Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hadits. Tampilkan semua postingan

Dosis Kebaikan

 Dosis Kebaikan


Oleh Akhid Nur Setiawan


"Nambah satu halaman lagi ya Mas."

"Nggak Tadz, satu halaman aja. Nggak boleh sama ibuku."

"Nggak boleh kenapa Mas, takut stress ya?"

"Iya. Nanti ndak stress. Aku sehari cuma boleh satu halaman sama ibuku. Nanti ndak kaya temenku. Temenku di rumah itu dia stress kebanyakan tugas sekolah."


Anak itu bacaannya bagus, lancar, tartil. Jika ada kesalahan bacaan ia langsung "ngeh" saat dikoreksi. Anehnya, ia tidak pernah mau membaca lebih dari satu halaman dalam sehari. Dua kali pernah dipaksa gurunya, dua kali juga ia berhenti membaca di baris pertama.


Sebagaimana obat, membaca Al Quran juga ada dosisnya. Ada muslim yang menikmati khatam sebulan sekali. Ada juga di antara mereka yang mampu khatam sepekan sekali. Bahkan ada ahlul quran yang khatam setiap hari di bulan Ramadhan. Bagi pemula, sehari bisa membaca satu atau setengah halaman tentu sudah sangat membahagiakan.


Seorang anak balita diberi makan sesuap-sesuap. Suapan mereka dengan suapan orang dewasa tentu tidak sama. Lembut kerasnya makanan juga berbeda untuk tiap tahapan usia. Orang dewasa umumnya bisa makan sendiri. Porsi yang harus dihabiskan juga sudah ia kenali.


Kondisi orang sakit mengharuskan ia mendapatkan asupan diet khusus. Sama-sama orang sakit pun diet nya bisa berbeda. Tak hanya tentang makan, dalam minum seorang muslim juga dianjurkan meminum air seteguk demi seteguk. Seseorang yang tergesa makan atau minum bisa tersedak bahkan muntah.


Inilah yang diinginkan syetan: orang-orang yang beramal sholih memuntahkan kembali amalnya karena salah dosis. Untuk memalingkan seorang mukmin dari kebaikan, syetan tak melulu mengajak kepada keburukan atau memberi buaian kemalasan. Terkadang syetan justru membisikkan kepada manusia agar segera menambah takaran kebaikan yang ia kerjakan. Ketika dengan lugu ia mengikuti ajakan syetan itu, ia akan mengalami overdosis. Setelah itu kemungkinan yang terjadi padanya ialah keberpalingan secara total dari kebaikan yang sedang coba ia dawamkan.


Seorang muslim dipanas-panasi dengan ketidakpuasan terhadap amal yang sedikit. Dipoles oleh syetan seakan-akan amalnya kurang banyak, kurang hebat, kurang wah, di bawah standar, hanya standar, tidak menonjol, dan sebagainya. Ia lupa bahwa taufiq Allah yang dikaruniakan kepadanya sehingga bisa beramal sedikit itu jauh lebih layak disyukuri daripada mengejar jumlah amal yang fantastis.


Amal dahsyat yang tidak sesuai dosis bisa menjadi kesempatan bagi syetan untuk melakukan tackling. Dalam kecepatan tinggi, benturan kecil bisa membuat seseorang jatuh terpental lebih jauh dibanding saat ia berkecepatan normal. Maka, nikmatilah amal sesuap demi sesuap. Sabarlah dalam ketaatan selangkah demi selangkah. Biarkan syetan gigit jari melihat hamba Allah melaksanakan perintah Nabi, ”Wahai sekalian manusia, lakukanlah amalan sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang ajeg walaupun sedikit.”

Hukuman Terbaik untuk Anak agar Menjadi Sholih

HUKUMAN ANAK SHOLIH

Oleh Akhid Nur Setiawan


Bagi para guru, hukuman menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pendidikan. Bersanding dengan pemberian penghargaan yang bisa menguatkan lekatan nilai kebaikan pada diri murid, hukuman bisa menjadi terapi untuk mengatasi penyimpangan atau memancing perubahan diri agar menjadi lebih baik. Keduanya harus diberikan secara proporsional, adil dan berimbang.


Pelajaran yang menyenangkan lebih mudah diingat murid daripada pelajaran yang horor. Guru killer membuat murid enggan menikmati pelajaran yang disampaikannya. Meskipun begitu, ketertarikan murid pada hadiah atau kebaikan seorang guru tidak boleh mengalahkan ketertarikan murid pada ilmu. Begitu pula ketidaknyamanan murid pada guru tidak boleh menghalanginya dari mendaras ilmu yang diajarkan guru.


Hukuman yang diberikan guru sebisa mungkin menghindarkan murid dari "main aman", rasa ketakutan, pandai beralasan, adiksi kebohongan, pengkambinghitaman, dan tumbuhnya kebencian. Hukuman diberikan agar menjadi pelecut semangat murid dan memberikan efek taubat. Cerahnya masa depan murid bisa jadi dimulai dari pengalamannya mendapatkan hukuman.


Murid-murid berperasaan halus akan menyadari bahwa tatapan mata guru yang berbeda dari biasanya bisa bermakna teguran. Menurut mereka, guru diam tanda marah, ada yang salah, dan sebagainya. Murid berhati bebal mungkin tidak merasa telah berbuat salah sekalipun sampai dilempar dengan penghapus atau dijewer telinganya.


Hukuman untuk murid sekolah dasar tentu berbeda dengan hukuman untuk mahasiswa pascasarjana. Sebagaimana Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam membedakan hukuman untuk orang-orang beriman dengan orang-orang munafik ketika peristiwa Perang Tabuk, teguran untuk muslim Badui dengan muslim Madinah pun berbeda. Sikap arif dan bijak perlu diterapkan saat memberi hukuman pada murid.


Hukuman harus dimaknai sebagai bukti cinta guru kepada murid. Tak dimungkiri bahwa hukuman juga merupakan salah satu metode tarbiyah. Bahkan para penuntut ilmu lazim menganggap marahnya guru sebagai bagian dari barokah yang akan membuahkan kebermanfaatan ilmu di kemudian hari.


Meskipun demikian, jangan coba-coba memancing kemarahan seorang guru. Jika sampai guru mencabut ridhonya, ilmu yang sudah diterima seorang murid bisa menguap tak berbekas. Hal ini juga berlaku bagi orang tua atau wali murid yang telah memberikan kepercayaan kepada guru untuk menangani sebagian proses pendidikan anaknya.


Sabar, baik sangka, lemah lembut, dan minta maaflah apabila guru marah, apalagi kalau sampai memberi hukuman. Jika tidak paham alasan hukuman itu diberikan, istighfarlah. Jika sudah istighfar tapi belum paham juga, tambahlah istighfarnya. Jika masih belum paham, ambillah air untuk wudhu. Jika tetap belum paham, ambil wudhu lagi yang sempurna lalu kerjakan shalat dua rakaat, lanjutkan dengan istighfar.


Para penuntut ilmu dan orang tua atau wali murid hendaknya senantiasa memegang nasihat Imam Asy Syafi'i berikut ini:


“Bersabarlah terhadap kerasnya sikap seorang guru. Sesungguhnya gagalnya menuntut ilmu itu tersebab memusuhi (guru) nya”


Dari sekian banyak jenis hukuman, guru bisa menghukum murid dengan meminta mereka membaca doa untuk kedua orang tua. Apa keistimewaan hukuman itu? Saat membaca doa untuk kedua orang tua, seketika itu juga murid terhukum layak menjadi murid yang sholih.


