Fastabiqul Khoirot dengan PKS

"Tak usah benci, sakit hati, atau anti pada PKS.
Lakukan saja yang lebih baik
dari apa yang  dilakukan oleh kader-kader PKS."

Sepertinya tak bisa diingkari bahwa kader-kader PKS memang telah menjadi agen of change di lingkungan mereka masing-masing. Mereka terbiasa mengadakan acara di tengah masyarakat, entah itu pengajian, pelatihan, outbond, kemah, dan sebagainya. Inisiatif-inisiatif kreatif seringkali dimunculkan oleh kader-kader PKS dalam rangka upaya syiar Islam.

Jika ada kader PKS di kampung Anda, tanyalah. Tanyakan pada kader itu, atau lihat kegiatan kader itu, pastikan bahwa ia seorang aktivis. Seseorang tidak akan berani mengaku kader PKS kalau ia tidak aktif di sana-sini berlelah-lelah dalam dakwah. Jika Anda menemui seorang (yang mengaku) kader PKS namun tidak rajin ke masjid, tidak berani adzan, tidak sibuk keluar malam untuk rapat atau ngaji, mintalah ia menemui guru/ ustadznya. Minta ia menyampaikan pada ustadznya bahwa ia tidak diakui sebagai kader PKS oleh masyarakat. Pastikan ia menemui ustadznya, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Jenuh! Ya, kejenuhan mungkin dialami oleh ormas-ormas Islam yang telah puluhan tahun bahkan abad menjadi penyebar agama di Nusantara. Pola pembinaan dan regenerasi kader yang kurang masif menjadi permasalahan yang jamak. Organisasi masa telah berhasil memunculkan tokoh-tokoh agama, bahkan di antara mereka menjadi tokoh nasional. Ketokohan berbuah manis ketika para tokoh telah berusia senja dan dirasa bijak oleh sebagian besar umat namun bagaimana dengan kalangan mudanya?

Ada yang beda dari PKS dibanding ormas islam lain. PKS merupakan sebuah partai, bukan organisasi massa namun keberadaannya menjadi "ormas" tersendiri di masyarakat. Anda NU atau Muhammadiyah? Atau PERSIS, Salafi, Jama'ah Tabligh? Bukan semuanya? Berarti Anda PKS? PKS itu gini ya, gitu ya. Orang-orangnya suka ngomongin politik ya? Namanya juga partai Om. PKS seringkali nampak berbeda, sepertinya semua ormas akan merasakan itu.

PKS mungkin tidak mencetak tokoh-tokoh kelas nasional. PKS membangun kepribadian kadernya agar menjadi orang yang memiliki kebermanfaatan di lingkungan. Tokoh-tokoh nasional PKS bahkan cenderung bukan orang-orang terkenal, baru setelah menjadi pimpinan PKS akhirnya mereka jadi terkenal.

Yang menjadi salah satu ciri khas PKS yaitu kader-kadernya masih berusia belia. Lebih banyak kaum muda memilih menempa diri sebagai kader PKS dibanding sebagai kader partai lain. Dakwah di kalangan anak muda menjadi salah satu agenda besar PKS. Alasan paling mudah dicerna kenapa PKS melirik anak muda adalah karena usia produktif anak muda relatif jauh lebih panjang. Orientasi PKS adalah amal dan karya, bukan semata-mata meraup suara.

PKS tidak nampak seperti partai-partai lain yang "menggandeng" para tokoh terkenal untuk mendongkrak perolehan suara. Partai lain cenderung melakukan tawar-menawar dalam perekrutan kader. Dalam salah satu berita di televisi disampaikan betapa ironi demokrasi yang terbangun di Indonesia. Partai-partai telah mengajukan "mahar" kepada orang yang ingin menjadi kepala daerah. Mereka mengistilahkannya dengan Paket Nekat, Paket Hemat, Paket Jadi. Sejumlah tarif dipasang mulai dari angka tidak logis (nekat) hingga angka yang fantastis. PKS tidak seperti itu, PKS menumbuhkembangkan kader, tidak merekrut begitu saja.

Dalam kiprah perpolitikan Indonesia, PKS menunjukkan tren yang relatif naik dibanding partai lain. Ketika 1999 masih bernama PK, lalu 2002 bergabung melebur menjadi PKS, lalu 2004 perolehan suaranya meningkat, bahkan pada 2009 perolehan suara PKS sangat stabil. Tahun 2009 adalah tahun dimana partai-partai selain Partai Demokrat perolehan suaranya meluncur drastis, kecuali PKS. Apa sebenarnya strategi yang dilakukan PKS?

Strategi pemenangan PKS bukanlah strategi lima tahunan. PKS tidak haus kuasa, tapi harus berkuasa. PKS senantiasa menjaga kontinuitasnya sebagai partai dakwah. Ketiadaan Pemilu,maupun Pemilukada tidak menjadikan PKS berhenti atau vakum dalam berkarya. Inilah partai kader yang benar-benar serius ingin mencerahkan umat masyarakat. PKS-lah partai yang memiliki narasi panjang dalam cita-citanya.

Dalam perjalanannya dan memang begitulah sunnatulloh, PKS tak lepas dari bertubi-tubi ujian. Beraneka ragam fitnah dan celaan menimpa kader-kader PKS. Kasus kader yang ditangkap di panti pijat, mengunduh video porno, menggelembungkan anggaran, membuat nota fiktif, hingga yang paling fenomenal kasus presiden PKS yang ditangkap karena diduga menerima dana suap terkait kebijakan impor sapi, semua itu tidak menghentikan langkah kader-kader PKS untuk terus menumbuhkan keshalihan pribadi dan keshalihan sosial.

