Kemarin di berita ada info merapi kembali aktif, tapi setelah coba takmisscall ternyata tidak aktif. Apa mungkin ganti nomor? Kalau tahu nomor terbarunya tolong segera kabari aku ya...
Pasca Bencana Merapi
Alhamdulillah, sudah bisa posting lagi... Meski cuma beberapa kata, hehe... Belum sempat nulis-nulis jhe. Sebenarnya banyak dapat inspirasi tapi belum tertuliskan. Memang benar, iman saja tanpa amal sholih, tidak cukup. Insya'alloh dalam waktu dekat deh...
Gelar Pahlawan dan Penegakan Hukum (Syariat)
Gelar pahlawan tidak menjamin seseorang akan masuk surga... Orang yang sudah mati sepertinya juga tidak mengharap apa-apa selain doa dari keluarga yang masih hidup dan ampunan Alloh. Mau dipuji, mau dicaci, toh alam dunia dan alam kubur sudah berbeda. Mau digelari sebagai pahlawan, mau digelari sebagai penjahat perang, koruptor, atau apapun. Sudahlah, serahkan saja keadilan seadil-adilnya itu pada Alloh. Jika kita tidak sempat menegakkan keadilan di dunia, nantinya kita semua juga akan mendapat keadilan di akhirat. Uwong wes mati ae koq digawe ribut... Weleh-weleh...
Suatu saat ada seorang ibu yang bertanya pada saya tentang hukum wanita yang selingkuh hingga hamil lalu minta cerai pada suaminya. Saya tak bisa menjawab banyak. Subhanalloh... semoga hukum Alloh segera tegak di muka bumi. Semoga hukum-hukum yang dijalani oleh pelaku tindak kejahatan dan dosa bisa menghapus tuntutan Alloh di akhirat. Sayang jika mereka telah dihukum di dunia tapi harus kembali mendengar tuntutan Alloh di akhirat hanya karena hukum yang berlaku di dunia bukan hukum Alloh.
Bujang yang berzina semestinya didera/cambuk 100 kali. Ada pula hukuman rajam jika yang berzina adalah orang yang sudah menikah. Tangan dipotong sebagai hukuman seseorang yang melakukan tindak kejahatan mengambil sesuatu yang bukan haknya. Qisos sebagai hukuman untuk seorang pembunuh. Semua hukuman itu insya'alloh akan membebaskan manusia dari tuntutan Alloh di akhirat karena Alloh sendiri yang telah menetapkan hukum itu. Jika zina atau mencuri hanya dihukum kurungan sekian bulan, membunuh sekian bulan, siapa yang menjamin hukuman itu akan menghapuskan tuntutan Alloh di hari akhir.
Sesungguhnya apa yang diturunkan Alloh pada manusia, syariat, hukum, assunnah, semua itu adalah wujud kasih sayang Alloh pada manusia. Pejuang HAM mungkin akan menentang hukum pancung, rajam, potong tangan dan sebagainya, namun apakah mereka bisa menjamin bahwa orang yang tidak dikenai hukum sesuai syariat akan merasa senang di akhirat kelak?
Yang memberikan kehidupan dan segala atributnya berupa fisik, jasmani, rohani, akal hanyalah Alloh, maka juga hanya Alloh yang berhak mencabutnya. Jika tangan karunia Alloh digunakan untuk melanggar kehendak aturan Alloh lalu Alloh menginginkan tangan itu diambil sebagai ganti pelanggaran itu, apa yang salah. Alloh yang menetapkan itu, tentunya kita sebagai manusia harus mengikuti ketetapan Alloh, apapun.
"Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Barang siapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata" {QS 33:36}
Hukum-hukum syariat hanya bisa ditegakkan oleh pemerintah. Seorang atau sekelompok orang, bahkan pemimpin/ imam suatu organisasi/ jama'ah islam tidak bisa menetapkan hukum syariat begitu saja. Maka dari itu banyak pergerakan islam yang memperjuangkan tegaknya syariat islam, entah itu secara terang-terangan ataupun sembunyi-sembunyi. Dasar pemikiran perjuangan penegakan syariat islam adalah jika syariat islam belum tegak sebenarnya kita belum berislam secara menyeluruh. Ada sebuah semboyan dari satu organisasi pergerakan islam, "Laa 'izzata illaa bil islam, wa laa islama illaa bisy syari'ah, wa laa syari'ata illaa bid daulah khilafah rosyidah"; "Tiada kemuliaan tanpa islam, tak sempurna islam tanpa syari'ah, tak akan tegak syari'ah tanpa daulah khilafah rosyidah"
Kita perlu belajar dari sejarah, bagaimana Rosululloh memimpin Madinah yang dalam faktanya terdiri dari berbagai suku dan agama. Kondisi Indonesia yang bisa dibilang serupa dengan kondisi Madinah waktu itu semestinya menginspirasi kita semua. Tidak harus berdiri negara islam, semua rakyat tunduk pada aturan islam itu sudah cukup (Trus, opo bedane mas? Hehe...)