Bukankah amal yang tidak putus pahalanya setelah kematian seseorang salah satunya berupa anak sholih yang berdoa untuknya? Dengan kata lain, anak sholih selalu mendoakan orang tuanya dan hanya anak yang sholih yang mau mendoakan orang tua. Sholih dan mendoakan orang tua bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan.


Anak yang mendoakan orang tuanya otomatis memenuhi kriteria sholih karena anak sholih pasti mendoakan orang tua. Murid dihukum biasanya karena sedang berkurang kadar sholihnya. Jika ingin meningkatkan kadar kesalehan murid, ajak mereka banyak-banyak berdoa untuk kedua orang tua.


"Ya Allah, ampunilah aku dan kedua orang tuaku. Dan kasihilah keduanya sebagaimana mereka mendidikku sewaktu aku kecil"

Golek Geni Nggowo Oncor

Ketika kompor gas dengan dapur belum seakrab sekarang, di antara kita atau orang tua kita mungkin ada yang pernah mengalami kehabisan korek api ketika hendak memasak lalu harus meminta api kepada tetangga. Di pagi buta seorang ibu mengetok pintu dapur tetangganya sambil membawa segenggam blarak kering. Biasanya blarak didapat dari daun kelapa yang jatuh. Blarak itu dimasukkannya ke dalam tungku tetangga yang apinya menyala.

Jika blarak sudah tersulut api, sang ibu akan membalik posisi blarak yang terbakar menjadi berada di bawah agar api bisa membesar. Ibu itu akan bersegera pulang menuju tungku di dapurnya. Dimasukkanlah blarak yang membawa api itu ke dalam tungku yang sebelumnya sudah diberi sabut kelapa dan kayu-kayu kecil.

Coba kita telusuri jalan perjuangan ibu itu untuk bisa memasak. Ibu itu telah berjuang untuk bangun lebih pagi dari anggota keluarga yang lain. Ia ingin berjuang untuk memasakkan sarapan pagi bagi seisi rumah.

Sang ibu berjuang meracik bumbu dan bahan-bahan yang akan diolah setelah sehari sebelumnya membelinya di pasar atau memanennya di kebun. Ia berjuang menyiapkan tungku dengan sabut kelapa sekalipun apinya belum ada. Ia pun berjuang mencari api dengan membawa blarak yang ia punya. Ia berjuang melawan rasa tidak enak pada tetangga dengan mengetuk pintu dapurnya.

Ia berjuang menyalakan api dan menjaganya sepanjang jalan hingga tungkunya sendiri ikut menyala. Oncor blarak tidak menyala dalam waktu lama. Ia pun berjuang menyemprong tungku agar api bisa tetap menyala. Setelah api menyala, barulah akan dimulai perjuangan yang sesungguhnya.

Untuk bisa menjalani sesuatu yang besar kita perlu menjalani banyak langkah kecil dengan sabar. Untuk bisa benar-benar berjuang kita perlu banyak belajar berjuang. Setiap tapak perjuangan selalu menjadi pijakan untuk tapak perjuangan berikutnya.

Di Madinah Imam Malik diam-diam mengetahui bahwa ternyata salah satu muridnya telah hafal Al Muwatho' sebelum berguru padanya. Sang murid berusaha mempersiapkan diri dengan hafalan sebelum mempelajari penjelasan atas kitab yang ditulis oleh gurunya. Murid itu kelak terkenal dengan sebutan Imam Asy Syafi'i.

Mencari ilmu itu butuh ilmu. Mau menuntut ilmu harus berbekal. Siapkanlah apa saja yang kita mampu hingga semakin dimampukan. Golek banyu apikulan warih, golek geni adedamar.

MENUNGGU GURU

Seorang santri duduk sendiri di baris belakang mushala dekat pintu masuk. Ia menunggu kiainya yang sedang menyelesaikan wirid. Ia memiliki pertanyaan penting yang ingin ditanyakan kepada sang kiai. Santri itu baru mendekat kepada sang kiai saat tanpa berbalik badan sang kiai memanggilnya.

Kejadian serupa pernah saya alami. Saya mendatangi salah satu guru saya di kantornya. Saya menunggu guru saya di luar kantor dengan harapan guru saya sudah selesai urusannya lalu bersedia menemui saya. Saya sudah membuat janji untuk bertemu beliau sebelumnya.

Seseorang datang dan bertanya pada saya, "Mau ketemu siapa?"
"Mau ketemu ustadz."
"Sudah janjian belum?"
"Sudah."
"Jam berapa janjiannya?"
"Pagi."
"Kalau janjian itu dipastikan jamnya!"
"Nggih. Saya tunggu saja."

Seketika saya merasa bingung. Apakah salah jika saya menunggu dan membiarkan guru saya menyelesaikan urusannya lalu baru bertemu dengan saya saat waktunya luang? Apakah kepada ustadz saya boleh meminta cepat atau memaksanya hadir pada jam yang tepat? Oh, mungkin saya salah menempatkan diri karena saya sedang berada di lingkungan industri, bukan sedang menjadi santri. Begitu saja saya berpikir waktu itu.

Lama sekali saya berusaha mencari pembenaran atas kata-kata orang itu. Bagi saya, memandang rumah guru tanpa melanjutkan niat bertemu dengannya itu terkadang sudah menjadi jawaban tersendiri atas pertanyaan yang rencananya ingin saya tanyakan pada guru saya. Mungkin terlalu aneh ya? Terlalu menunggu kesempatan, tidak menciptakan momentum? Entahlah, menurut saya menunggu guru itu bagian dari adab.

Bertemu dengan guru, bercakap-cakap, bertanya, berkesempatan menimba ilmu, menurut saya semua itu sama misterinya dengan perkara jodoh. Saya sangat bersyukur ketika Allah mempertemukan saya dengan seorang guru karena barangkali ada ilmu yang tak akan pernah bisa saya pahami dari salah seorang guru namun mudah tersingkap begitu saja saat bertemu dengan seorang guru yang lain. Kata salah satu guru saya, "Sesungguhnya tidak ada yang namaya murid bodoh. Dia hanya belum bertemu dengan guru yang tepat."
Saya tambahkan, "atau waktunya belum tepat," sebagaimana Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir 'alaihimassalaam.

Saya pun teringat kisah Sunan Kalijaga. Beliau diminta menunggu gurunya kembali ke tempat mereka bertemu sampai seluruh tubuh Sunan Kalijaga dipenuhi lumut di pinggir sungai. Syaikh Abdulqadir AlJilani juga harus menetap di bantaran sungai tepi kota Baghdad sebelum akhirnya diizinkan bertemu dan bermulazamah dengan gurunya. Menunggu guru itu bagian dari tarbiyah ilahiyah, masih menurut saya.

Dengan berkembangnya metode pembelajaran jarak jauh, semoga tidak melunturkan adab para penuntut ilmu dalam memuliakan guru. Kesempatan untuk berkomunikasi dengan guru melalui jalur pribadi yang bisa dilakukan sewaktu-waktu tak boleh menafikan bahwa guru memiliki privasi yang merupakan bagian dari adab untuk dihormati. Jangan sampai ilmu kita terhalang untuk masuk ke dalam sanubari hanya karena guru yang tidak ridho tersebab kita terlalu menuntut cepat hingga guru kita tak punya cukup waktu untuk beristirahat atau menjadi terhambat memenuhi hajat.

Abu ‘Ubaid Al Qosim bin Salam berkata, “Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,
'Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (Al Hujurat: 5)

"Sholat Jum'at Dulu Biar Tambah Ganteng" Ternyata Ada Dalilnya

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’” (HR. Muslim)

Meme "Sholat Jumat dulu biar tambah ganteng" yang populer dipakai sebagai DP BBM para pria menjelang sholat Jumat mengingatkan para lelaki bahwa kini saatnya sholat Jumat. Hentikan aktivitas! Hentikan jual beli! Mari pergi ke masjid agar Alloh ridho, agar masuk surga. Di surga nanti tiap Jumat ada pasar, laki-laki yang pergi ke pasar itu pulangnya nambah ganteng.

