangat penting menjadi pertimbangan. Sekolah yang memiliki visi selaras dengan visi orang tua akan lebih cocok dipilih dibandingkan sekolah dengan visi yang berbeda. Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita berjalan ke utara jika kita menyekolahkan mereka di sekolah yang mengajak berjalan ke arah selatan.

2. Komitmen dan dedikasi guru

Sebuah ungkapan menyatakan bahwa keberadaan guru lebih penting daripada metode pengajaran. Yang jauh lebih penting dari sekedar keberadaan guru adalah ruh dan jiwa guru itu sendiri. Sebaik apapun visi, misi, kurikulum, kegiatan, target lulusan, dan apapun yang tertulis di dalam dokumen akreditasi sekolah, semua itu tidak bermakna sama sekali tanpa guru-guru yang berdedikasi. Dari mana kita mengetahui kadar dedikasi mereka? Saat berkunjung ke sekolah coba berbincang ringan dengan pegawai-pegawai non akademik seperti tata usaha, satpam, pekarya, dan sebagainya. Jika kita bisa merasakan semangat dan antusias mereka meladeni pertanyaan-pertanyaan kita, barangkali sekolah itu cocok bagi anak kita.

3. Lama berdirinya sekolah

Bukan berarti mengesampingkan kualitas sekolah-sekolah yang baru berdiri, bisa bertahannya sekolah dalam jangka waktu lama bisa menunjukkan kualitas sekolah tersebut. Sebagus apapun konsep yang diusung sekolah-sekolah baru, sekolah-sekolah lama masih menang pengalaman. Sebuah hipotesis menyebutkan bahwa sekolah yang baru berdiri akan mengalami penurunan kinerja setelah sepuluh tahun. Jika sebuah sekolah mampu melewati masa itu, pertimbangkan sekolah itu untuk dipilih.

4. Profil alumni

Semakin banyak alumni yang lulus maka semakin bisa dibaca kualitas sebuah sekolahan. Sekolah tidak perlu memasang foto alumni berprestasi untuk menunjukkan kualitas proses pendidikan mereka. Masyarakat bisa menilai sekolah dari para alumni yang beredar di masyarakat, sekalipun tidak semua alumni berprestasi, dari mereka akan terbaca pola sekolah dalam mendidik anak.

5. Biaya pendidikan

"Jer basuki mawa beya"

Sesuatu yang berharga itu ada harganya. Jika kita memilih sekolah hanya berdasarkan murahnya, jangan banyak berharap selain mendapatkan kemurahannya. Para ulama bahkan menjual atap rumah, baju, dan apapun demi membeli kertas untuk menulis, demi mendatangi guru, demi menginap di rumah guru, demi ilmu. Guru sejati tak pernah meminta upeti, murid sejati tak pernah tak berbakti. Sekalipun begitu, jangan juga hanya memilih sekolah karena mahalnya. Mahal murah suatu sekolah tidak serta merta menunjukkan kualitas, bisa jadi hal tersebut hanya menunjukkan segmen pasar yang ditargetkan oleh sekolah.

6. Jarak lokasi sekolahan dengan rumah

Sekalipun jarak tak lagi jadi kendala di zaman sekarang, tentu kita tak ingin mengalami kesulitan dalam mengantarkan anak-anak kita bertemu guru mereka. Pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu. Jika hanya itu, mesin telusur di internet mungkin jauh lebih berilmu. Apabila kita tetap ingin menyekolahkan anak kita di tempat yang jauh, pertimbangkanlah sekolah berasrama agar ilmu mereka tidak tercecer di jalan.

7. Kabar miring

Sebagaimana kita perlu mencari ulasan pembeli saat belanja di toko online, cobalah mengecek kabar-kabar miring yang beredar tentang sekolah yang sedang kita amati. Selain sebagai bentuk kewaspadaan, mengonfirmasi kabar tersebut kepada pihak sekolah akan lebih menenangkan kita. Semoga bukan mencari aib yang sedang kita lakukan karena kita akan bekerjasama dengan pihak lain terkait masa depan anak kita. Sudah menjadi kewajaran ketika kita perlu memastikan semuanya clear.

Semoga tulisan mengenai beberapa pertimbangan memilih sekolah dasar ini bermanfaat. Perlu diingat, sebaik apapun kualitas sekolah yang kita pilihkan untuk anak-anak kita, tak akan banyak berguna jika anak-anak tidak mendapat sentuhan langsung dari orang tua dalam proses pendidikan mereka.

Sekolah Dasar yang Menjadikan Al Quran sebagai Dasar

"Dahulu kaum salaf tidak mengajarkan hadits dan fikih kecuali kepada orang yang hafal Al Quran," berkata Imam An Nawawi.