Sungguh, demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara apa saja yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya. (QS 4: 65)
Konon suatu saat Umar bin Khoththob mendapat pengaduan kasus tindak pidana pencurian. Saat itu tersangka didakwa telah mencuri dan dituntut potong tangan. Umar menanyakan alasan orang itu mencuri. Orang itu mencuri karena tidak bisa makan. Setelah mendengar pembelaan dari terdakwa, Umar memutuskan untuk memanggil gubernur yang membawahi wilayah di mana orang tersebut tinggal. Umar yang ketika itu menjadi kholifah (artinya imam sekaligus qodhi [hakim] ada dalam wewenangnya) memberikan putusan berupa dibebaskannya terdakwa lalu meminta jaminan sang gubernur untuk memenuhi kebutuhan semua rakyat dalam wilayahnya. Jika sampai ada lagi yang mencuri karena tidak bisa makan, bukan pencuri yang akan dihukum tapi gubernur yang harus dimintai pertanggungjawaban.
Islam itu lembut, islam itu penuh kasih, islam itu menjunjung tinggi hak asasi manusia. Hanya yang mengotori dan merusak keteraturan yang akan dihukum oleh islam. Agama, aturan, syari'at itu ditetapkan Alloh untuk menjaga keteraturan di muka bumi. Jika Alloh belum mengatur suatu masalah, manusia punya kebebasan untuk membuat aturan demi terjaganya keteraturan di muka bumi.
Betapa indahnya islam, jika keadilan tak dapat diperoleh di dunia, di akhirat akan ditegakkan seadil-adilnya. "Bukankah Alloh adalah hakim yang seadil-adilnya" (QS 95:8)
Hubungan tulisan ini sama gelar pahlawan tu sebenarnya apa ya? Hehe....
Allohu a'lam...
Ditulis oleh
Akhid Nur Setiawan
Kategori:
Blog Pribadi,
Budaya,
Hukum,
Kepemerintahan,
Serius
0
komentar
Momentum vs Kesiapan
Seringkali kita harus membenturkan diri dengan keadaan. Bagaimana jika apa yang tak pernah kita sangka-sangka seketika ada di depan mata? Sebuah kesempatan, sebuah peluang yang baik datang pada kita saat kita berada dalam kondisi tidak siap. Apa yang akan kita lakukan? Menyiapkan diri? Tentu saja kesempatan itu akan lewat begitu saja kalau kita harus menyiapkan diri terlebih dahulu. Begitulah, seringkali kita harus membenturkan diri, memaksa diri kita siap dalam ketidaksiapan kita menghadapi peluang.
Bob Sadino, seorang pengusaha sukses pernah mengeluarkan celotehan ketika diwawancara di sebuah televisi, "Kalau cuma jualan telur aja kok harus kuliah?"
Waktu itu Bob Sadino diwawancarai mengenai kisah suksesnya. Beliau mengawali bisnis dari berjualan telur. Beliau belajar bisnis sambil menjalaninya hingga sampai saat ini asetnya yang berupa tanah sampai berhektar-hektar. Intinya, mulai saja, resiko itu pasti ada, kalau bisnis terlalu itung-itungan ya nggak jalan-jalan karena takut rugi.
Suatu saat ustadz Anis Matta ditanyai mengenai kesiapan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memimpin bangsa Indonesia, mengelola negeri ini. "Apakah Anda sudah siap memimpin bangsa ini?"
"Kalau ditanya seperti itu jelas akan saya jawab 'belum siap', tapi kalau diberi kesempatan tentu saja kami harus siap"
"Bagaimana kalau partai Islam gagal mengelola bangsa ini?"
"Kenapa kita ini takut gagal? Kalau partai sekuler saja gagal bertahun-tahun bisa kita maklumi, kenapa partai Islam tidak boleh gagal? Makanya, berilah kami kesempatan untuk gagal."
Maksud ustadz Anis Matta adalah jika kita ditanya siap atau tidak, maka selamanya kita akan menjawab belum siap namun jika kita diberi amanah, mau tidak mau kita harus siap. Seringkali momentum itu datang dalam ketidaksiapan kita.