Dalam surat Al-Jumu'ah Alloh berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Jumu'ah: 9)

Ya! Jika kita mengetahui, benarlah firman Alloh. Mungkin benar juga yang dimaksud meme "Sholat Jumat dulu biar tambah ganteng". Kelak orang-orang yang meninggalkan jual beli untuk bersegera menuju masjid menunaikan sholat Jumat akan diberikan pasar yang jauh lebih baik di surga. Di pasar itu cowok-cowok keren jadi tambah keren saat kembali ke rumah bertemu istri-istri mereka yang juga nambah cantik setelah ditinggal suami mereka ke pasar.

So, masih ragu kalau sholat Jumat bisa bikin tambah ganteng? Ayo rajin berangkat sholat Jumat sob!

Allohu a'lam...

Malaikat Menampakkan Diri Sebagai Pengemis


Bukhari-Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka malaikat.

Pertama-tama datanglah malaikat itu kepada si penderita lepra dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.' Maka diusap-usaplah penderita lepra itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya, serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Unta dan sapi.' Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.' Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikatpun bertanya lagi kepadanya, 'Kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Sapi atau Unta.' Maka diberilah ia seekor sampi bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.'

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatan-ku sehingga aku dapat melihat orang-orang.' Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Kambing.' Maka diberilah seekor kambing bunting.

Waktu berselang, maka berkembang biaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga orang pertama mempunyai selembah unta, orang kedua mempunyai selembah sapi, dan orang ketiga mempunyai selembah kambing.

Kemudian datanglah malaikat itu lagi kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya dan berkata, 'Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizqi) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor onta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Tetapi dijawab, 'Hak-hak (tanggunganku) banyak.' Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata, 'Sepertinya aku mengenal anda. Bukankah anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?' Dia malah menjawab, 'Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.' Maka malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.'

Lalu malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan semula.'

Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, 'Aku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalanan ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Orang itu menjawab, 'Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang anda sukai dan tinggalkan apa yang anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.' Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, 'Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.'"

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab hadits tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di kalangan Bani Israil (6/500 no. 3464). Dan Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitabul Iman wan Nudzur, (11/540), no. 6653.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabuz Zuhd war Raqaiq (4/2275), no. 2964. Hadis ini dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 18/398.

Keluarga Ideologis

Selasa 22 April 2014 saya mengantar bapak dan ibu mertua saya ke komplek Kementrian Agama Kabupaten Sleman. Siang itu diadakan acara pengukuhan juara Keluarga Sakinah Teladan tingkat kabupaten Sleman. Mertua saya mewakili kecamatan Cangkringan hingga akhirnya menjadi tiga besar se-Sleman. Dari seleksi administrasi, wawancara, sampai penilaian kunjungan rumah menempatkan mertua saya pada perolehan nilai tiga besar tertinggi.

Hari sebelumnya tanggal 21 April 2014 ramai dibincangkan orang sebagai Hari Kartini. Di berbagai media muncul nuansa wanita dan ibu dikemas menjadi berita menarik terkait peranan wanita dan emansipasi. Hari itu teman sekantor saya mencari model untuk ditampilkan dalam salah satu marketing tools. "Saya butuh keluarga muslim untuk dijadikan model cover produk"

Tanpa panjang saya menimpali, "Keluarga biologis atau keluarga ideologis?

Hari sebelumnya dalam sebuah grup chatting yang saya ikuti muncul sedikit sentimen bujang-berkeluarga-anak. Saya menutup topik pembicaraan itu dengan pernyataan, "Anak biologis maupun ideologis"

Terminologi biologis dan ideologis (baca : agamis, Islami) saya ambil untuk membuka cakrawala pandang kita mengenai pengertian keluarga dan anak. Bahwa ada keluarga serta anak biologis, ada keluarga serta anak ideologis, akan kita bahas bersama. Apa maksud penggunaan istilah biologis dan ideologis?

Nabi Nuh, Luth, Ibrahim, Ismail, Muhammad 'alaihimussholatu wassallam akan menjadi model kita dalam memahami makna biologis dan ideologis. Saya kira sebagian besar dari kita telah memahami bagaimana istri dan anak kandung nabi Nuh tidak berada di pihak sang suami ketika diuji oleh Alloh. Begitu pula istri nabi Luth justru menentang sang suami. Keluarga nabi Ibrahim berbeda dengan sang ayah namun keturunannya ke bawah menjadi tauladan kita betapa sebuah keluarga bisa sangat kompak menaati Alloh, juga keluarga nabi Ismail dan seterusnya hingga ditutup kisah dahsyat nabi Muhammad.

Benar bahwa sebuah keluarga kelak akan bisa berkumpul di surga namun bagaimana dengan istri, anak, orang tua, dan keluarga para nabi yang ternyata tidak seideologi dengan sang nabi? Di sinilah berlaku firman Alloh "Harta dan keturunan tidak bermanfaat". Jika maut memisahkan sebuah keluarga dalam keadaan berbeda ideologi, niscaya di akhirat mereka tidak akan bertemu.

Rosululloh bersabda dan benarlah sabda beliau, "Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah umatku dibanding nabi-nabi lain di akhirat kelak." Begitu sabda beliau atau sebagaimana beliau bersabda, mari kita endapkan. Ada beberapa clue agar tidak sempit kita memaknai kata-kata. Semoga ini bukan cara memahami hadits secara asal-asalan. Saya hanya ingin membuka wawasan agar tak ada yang berpotensi terpojokkan.

Pertama, NIKAH, lalu wanita penyayang, ketiga banyak anak, terakhir banyaknya jumlah umat Muhammad menjadi clue hadits tersebut menurut saya. Ide utama kalimat hadits tersebut bukanlah nikah, wanita penyayang, maupun banyak anak, namun jumlah umat Muhammad. Kembali merujuk kepada kisah para nabi, ternyata pernikahan, keluarga, keturunan, anak dan sifat baik tidak menjadi jaminan kebersamaan suami istri atau sebuah keluarga di akhirat. Dengan kata lain itu semua bukan faktor penentu "menambah jumlah", namun bisa jadi sangat menentukan. Mohon diluruskan jika saya salah. Saya akan membahas satu per satu clue di atas.

1. Nikah
Pernikahan menjadi ibadah atau sunnah yang menyempurnakan separuh agama. Luar biasa keutamaan orang yang menikah semestinya menarik minat para lajang untuk bersegera dan berjuang mati-matian menuju pernikahan. Bersyukurlah mereka yang telah menikah.

Kita ingat kembali main goal yang dipesankan oleh Nabi, jangan sampai main goal ini luput. Target utama dari pernikahan dalam hadits yang kita bahas ialah banyaknya jumlah umat Muhammad, kita catat itu. Pernikahan merupakan salah satu sarana mencapai target itu. Jadikan ia washilah semata.

Dengan persepsi bahwa pernikahan semata washilah, tak ada alasan bagi pemuda dan pemudi yang belum menikah untuk tidak "menambah jumlah". Adapun jika sudah mampu menjemput takdir pernikahan, itu jauh lebih baik insyaalloh. Cara pandang ini insyaalloh akan menyederhanakan geliat hati mereka yang masih dalam masa penantian menjemput atau dijemput.

2. Wanita penyayang
Al-waduud yang bermakna penyayang mewakili sifat-sifat baik sebagai prasyarat seseorang untuk menghadirkan "penambahan jumlah". Sifat ini tidak hanya melekat pada seorang wanita, pria pun sangat mungkin memiliki sifat waduud. Dengan sifat penyayang tentu menyertainya sifat sabar, azam, visioner, dan tekun. Sifat-sifat ini mutlak dimiliki seorang aktivis "penambah jumlah".