Begitulah idealnya pendidikan dasar bagi anak-anak muslim. Al Quran ialah sumber utama dari segala ilmu. Mempelajarinya menjadi prioritas dibandingkan mempelajari ilmu lain. Jika menyimak biografi para ulama, kita temui bahwa mereka sudah selesai menghafal Al Quran pada usia tujuh tahun, sembilan tahun, atau tiga belas tahun.

Memang tak semua anak harus menjadi ulama tapi mengupayakan Al Quran mengalir menyatu dalam darah daging mereka sejak usia belia tentu akan sedikit menenteramkan hati kita. Kita "nyicil ayem" dengan menyiapkan bekal mereka untuk menghadapi dunia. Ibarat tanaman yang baru tumbuh lalu kita memupuknya dengan nutrisi keimanan, insyaallah ia akan berdiri dengan akar yang kokoh, melahirkan daun yang rindang, dan kelak menghasilkan buah yang manis.

Kondisi budaya yang berbeda memaksa kita baru bisa mencontoh generasi terdahulu dengan semampu kita. Jika mungkin anak-anak kita belum bisa khatam 30 juz sebelum lulus SD melalui hafalan. Semoga setidaknya mereka bisa khatam 30 juz dengan melihat mushaf.

Untuk hafalan kita upayakan mereka bisa khatam separuhnya, atau sepertiganya, atau sepertigapuluhnya. Di suatu negeri barangkali anak-anak hafal Al Quran bukan lagi hal yang istimewa karena  pada umumnya anak-anak di sana yang tidak hafal Al Quran hanya satu dua. Bagaimana dengan lingkungan kita?

Tidak menyerah begitu saja, banyak komunitas muslim berusaha kembali membudayakan hafal Al Quran sejak usia dini. Salah satunya dilakukan Yayasan As Sakinah melalui SDIT Hidayatullah Yogyakarta. Sekolah dasar yang berlokasi di Jalan Palagan Tentara Pelajar km 14,5 Balong Donoharjo Ngaglik Sleman itu memang sangat menekankan pembelajaran Al Quran bagi murid-muridnya.

Pembelajaran Al Quran di sekolah yang berada di komplek Pondok Pesantren Hidayatullah itu menggunakan metode Ummi. Dari jenjang PAUD, TK, SD, SMP, hingga SMA para murid sangat familiar dengan kegiatan tahsin dan tahfizh sebagai agenda harian. Metode Ummi dipilih salah satunya karena pengelolaannya sangat mengedepankan komitmen pada mutu, baik mutu guru, proses, maupun mutu murid.

Penjagaan mutu dimulai dari guru yang wajib lulus ujian tartil bacaan Al Quran dan sertifikasi pengajar metode Ummi. Guru Al Quran SDIT Hidayatullah berjumlah 40 orang dari keseluruhan guru dan pegawai yang berjumlah sekitar 80 orang, kemungkinan masih akan terus bertambah. Guru kelas, guru mata pelajaran, pegawai, hingga petugas kebersihan tak luput dari kewajiban lulus tashih yang ditetapkan oleh yayasan.

Berkala tiga tahun sekali sertifikat tashih harus diperbarui sehingga salah satu program sekolah ialah penjagaan bacaan Al Quran guru dan pegawai baik dengan tadarus, pembinaan, maupun tasmi'. Selain itu pemenuhan standar hafalan minimal juga menjadi target program bidang sumber daya manusia. Kuatnya interaksi dengan Al Quran merupakan intinya inti perjuangan mengembalikan kejayaan peradaban Islam.

Bagaimana dengan murid-muridnya? Di awal masuk sekolah para murid dites bacaannya untuk pengelompokan saat belajar Al Quran. Jika memang harus mulai belajar dari pengenalan huruf tunggal berharakat fathah maka murid pindahan kelas empat pun harus belajar dari jilid satu.

Jika ada murid kelas satu yang sudah menguasai bacaan panjang sesuai standar, maka ia berhak mulai belajar dari jilid empat. Apakah ada? Ada! Di antaranya murid TK Yaa Bunayya yang masih terjaga bacaannya hingga masuk SD. TK yang berada dalam satu naungan yayasan dengan SDIT Hidayatullah itu sudah mengajarkan Al Quran kepada murid melalui metode Ummi dengan target lulusan selesai jilid empat.

Sebagai penjagaan mutu setiap kenaikan jilid murid harus diuji oleh koordinator Tim Al Quran agar kualitas bacaan sesuai target materi jilidnya. Setiap seperempat juz hafalan juga harus melalui ujian agar bisa lanjut ke seperempat juz berikutnya. Setiap akhir semester semua hafalan harus diuji simak sampai hafalan terkini.

Setiap juz yang selesai dihafal dalam satu tahun harus diuji oleh Tim Ummi Foundation melalui proses munaqosyah. Jika seorang murid telah menguasai bacaan ghorib dan ilmu tajwid dasar, telah tartil juga bacaannya, serta telah hafal juz 30, ia akan menjalani munaqosyah tartil.

