Tiga Macam Penghafal Al-Qur'an

Al-Hasan bin Ali berkata, "Penghafal Al-Qur'an ada tiga macam: Pertama, seorang yang baik bacaan dan suaranya lalu pergi dari satu kota ke kota lain untuk memperoleh imbalan dari orang-orang. "Penghafal Al Qur'an ada tiga macam. Pertama, seorang yang baik bacaan dan suaranya lalu pergi dari satu kota ke kota lain untuk memperoleh imbalan dari orang-orang. Kedua, seorang yang hafal huruf-hurufnya tetapi menyia-nyiakan hukum-hukumnya, mencari simpati penguasa dan mencari popularitas. Ketiga, mengerti maknanya, memeliharanya, mengamalkannya untuk berdakwah dan beribadah. Yang inilah sebaik-baik penghafal Al Qur'an."

Al-Qur'an adalah seperti manual book dalam kita menjalani kehidupan di dunia agar tak menyesal di akhirat. Tak hanya bacaan, tak hanya keajaiban, Al-Qur'an meliputi segala ilmu. Ilmu Al-Qur'an harus kita pahami, amalkan, dan dakwahkan. Semestinya para pengajar itu hafal. Semestinya para penghafal itu mengajar.

Jika hanya dunia yang kita cari, kita hanya akan mendapatkan dunia, bahkan tidak sama sekali. Jika kita mencari akhirat, insyaalloh dunia akhirat akan kita dapatkan.

Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga.

Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Di menjawab, ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya, seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532])

Kendeli???

Sebuah budaya di tanah Jawa, jika kebetulan melewati seorang atau sekelompok orang sedang bekerja maka kita mengucapkan, “Kendeli...”

Orang yang mendengar ucapan itu biasanya menjawab “Nggih...” dan tetap melanjutkan bekerja.

Dalam bahasa Jawa “kendel” mempunyai dua pengucapan:
  1. Kendel diucapkan sebagaimana kita mengucap “segel” dalam bahasa Indonesia
  2. Kendel diucapkan sebagaimana kita mengucap “pegel” dalam bahasa Indonesia
Pengucapan pertama bermakna mengajak orang yang bekerja untuk kendel (istirahat). Jika ini dituruti maka orang-orang tak akan pernah selesai dalam pekerjaannya karena hampir tiap orang lewat selalu mengajak kendel. Ayo istirahat lagi.
Pengucapan kedua bermakna mengajak orang yang bekerja untuk kendel (berani). Dengan ajakan kendel ini orang-orang yang bekerja akan semakin terpacu semangatnya apalagi hampir tiap orang lewat selalu mengajak kendel. Ayo lebih berani lagi.

Yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari adalah kendel dengan pengucapan pertama sehingga orang-orang senantiasa menahan godaan untuk istirahat ketika bekerja. Bekerja menjadi suatu hal yang berat. Orang-orang membayangkan betapa nikmatnya beristirahat. Sayang kendel pengucapan kedua sangat jarang atau bahkan hampir tidak pernah kita dengar, padahal itu yang kita butuhkan, saling menyemangati, saling mengobarkan keberanian, saling menasihati.

Ayo kita kendeli!

Pertanyaan untuk Para Pemuda

SUATU PAGI
Beberapa waktu lalu saya membuat sebuah status FB: Pertanyaan kepada para pemuda yg sengaja menunda nikah, "Bagaimana cara Anda menjaga diri (baca: menyalurkan syahwat)?". Nampaknya status tersebut menuai beberapa komentar. Saya tidak terlalu suka beradu argumen atau berdebat, biarlah yang mampu menangkap hikmah menangkapnya, yang antipati silakan saja.

Suatu pagi ada seorang dokter spesialis obsgin (kandungan, kebidanan) visite ke salah satu ruang rumah sakit. Sembari sang dokter membubuhkan tanda tangan di lembar persetujuan tindakan dan rekam medis pasien, sang dokter menjawab pertanyaan-pertanyaan dari perawat dan mahasiswa praktikan. Kalau post kuret itu kapan boleh berhubungan suami istri dok? Faktor BO apa saja dok? Kalau tidak dikuret akibatnya apa dok?