Wanita penyayang sangat ideal dinikahi (untuk menambah jumlah). Tabiat dasar wanita ialah penyayang, jika saat ini bermunculan wanita-wanita tak sesuai fitrah, barangkali ini efek kumulatif berbagai program "pengurangan jumlah". Seorang sahabat pernah diinterupsi oleh Rosululloh ketika sahabat tersebut hendak menikahi seorang janda. "Kenapa tidak dengan gadis?"

"Keluarga saya rata-rata bertabiat keras, saya butuh wanita seperti dia untuk mengimbangi dan melunakkan."

Nampak betul keinginan sang sahabat melakukan taghyir penambahan jumlah. Bukan sekedar kesenangan duniawi atau hitung-hitungan jumlah matematis. Sifat lembut sekali lagi hanya sarana untuk "menambah jumlah". Pria maupun wanita amat pantas memiliki sifat waduud.

3. Banyak anak
Ketika sepintas membaca hadits yang kita bahas mungkin orang langsung mengerucutkan topik pada bab nikah sub bab kriteria calon pasangan ideal. Jika tidak, orang akan mengarahkan pembahasan pada keutamaan menikah dan banyak anak. Tak salah memang kedua pandangan itu namun saya berusaha mengendapkan lalu menarik garis bawah pada kata "banyaknya jumlah umat Muhammad". Frasa tersebut bukan sekedar artifisial pelengkap kalimat tentang banyak anak namun justru menjadi pokok kalimat yang melatarbelakangi kalimat tentang banyak anak.

Logika sederhananya tentu jika banyak anak dan terdidik dengan baik maka jumlah umat Muhammad semakin banyak. Dengan menikahi wanita yang banyak anak satu washilah teroptimalkan. Raw material telah siap tersedia untuk diolah.

Pertanyaan yang muncul, "Bagaimana cara mengetahui bahwa seorang wanita banyak anak?"

Jawaban mudah dan sangat kasat mata, "Nikahilah janda yang banyak anaknya"

Luar biasa heroik andai kita benar-benar terobsesi "menambah jumlah" lalu menikahi janda-janda beranak banyak. Tengoklah Rosululloh, tercatat hanya 'Aisyah rodhiyallohu 'anha yang dinikahinya dalam kondisi masih gadis. Tak perlu bersusah payah menunggu, bahan baku penambah jumlah telah siap olah. Apalagi jika janda itu penyayang, pastilah anak-anaknya merupakan bahan baku pilihan.

Ingat, para nabi pun tak bisa menjamin kesamaan ideologi para putra kandung mereka. Putra tiri seideologi akan lebih menambah jumlah daripada putra kandung tak seideologi. Hubungan darah hanya sarana agar upaya penambahan jumlah menjadi lebih natural.

Sejenak kita simak kisah nabi Ibrahim yang akhirnya beliau menikah untuk kedua kali dengan salah satu latar belakangnya yaitu ketiadakunjungan hadirnya putra. Beliau berikhtiar menikah lagi atas saran sang istri hingga akhirnya setelah istri kedua melahirkan Ismail disusul istri pertama melahirkan Ishaq. Seakan Alloh ingin menunjukkan pada kita bahwa keturunan dan anak adalah sama ghoib misteriusnya dengan perihal jodoh. Menanti kepastian keturunan sama dengan menanti kepastian jodoh dan pernikahan.

Mari terbang ke Palestina dan ke beberapa negeri konflik yang saya juga belum pernah ke sana. Konon di sana penambahan jumlah mujahid ialah dengan mengusahakan kelahiran sebanyak mungkin. Angka pernikahan dan kelahiran ditingkatkan. Di wilayah-wilayah inilah perintah memaksimalkan jumlah dua tiga dan empat barangkali menjadi wajib.

Di negeri hidden conflict seperti Indonesia strategi penambahan jumlah (dengan menambah) anak dan pernikahan sama masyru'. Ada kesamaan syariat meskipun karakter antarnegeri berbeda-beda. Disyariatkan pria menikahi dua tiga empat atau satu saja wanita yang disukainya. Bukan, bukan sekedar jumlah anak biologis yang menjadi tujuan pernikahan pertama kedua dan seterusnya.

Sangat manusiawi dan merupakan solusi syar'i apa yang dicontohkan nabi Ibrahim. Ketika bersama istri pertama tak kunjung berputra beliau menikahi istri kedua. Sekali lagi bukan sekedar anak biologis harapannya. Simak saja doa-doa beliau dalam Al-Quran, bukan doa pribadi. Bahkan beliau berdoa menembus generasi hingga dikabulkan doa beliau oleh Alloh beribu tahun kemudian dengan lahirnya Muhammad.

Ada banyak manusia lain yang juga telah renta namun tetap dikaruniai putra oleh Alloh. Siti Maryam tak menikah namun dikaruniai putra oleh Alloh. Semuanya menjadi cara Alloh menegakkan eksistensi dan menambah jumlah khalifah di muka bumi.

Lagi-lagi perkara anak menjadi urusan Alloh. Bukan wilayah kita menentukan berapa jumlah anak. Hanya ikhtiar manusiawi yang bisa kita lakukan. Tinggal bagaimana kita mengisi kertas-kertas putih karunia Alloh menjadi kertas warna-warni Ilahiyah.

Kalaupun harus menunggu kehadiran anak biologis, hal itu bukanlah berarti "penambahan jumlah" tidak bisa terjadi dalam masa menunggu. Logika penambahan jumlah anak biologis ialah logika matematis sederhana tentang deret ukur. Tanpa penambahan faktor luar, faktor internal saling dikalikan menjadi berlipat-lipat.

Penambahan jumlah bisa melalui deret ukur maupun deret hitung. Deret hitung memungkinkan penambahan jumlah dari luar. Kita mengenalnya dengan istilah rekruitmen. Deret ukur yang merupakan perkalian internal kita kenal sebagai kaderisasi. Efek deret ukur memang jauh lebih berlipat dari deret hitung, wajar saja karena prosesnya juga lebih berat. Dengan menggabungkan deret hitung dan deret ukur insyaalloh penambahan jumlah akan signifikan.

Tak sedikit orang-orang sholih ditakdirkan berada dalam kondisi menunggu hadirnya seorang Ishaq. Ketika pilihan mengarah pada jalan nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, bukan peristiwa mudah bagi banyak orang. Tidak mudah menerima pilihan itu bagi suami maupun istri, terlebih keluarga besar dan lingkungan sekitar.

Hadirnya Ismail dan Ishaq menjadi sebentuk reward Alloh atas cinta mereka kepada Alloh yang melebihi cinta mereka kepada selain-Nya. Selama ini banyak kalangan menyudutkan pria dalam bab ta'adud. Tidakkah terbayang dalam benak kita bahwa suami istri yang memilih jalan itu sama-sama merasakan berat? Hingga mereka lebih mencintai Alloh, Rosul dan Jihad, mereka terus berusaha mengolah cinta kepada pasangan menjadi sebentuk ketaatan. Jika harus direndahkan mereka akan merendah tunduk pada ketentuan Alloh dan Rosul-Nya. Yang ada dalam dasar hati mereka bukan semata-mata kesenangan dan kehadiran anak.