Kekonsistenan PKS dalam berdakwah mulai diperhitungkan oleh ormas-ormas Islam. Benturan-benturan mulai muncul, kekurangnyamanan mulai muncul. Bukan tidak mungkin telah ditanamkan pada kader ormas lain: PKS berbahaya! Mulai dari kader muda ormas lain yang menyeberang ke PKS hingga isu perebutan masjid ormas lain oleh kader PKS, tentunya hal-hal semacam itu menjadikan dakwah tak nampak cantik.

PKS diisukan teroris, Wahabi, anti tahlilan, anti maulid nabi, suka menggerogoti kader ormas, dan sebagainya. PKS tetap easy going. Kesalahpahaman-kesalahpahaman sudah ditabayyun oleh pimpinan PKS. Klarifikasi sudah dilayangkan melalui media massa. PKS maju terus, omongan-omongan miring tak dihiraukan, dakwah tetap dilanjutkan.

Tidak semestinya sesama organisasi dakwah saling menjatuhkan karena dakwah perlu berjama'ah. Ya, kekurangmengertian dan kekurangpahaman membuat antar ormas Islam kurang bisa tolong-monolong dalam dakwah dan kebaikan. Kaum Muhajirin dan Anshor sama-sama punya keunggulan, mereka sama-sama punya pemuka. Mereka sama-sama ingin memegang bendera dan panji Islam dalam perang, bahkan sama-sama ingin memimpin menggantikan Rosululloh usai beliau meninggal. Keduanya merasa saling lebih pantas menjadi pemimpin sepeninggal Rosululloh.

Muhajirin dan Anshor bersaudara, ukhuwah menjadi penyatunya. Persaudaraan atas dasar iman dan pertolongan Alloh menjadikan mereka bersatu dan tolong-menolong. Organisasi masa Islam sepatutnya dan sudah sepantasnya meniru mereka. Kenali, pahami, lalu tolong-menolong, lalu saling menanggung, lalu saling mendahulukan, rukun ukhuwah inilah yang akan menjaga kita agar tidak saling cela.

Lain ormas lain golongan, ada segolongan orang yang begitu anti pada PKS. Saking antinya mereka pada PKS, mereka punya slogan: "Yang Penting Bukan PKS". Latar belakangnya sulit dimengerti, terkadang karena PKS memproklamasikan diri sebagai partai BERSIH. Sok suci, padahal munafik, mungkin demikian ungkap mereka. PEDULI, padahal cuma cari muka! Entahlah, nampak betul kebencian mereka pada upaya-upaya perbaikan yang dilakukan oleh PKS. Padahal, jika kita merunut sejarah inisiator partai turun tangan membantu korban bencana, sepertinya PKS yang memang pertama-tama menjadikan RELAWAN sebagai syiar kebaikan. Alhamdulillah, akhirnya banyak partai lain kini juga Peduli.

Akhir kata, marilah kita berkumpul, berorganisasi, berpendapat, namun santunlah. Mari kita bangun bangsa ini bersama-sama. Jika memang ingin kebaikan dan perbaikan, tak usah menghujat menjelekkan orang lain. Mari kita lakukan apa yang bisa kita lakukan. Kalau ternyata (kader) PKS memang berhasil menghadirkan perubahan-perubahan di tengah masyarakat, kita harus bisa juga melebihi apa yang dilakukan oleh mereka. Kita mengenal istilah fastabiqul khoirot, berlomba-lomba dalam kebaikan. Mari kita beramal, mari saling mengungguli dalam kebaikan. Sesungguhnya sesama muslim itu bersaudara. Allohu akbar!

Catatan: tulisan ini hanya opini pribadi, bukan suara atas nama PKS atau suara ormas, atau suara golongan tertentu

Presiden Soeharto Masih Hidup?

Apakah benar Bapak Pembangunan sebenarnya belum mangkat? Sang Presiden fenomenal yang memimpin Indonesia lebih dari tiga puluh tahun itu masih hidup? Kematiannya menyisakan sebuah kesedihan tersendiri bagi bangsa Indonesia. Jika Anda ingin tahu bagaimana beliau meninggal dunia, saya tidak akan menceritakannya karena dulu saya juga hanya mendapat info dari berita di televisi. Kurang lebih info tersebut sama dengan apa yang dahulu Anda saksikan.

Setidaknya sudah saya temukan dua judul buku terkait bapak Soeharto. Dua buku tersebut kurang lebih membahas bagaimana seorang Presiden Soeharto yang dulu dipuja kemudian dicerca namun kini dirindu. Kejenuhan masyarakat pada pemerintah saat ini telah menghadirkan perasaan kangen mendalam terhadap pak Harto.

Jika kita mengamati truk, angkot, bis, atau kendaraan-kendaraan lain semestinya kita pernah melihat foto Sang Bapak Pembangunan dengan senyum manisnya sedang melambaikan tangan ada di sana. Banyak kita temui (dalam bentuk gambar) di jalan-jalan beliau melempar seulas senyum sambil berkata “Pie kabare le? Isih penak jamanku to?”. Seakan-akan beliau memang masih hidup.

Beliau menanyakan kabar kita, bagaimana negeri kita sekarang, bagaimana harga-harga bahan pokok, bagaimana harga BBM, bagaimana kondisi politik, bagaimana kondisi ekonomi, bagaimana keamanan negara. Setelah kita menjawabnya, beliau mengajak kita menganalisis: bagaimana jika dibandingkan dengan kondisi semasa kepemimpinan beliau? Ironi! Mungkin kita akan sambil nggonduk menjawab, “Inggih Bopo, taksih langkung sekeco jaman panjenengan rumiyin”.