Nampak sang dokter cukup dalam pemahamannya tentang agama. Pertanyaan tidak hanya dijawab dari segi ilmu kedokteran tapi juga dari segi fiqh. Tiba-tiba sang dokter bertanya pada salah satu mahasiswa, "Anda sudah menikah belum?... Lalu bagaimana Anda menyalurkan libido?"
Pertanyaan tersebut menjadi inspirasi saya untuk menulis status: Pertanyaan kepada para pemuda yg sengaja menunda nikah, "Bagaimana cara Anda menjaga diri (baca: menyalurkan syahwat)?"

Kebetulan mahasiswa yang ditanya sudah menikah dan menjawab bahwa setiap akhir pekan ia pulang menemui istrinya. Sang dokter mungkin menebak bahwa mahasiswa praktikan pasti cukup lama berada di tempat praktikya. Fitrahnya seorang anak manusia punya kecenderungan seksual terhadap lawan jenis (libido), harus ada penyalurannya.

MENIKAH HANYA UNTUK MEMENUHI SYAHWAT?
“Wahai para pemuda ! Barangsiapa diantara kalian berkemampuan untuk nikah, maka nikahlah, karena nikah itu lebih menundukan pandangan, dan lebih membentengi farji (kemaluan). Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah ia puasa (shaum), karena shaum itu dapat membentengi dirinya”. (Hadits Shahih Riwayat Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Nasa’i, Darimi, Ibnu Jarud dan Baihaqi)

Siapa yang berani membatah hadits tersebut? Menikah adalah salah satu jalan, jalan terbaik, jalan berpahala untuk menjaga kemaluan. Tak bisa dipungkiri bahwa setiap laki-laki dan perempuan punya kecenderungan (syahwat) terhadap lawan jenis. Islam memberikan tuntunan bagaimana agar syahwat menjadi halal berpahala yaitu dengan sebuah pernikahan.

Siapa pula berani membantah hadits berikut:

"Jika kalian bersetubuh dengan istri-istri kalian termasuk sedekah !. Mendengar sabda Rasulullah para shahabat keheranan dan bertanya : “Wahai Rasulullah, seorang suami yang memuaskan nafsu birahinya terhadap istrinya akan mendapat pahala ?” Nabi shallallahu alaihi wa sallam menjawab : “Bagaimana menurut kalian jika mereka (para suami) bersetubuh dengan selain istrinya, bukankah mereka berdosa .? Jawab para shahabat :”Ya, benar”. Beliau bersabda lagi : “Begitu pula kalau mereka bersetubuh dengan istrinya (di tempat yang halal), mereka akan memperoleh pahala !”. (Hadits Shahih Riwayat Muslim 3:82, Ahmad 5:1167-168 dan Nasa’i dengan sanad yang Shahih).

Hanya karena syahwat? Tentu tidak! Sungguh, pernikahan adalah ibadah mulia yang menjadikannya disebut oleh Rosululloh sebagai separuh agama.
"Barangsiapa menikah, maka ia telah melengkapi separuh dari agamanya. Dan hendaklah ia bertaqwa kepada Allah dalam memelihara yang separuhnya lagi”. (Hadist Riwayat Thabrani dan Hakim).

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Ar-Rum: 21)

HAMIL SEBELUM MENIKAH
Termasuk zina atau bukan? Jelas zina! Jika tidak halal maka haram. Jika selain istri = haram. Belum jadi isti = selain istri = bukan istri = haram. Berapa dari pasangan menikah di sekitar kita dilatarbelakangi "terlanjur hamil"? Sedih, sedih, sedih. Terlepas dari hukum fiqh, dari yang haram hingga mengambil madhorot teringan, ini jauh dari keinginan Alloh. Menikah tidak akan menjadikan yang tadinya sudah terlanjur haram menjadi halal. Sekali lagi, sedih.

Tidak mungkin mereka yang belum menikah itu berdoa terlebih dahulu sebelum berhubungan badan, mau zina koq berdoa dulu? Lalu apa jadinya keturunan mereka? Dikuasai syetan!
“Jika salah seorang dari kalian (suami) ketika ingin mengumpuli istrinya, dia membaca doa: “Bismillah. Allaahumma jannibnaash syaithaa-na wa jannibish syaithaa-na maa razaqtanaa (Dengan (menyebut) nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan dari rezki yang Engkau anugerahkan kepada kami), kemudian jika Allah menakdirkan (lahirnya) anak dari hubungan intim tersebut, maka setan tidak akan bisa mencelakakan anak tersebut selamanya”(Muttafaqun ‘alaihi oleh Al-Bukhari dan Muslim)

Apa jadinya generasi berikut? Jika negeri ini didominasi pasangan dan keturunan hasil zina, bukan tak mungkin iftitah pidato-pidato akan berubah. "Sholawat pada nabi yang telah mengeluarkan kita dari kegelapan jahiliah menuju cahaya Islam yang terang benderang, (tapi karena kelalaian kita kini kembali gelap)."