Sangat manusiawi seorang anak manusia merindu hadirnya dzurriyyah yang menyejukkan hati. Akan tetapi itu bukan tujuan utama sebuah pernikahan. Bisa disimpulkan bahwa ending dari semuanya ialah banyaknya jumlah umat Muhammad, bukan banyaknya jumlah istri atau anak. Begitu pentingnya anak ideologis, sampai-sampai nabi Ya'qub kembali harus memastikan ideologi anak-anaknya menjelang beliau wafat. "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

4. Jumlah umat Muhammad
Semacam penutup pembahasan kita, kita kembali mengingat keinginan Rosululloh membanggakan jumlah umatnya yang lebih banyak dibanding nabi-nabi lain di akhirat kelak. Semua clue menjadi sunnah tak terbantahkan. Sebisa mungkin seluruh sabda nabi kita iyakan dan kita amalkan.

Dari semua yang bisa kita upayakan ada hal-hal di luar kendali yang tidak bisa kita pastikan untuk mencapai goal "banyaknya jumlah umat Muhammad". Pernikahan dan anak menjadi misteri dan rahasia Alloh tersendiri. Kasih sayang dan "penambahan jumlah" menjadi wilayah ikhtiari yang bisa diusahakan sesiapa saja tanpa melihat status berkeluarga atau belum, berputra atau belum.

Dari uraian panjang kita semoga kita bisa memposisikan lebih jernih apa itu keluarga dan anak biologis, apa itu keluarga dan anak ideologis. Keduanya (biologis dan ideologis) menjadi elemen penting dalam upaya "penambahan jumlah umat Muhammad" namun yang jauh lebih penting ialah elemen ideologis. Sedekat apapun hubungan darah, ideologi yang akan menyatukan atau memisahkan mereka di akhirat.

Allohu a'lam...

Tiga Macam Penghafal Al-Qur'an

Al-Hasan bin Ali berkata, "Penghafal Al-Qur'an ada tiga macam: Pertama, seorang yang baik bacaan dan suaranya lalu pergi dari satu kota ke kota lain untuk memperoleh imbalan dari orang-orang. "Penghafal Al Qur'an ada tiga macam. Pertama, seorang yang baik bacaan dan suaranya lalu pergi dari satu kota ke kota lain untuk memperoleh imbalan dari orang-orang. Kedua, seorang yang hafal huruf-hurufnya tetapi menyia-nyiakan hukum-hukumnya, mencari simpati penguasa dan mencari popularitas. Ketiga, mengerti maknanya, memeliharanya, mengamalkannya untuk berdakwah dan beribadah. Yang inilah sebaik-baik penghafal Al Qur'an."

Al-Qur'an adalah seperti manual book dalam kita menjalani kehidupan di dunia agar tak menyesal di akhirat. Tak hanya bacaan, tak hanya keajaiban, Al-Qur'an meliputi segala ilmu. Ilmu Al-Qur'an harus kita pahami, amalkan, dan dakwahkan. Semestinya para pengajar itu hafal. Semestinya para penghafal itu mengajar.

Jika hanya dunia yang kita cari, kita hanya akan mendapatkan dunia, bahkan tidak sama sekali. Jika kita mencari akhirat, insyaalloh dunia akhirat akan kita dapatkan.

Dalam Kitab al-Imarah Imam Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Sesungguhnya golongan pertama manusia yang akan diadili pada hari kiamat ada tiga.

Di antaranya adalah seorang lelaki yang mati dalam upaya mencari kesyahidan. Dia didatangkan dan ditunjukkan kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang sekiranya akan dia peroleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Aku telah berperang di jalan-Mu sampai akhirnya aku mati syahid.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu berperang demi mendapatkan julukan sebagai orang yang gagah berani, dan hal itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.

Kemudian, ada seorang lelaki yang suka mempelajari ilmu dan mengajarkannya, serta pandai membaca al-Qur’an. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kepadanya kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh karena amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Di menjawab, ‘Aku telah mempelajari ilmu, mengajarkannya, dan membaca al-Qur’an untuk-Mu.’ Allah mengatakan, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu mempelajari ilmu demi mendapatkan sebutan sebagai orang yang berilmu, dan kamu membaca al-Qur’an agar disebut sebagai ahli baca al-Qur’an. Dan sebutan itu telah kamu dapatkan.’ Lantas orang itu diseret oleh malaikat dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.

Berikutnya, seorang lelaki yang Allah lapangkan untuknya harta dan Allah berikan kepadanya berbagai jenis kekayaan. Dia pun didatangkan. Ditunjukkanlah kenikmatan-kenikmatan yang akan diperoleh dengan sebab amalnya, maka dia pun mengetahuinya. Allah bertanya, ‘Apa yang sudah kamu kerjakan untuk mendapatkannya?’. Dia menjawab, ‘Tidak pernah aku lewatkan satu perkara pun yang Engkau sukai untuk aku berinfak kepadanya, melainkan aku pasti telah menginfakkan hartaku padanya karena-Mu.’ Allah berkata, ‘Dusta kamu. Sebenarnya kamu lakukan itu agar kamu disebut sebagai dermawan, dan hal itu telah kamu dapatkan. Kemudian orang itu pun diseret dalam keadaan tertelungkup di atas wajahnya hingga akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.” (HR. Muslim [1905], lihat Syarh Muslim [6/531-532])

Dinar dan Dirham

Apakah Dinar itu? Apakah Dirham itu? 
Dinar adalah adalah koin emas seberat 4,25 gram, berkadar 22 karat (91,7%).
Dirham adalah koin perak murni seberat 2,975 gram (99,95%).
Standar ini mengikuti ketentuan WIM (World Islamic Mint), sesuai dengan ketetapan dari Rasulullah SAW yang dikukuhkan oleh Khilafah Umar Ibn Khattab. Dinar dan Dirham di Indonesia dicetak di bawah otoritas Amirat Indonesia dan WIM (World Islamic Mint) serta didistribusikan oleh jaringan WIN (Wakala Induk Nusantara).

Apa kegunaan Dinar dan Dirham?
 
1. Sebagai alat bayar zakat
Nisab zakat mal adalah : dari 20 dinar zakatnya 1/2 dinar dan dari 200 dirham zakatnya 5 dirham. Ulama terdahulu melarang pembayaran zakat dengan dayn (kuitansi, bukti hutang). Zakat harus dibayarkan dalam bentuk 'ayn (komoditas, harta nyata). Syaikh Muhammad Illys, Mufti Al-Azhar, mewakili posisi madzhab Maliki secara tegas mengharamkan uang kertas sebagai alat pembayar zakat.
 
2. Sebagai sedekah
"Timbanglah rambut Husain dan bersedekahlah dengan berat rambut tersebut dengan perah (Dirham) dan berikanlah kaki aqiqah pada suatu kaum." (HR Baihaqi dari Ali bin Abi Thalib)

3. Sebagai alat barter syari'ah sukarela

Dinar dan Dirham adalah alat berter syari'ah sukarela. Bila ada keridhoan antara pemilik barang dibarter dengan Dinar atau Dirham maka barter itu adalah suatu yang baik dalam bermuamalah (QS An-Nisaa: 29)

4. Sebagai tabungan (lindung nilai)
"Akan datang masa ketika tidak ada lagi yang dapat dibelanjakan (karena tak bernilai) kecuali Dinar dan Dirham." (HR Ahmad)

5. Sebagai mahar
Rasulullah SAW memberikan mahar dalam Dirham kepada 'Aisyah.
 
6. Dan lain-lain

Apa keuntungan menggunakan Dinar dan Dirham?
Selain untuk membayar zakat dan sebagai alat tukar (barter) sukarela yang sesuai syari'at Islam dan sunnah, Dinar dan Dirham akan membuat harta kita selamat dari gerusan inflasi dan devaluasi. Nilau tukar uang kertas (fiat money) terus merosot, tapi emas dan perak nilainya bisa dikatakan stabil sepanjang peradaban manusia.