Cobalah sekali waktu menanyakan pada orang-orang tua, pada simbah-simbah kita, bagaimana kondisi kita sekarang jika dibandingkan dengan jaman pak Harto. Sepertinya akan muncul jawaban serupa, masih enak jaman pak Harto. Hanya orang-orang idealis yang suka menegakkan benang basah mungkin akan menjawab, jaman sekarang sudah lebih baik, sudah lebih bebas dan demokratis, lebih ini lebih itu yang sebenarnya sekedar mencari-cari pembenaran atas “kudeta” rezim Soeharto.

Kapan Kita Merdeka?

Mari kita tengok sejarah (saya hanya membaca dari buku , jika ada kejadian atau penanggalan yang salah  saya mohon maaf kepada pembaca dan mohon ampun pada Alloh, semoga esensi dari tulisan ini tetap bisa tertangkap oleh para pembaca). Dari perjalanan panjang kemerdekaan bangsa Indonesia kita akan memperoleh sebuah pola. Pola yang sebenarnya sangat menyakiti hati kita telah kita amini dengan ridho. Pola penjajahan pasca-Inggris-Belanda-Jepang ternyata lebih kejam dari penjajahan ketiganya. Pola itu bisa kita sebut penjajahan tingkat dunia.

Kita ringkas beberapa peristiwa sejarah bangsa kita. Mulai dari Perang Diponegoro tahun 1928 hingga (katanya) puncak demokrasi Indonesia yaitu saat ini akan kita rangkum. Usai Perang Diponegoro yang berlangsung sekitar dua tahun Belanda mengalami banyak kerugian. Belanda merampas harta benda (termasuk uang Gulden) milik orang pribumi dan memaksa orang pribumi mengakui uang kertas sebagai alat tukar.

Selanjutnya ketika Jepang berhasil merebut Indonesia dari Belanda, Jepang mengganti uang kertas Belanda dengan uang Jepang. Usai Jepang tunduk kepada Sekutu atas luluh lantaknya Hiroshima dan Nagasaki, Indonesia merdeka. Diangkatlah Soekarno – Hatta sebagai presiden dan wakil presiden Indonesia secara aklamasi.

Sisi menarik dalam pidato proklamasi Soekarno – Hatta yaitu ketika pak Karno membacakan teks proklamasi. Emha Ainun Najib (Cak Nun) dalam Mocopat Syafa’at-nya bersama Kiyai Kanjeng dan jama’ah Ma’iyah pernah menyampaikan pertanyaan menggelitik. Kita kenal pak Karno adalah seorang orator yang selalu berapi-api dalam pidatonya. Kenapa pak Karno tidak berapi-api ketika membacakan teks proklamasi? Padahal itu momen sangat penting dalam sejarah bangsa Indonesia. Kenapa pak Karno membaca teks proklamasi dengan nada datar dan terkesan sangat biasa?

Suatu saat ada salah satu pembicara dalam Mocopat Syafa’at mengajak Cak Nun memerdekakan bangsa Indonesia. Kita sudah lebih dari 60 tahun merdeka, kenapa ingin memerdekakan Indonesia? Karena dalam pembukaan UUD RI 1945 dinyatakan, "Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur". Artinya kita belum merdeka, kita baru sampai depan pintu gerbang kemerdekaan. Kita belum membuka pintu gerbang kemerdekaan itu tapi kita merasa sudah merdeka.

Bagaikan membeli sebuah rumah. Kita sudah memperoleh sertifikat dan kunci tapi kita merasa puas hanya dengan berada di depan pintu gerbangnya, sedangkan rumah itu masih dibiarkan dikuasai orang lain, bahkan disewa-sewakan. Sungguh ironi, melihat kondisi bangsa kita saat ini, kita mungkin akan bertanya-tanya, “Kita tinggal di negeri siapa?”

Indonesia merdeka sejak hari Jumat 17 Agustus 1945. Kita belum merdeka, Belanda belum mengakui kemerdekaan bangsa Indonesia. Diadakanlah Konferensi Meja Bundar di Den Haag tahun 1948 sebagai perundingan pihak Indonesia dengan Belanda. Salah satu poin kesepakatan dalam KMB adalah Belanda akan mengakui kemerdekaan Indonesia dengan syarat bahwa Indonesia mau membayarkan utang Hindia Belanda sejumlah 4 milyar Dolar AS. Syarat berikutnya adalah BNI berhenti mencetak uang kertas, uang akan dicetak oleh De Javasche Bank. Persyaratan tersebut diiyakan oleh Soekarno.

Setahun kemudian ternyata Soekarno tidak juga mau memenuhi syarat yang diajukan  Belanda. Akhirnya Belanda melancarkan serangan agresi militer pada tahun 1949. Indonesia tetap kokoh meski guncangan mendera. Soekarno sangat keras terhadap penjajah. Soekarno sangat menjaga nasionalisme dan harga diri bangsa. Mungkin kita ingat kata-kata “Go to Hell America” dan “Ganjang Malaisia”.

BNI 46 (Bank Nasional Indonesia) yang telah didirikan Soekarno pada tahun 1946 menjadi bank pencetak uang Rupiah (Oeang Repoeblik Indonesia). Dahulu Rp 10 setara dengan 5 gram emas. Maksudnya, setiap satu Rupiah ditopang oleh setengah gram emas. Sewaktu-waktu semestinya kita bisa mengambil emas tersebut. Pada tahun 1953 otoritas BNI 46 dalam mencetak uang rupiah diambil alih oleh Bank Sentral (Bank Indonesia) yang sebenarnya adalah bank swasta yaitu De Javasche Bank. De Javasche Bank dahulu didirikan pemerintah Hindia Belanda. Bank inilah yang membeli hasil bumi rakyat Indonesia pada masa penjajahan.