MENIKAHLAH WAHAI ORANG-ORANG BAIK
Pada akhirnya, semua akan berujung pada satu nasihat, "Segera menikahlah, wahai orang-orang baik.". Betapa besarnya rasa syukur kami ketika Alloh memberi kesempatan untuk bertemu pasangan hidup kami, kami menikah. Kami ingin Anda juga merasakannya, merasakan menjadi bagian dari umat yang berusaha mengikuti sunnah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam. Menjaga diri dari zina, dari tidak sucinya pandangan dan kemaluan, sebuah ketenteraman luar biasa bagi kami.

Mari penuhi bumi Alloh ini dengan pasangan-pasangan baik, keturunan baik, yang mereka bercita-cita baik, beramal baik. Mari ambil bagian dari tugas kekhalifahan. Setidaknya menikah menjadi salah satu komitmen kita dalam membangun peradaban yang baik.

Karena menikah bukan dibebankan kepada yang belum menikah saja, barangsiapa yang mengetahui bahwa ada orang-orang belum menikah, mereka diperintahkan Alloh,
"Dan nikahkanlah orang-orang yang sendirian (belum menikah) diantara kamu, dan orang-orang yang layak menikah dari hamba-hamba sahayamuyang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (Pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (Surat An-Nur : 32)

Maka izinkan kami untuk selalu mengobarkan semangat para pemuda yang belum menikah agar segera menikah.

BAGI PARA AKTIVIS DAKWAH
Bagi para aktivis dakwah, da'i muda, tunjukkan komitmen Antum sebagai seorang da'i dengan menikah. Buktikan bahwa Antum tidak hanya peduli pada umat, tapi peduli juga pada diri sendiri.

Ketika dulu belum menikah, bahkan saya mengompor-ngompori beberapa ustadz TPA yang tak jua menikah. Gemes rasanya, saya belum lulus kuliah, masih sangat berat untuk menikah, mereka yang saya pandang sudah pantas menikah, kenapa tidak kunjung mengakhiri masa lajang? Mungkin kata-kata saya dulu sama dengan kata-kata sekarang, "Orang-orang baik harus segera menikah, segera punya keturunan baik, sayang jika tidak segera menikah"

Bukankah tahapan amal setelah memperbaiki diri adalah membina keluarga muslim? Bagaimana bercita-cita tentang daulah madani jika amal kita tak beranjak dari memperbaiki diri? Toh memperbaiki diri tak berhenti seketika menikah. Agar memperoleh pasangan yang baik, benar, tapi kriteria itu tak akan berujung. Tarbiyah Antum selama inilah yang telah menjadi bekal Antum. Di suatu tempat telah ditarbiyah juga seorang akhwat, persis seperti Antum.

Bukankah para sahabat ada yang masuk Islam setelah menikah? Mereka baru belajar Islam setelah sekian tahun menikah. Sekian lama Antum tarbiyah, sudah paham perintah menikah, sudah mampu, apa lagi? Apakah ingin menjadi teman syetan atau teman orang Nasrani?
Ketika salah seorang sahabat bernama Ukaf bin Wida’ah al-Hilali menemui Rasulullah saw dan mengatakan bahwa ia belum menikah, beliau bertanya, “Apakah engkau sehat dan mampu?” Ukaf menjawab, “Ya, alhamdulillah.” Rasulullah saw bersabda, “Kalau begitu, engkau termasuk teman setan. Atau engkau mungkin termasuk pendeta Nasrani dan engkau bagian dari mereka. Atau (bila) engkau termasuk bagian dari kami, maka lakukanlah seperti yang kami lakukan, dan termasuk sunnah kami adalah menikah. Orang yang paling buruk diantara kamu adalah mereka yang membujang. Orang mati yang paling hina di antara kamu adalah orang yang membujang.” Kemudian Rasulullah saw menikahkannya dengan Kultsum al-Khumairi. (HR Ibnu Atsir dan Ibnu Majah)

Apakah ingin disebut dzolim karena membiarkan bertumpuk biodata akhwat menanti diproses? Apakah ingin membiarkan para wanita baik menua tanpa kepemimpinan seorang laki-laki baik? Apakah ingin membiarkan wanita baik menikah dengan keterpaksaan, "adanya ini".