Tak hanya stabil, bahkan nilai Dinar dan Dirham bisa terus meningkat. Dinar emas mengalami apresiasi sekitar 20-25% per tahun. Nilai tukar Dinar:
  • Oktober 2003 = Rp 450.000,00
  • Oktober 2004 = Rp 540.000,00
  • Oktober 2005 = Rp 625.000,00
  • Oktober 2006 = Rp 785.000,00
  • Oktober 2007 = Rp 947.000,00
  • Oktober 2008 = Rp 1.200.000,00
  • Oktober 2009 = Rp 1.350.000,00
  • Oktober 2010 = Rp 1.475.000,00
  • Oktober 2011 = Rp 2.205.000,00
Dalam Dinar dan Dirham berbagai harga komoditas dari tahun ke tahun akan lebih murah termasuk ongkos naik haji yang semakin turun. Rata-rata biaya ibadah haji dalam Rupiah semakin naik, sedangkan dalam Dinar semakin turun. Ongkos naik haji:
  • Tahun 2000 = 71 Dinar
  • Tahun 2008 = 27 Dinar
  • Tahun 2010 = 21,5 Dinar
  • Tahun 2011 = 15 Dinar

Berapa nilai tukar Dinar dan Dirham?
Dinar dan Dirham adalah emas dan perak yang merupakan komoditas. Dinar dan Dirham memiliki nilai paling stabil dalam sejarah peradaban manusia. Dalam sejarah Islam, pada masa hidup Rasulullah SAW nilai 1 Dinar dapat dibarter dengan 1 atau 2 ekor kambing sedangkan 1 Dirham bisa dibarter dengan 1 ekor ayam kampung. Alhamdulillah, hari ini setelah 14 abad berlalu nilainya masih sama tanpa inflasi maupun devaluasi. Nilai tukar Dinar dan Dirham aktual terhadap Rupiah dapat dilihat di website Wakala Induk Nusantara (www.wakalanusantara.com).

Apakah Dinar dan Dirham bisa ditukarkan menjadi uang kertas?
Dinar dan Dirham dapat secara langsung digunakan sebagai alat tukar. Dalam keadaan darurat dan terpaksa dimana belum semua pihak menerimanya, koin Dinar dan Dirham bisa ditukarkan kembali menjadi uang kertas. Penukaran Dinar dan Dirham menjadi uang kertas melalui wakala senilai nilai tukar koin saat itu dengan dikenai handling fee sebesar 4%.

Dimanakah koin Dinar dan Dirham dapat diperoleh?
Koin Dinar dan Dirham dapat diperoleh di wakala terdekat, alamat lengkap dapat dilihat di www. wakalanusantara.com.

Tawassul; Kisah Tiga Pemuda dalam Gua

Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra.:
Dari Rasulullah saw., beliau bersabda: Ketika tiga orang pemuda sedang berjalan, tiba-tiba turunlah hujan lalu mereka pun berlindung di dalam sebuah gua yang terdapat di perut gunung. Sekonyong-konyong jatuhlah sebuah batu besar dari atas gunung menutupi mulut gua yang akhirnya mengurung mereka. Kemudian sebagian mereka berkata kepada sebagian yang lain: Ingatlah amal saleh yang pernah kamu lakukan untuk Allah, lalu mohonlah kepada Allah dengan amal tersebut agar Allah berkenan menggeser batu besar itu.

Salah seorang dari mereka berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku mempunyai kedua orang tua yang telah lanjut usia, seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil di mana akulah yang memelihara mereka. Setelah aku mengandangkan hewan-hewan ternakku, aku segera memerah susunya dan memulai dengan kedua orang tuaku terdahulu untuk aku minumkan sebelum anak-anakku. Suatu hari aku terlalu jauh mencari kayu (bakar) sehingga tidak dapat kembali kecuali pada sore hari di saat aku menemui kedua orang tuaku sudah lelap tertidur. Aku pun segera memerah susu seperti biasa lalu membawa susu perahan tersebut. Aku berdiri di dekat kepala kedua orang tuaku karena tidak ingin membangunkan keduanya dari tidur namun aku pun tidak ingin meminumkan anak-anakku sebelum mereka berdua padahal mereka menjerit-jerit kelaparan di bawah telapak kakiku. Dan begitulah keadaanku bersama mereka sampai terbit fajar. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukalah sedikit celahan untuk kami agar kami dapat melihat langit. Lalu Allah menciptakan sebuah celahan sehingga mereka dapat melihat langit.

Yang lainnya kemudian berdoa: Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai saudara seorang puteri paman yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang lelaki terhadap seorang wanita. Aku memohon kepadanya untuk menyerahkan dirinya tetapi ia menolak kecuali kalau aku memberikannya seratus dinar. Aku pun bersusah payah sampai berhasillah aku mengumpulkan seratus dinar yang segera aku berikan kepadanya. Ketika aku telah berada di antara kedua kakinya (selangkangan) ia berkata: Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah dan janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan yang sah terlebih dahulu. Seketika itu aku pun beranjak meninggalkannya. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka ciptakanlah sebuah celahan lagi untuk kami. Kemudian Allah pun membuat sebuah celahan lagi untuk mereka.

Yang lainnya berdoa: Ya Allah, sesungguhnya aku pernah mempekerjakan seorang pekerja dengan upah enam belas ritel beras (padi). Ketika ia sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata: Berikanlah upahku! Lalu aku pun menyerahkan upahnya yang sebesar enam belas ritel beras namun ia menolaknya. Kemudian aku terus menanami padinya itu sehingga aku dapat mengumpulkan beberapa ekor sapi berikut penggembalanya dari hasil padinya itu. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu menzalimi hakku! Aku pun menjawab: Hampirilah sapi-sapi itu berikut penggembalanya lalu ambillah semuanya! Dia berkata: Takutlah kepada Allah dan janganlah kamu mengolok-olokku! Aku pun berkata lagi kepadanya: Sesungguhnya aku tidak mengolok-olokmu, ambillah sapi-sapi itu berikut penggembalanya! Lalu ia pun mengambilnya dan dibawa pergi. Jika Engkau mengetahui bahwa aku melakukan itu untuk mengharap keridaan-Mu, maka bukakanlah untuk kami sedikit celahan lagi yang tersisa. Akhirnya Allah membukakan celahan yang tersisa itu

Nomor hadis dalam kitab Sahih Muslim [Bahasa Arab saja]: 4926 sumber: al-islam.com

Tarbiyah Khusus dari Alloh

Semua lika-liku kehidupan kita adalah tarbiyah khusus dari Alloh. Tarbiyah yang tidak akan sama dengan tarbiyah orang lain. Boleh jadi karena hanya kita yang dinilai Alloh akan mampu mengemban beban yang lebih berat. Boleh jadi Alloh sedang merencanakan kebaikan yang jauh lebih berharga dari sekedar kebahagiaan berupa mudahnya hidup sebagaimana yang kita bayangkan. Boleh jadi akan ada amanah yang lebih berat dari Alloh yang hanya akan mampu kita pikul setelah kita melalui tarbiyah khusus ini.

Bersiaplah akhi, kokohkan pijakan kakimu, kuatkan imanmu, bersabarlah, gantungkan segala urusan hanya pada Alloh...