Pak Karno melancarkan politik mercusuar sehingga dunia tahu keberadaan Indonesia. Pak Karno menasionalisasi aset Indonesia yang dahulu dikuasai penjajah. Pak Karno menjauh dari IMF dan Bank Dunia. Pak Karno pun keluar dari PBB. Itulah yang sebenarnya memicu munculnya skenario G 30 S PKI dan SUPERSEMAR. Allohu a’lam. Keganasan Soekarno menjadikan para “penjajah” merasa khawatir.

Kisah Pembangunan Indonesia

Pada 11 Maret 1966 Soekarno digantikan oleh Soeharto. Orde Lama diganti Orde Baru. Soeharto membawa angin segar bagi para “penjajah”. Soeharto kembali masuk PBB dan berhutang pada IMF. Dibentuk pula IGGI (Intern Goverment  Group of Indonesia) yang nantinya akan berkembang menjadi CGI (Consultative Group of Indonesia). Para konsultan pembangunan menggiring pemerintahan Soeharto pada jurang hutang tak bertepi. Mulai dari pembangunan jangka panjang, pembangunan jangka menengah dan pembangunan jangka pendek, semua berbasis hutang.

Laju pembangunan Indonesia tak terbendung. Dua puluh tahun dipimpin pak Harto Indonesia maju pesat. Swasembada pangan, Klompencapir, PKK, Dasawisma, P4, KB, serta berbagai istilah populer menjadi indikator keberhasilan pak Harto membangun bangsa Indonesia. Julukan Bapak Pembangunan dinisbatkan padanya. PKS (Partai Keadilan Sejahtera) pernah menyebutnya sebagai guru bangsa atau malah pahlawan dalam video kampanye Pemilu 2009 sehingga menjadi perbincangan kontroversif kala itu.

Dalam tahun-tahun pembangunan ada beberapa kali devaluasi dan senering mata uang Rupiah. Kebijakan-kebijakan tersebut mengakibatkan semakin tidak berharganya Rupiah. Kita bisa mengistilahkan kebijakan tersebut sebagai perampasan harta rakyat secara halus. Sebentar lagi kita akan merasakan kembali perampasan harta kita dengan judul “redenominasi” yang dilogikakan oleh para “perampok” dengan “sekedar penyederhanaan rupiah dengan menghilangkan angka nol, tidak mengubah nilai”.

Tahun 1971 secara tak kasat mata sistem cadangan emas pada rupiah sama sekali dihapuskan. Hasilnya rupiah dicetak tanpa topangan emas sama sekali. Jadi pemerintah (dalam hal ini sebenarnya swasta berjuluk Bank Indonesia) bebas mencetak sebanyak mungkin uang tanpa memperhitungkan cadangan emas. Dalam istilah mudah, uang kertas yang tadinya merupakan surat janji hutang berubah menjadi surat janji palsu.

Bersemi sebuah bibit bencana besar ketika tahun 1988 Indonesia mengubah peraturan perbankan yang tadinya hanya membolehkan bank asing membuka cabang di ibu kota menjadi boleh membuka cabang di mana saja. Bank asing bertebaran di seluruh penjuru Indonesia. Utang Indonesia terus menggunung, bahkan hingga masa akhir pemerintahan Soeharto akhirnya mencapai lebih dari 50 milyar Dolar AS. Begitu pula rakyat Indonesia sudah semakin familiar dengan pola hidup kredit.

Kita ingat salah satu film Warkop DKI (Warung Kopi Dono Kasino Indro) sekitar tahun 80an atau awal 90an berjudul “Setan Kredit”. Film tersebut mengangkat fenomena kredit yang menjamur di masyarakat, mau beli apa saja bisa dikredit, sampai-sampai ada setan kredit. Semasa saya kecil tukang kredit biasa disebut Mendring. Tukang Mendring biasa mengkreditkan barang-barang rumah tangga seperti panci, soblok, rantang, dan sebagainya kepada ibu-ibu rumah tangga.

Hingar bingar kesejahteraan koin pemerintahan Soeharto menampakkan sisi represif dan otoriter di sebaliknya. Hal tersebut memunculkan gerakan-gerakan bawah tanah yang berusaha menyuarakan kebenaran. Gerakan-gerakan tersebut kelak akan menjadi kekuatan yang akhirnya menumbangkan rezim Soeharto. Sebagian kaum terpelajar merasa tertipu dengan wajah manis pak Harto. Bagaikan bom waktu, ketertipuan itu mengumpulkan energi besar yang siap meledak.

Sepuluh tahun setelah liberalisasi perbankan, meledaklah krisis moneter. Perbankan kalang kabut. Nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS anjlog. Mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat ambil bagian dalam sebuah “kudeta demokratis”. Pak Harto lengser keprabon. Wakilnya ketika itu BJ Habibie menjadi pengganti pak Harto secara konstitusional. BJ Habibie merupakan putra terbaik bangsa yang selama ini menjadi salah satu rujukan pak Harto meminta pendapat.

Apakah Akhirnya Kita Merdeka?

Semenjak BJ Habibie menggantikan Soeharto mulailah suatu orde pemerintahan bernama Reformasi. Orde reformasi masih kita nikmati sampai saat ini. Konon di masa reformasi inilah demokrasi Indonesia mencapai puncaknya. Semua serba bebas berpendapat, hak-hak pribadi dilindungi, tak lagi ada represi, tak lagi ada kemencekaman. Seluruh rakyat Indonesia terutama para aktivis merasa memperoleh kemerdekaan sejati.