Munaqosyah ialah semacam ujian pendadaran. Murid dites, diuji, ditanya-tanya, diminta membaca, dan diminta menjelaskan hukum bacaan Al Quran yang ia baca. Anak-anak bisa? Masyaallah, meskipun belum semua, atas izin Allah mereka terbukti bisa melaluinya.

Para murid yang telah lulus munaqosyah lantas ditampilkan kepada orang tua dan masyarakat untuk diuji secara publik dalam kegiatan Khatmul Quran dan Imtihan. Siapapun boleh menanyakan mengenai apapun yang telah murid kuasai dari sisi bacaan maupun hafalan. Tahun 2021 insyaallah menjadi tahun ke lima SDIT Hidayatullah Yogyakarta menyelenggarakan Khatmul Quran dan Imtihan.

Bisa dibayangkan bagaimana para guru Al Quran SDIT Hidayatullah Yogyakarta harus mendampingi para murid menghadapi ujian-ujian itu. Selama masa pandemi pun mereka tak kenal henti belajar dan mengajarkan Al Quran. Hampir setiap hari mereka melakukan videocall dengan para murid demi menjaga Al Quran tetap lestari. Semoga Allah curahkan rahmat kepada kita sekalian berkat Al Quran yang kita perjuangkan.

*Informasi Murid Baru SDIT Hidayatullah Yogyakarta*

www.sdithidayatullah.net

wa.me/6283146496156 (Ustadz Nur Kholiq)

SEKALI DAYUNG

"Kira-kira apa alasan Bapak Ibu menyekolahkan putranya di sini?" tanya petugas pendaftaran saat mewawancara calon wali murid.
"Kami ingin anak kami jadi anak yang shalih, Ustadz."

"Baik. Kalau Bapak Ibu hanya ingin agar putranya menjadi anak yang shalih, sekolah lain mungkin banyak juga yang tujuan pendidikannya sesuai dengan harapan Bapak Ibu. Sayang kalau Bapak Ibu hanya ingin putranya menjadi anak yang shalih."
Kedua orang tua itu terdiam.

"Di sini," lanjut petugas.
"Kami berharap alasan orang tua menyekolahkan putra putrinya di sekolah ini sama dengan alasan kami mendirikan sekolah ini."
"Apa itu, Ustadz?" sang ibu penasaran namun merasa sedang berada di tempat yang tepat.

"Kita ingin tidak hanya mendidik anak yang shalih tapi sekaligus berusaha mendidik keturunan mereka menjadi keturunan yang shalih. Sayang jika doa kita hanya sampai pada anak-anak kita. Kalau bisa doa kita ditujukan sekalian untuk anak kita dan anak keturunannya."

Tak salah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu memilihkan istri untuk putranya. 'Ashim bin Umar dilamarkan seorang putri penjual susu. Seorang khalifah memilih menantu dari kalangan rakyat jelata. Apa yang sedang diharapkannya? Sesungguhnya khalifah Umar tidak hanya sedang memilihkan istri untuk putranya tapi calon penghulu shalihah untuk anak keturunannya.

Suatu malam Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu melakukan patroli dan mendengar dari luar rumah suara seorang putri menolak ide ibunya untuk mencampur susu dengan air agar penjualan susunya bisa mendapatkan untung lebih banyak. Rasa takutnya pada Allah membuat putri penjual susu itu nampak begitu istimewa di mata khalifah.
"Khalifah Umar tidak tahu, tapi Rabb-nya khalifah Umar Maha Tahu," tuturnya lembut pada sang ibu.

Kelak masyhur bahwa cucu dari manantu shalihah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu itu menjadi sultan yang amil zakatnya kesulitan mencari mustahiq di seluruh negeri karena kesejahteraan rakyat sudah merata pada masa kepemimpinannya. Dialah Umar bin Abdul Aziz, sultan yang dijuluki khalifah kelima. Ia lahir sebagai jawaban atas doa kakek buyutnya, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan 'Ajam.”

Rasulullah Muhammad, shalawat dan salam atasnya, utusan terakhir penutup para nabi, lahir dari garis keturunan bapaknya para nabi alaihimussalaam. Mungkin Nabi ibrahim tak pernah melihat pengabulan salah satu doanya itu usai meninggikan bangunaan Ka'bah, "Duhai Rabb, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka (penduduk Makkah) seorang utusan dari golongan mereka yang membacakan mereka ayat-ayatmu dan mengajarkan mereka kebijaksanaan dan menyucikan mereka."