Dalam sebuah diskusi salah seorang teman menceritakan bagaimana seorang ustadz membacakan tafsir Ibnu Katsir dalam menjelaskan surat Al-'Alaq ayat 1-5.
"Bacalah dengan nama Tuhan-mu Yang Menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dan Tuhan-mu lah Yang Maha Mulia. Yang mengajarkan dengan perantara pena. Mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahui mereka ketahui."
Penekanannya ada pada ayat kelima, "Mengajarkan manusia apa-apa yang tidak mereka ketahui"
Ibnu Katsir mengatakan bahwa seseorang yang membaca itu hanya akan paham sedikit, orang yang membaca dan menyimak akan paham lebih banyak. Seseorang yang mengamalkan akan bisa memahami lebih banyak dari dua hal sebelumnya. Seseorang yang mengajarkan akan bisa memahami lebih banyak dari selainnya.Ini konsep yang belakangan dibuktikan melalui penelitian, konon membaca hanya akan meperoleh 10 % pemahaman, mendengar 20 %, melihat 50 %, mempraktikkan 80 %, mengajarkan 95 %, dan sisanya kebijaksanaan.
Seorang ustadz TPA (Taman Pendidikan Al-qur'an) di Cangkringan pernah berbagi kisah ketika beliau yang belum bisa membaca Al-Qur'an memaksakan diri mengajar Iqro'. Sebuah panggilan hati melihat kebutuhan anak-anak belajar Al-Qur'an menghapus segala rasa malu, sungkan, takut dalam diri beliau. Bila kita bayangkan, bagaimana mungkin orang yang belum bisa justru ingin mengajarkan sesuatu yang belum ia kuasai kepada orang lain? Kuasa Alloh membuktikan, dari santri-santri yang diajarnya sang ustadz jadi belajar dan jadi tahu bacaan Al-Qur'an.
Apakah kisah di atas salah? Hmm... Kita tidak sedang membahas fiqh. Kita hanya ingin sama-sama menegaskan bahwa manusia itu diberi kemampuan belajar oleh Alloh. Tengoklah ketika malaikat memprotes kebijakan Alloh menjadikan manusia sebagai kholifah di muka bumi. Pada kenyataannya manusia bisa menyebutkan nama-nama benda yang sebelumnya tidak bisa disebutkan nama-namanya oleh malaikat. Manusia menamai alat ketik elektronik sebagai komputer, alat cetak sebagai printer, dan sebagainya.
"Habibie dari Selokan Mataram" sebuah judul film pendek yang mengisahkan seorang anak muda pembelajar mandiri menjadi inspirasi bagi kita. Setidaknya bekal akal untuk belajar yang telah dikaruniakan Alloh pada kita sudah cukup, sangat cukup. Kita hanya perlu membaca, "membaca" sebagaimana perintah dalam wahyu pertama yang disampaikan Jibril pada Muhammad. Institusi sekolah, perguruan tinggi dengan segala kurikulumnya tak boleh menjadi tempurung bagi seekor katak. Tanpa itu semua kita pun bisa belajar.
Bukankah Alloh membenturkan kita dengan setiap persoalan hidup dalam rangka mentarbiyah kita? Dalam setiap kejadian Alloh hendak mendidik kita hingga kita bisa memetik pelajaran dan menjadi hamba yang lebih baik. Bersiaplah menghadapi berbagai macam benturan dalam ketidaksiapan, sebagaimana jargon Pandu Keadilan, "Bersiap siagalah!"
Ditulis oleh
Akhid Nur Setiawan
Kategori:
Blog Pribadi,
Emm... Gitu ya?,
Kepemerintahan,
Motivasi,
Pendidikan,
PKS,
Psikologi,
Renungan
0
komentar
Lembaga Bimbingan Belajar GENERASI HARAPAN
Remaja adalah generasi penerus bangsa. Kepada merekalah negeri ini akan diwariskan.
Lembaga Bimbingan Belajar GENERASI HARAPAN membantu membentuk karakter pribadi muslim serta membina potensi remaja putra-putri Anda.
Lembaga Bimbingan Belajar GENERASI HARAPAN menawarkan program privat Al-Qur’an, bimbingan agama, bimbingan belajar plus, dan privat komputer.
Lembaga Bimbingan Belajar GENERASI HARAPAN beralamat di dusun Sapen, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, dengan nomor telepon 0813 2888 4226.
Lembaga Bimbingan Belajar GENERASI HARAPAN, save the young generation...
Ditulis oleh
Akhid Nur Setiawan
Kategori:
Akhlak,
Anak-anak,
Blog Pribadi,
Pendidikan,
Pengumuman,
Remaja,
Sekolah
0
komentar