Reformasi memberikan jalan bagi seluruh rakyat untuk memimpin. Para politisi dan pengincar jabatan bagai ayam lepas dari kurungan. Partai-partai bermunculan. Organisasi-organisasi kemasyarakatan, LSM, gerakan, semua dipersilahkan. Pesta pora demokrasi nan ironi telah terjadi karena justru pada momentum reformasilah para “penjajah” semakin bebas menghisap darah. Tanam paksa model baru disepakati secara sukarela. Para terjajah bahkan merasa dan harus bangga serta malu pada dunia jika tak menyerahkan hasil bumi kepada tuannya.

Perbankan semakin liberal. Bank Indonesia tak lagi milik swasta yang diatasnamakan pemerintah, ia bukan lagi bagian dari menteri, ia kini mandiri. Sejak bergulirnya reformasi, Bank Indonesia tidak lagi berada dalam kabinet pemerintahan Republik Indonesia. Bank Indonesia semakin bebas menentukan kebijakan moneter di negeri kita. Pemimpin dan politisi tak berkutik dengan pengendalian suku bunga oleh “penjajah” itu. Oh, siapakah sebenarnya pemilik negeri ini?

Dalam masa yang singkat BJ Habibie telah berhasil meningkatkan hutang pemerintah Indonesia dari sekitar 50 milyar Dolar AS menjadi di atas 70 milyar Dolar AS. Inikah merdeka? Justru runtuhnya rezim Soeharto sebenarnya bak hilangnya kerikil kecil dari sepatu para penjajah. Dahulu pak Harto masih sering berpaling pada kaum Nasionalis, juga pada pak Habibie sebagai tokoh industri Indonesia. Dua kubu selain kubu penjajah ini terkadang menghalangi para penjajah mempengaruhi kebijakan pak Harto. Mulainya orde reformasi mengubah posisi penjajah dari “mempengaruhi” jadi “menentukan”.

Sebenarnya kapan kita akan merdeka jika utang terus membelit kita? Proyek pembangunan infrastruktur semakin banyak. Proyek demokratisasi (baca: Pemilukada, pemilu) butuh biaya sedemikian banyak. Proyek pemberantasan korupsi perlu komisi. Proyek pemberantasan teroris perlu pasukan berbis-bis. Dananya dari mana? Hutang lagi saja! Siapapun pemimpinnya, kita tetap terjajah, tak ada pola lain selain pemerintahan berbasis hutang. Tak ada kebijakan yang lebih bijak selain berhutang, inna lillahi wa inna ilaihi roji'un!

Al-Kisah, hutang Indonesia sampai pertengahan periode keduanya pak SBY sudah mencapai 160 milyar Dolar AS. Kita hanya akan terus mencicil bunganya, entah kapan pinjaman asli kita lunas. Rakyat akan terus diperas. Sebagian besar pajak digunakan mencicil hutang. Subsidi-subsidi dikurangi, untuk apa? Semoga tidak dikorupsi, tapi sepertinya pasti: untuk mencicil hutang. Bantuan-bantuan kredit usaha rakyat, penguatan modal, hakikatnya apa? Agar rakyat semakin familiar dengan hutang. Agar kita jadi negeri kredit.

Hanya Sakit Hati

Akhirnya kita akan tahu pola penjajahan modern itu seperti apa. Tanpa invasi, tanpa pasukan, tanpa senjata, semua tunduk pada negara adi kuasa. The invisible hand telah mencekik leher-leher kita. Mereka mencekoki kita dengan air garam yang hanya membuat kita semakin haus, terus dan terus. Bagai candu narkoba, negeri kita telah ketagihan hutang. Di pelosok-pelosok negeri terpampang di hampir semua pohon di pinggir jalan: “Butuh dana cepat? Kredit 1 jam cair!”

Runtuhnya banyak kepemimpinan di berbagai negeri disebabkan belenggu hutang, tak terkecuali runtuhnya Daulah Turki Utsmani. Jika kita tak membuka persepsi, tinggal tunggu waktu saja berapa lama akan bertahan negeri ini. Maha Benar Alloh yang telah mengajarkan kita melalui Rosululloh doa agar kita tidak terlilit hutang dan terlindungi dari kesewenang-wenangan manusia.

Semoga tulisan ini mengalihkan saya dan Anda semua dari sekedar sakit hati ke level diskusi, dan semoga segera meningkat menjadi aksi. Minimal mari kita jauhkan diri dari perilaku berhutang, apalagi gali lubang tutup lubang. Na’udzubillah.

Pak Harto, Bapak kami, mengapa Engkau mati dengan meninggalkan hutang sebanyak ini?

Dakwah Perlu Berjama'ah


Jika kita memahami perintah untuk berdakwah, sesungguhnya perintah untuk berdakwah bukanlah perintah yang ditujukan untuk seseorang atau perorangan. Dakwah diperintahkan kepada segolongan orang. Ketika Nabi Muhammad shollallohu ‘alaihi wa sallam masih sendiri sebagai nabi yang mendapat wahyu Alloh, memang baru nabi yang diperintah untuk membuka selimut dan memberi peringatan pada umat beliau. Setelah pengikut beliau mulai banyak, tanggung jawab dakwah menjadi tanggung jawab bersama.

Ada berbagai pendapat tentang hukum berdakwah, mulai dari wajib ‘ain hingga wajib kifayah. Setidaknya kita semua mendapat beban kewajiban menjaga diri sendiri dan keluarga kita masing-masing dari api neraka. Lebih jauh dari itu ada beban bersama untuk menyeru umat menuju Alloh, memerintahkan yang baik dan melarang yang mungkar.
“Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imron: 104)


Wajib kifayah berarti semua orang muslim  menanggung beban yang sama hingga kewajiban tercukupi atau kewajiban tertuntaskan. Sebagaimana mengurus jenazah, semua muslim tidak akan terlepas dari kewajiban sampai jenazah dimakamkan dengan sempurna. Jika dakwah belum tuntas, masih ada orang yang belum mendapatkan hujjah kebenaran Laa Ilaaha Illalloh, maka semua muslim menanggung kewajiban yang sama. Allohu a’lam.