Dari jalur Siti Sarah, lahirlah Nabi Ishaq sebagai putra Nabi Ibrahim. Nabi Ishaq memiliki putra yang juga seorang nabi yaitu Nabi Ya'qub. Menjelang ajal Nabi Ya'qub mengaminkan doa kakeknya dengan mengumpulkan seluruh putranya. Ditanyakan kepada para putranya, "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

Nabi Ya'qub merasa tenteram mendengar jawaban para putranya, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Iman Nabi Ibrahim yang lurus terus berlanjut. Nabi demi Nabi lahir dari garis keturunannya. Doa Nabi Ibrahim terpelihara dari generasi ke generasi. Sekian generasi dari doa itu dipanjatkan diutuslah di negeri Makkah seorang Nabi. Nabi itu menjadi tauladan hingga kini, shalawat dan salam teruntuk baginda Rasulullah Muhammad, semulia-mulia Nabi.

Beliau yang mulia mengajarkan kita do'a, "Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman..."

Iman kita hari ini tidak bisa dilepaskan dari iman para pendahulu kita. Barangkali kita bisa melaksanakan shalat bukan semata-mata karena mendapat karunia hidayah melalui doa yang kita minta. Boleh jadi shalat itu merupakan pengabulan atas doa-doa orang tua kita, kakek nenek kita, buyut kita, atau bahkan pengabulan doa Nabi kita, "Ya Rabb, jadikanlah aku penegak shalat, dan juga keturunanku."

Sudah sewajarnya dan sepatutnya jika saat ini kita munajatkan doa serupa untuk anak keturunan kita, untuk generasi-generasi setelah kita, bukan hanya untuk anak-anak kita.

MENUNGGU GURU

Seorang santri duduk sendiri di baris belakang mushala dekat pintu masuk. Ia menunggu kiainya yang sedang menyelesaikan wirid. Ia memiliki pertanyaan penting yang ingin ditanyakan kepada sang kiai. Santri itu baru mendekat kepada sang kiai saat tanpa berbalik badan sang kiai memanggilnya.

Kejadian serupa pernah saya alami. Saya mendatangi salah satu guru saya di kantornya. Saya menunggu guru saya di luar kantor dengan harapan guru saya sudah selesai urusannya lalu bersedia menemui saya. Saya sudah membuat janji untuk bertemu beliau sebelumnya.

Seseorang datang dan bertanya pada saya, "Mau ketemu siapa?"
"Mau ketemu ustadz."
"Sudah janjian belum?"
"Sudah."
"Jam berapa janjiannya?"
"Pagi."
"Kalau janjian itu dipastikan jamnya!"
"Nggih. Saya tunggu saja."

Seketika saya merasa bingung. Apakah salah jika saya menunggu dan membiarkan guru saya menyelesaikan urusannya lalu baru bertemu dengan saya saat waktunya luang? Apakah kepada ustadz saya boleh meminta cepat atau memaksanya hadir pada jam yang tepat? Oh, mungkin saya salah menempatkan diri karena saya sedang berada di lingkungan industri, bukan sedang menjadi santri. Begitu saja saya berpikir waktu itu.

Lama sekali saya berusaha mencari pembenaran atas kata-kata orang itu. Bagi saya, memandang rumah guru tanpa melanjutkan niat bertemu dengannya itu terkadang sudah menjadi jawaban tersendiri atas pertanyaan yang rencananya ingin saya tanyakan pada guru saya. Mungkin terlalu aneh ya? Terlalu menunggu kesempatan, tidak menciptakan momentum? Entahlah, menurut saya menunggu guru itu bagian dari adab.

Bertemu dengan guru, bercakap-cakap, bertanya, berkesempatan menimba ilmu, menurut saya semua itu sama misterinya dengan perkara jodoh. Saya sangat bersyukur ketika Allah mempertemukan saya dengan seorang guru karena barangkali ada ilmu yang tak akan pernah bisa saya pahami dari salah seorang guru namun mudah tersingkap begitu saja saat bertemu dengan seorang guru yang lain. Kata salah satu guru saya, "Sesungguhnya tidak ada yang namaya murid bodoh. Dia hanya belum bertemu dengan guru yang tepat."
Saya tambahkan, "atau waktunya belum tepat," sebagaimana Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir 'alaihimassalaam.

Saya pun teringat kisah Sunan Kalijaga. Beliau diminta menunggu gurunya kembali ke tempat mereka bertemu sampai seluruh tubuh Sunan Kalijaga dipenuhi lumut di pinggir sungai. Syaikh Abdulqadir AlJilani juga harus menetap di bantaran sungai tepi kota Baghdad sebelum akhirnya diizinkan bertemu dan bermulazamah dengan gurunya. Menunggu guru itu bagian dari tarbiyah ilahiyah, masih menurut saya.

Dengan berkembangnya metode pembelajaran jarak jauh, semoga tidak melunturkan adab para penuntut ilmu dalam memuliakan guru. Kesempatan untuk berkomunikasi dengan guru melalui jalur pribadi yang bisa dilakukan sewaktu-waktu tak boleh menafikan bahwa guru memiliki privasi yang merupakan bagian dari adab untuk dihormati. Jangan sampai ilmu kita terhalang untuk masuk ke dalam sanubari hanya karena guru yang tidak ridho tersebab kita terlalu menuntut cepat hingga guru kita tak punya cukup waktu untuk beristirahat atau menjadi terhambat memenuhi hajat.