“Tidaklah seorang mukmin tertimpa musibah tertusuk duri atau lebih dari itu, kecuali dengannya Alloh akan menghapus sebagian dosanya.” (HR Bukhari dan Muslim)

”Senantiasa cobaan menimpa laki-laki dan perempuan yang beriman pada tubuhnya, harta, dan anaknya, sehingga ia berjumpa dengan Alloh Subhanahu wata’ala dalam keadaan tidak memiliki dosa.” (HR Ahmad dan At-Tirmidzi)

“Sesungguhnya ada orang yang mendapat kedudukan di sisi Alloh, akan tetapi tidak ada satu amalan pun darinya yang bisa mengantarkannya mencapai kedudukan itu, oleh karena itu Alloh Ta’ala mengujinya dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Sehingga dengan hal itu, ia mendapatkan kedudukan tersebut“. (HR. Ibnu Hibban)

“Orang yang mendapat cobaan paling berat adalah para nabi, kemudian para ulama, kemudian orang-orang shalih .” (HR. al-Hakim)

Berbahagialah akhi, kabar gembira telah datang padamu. Adakah janji-Nya yang diingkari? Subhanalloh, maha suci Alloh dari mendzolimi makhluk-Nya...

Harapan Itu Masih Ada

Bukanlah seorang da'i siapa yang suka memutuskan harapan, menyalahkan keadaan, atau mencela mad'u. Separah apapun keadaan mad'u, tiada hak sama sekali bagi da'i untuk menghakimi dan meyakinkan pada diri sendiri bahwa situasi tak akan pernah berubah.

Sebarkan harapan pada orang-orang di sekitar kita... Putus asa adalah sifat orang kafir (Q.S. Yusuf: 87). Sungguh, hidayah itu hak Alloh, Dia-lah yang berkuasa atas segala sesuatu, termasuk memberi petunjuk atau menyesatkan seseorang. Aa' Gym, Yusuf Mansur, Jefri Al-Bukhori, Fadli Reza Noor, entah berapa orang besar di Indonesia ini yang berhasil melewati masa lalu dengan sukses hingga "bi idznillah" sampai saat ini bisa memberi kemanfaatan luar biasa pada masyarakat. Seorang Umar bin Khoththob atau Kholid bin Walid yang awalnya memusuhi Islam pada akhirnya menjadi pembela agama ini di garda depan.


"Cika rancak nigang batu, laun-laun jadi legok" 
Tulisan yang ditempel di dinding kamar seorang kawan, "Tetesan air pada sebuah batu lama-lama bisa menjadikan batu itu berlubang"



"Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada! Berjuanglah bangsaku, jalan itu masih terbentang! Bersiaplah wahai pewaris negeri, di tangan kitalah masa depan bangsa ini! #indonesiaunite 
Kemarin jam 21:54 · melalui IndonesiaUnite! · Komentar · Tidak Suka"


Dalam bidang apapun, jangan pernah memutuskan harapan seseorang, apalagi seseorang itu adalah diri kita sendiri. Sejelek apapun kondisinya, takdir itu harus kita tinggalkan untuk beralih pada takdir yang lebih baik.
Seribu tahun kurang lima puluh nabi Nuh berdakwah tapi istri dan anaknya pun membangkang. Siang dan malam ia menyeru kaumnya, terang-terangan dan sembunyi-sembunyi, umatnya justru menutupkan jari ke telinga mereka dan mengerukupkan pakaian. Nabi Musa dan kaumnya... Nabi Isa... Apalagi Nabi Muhammad...

Memang pada akhirnya ada Nabi yang memintakan adzab pada kaumnya. Ingin mengikuti jejak mereka? Mati-matian, sampai tak ada manuver sama sekali untuk berusaha, barulah minta adzab. Tapi jangan! Sama sekali jangan! Rosululloh Muhammad tidak pernah mencontohkannya. Tawaran malaikat menimpakan dua bukit pada umatnya yang "keterlaluan" ditolaknya bahkan dijawab dengan do'a agar dari tulang sulbi mereka lahir manusia yang menyembah hanya kepada Alloh.

Ingat kisah seorang Arab Badui yang pipis di masjid? Hmm... Betapa indahnya tauladan kita itu, Rosululloh Muhammad Shollallohu 'alaihi wa sallam.

Berikut ada sebuah kisah yang mungkin sudah pernah kita simak. Cobalah baca sekali lagi... kembali renungi... dan senantiasa tebarkan harapan di sekitar kita...


Pembunuh Seratus Nyawa
DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar 
Saturday, 10 January 2009


Pengantar
Laki-laki ini tenggelam di dalam dosa. Dia telah membunuh seratus orang. Membunuh adalah perkara besar di sisi Allah, dosa agung di sisi-Nya. Akan tetapi, tidak ada dosa yang pelakunya tidak tercakup oleh rahmat Allah. Allah mengampuni seluruh dosa jika seorang hamba kembali kepada-Nya dan bertaubat. Manakala laki-laki yang bermandikan darah seratus orang in mengetuk pintu Tuhannya dengan benar, dia kembali kepada-Nya dengan penuh taubat. Maka Allah mengampuni dan menyayanginya.

Teks Hadis
Bukhari meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri dari Nabi shallallahu alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda, "Pada Bani Israil terdapat seorang laki-laki yang telah membunuh seratus orang. Lalu dia pergi bertanya dengan mendatangi seorang rahib. Dia bertanya, 'Adakah taubat untukku?' Dia menjawab, 'Tidak ada.' Maka dia membunuhnya.

Dia bertanya-tanya, lalu seorang laki-laki berkata kepadanya, 'Datanglah ke desa ini dan ini.' Saat dalam perjalanan itulah dia dijemput oleh maut. Maka malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih. Maka Allah mewahyukan kepada ini, 'Mendekatlah.' Dan Allah mewahyukan kepada ini, 'Menjauhlah.' Lalu berkata, 'Ukurlah antara keduanya. Maka dia lebih dekat kepada ini(desa yang dituju) satu jengkal. Dan dia diampuni."

Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Said Al-Khudri bahwa Nabiyullah bersabda, "Pada umat sebelum kalian terdapat seorang laki-laki pembunuh sembilan puluh sembilan nyawa. Dia bertanya tentang penghuni bumi yang paling alim(pintar). Dia ditunjukkan kepada seorang rahib, dan dia mendatanginya. Dia berkata bahwa dia telah membunuh sembilan puluh sembilan nyawa, maka adakah taubat untuknya? Rahib itu menjawab, 'Tidak.' Dan dia membunuhnya untuk menggenapkan hitungan menjadi seratus.

Kemudian dia bertanya tentang penduduk bumi yang paling alim. Dia pun ditunjukkan kepada seorang alim. Dia berkata bahwa dia telah membunuh seratus orang, lalu apakah dia masih bisa bertaubat? Dia menjawab, 'Ya, siapa yang menghalanginya dari taubat. Pergilah ke kota ini dan ini, karena di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka. Jangan pulang ke kotamu karena ia adalah kota yang buruk.'

Lalu dia berangkat. Di tengah perjalanan, dia mati. Malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Malaikat rahmat berkata, 'Dia datang dengan taubat, datang dengan hatinya kepada Allah.' Malaikat adzab berkata, 'Dia belum melakukan kebaikan apapun.' Lalu malaikat yang berwujud manusia datang kepada mereka, dan mereka menjadikannya hakim di antara mereka. Dia berkata, 'Ukurlah antara kedua kota itu. Ke mana dia lebih dekat, maka ia untuknya.' Lalu mereka mengukurnya, dan mereka mendapatkannya, dan mereka mendapatkannya lebih dekat kepada kota yang dia tuju. Maka malaikat rahmat mengambilnya."

Qatadah berkata bahwa Hasan berkata, "Dikatakan keapda kami bahwa ketika dia mati, dia miring dengan dadanya."

Takhrij Hadis
Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya, 6/512, no.3470. Diriwayatkan oleh Muslim dalam Kitabut Taubah, bab diterimanya orang yang bertaubat (4/2118), no.2766. Hadis ini Syarah Shahih Muslim An-Nawawi,17/235.