Al-Qur’an sebagai wahyu Alloh yang harus dijadikan pedoman hidup seluruh manusia menjadi bagian tak terpisahkan dari dakwah tauhid. Dengan Al-Qur’an kita mengenal Alloh, mengenal kebenaran dan kebatilan, mengenal perintah dan larangan, mengenal semua ajaran Islam. Al-Qur’an harus didakwahkan.

Sekian banyak dai, muballigh, ustadz, kiyai, modin, aktivis dakwah sedang memperjuangkan tegaknya agama Alloh. Mereka berjuang dengan cara yang berbeda-beda. Kita juga mungkin punya inisiatif tersendiri dalam rangka turut serta berkontribusi. Kita bersama berlari menuju Alloh.

Mari kita ingat kembali kisah bapak moyang kita yaitu Kanjeng Nabi Adam ‘alaihissalaam. Beliau diciptakan Alloh untuk menjadi kholifah di muka bumi. Seorang diri beliau dibebani amanah mengelola bumi. Beban tersebut pernah ditawarkan Alloh kepada langit, bumi, dan gunung namun mereka semua menolak karena takut tidak sanggup menjalankan amanah. Manusia mengambil resiko untuk memikul beban itu.

Beban mengelola bumi, termasuk mendakwahkan Al-Qur’an, termasuk dakwah secara umum telah kita sanggupi. Sekalipun kita tidak pernah bertemu bapak moyang kita, faktanya kita adalah keturunan beliau. Bahkan kita pernah diambil sumpah selaku anak cucu Nabi Adam sebagaimana diterangkan dalam surat Al-A’rof 172.


Sesungguhnya umat manusia ini dilahirkan sebagai umat yang satu, dengan beban dan kewajiban yang pada dasarnya sama: ibadah, kholifah. Kecenderungan manusia untuk berkumpul, berorganisasi, berdakwah dengan cara yang berbeda adalah fitrah manusiawi sebagaimana Alloh memang menjadikan manusia laki-laki dan perempuan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Hakikatnya semua itu agar kita saling mengenal sehingga tahu bahwa yang paling mulia di sisi Alloh hanyalah yang paling bertakwa.

Jika kita sudah menemukan kembali asal muasal tujuan Alloh menciptakan kita, semestinya kita menemukan alasan yang sangat kuat bahwa kita harus berjama’ah. Kita harus berjama’ah dalam menyelesaikan amanah kita di dunia. Kita harus berjama’ah dalam mencapai kemakmuran bersama. Kita harus berjama’ah dalam menggapai cita-cita bersama. Kita harus berjama’ah dalam dakwah.

Betapa indahnya bila kita berjamaah. Dengan sesama muslim kita berjama’ah. Alloh memerintahkan kita berpegang pada tali-Nya secara berjama’ah serta melarang kita berpecah belah. Dengan berjama’ah insyaalloh semua terasa mudah. Beban yang nampak berat akan bisa ringan terangkat, bi idznillah.

Lalu bagaimana dengan mereka orang-orang yang enggan beriman pada Alloh? Dengan mereka kita bermusyawarah, menjauhi jahiliyah, lalu mengajak mereka menuju kalimat Laa Ilaaha Illalloh. Laa haula wa laa quwwata illaa billah.


Kurva J Ian Bremmer

Kurva J adalah kurva berbentuk menyerupai huruf J. Sumbu vertikal merupakan sumbu kestabilan, sumbu horisontal merupakan sumbu keterbukaan. Kurva J pertama kali dicetuskan oleh Ian Bremmer melalui bukunya “The J Curve: A New Way to Understand Why Nations Rise and Fall” (Fahri Hamzah, 2010; “Negara, Pasar, dan Rakyat”). Kurva J menggambarkan hubungan antara stabilitas dan keterbukaan suatu negara.

Teori Kurva J menyatakan bahwa negara-negara tertutup, anti demokrasi, dan pengekang kebebasan berada pada tingkat stabilitas yang tinggi. Ketika posisi keterbukaan mereka ditingkatkan sedikit saja, maka tingkat stabilitas mereka akan menurun drastis karena Kurva J ini memiliki kemiringan negatif yang sangat curam di sisi kiri titik baliknya. Namun ketika tingkat keterbukaan terus didorong ke kanan, maka lambat laun tingkat stabilitas akan meningkat kembali.


Dilema Kurva J
Kurva J menjadi dilema bagi negara-negara berkembang yang sudah stabil dengan ketertutupan mereka. Ketika ingin mencapai kestabilan yang lebih tinggi mereka harus melalui titik balik yang begitu dalam. Sedikit saja membuka diri, kurva curam mengancam. Namun apabila mereka berhasil melalui titik balik tersebut, lambat laun mereka akan menemukan kestabilan yang lebih tinggi. Lagipula, jika sudah berada di titik balik mereka akan berat untuk kembali stabil dengan (kembali) menutup diri. Sehingga, pilihan paling mungkin adalah terus menikmati keterbukaan dengan semakin meningkatkan kestabilan.

Peran negara-negara maju yang telah mencapai kestabilan dengan keterbukaan adalah membantu negara-negara berkembang melewati titik balik yang sangat curam. Saat semua negara siap membuka diri, siaplah tercapai kestabilan dunia. Kita menyebutnya era globalisasi, semua negara benar-benar terbuka terhadap negara lain, terhadap semua anggota dunia.