Abu ‘Ubaid Al Qosim bin Salam berkata, “Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,
'Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (Al Hujurat: 5)

WISUDA

Wisuda bukan lagi upacara istimewa untuk para sarjana. Anak TK pun kini diwisuda, lengkap dengan toga dan samirnya. Para orang tua bisa berbahagia dan bangga lebih dini tanpa harus menunggu anaknya selesai mengerjakan revisi skripsi.

Kompetensi demi kompetensi dikoleksi. Amal demi amal dijalani. Capaian demi capaian disyukuri, sampai tiba wisuda akhir kita nanti.

Wisuda akhir bukanlah ketika tali kuncir di kepala digeser ke kanan oleh guru kita. Wisuda akhir tiba saat tali kuncir di kepala kita dilepaskan ikatannya. Saat itu toga kita akan berwarna putih bersih, tidak lagi hitam kelam.

Orang-orang akan bersaksi tentang kehidupan kita. Proses studi kita dipenuhi kebaikan atau keburukan, orang lain yang merasakan. Sebagian orang akan menangis kehilangan karena teringat semua kenangan.

Bagaimana keadaan kita saat itu? Persis sebagaimana usai menjalani wisuda sarjana, hari-hari penuh kegelisahan serta merta menggantikan semua kebahagiaan. Gelap gulita penuh tanda tanya menyelimuti kita.

Berbagai pertanyaan diajukan pada kita sepulang wisuda, "Kamu lanjut S2? Kerja dimana? Sudah ada calon belum? Kapan nikahnya?"

Selesai prosesi wisuda akhir, tak ada satupun kawan saat dua malaikat mengajukan pertanyaan, "Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?"

Kegelisahan akan pertanyaan-pertanyaan itu terus berlangsung hingga tiba hari yudisium akbar. Itulah hari penentuan kelulusan yang sesungguhnya. Pada hari itu mulut-mulut akan dikunci. Tangan dan kaki diminta menjadi saksi. Tiada pembicaraan kecuali yang diizinkan oleh Yang Maha Rahman.

Tak sedikit yang tidak lulus karena lalai selama masa studi. Ada mahasiswa berprestasi yang merugi karena nilai bagusnya dianggap nol, "kadzdzabta!"
Ada juga yang diluluskan tapi harus menjalani remidiasi. 

Mereka yang dicintai dosen pembimbing bisa mendapat syafaat lulus cepat. Boleh jadi bukan sebab bagusnya nilai mereka tapi karena kecintaan, adab, sopan santun, ketekunan, dan kesungguhannya selama menjalani bimbingan. Mereka yang nilainya kurang bagus tapi gemar mengerjakan tugas secara berkelompok bisa terbantu dengan nilai kolektif kelompoknya.

Pada akhirnya semua yang memenuhi syarat akan diluluskan. Mereka diluluskan bukan karena hebat dan bisanya tapi atas rahmat dan kasih sayang-Nya. Para malaikat pun mengucap salam selamat untuk mereka.

Wisuda akbar akan diselenggarakan di dalam surga. Akan hadir di sana para Nabi, Rasul, Aulia, Syuhada, Shadiqin, Shalihin, Mukhlisin, Shabirin, Muttaqin, Mu'minin, dan orang-orang yang telah diberi nikmat semuanya. Kebahagiaan tebesar akan dirasakan wisudawan wisudawati ketika mereka diberi kesempatan berjumpa langsung dengan Allah 'azza wa jalla.

Apa yang telah kita siapkan untuk menghadiri hari wisuda itu?

TASHIH

Bagi para calon guru Al Quran, uji kesesuaian bacaan Al Quran sebagaimana jalur riwayat bacaan yang akan ia gunakan untuk mengajar sangatlah mutlak diperlukan. Mengikuti tashih merupakan sebentuk tanggung jawab calon guru Al Quran untuk memastikan bahwa bacaan Al Quran yang akan ia ajarkan sudah semirip mungkin dengan bacaan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sesuai jalur riwayat yang ia ambil. Keterangan lulus ujian tashih menjadi salah satu pengesahan bahwa bacaan Al Quran seseorang jalur riwayatnya bersambung sampai kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.

Para pentashih memiliki tugas yang amat berat untuk menyimak, memperhatikan, mengecek, menguji, mengoreksi, dan menjamin kesesuaian bacaan Al Quran antara murid dengan guru yang berada dalam satu jalur periwayatan. Proses tashih berusaha memastikan bahwa periwayatan bacaan Al Quran dilakukan secara tatap muka dan sudah benar-benar sesuai antara bacaan murid dengan gurunya. Para pentashih juga memiliki tugas memberi rekomendasi para calon guru alquran, dari mana harus memulai perbaikan bacaan Al Qurannya.