Ada sebuah ungkapan, "Jika ada laki-laki tak punya keinginan kuat untuk menikah, maka hanya ada dua kemungkinan: kelaki-lakiannya dipertanyakan atau dia ahli maksiat."

Mohon maaf atas segala khilaf, semoga ada hikmah berbuah amal yang bisa diambil dari tulisan ini. Kepada Alloh kami mohon ampun, kebenaran hanya dari-Nya, begitu juga hikmah dan hidayah. Allohu a'lam.

Kultum vs Iklan Komersil

Kultum merupakan kewajiban setiap muslim. Hak muslim satu dengan yang lain yaitu ketika dimintai nasihat, ia memberikannya. Kultum merupakan bagian dari upaya amar ma'ruf nahi munkar di tengah-tengah masyarakat. Kultum lebih ringan dari pengajian. Jika diminta memilih, mengisi pengajian atau mengisi kultum, mungkin kita lebih memilih mengisi kultum karena tidak memerlukan kemampuan berlebih.

Kultum dikenal masyarakat dengan "kuliah tujuh menit". Dalam waktu yang cukup singkat diharapkan masyarakat mudah menangkap isi pesan dari seorang penceramah. Dalam waktu yang singkat seorang penceramah ditantang untuk menyampaikan pesan sejelas mungkin. Tujuh menit menjadi sangat bermakna ketika di televisi disandingkan dengan beberapa detik harga iklan komersil.

Sebuah iklan di televisi mampu menarik simpati penonton hingga akhirnya menaikkan omset perusahaan meskipun hanya ditayangkan kurang dari satu menit. Iklan tersebut mungkin begitu berpengaruh karena berulang-ulang ditayangkan. Materi iklannya sama, bintang iklannya sama, diulang-ulang seharian, orang yang tidak peduli lama-lama jadi menaruh perhatian.

Bagaimana dengan kultum? Kultum bisa jadi sangat membosankan ketika penceramahnya sama saja setiap tahun, apalagi materinya juga itu-itu saja. Sungguh akan terasa bedanya antara penceramah yang mempunyai visi dengan penceramah yang hanya menyampaikan kultum sebatas ritual. Coba cermati gaya para penceramah di masjid Anda ketika mereka menyampaikan kultumnya.

Jika kita mengamati iklan di televisi, yang mereka lakukan adalah sebuah persuasi. Sebenarnya hal tersebut sama dengan yang dilakukan para penceramah. Lalu apa yang membedakan antara iklan dengan kultum?

Demi berubahnya perilaku konsumen dari yang tidak tertarik menjadi tertarik, dari yang sekedar tertarik akhirnya membeli, sebuah perusahaan mungkin berani menganggarkan milyaran rupiah per tahun untuk membuat iklan promosi di televisi. Mereka menyewa para artis terkenal, membuat jingle lagu, bahkan melakukan riset terhadap produk mereka terkait dengan selera konsumen dan permintaan pasar.

Demi berubahnya perilaku umat, apa yang dilakukan para penceramah? Seserius para pengiklan di televisi kah? Jika masyarakat enggan berangkat sholat berjama'ah ke masjid, pernahkah kita mengkaji alasan mereka enggan ke masjid? Kira-kira pendekatan apa yang paling tepat agar masyarakat di sekitar kita mau memakmurkan masjid? Tentu saja akan berbeda di tiap-tiap daerah.

Bulan Ramadhan merupakan primetime atau jam tayang utama bagi para penceramah untuk menampilkan iklan surga. Kultum-kultum demikian marak di masjid-masjid dan mushola. Sebuah pertanyaan kembali muncul, "Iklan yang bertubi-tubi akan membuat orang tertarik atau justru akhirnya menarik diri?"
Ibarat sebuah botol, jika diisi air yang mengalir kecil maka air akan masuk ke dalam botol dengan perlahan. Sebaliknya jika botol tersebut diisi air yang mengalir deras maka hanya akan ada sedikit air yang masuk ke dalam botol, sisanya tumpah berhamburan.

Tingkat keberhasilan para penceramah dalam menyampaikan iklan surga akan bisa kita lihat dari naik tidaknya omset masjid setelah Ramadhan. Jumlah jama'ah di masjid kita setelah Ramadhan dibandingkan ketika Ramadhan atau sebelum Ramadhan grafiknya naik atau turun? Jika grafiknya justru turun, semestinya kita perlu melakukan riset dan menyusun ulang strategi. Kalau perlu anggaran iklan ditambah agar sepanjang tahun bisa terus beriklan. Dengan iklan yang masif sepanjang tahun diharapkan konsumen semakin terngiang-ngiang akan surga hingga akhirnya tergerak untuk membeli surga.