Barangkali globalisasi akan memunculkan banyak masalah baru mulai dari ketidaksiapan warga negara hingga “penghalalan segala cara”. Seakan-akan perang besar di dunia telah terwujud. Semua manusia bebas bertarung, siapa kuat menang, siapa lemah kalah. Mereka yang merupakan kaum lemah akan mengiba menolak keterbukaan. Mereka yang sudah merasa kuat akan dengan percaya diri menghadapi keterbukaan.


Konsep Islam Global
Kita tahu bahwa dalam Islam sebenarnya tidak ada sekat negara. Penguasa teritori mungkin ada akan tetapi semua berada dalam satu komando kholifah. Kholifah wajib menjamin ketiadaan penindasan dan kedzoliman di seluruh penjuru dunia. Keadilan harus ditegakkan, kesejahteraan harus dimeratakan oleh seorang kholifah.
Keterbukaan adalah suatu keniscayaan. Islam mengedepankan fair play, dan Islam punya aturan. Kita mengenal kaidah ushul fiqh “Al-Ashlu fil-Asyyaa’i Al-Ibaahah, illaa maa dalla ad-Daliilu ‘alaa Tahriimihi” yang artinya “Pada dasarnya dalam segala sesuatu itu hukumnya boleh, kecuali apa-apa yang telah ditunjukkan oleh dalil (nash) terkait keharamannya. Sehingga pada dasarnya Islam sangat menjunjung tinggi kebebasan, dengan rambu-rambu tersendiri.

Rakyat yang kuat adalah rakyat yang mampu bertarung tanpa proteksi, bertahan tanpa subsidi (Fahri Hamzah, 2010). Islam menginginkan keadilan dan kesejahteraan. Diperintahkan kita untuk belajar, menuntut ilmu, bekerja, berusaha, bersungguh-sungguh, bekerja sama, dan sebagainya tentunya agar kita mampu mengolah bumi ini menjadi kemanfaatan bersama seluruh umat manusia. Islam mengajarkan seorang muslim untuk tidak takut kepada selain Alloh, tidak berharap kepada selain Alloh.

Tidak ada yang mempunyai otoritas lebih di antara manusia selain Alloh, Rosululloh, dan pemimpin. Bahkan diciptakan-Nya manusia laki-laki dan perempuan lalu dijadikan-Nya bersuku-suku dan berbangsa-bangsa tak lain adalah agar manusia saling mengenal. Dengan saling mengenal maka manusia tahu bahwa yang paling mulia di sisi Alloh hanyalah yang paling takwa. Kesempatan untuk menang atau kalah selalu ada bagi manusia, siapa saja.

Setelah bertarung mati-matian dalam bingkai aturan, akan muncul manusia-manusia kuat dan manusia-manusia lemah. Betapa sempurnanya Islam karena ia diturunkan Alloh tidak hanya untuk segolongan manusia tapi seluruh manusia, rahmat bagi semesta. Yang kuat diperintahkan bersyukur lalu membantu yang lemah. Yang lemah diperintahkan bersabar lalu menahan diri dari meminta-minta. Lengkap sudah!

Dan lagi, begitu indahnya syariat zakat. Harta yang ada di dunia ini harus beredar dan terus beredar. Mereka yang menjadi golongan lemah wajib dicukupi oleh golongan kuat. Sehingga bumi ini cukup untuk kita hidup bersama, sebenarnya. Karena Alloh tidak pernah menciptakan kemiskinan atau kekurangan, Alloh hanya menciptakan kekayaan dan kecukupan.

Kurva J Personal
Dalam pembahasan tingkat negara Kurva J menjadi gambaran makro hubungan antara kestabilan dengan keterbukaan sebuah negara. Adakah kaitan antara gambaran makro dengan elemen-elemen personal penyusun sebuah negara? Dengan logika sederhana kita akan menjawab: ada. Tidak mungkin sesuatu secara umum dikatakan baik jika elemen penyusunnya buruk. Maka sebenarnya kestabilan dan keterbukaan suatu negara akan bisa ditarik ke dalam pembahasan tingkat personal.

Sebuah contoh kasus seseorang bernama Tomy. Tomy bekerja sebagai seorang manajer di sebuah perusahaan. Tomy mendapat gaji tetap setiap bulan sekitar dua juta rupiah. Tomy merasa sudah mapan. Tomy bisa memilih untuk tetap dalam kestabilannya atau mencoba membuka diri dengan menikahi seorang gadis. Jika dia membuka diri, resiko yang akan dihadapi adalah kestabilan berkurang karena gaji yang dahulu sangat cukup untuk hidup sendiri harus digunakan untuk hidup berdua. Tentu akan muncul pula masalah-masalah baru dengan hadirnya seorang istri.

Pilihan yang sesuai fitrah adalah pilihan untuk menikah. Tomy menikah dengan gadis pilihannya, lalu dikaruniai seorang anak. Anak mereka mulai tumbuh besar dan kebutuhan semakin meningkat. Gaji Tomy mulai tidak cukup untuk keperluan sehari-hari. Selain itu Tomy juga mempunyai obsesi untuk membangun rumah dan memiliki mobil sehingga total nominal obsesinya mencapai satu milyar rupiah. Tomy kembali harus memilih: membuka diri atau menutup diri.

Jika harus menutup diri, kestabilan tinggi hampir tidak mungkin untuk dicapai. Jika membuka diri, banyak resiko dan resiko, apakah kestabilan akan terus merosot, menderita kerugian, kebangkrutan, atau akan naik? Melanjutkan hidup sebagai manajer memang mapan namun penuh kepalsuan dan sakit hati karena selalu kurang dan kurang. Mulailah tercetus ide untuk berbisnis. Dengan berbisnis Tomy berusaha membuka diri akan peluang penghasilan tambahan.