Lulus tashih bukan hanya kewajiban para calon guru Al Quran karena bisa membaca Al Quran dengan baik dan benar semaksimal mungkin ialah kewajiban semua muslim. Standar baik dan benar dalam membaca Al Quran itu seperti apa? Lulus tashih. Maka dari itu, setiap muslim utamanya yang telah belajar melafalkan ayat-ayat Al Quran bersama seorang guru juga perlu menyesuaikan bacaannya dengan bacaan gurunya atau jalur di atasnya, gurunya guru dan seterusnya melalui ujian tashih.

Setelah sekian lama belajar dengan saling bertatap muka, seorang guru harus merelakan muridnya diuji oleh pentashih. Bagi sang guru situasinya mungkin seperti seorang wanita saat menghadirkan calon suami pada orang tuanya. Dia sudah mantap dengan pria itu tapi orang tuanya masih perlu mempertimbangkan dan menguji calon menantunya. Dari hasil pertemuan itu orang tuanya bisa langsung setuju namun bisa juga tidak.

Menjalani ujian tashih ibarat seorang pria menunggu jawaban wali nikah atas khitbahnya pada seorang wanita. Sekalipun antara pria dan wanita sudah saling merasa cocok dan mantap, wali nikah jua yang memutuskan. Proses ujian tashih begitu mendebarkan hati keduanya. Perasaan sang murid diliputi campur aduk antara khawatir ditolak dengan sangat berharap diterima, begitu juga sang guru.

Calon guru Al Quran bisa lulus tashih pastinya semata atas pertolongan Allah, lalu berkat bimbingan dari para guru, serta doa-doa dari banyak orang. Saat sang murid dinyatakan lulus oleh pentashih, perasaan murid dan guru pastilah lega luar biasa, bagaikan lolos dari lubang jarum. Sebagaimana bahwa akad nikah bukanlah akhir perjalanan, lolos dari lubang jarum juga baru titik awal untuk melanjutkan perjuangan.

Agar bisa mengajarkan Al Quran pada orang lain, mereka yang telah lulus tashih dan ingin menjadi guru Al Quran berhak diajari metodologi pengajaran Al Quran yang digunakan oleh guru-guru mereka. Setelah semua proses dijalani kelak mereka baru bisa secara resmi diizinkan untuk mengajarkan Al Quran. Para guru Al Quran harus senantiasa menjaga bacaan Al Quran mereka. Mereka harus siap jika sewaktu-waktu atau secara periodik diuji tashih ulang. Hal itu demi menjaga kesahihan bacaan sepanjang waktu.

Kini Yang Tersisa Hanya Kalian Para Buruh

Mayday...

Kini yang tersisa hanya kalian para buruh
Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Yang bersatu padu merebut demokrasi kala itu
Hanya buruh yang masih tetap buruh

Tani sudah kehilangan lahan
Mereka sudah bukan lagi tani
Sawah mereka berubah hotel apartemen dan perumahan

Mahasiswa sudah jadi akademisi
Mereka mendapat banyak beasiswa ke luar negeri
Mereka sudah jadi orang-orang penting di negeri ini

Rakyat miskin kota sudah tiada
Mereka berubah menjadi gelandangan tunawisma
Digusur disingkirkan dipulasara
Merusak keindahan dan ketertiban katanya

Kini tinggal buruh
Buruh yang bermutasi menjadi tenaga kerja terdidik
Buruh yang mulai paham bisnis
Buruh yang bukan sekedar sapi perah
Buruh yang dengan pengetahuan mampu bekerja lebih efektif dan efisien
Buruh yang berpenampilan layaknya pekerja kasar namun cara bicaranya intelek
Berpikirnya melek

Kelas buruh tercipta saat industrialisasi
Kelas buruh tersiksa selama kapitalisasi
Kelas buruh bertransformasi sejak reformasi
Kelak kelas itu tak akan ada lagi
Bukan karena punah atau mati
Buruh tetap buruh namun dengan independensi

Kita sama kita berkolaborasi
Hanya pemula atau ahli
Bukan majikan dengan kuli
Tak akan lagi ada industri
Yang ada paguyuban produksi

Akan terwujud kesetaraan dan kesejahteraan
Bukan karena terpenuhinya tuntutan
Namun karena kita berdampingan

Tangan buruh tangan melepuh yang dicium nabi

Salam dari kami
Buruh yang menikah empat tahun lalu tanggal 1 Mei

Akhid & Siti

Bedanya Ujian Sekolah dengan Ujian Bisnis

Ujian Sekolah, Ujian Nasional, Ujian Akhir Semester, Tes Kendali Mutu, dan sebagainya merupakan nama-nama untuk ujian yang dilaksanakan di lembaga pendidikan formal. Dalam ujian diharapkan para siswa teruji bahwa mereka telah menguasai mata pelajaran atau mata kuliah yang selama ini telah ditekuni. Akhir dari ujian siswa mendapatkan sertifikat kelulusan.