"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka" (QS At-Taubah: 111)

Mari kita bersungguh-sungguh dalam mengiklankan surga. Tak ada ruginya sama sekali menjadi tenaga marketing Perusahaan Milik Allah. Komisi sebanding omset, bahkan berlipat-lipat, jaminan hari akhir terbebas dari adzab, jaminan masuk surga, janji kepemilikan istana di surga, belum bonus-bonus lain dari arah tak disangka-sangka.

Maka, mari perbaiki cara kultum kita agar lebih menggugah dan membuat orang berubah. Mari pastikan kebenaran nampak sebagai kebenaran dan diikuti oleh banyak orang serta kebatilan nampak sebagai kebatilan dan dijauhi oleh banyak orang.

Allohu a'lam...

Percaya Keberadaanya Tanpa Melihatnya?

Kita tahu rukun iman itu ada enam: iman pada Alloh, pada malaikat, pada kitab-kitab Alloh, pada rosul-rosul Alloh, pada hari kiamat, pada takdir baik maupun buruk.Kita mengenal dan tahu tentang keenamnya dari Al-Qur'an dan Al-Hadits. Hanya dari keduanya kita bisa memahami rukun iman secara lurus, tentunya dengan merujuk pemahaman para sahabat, tabi'in, tabi'ut tabi'in serta para ulama setelah mereka.

Alloh, malaikat, rosul, kiamat, dan takdir tak bisa kita temui langsung. Al-Qur'an satu dari kitab Alloh yang sampai saat ini masih bisa kita temui, pelajari, dan selami menjadi satu kunci nyata untuk semakin mengenal rukun iman yang lain. Kita tidak bisa hanya mengimani bahwa Al-Qur'an itu ada dan termasuk dalam rukun iman, kita perlu "melihatnya" karena memang ada dan bisa dilihat langsung.

Al-Qur'an itu mukjizat yang tak akan habis, luar biasa, sains semakin membuktikan kedahsyatan Al-Qur'an. Namun apa yang mulai menggejala? Al-Qur'an begitu dikagumi tapi tak dijadikan pedoman diri. Serupa dengan hal itu, kita begitu membanggakan manusia terbaik bernama Muhammad bin 'Abdullah, seorang nabi dan rosul akhir zaman tapi kita tak menjadikannya tauladan, tak berinisiatif meraih kesuksesan sebagaimana beliau.

Kian ke belakang Islam nampak hanya berupa simbol-simbol di berbagai tempat. Benarlah sabda Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam, “Akan datang pada manusia satu zaman, di kala itu Islam tidak tinggal melainkan namanya dan Al-Quran tidak tinggal melainkan tulisannya, mesjid-mesjid yang indah namun kosong dari petunjuk, ulamanya-ulamanya termasuk manusia paling jelek yang berada di bawah langit, karena dari mereka timbul beberapa fitnah dan akan kembali kepadanya” (HR. Baihaqi)
Ini fenomena tak terbantahkan yang harus kita sadari dan segera perlu dikoreksi. Alloh menjanjikan kemenangan, itu pasti. Kita hanya harus memantaskan diri untuk menyongsong kemenangan itu.

Islam mulai luntur dari kehidupan kita perlahan-lahan. Syariat Islam berubah menjadi hanya nilai-nilai dan prinsip islam. Jihad Qital hanya dimaknai bersungguh-sungguh.. Jilbab kain direduksi menjadi jilbab hati, pemikiran yang nampaknya islami tapi sama sekali bukan bagian dari Islam. Kenyataan diganti pendapat dan pandangan. Fiqh yang seharusnya menurut Rosululloh, diganti menurut saya.

Dalam bidang muamalah, alat tukar yang seharusnya berupa komoditi diganti kertas berjamin (baca: uang kertas). Semakin lama uang kertas pun lantas digantikan angka-angka di layar komputer. Adanya hanya diyakini, tak butuh dilihat.
"Saya punya uang Rp 100.000.000,00!"
"Mana?"
"Ini buku rekening bank saya"
"Itu kan hanya angka?"

So, mari kita hidup di dunia nyata, beriman dan beramal sholih secara nyata.

Allohu a'lam bishshowab...