Kestabilan hancur, bisnis kena tipu, modal dibawa lari, aset disita, nilai simpanan merosot dan tidak liquid, dipecat dari pekerjaan karena proyek kacau terganggu bisnis, anak terkena kasus narkoba karena kurang perhatian, istri minta cerai, dan seterusnya, begitu gambaran resiko terburuk Tomy. Inilah titik balik, ketika tidak ada kondisi yang lebih parah, ketika mau tak mau harus semakin membuka diri. Lebih berani presentasi, lebih berani mengambil peluang, lebih berani memberikan penawaran-penawaran, lebih banyak menambah relasi, lebih banyak mencari koneksi, itu yang harus dilakukan. Harus dijalani, tak ada jalan untuk mundur, harus maju terus.

Jika Tomy rela menjalani proses, ia akan menjadi pribadi yang semakin terbuka dan memiliki lapang pandang jauh lebih luas. Kestabilan yang dahulu dia peroleh dengan ketertutupan akan tergantikan dengan kestabilan penuh keterbukaan. Tomy akan terlepas dari ego pribadi menuju ego global. Ego global merupakan perwujudan ego Alloh dalam misi penciptaan manusia dan alam semesta. Kita diciptakan tidak untuk hidup sendiri.


Keterbukaan dalam Islam
Manusia diciptakan oleh Alloh untuk beribadah. Selain itu Alloh juga menciptakan manusia sebagai kholifah. Dalam peran manusia sebagai kholifah manusia tidak bisa lepas dari orang lain. Manusia saling mengenal lalu diperintahkan tolong menolong dalam kebaikan. Manusia diciptakan utnuk memecahkan masalah bersama sehingga ada istilah musyawarah. Manusia dititahkan merasa saling cenderung kepada lawan jenis, menikah, lalu berketurunan. Tujuan penciptaan manusia tidak bisa dilepaskan dari interaksi manusia terhadap Alloh dan terhadap manusia lain serta bumi sebagai lingkungan tempat manusia tinggal.

Berjalanlah di muka bumi, ambillah pelajaran, carilah rizki Alloh, bertemulah dengan banyak orang. Islam mengajarkan keterbukaan. Seorang muslim yang menyepi di gunung untuk menikmati ibadah tidak lebih utama dari seorang muslim yang berinteraksi dengan masyarakat dan bersabar terhadap mereka. Seorang muslim yang hanya berdiam diri di masjid tanpa menjalani kehidupan sebagaimana fitrah manusia telah kehilangan sisi kemanusiaannya.

Islam tidak memerintahkan umatnya menjadi rahib-rahib yang membujang terasing dalam rumah-rumah ibadah. Totalitas dalam beragama bukan diartikan sebagai beribadah ansich. Totalitas dalam beragama mengandung maksud bahwa dalam segala aspek kehidupan ditata dan dijalankan atas dasar agama. Berjuang mencari nafkah bisa bernilai ibadah, berjuang memeratakan kesejahteraan masyarakat juga bernilai ibadah. Menyingkirkan duri di tengah jalan pun menjadi bagian dari bukti keimanan.

Silaturahim memperpanjang usia dan membuka pintu rizki. Silaturahim artinya membuka diri, menjalin kasih sayang dan pertalian dengan orang di luar pribadi kita. Mengizinkan orang lain tahu tentang kepribadian kita, permasalahan kita, dan sebaliknya, akan menjadikan kita pribadi yang terbuka. Keterbukaan akan menggeser Kurva J kita, akan berubah pula kestabilan kita. Akan muncul masalah-masalah akibat berinteraksi dengan manusia lain. Akan ada ujian berbuah kestabilan.

Kiai Mufid: “Hidup Jangan Cuma Menjadi PNS”


Hampir setiap santri Pandanaran pasti tahu soal tak diperkenankannya menjadi PNS oleh KH Mufid Mas’ud. Beliau gerulankali memperingatkan dengan tegas kepada para santri untuk tidak memilih PNS sebagai jalan hidup. Tulisan ini mencoba menelaah paradigma tersebut.
Kiai Mufid semasa hidupnya mengalami beragam pemerintahan; Era Belanda, Jepang, Soekarno, Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati, dan terakhir masa SBY. Dengan background sebagai tentara, Kiai Mufid memiliki pemahaman yang baik terhadap kenegaraan. Faktor-faktor tersebut boleh jadi melengkapi proses berfikir beliau selain sebagai seorang ahli agama.
Dengan menjadi PNS, profesi plat merah, seseorang akan sangat terikat dan cenderung kurang mandiri dalam mengembangkan pesantren. Bisa jadi, Kiai Mufid tak mau anak didiknya hanya menjadi orang yang selalu mengharap derma negara; menjadi “kiai proposal”. Apalagi, masa Pandanaran berdiri dan berkembang adalah masa dimana PNS cenderung identik dengan kelompok tertentu.
Oleh karenanya, Kiai Mufid selalu menghimbau santrinya untuk tak berangan-angan menjadi PNS agar dapat mengabdi total kepada Al-Quran; sesuai kapabilitasnya. Artinya, Al-Quran harus menjadi pegangan utama. Bila konsisten dengan Al-Quran, insyaalloh jalan hidup akan terbuka terang.
Jadi, substansi masalah bukan pada PNSnya, tetapi bagaimana supaya dapat mengabdikan diri sepenuhnya kepada Al-Quran. Kalau menjadi PNS tetap bisa mengabdi kepada Al-Quran, kenapa tidak? (Mu’tashim Billah)
disalin dari Suara Pandanaran edisi 9 April 2012