Sesungguhnya hidup ini penuh ujian. Sebagai seorang siswa atau mahasiswa ada peristiwa ujian kenaikan tingkat. Sebagai pengusaha ada peristiwa ujian bisnis. Terkadang merasa janggal ketika melihat cara sekolah formal menguji kompetensi anak didiknya. Cara-cara dalam menguji siswa di sekolah formal tidak memberikan simulasi sama sekali bagaimana sebenarnya ujian hidup termasuk ujian bisnis.

Dalam hal waktu, ujian sekolah ditentukan jelas tanggal dan jamnya. Ujian bisnis tidak pernah mengenal jadwal, sewaktu-waktu bisa saja ujian bisnis terjadi. Waktu ujian ini menentukan bagaimana persiapan menghadapi ujian. Sejak awal masuk sekolah siswa telah mempersiapkan ujian terbesar di akhir masa sekolah. Di dunia bisnis yang terpenting kita mengetahui bahwa sewaktu-waktu akan diuji, terkadang tidak perlu dipersiapkan, hanya diantisipasi, bahkan jika bisa dihindari.

Dari sisi soal ujian, anak sekolah selalu diuji terkait apa yang memang sudah pernah dipelajari. Seorang pengusaha tidak pernah peduli sudah pernah belajar sebuah permasalahan atau belum, ujian datang begitu saja dan mungkin justru lebih banyak ujian-ujian baru yang sebelumnya belum pernah ditemui. Hal ini memaksa pengusaha terus belajar.

Siswa diuji dalam semua bidang mata pelajaran. Seorang pengusaha lebih sering diuji dalam hal-hal yang ia lemah di dalamnya. Siswa diuji agar merasa perlu belajar giat dalam mata pelajaran tertentu. Pengusaha diuji agar merasa perlu belajar dan waspada terus menerus terhadap berbagai macam masalah.

Cara peserta ujian menyelesaikan soal dengan cara pengusaha menyelesaikan ujian bisnis sangat berbeda. Seorang siswa diharuskan menyelesaikan soal secara individual. Siswa yang mencontek dianggap melakukan pelanggaran. Seorang pengusaha tidak boleh sama sekali menyelesaikan soal ujian bisnis seorang diri. Pengusaha diharuskan belajar bahkan mencontek orang lain. Pengusaha harus bertanya dan saling bekerja sama.

Siswa benar-benar dituntut sempurna secara pribadi. Dalam ujian sekolah mereka harus melampaui standar kelulusan setiap mata pelajaran. Di dunia bisnis kita tidak perlu menjadi seseorang yang sempurna. Bisnis tidak menuntut kita bisa dalam segala hal. Bisnis menuntut ada orang lain yang bisa menutupi kekurangan kita. Dalam bisnis semua peserta ujian saling mencari win-win solution agar bisa mengolah potensi dan kekurangan masing-masing menjadi sebuah keberhasilan.

Mengenai hasil ujian, para siswa akan merasakan betul betapa bahagianya berhasil lulus melewat satu ujian. Seorang pengusaha bahkan bisa jadi sangat dingin dalam menghadapi keberhasilan lulus ujian karena belum tentu ujian selesai, akan datang ujian-ujian berikutnya dalam waktu yang tidak bisa diperkirakan. Ujian sekolah merupakan ujian bertingkat, dengan level-level yang jelas. Ujian bisnis tidak mengenal tingkat. Pengusaha yang tidak berhasil belajar dari pengalaman akan diberi ujian yang sama terus-menerus.

Siswa sekolah akan mendapat sertifikat kelulusan setelah ujian. Pengusaha tidak mendapatkan apa-apa selain berhasil mempertahankan bisnis. Siswa dianggap mampu ketika telah mengantongi ijazah atau gelar. Pengusaha dianggap mampu jika benar-benar berhasil menyelesaikan suatu masalah atau soal.

Dari sekian banyak perbedaan antara ujian sekolah dengan ujian bisnis, semoga menjadi pelajaran bagi kita. Alloh menguji kita dalam kehidupan ini dengan banyak hal. Banyak hal yang menjadi soal ujian kehidupan pada dasarnya hanya dibagi menjadi dua : ujian kebaikan dan ujian keburukan. Kebaikan maupun keburukan yang kita alami atau dapatkan keduanya merupakan ujian. Keduanya merupakan ujian untuk mengetahui apakah seorang anak manusia bersyukur atau kufur.

Allohu a'lam.

*tulisan ini pernah dimuat di primacorner.com

Kita dan Pengabulan Do'a Anak-anak Kita

Barangkali kebanggaan orang tua terhadap anak-anak mereka yang pandai sains, juara kelas, cakap bermain musik, menyanyi, dan menari mulai tergeser oleh kebanggaan orang tua terhadap banyaknya hafalan Al Quran anak-anak mereka. Subhanalloh.

Wahai ayah bunda, sedemikian mulianya, tapi mungkin di Palestina sana para orang tua tidak lagi bangga terhadap hafalan Al Quran anak-anak mereka, yang mereka banggakan ialah kematian anak-anak mereka di medan jihad.

Mereka mengajarkan anak-anak mereka Al Quran bukan untuk dibanggakan. Mereka menghapal Al Quran agar bisa berada di garis depan, dengan senapan di tangan kanan. Hanya ada dua pilihan: hidup mulia di atas kemenangan atau mati bahagia dalam kesyahidan.

Anak-anak dilahirkan bukan sekedar sarana penyejuk pandangan atau motif kebanggaan. Mereka ditempa untuk dikirim ke medan perjuangan.

Layaknya Al Khonsa mengutus satu per satu putra laki-lakinya ke medan juang, hingga keempatnya hanya raga tak bernyawa saat pulang, begitu juga semestinya kita.

"Warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo", semoga tulus doa anak-anak kita ketika mereka memohon pada Alloh agar tercurah kasih sayang-Nya bagi kita, sebagaimana kita mengasihi mereka, mendidik mereka, membina mereka sewaktu mereka masih kecil.

Orang tua membesarkan anak-anak mereka agar menjadi sarana turunnya rahmat Alloh, bukan agar anak-anak itu menjadi sesuatu yang membuat mereka bangga dan bahagia.

Dan ketika anak-anak kita memenuhi perintah Alloh untuk memelihara kita di masa tua, merekalah setetes rahmat Alloh bagi kita, yg sebenarnya ialah sebentuk pengabulan Alloh atas doa-doa mereka.

Mengajarkan Rukun Islam pada Anak

Mengajarkan Rukun Islam pada Anak

Rukun Islam menjadi bagian dari pokok ajaran Islam yang pertama-tama harus diajarkan kepada Anak. Bagaimana cara mengajarkan rukun Islam pada Anak? Tentu kita perlu mengajarkan rukun Islam pada anak sesuai kemampuan mereka.

Kali ini mari kita bahas cara mengajarkan rukun Islam pada anak melalui media syair. Terlepas dari perbedaan pendapat boleh tidaknya lagu dijadikan media belajar, semoga lagu yang bermaksud mengajarkan rukun Islam pada anak ini menjadi salah satu sarana belajar anak.

Seorang anak barangkali belum bisa mencerna banyak dalil aqli maupun naqli sehingga cukup kenalkan pada mereka kalimat-kalimat kunci terkait rukun Islam. Rukun Islam yang lima bisa diajarkan pada anak melalui syair berikut:

Rukun Islam
(disenandungkan dengan nada "Balonku")

Rukun Islam yang lima
Syahadat, Sholat, Puasa,
Zakat untuk si Papa,
Haji bagi yang kuasa

Siapa belum Sholat?
DOR!!!
Siapa belum Zakat?
Kan rugi di akhirat
Nanti Alloh melaknat

Semoga syair untuk mengajarkan rukun Islam pada anak ini bermanfaat bagi Anda. Silakan like & share jika Anda menyukainya...

Guru Oemar Bakrie

By: Iwan Fals


Tas hitam dari kulit buaya

"Selamat pagi!", berkata bapak Oemar Bakri

"Ini hari aku rasa kopi nikmat sekali!"

Tas hitam dari kulit buaya

Mari kita pergi, memberi pelajaran ilmu pasti

Itu murid bengalmu mungkin sudah menunggu




(*)




Laju sepeda kumbang di jalan berlubang

S'lalu begitu dari dulu waktu jaman Jepang

Terkejut dia waktu mau masuk pintu gerbang

Banyak polisi bawa senjata berwajah garang

Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan 

"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan

Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang

Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut, cepat pulang

Busyet... Standing dan terbang




Reff. 

Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri

Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi 

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri

Oemar Bakri... Profesor dokter insinyur pun jadi 

Tapi mengapa gaji guru Oemar Bakri seperti dikebiri




Kembali ke (*)




Bapak Oemar Bakri kaget apa gerangan 

"Berkelahi Pak!", jawab murid seperti jagoan

Bapak Oemar Bakri takut bukan kepalang

Itu sepeda butut dikebut lalu cabut, kalang kabut

Bakrie kentut... Cepat pulang

Oemar Bakri... Oemar Bakri pegawai negeri

Oemar Bakri... Oemar Bakri 40 tahun mengabdi 

Jadi guru jujur berbakti memang makan hati

Oemar Bakri... Oemar Bakri banyak ciptakan menteri

Oemar Bakri... Bikin otak orang seperti otak Habibie