Penjelasan Hadis
Kisah ini membuka pintu harapan bagi setiap pendosa, seberapapun besar dosa dan kejahatannya. Kisah seorang laki-laki yang tenggelam dalam dosa dan kemaksiatan. Rasulullah menyampaikan bahwa laki-laki ini membunuh seratus orang. Akan tetapi, dosa-dosa ini belum mencerabut seluruh benih dan cikal bakal kebaikan dalam dirinya. Masih tersisa di relung jiwanya secercah cahaya, setitik rasa takut kepada Tuhannya. Mungkin dia bertanya-tanya antara diri dan jiwanya, apakah hubungan dengan Tuhannya telah terputus sehingga tidak mungkin lagi dia kembali kepada-Nya, ataukah di sana masih terdapat harapan di manakah posisi dirinya dari Tuhannya jika dia kembali kepada-Nya?

Dia tidak mampu memberi jawaban untuk dirinya sendiri. Orang seperti dia, yang hanyut dalam dosa-dosa pasti tidaklah berilmu. Oleh karena itu, dia keluar dari rumah untuk mencari seorang alim yang bisa memberinya fatwa dan menjawab pertanyaannya. Dia menyadari bahwa persoalannya sangatlah besar. Hanya orang dengan ilmu besar yang bisa mengatasinya, sehingga dia tidak bertanya tentang orang alim, tetapi orang yang paling alim.

Orang yang ditanya pertama kali tidak mampu menunjukkan penduduk bumi teralim, dia hanya bisa menunjukkan seorang rahib. Para rahib banyak beribadah tetapi minim ilmu, dan orang awam bisa tertipu dengan orang-orang seperti itu. Mereka menyangka bahwa banyak ibadah berarti banyak ilmu, lalau mereka datang dan belajar kepada mereka serta meminta fatwa kepada mereka. Dan para rahib ini pun melakukan kesalahan; jika dia tertipu dengan datangnya orang-orang kepadanya, maka dia pun memberi fatwa tanpa ilmu. Semestinya mereka berterus terang dengan menjelaskan secara terbuka tentang keadaan diri mereka. Jika mereka memang tidak mengetahui, hendaknya berkata 'Allahu a'lam' dan mempersilahkan untuk bertanya kepada orang lain yang mempunyai ilmu.

Laki-laki ini mendatangi rahib itu. Rahib itu menyimak persoalannya. Dia merasa dosa orang ini sangat besar, dia mengira rahmat Allah tidak cukup untuk menaunginya. Dan orang seperti laki-laki ini, rahmat Allah tidak cukup untuk meliputinya. Sungguh anggapan ini adalah kebodohan.

Jika dugaan rahib ini benar, maka pelaku kejahatan akan semakin bertambah banyak. Seorang penjahat jika dia telah putus harapan dari rahmat Allah dan dia mengetahui bahwa jalan kembali kepada-Nya telah tertutup, maka hal ini akan semakin mendorongnya untuk lebih mendalam menyelami kejahatan dan kerusakan. Hal ini dibuktikan oleh laki-laki ini. Manakala dia mendengar bahwa pintu taubat telah tertutup dan bahwa rahmat Allah tidak menaunginya, dia pun bertambah nekat dan rahib itu menjadi pelengkap korban yang keseratus.

Sepertinya rahib ini di samping tidak berilmu, dia juga tidak mengetahui tabiat manusia. Jika dia mengetahuinya, niscaya dia tidak menjawab dengan segera. Semestinya dia mengambil langkah-langkah yang sesuai untuk dirinya, seperti menghadirkan teman-temanya yang kuat di sekelilingnya atau menjawab di balik tembok biaranya. Karena, orang seperti laki-laki ini tidak lagi peduli, dia bisa membunuh hanya karena alasan yang sepele, membunuh dan mengalirkan darah sudah menjadi kebiasaannya.

Dia membunuh rahib itu. Dia tetap tidak puas dengan jawabannya. Harapan kepada Allah baginya sangatlah besar, dan orang yang memberinya fatwa adalah orang yang jahil tentang Allah. Dia memerlukan penegasan dan seseorang yang mengenalkannya secara benar. Sekali lagi dia mencari seorang alim yang kepadanya dia mengadukan masalahnya. Dia ditunjukkan kepada seorang alim tentang Allah. Dia memang benar-benar alim. Oleh karena itu, si alim ini berkata denga penuh keheranan kepada laki-laki tersebut, "Siapa yang menghalangi dirimu dari taubat?" Pertanyaan yang menyimpan pengingkaran dan keheranan. Ini menunjukkan bahwa ilmu tersebut adalah sesuatu yang tidak memerlukan banyak pemikiran, sudah ada di benaknya, dan tidak perlu bertanya. Sesungguhnya rahmat Allah itu luas, meliputi orang ini dan orang sepertinya. Sebesar dan sebanyak apa pun dosa itu, ia tetap ada harapan dari Allah.

Si alim ini tidak sekedar alim. Lebih dari itu, dia adalah seorang pendidik. Oleh karenanya, dia tidak sekedar menjawab bahwa pintu taubat masih terbuka lebar. Lebih dari itu, dia menunjukkan jalan yang harus dilaluinya.Orang yang tengelam dalam dosa-dosa harus merubah jalan hidupnya. Dia harus meninggalkan orang-orang sesat yang bergaul dengannya dan hidup bersama mereka. Dia harus meninggalkan apa apa yang ada pada dirinya selama ini. Dia harus pindah ke lingkungan yang baik dan mendukungya kepada kebaikan juga menjauhi kemungkaran. Si alim itu memerintahkan laki-laki yang ingin taubat ini agar meninggalkan desanya, karena ia adalah desa yang buruk, lalu berhijrah ke tempat lain yang telah ditentukan untuknya di mana di sana terdapat orang-orang yang beribadah kepada Allah. Maka, di sana dia bisa bergaul bersama mereka dan beribadah kepada Allah bersama mereka pula.

Laki-laki ini tidak menyia-nyiakan waktunya. Dia pergi ke desa yang ditunjukkan oleh orang alim itu demi mencari lembaran baru. Kehidupan yang bersih, baik dan lurus, agar bisa mencuci jiwa yang kotor oleh dosa-dosa dan menghidupkannya dengan iman dan kebaikan.

Ketika laki-laki ini tiba di pertengahan jalan, ajalnya datang. Kematian menjemputnya. Karena kuatnya keinginannya kepda taubat, pada saat naza' terakhir dia memiringkan dadanya kea rah desa yang baik yang ditujunya. Dia mati dalam keadaan ingin kembali kepada Allah, pergi ke desa yang baik untuk beribadah kepad-Nya, meninggalkan seluruh hidupnya yang sarat dengan dosa dan kejahatan di belakangnya. Selanjutnya, bagaimana akhirnya? Tempat apa yang diraih di sisi Tuhannya?

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam memberitakan kepada kita bahwa malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih tentangnya. Masing-masing ingin menangani urusanya dan mengurusinya. Mereka berkata,"Orang ini telah membuuh seratus nyawa." Sementara yang lainnya berkata,"Dia telah bertaubat dan kembali kepada Allah. Dia datang menghadap."

Maka Allah mengutus untuk mereka Malaikat dalam wujud seorang manusia dan memerintahkan mereka agar menegukur jarak antara kedua desanya, desa kerusakan dan kezhaliman dan desa orang-orang yang baik lagi terpilih, lalu Allah memerintahkan desa yang baik untuk mendekat dan desa yang berpenduduk zhalim agar menjauh, maka mereka mendapatinya lebih dekat satu jengkal kepada desa orang-orang baik. Mungkin satu jengkal hasil dari usaha menyorongkan dadanya pada waktu dia dalam keadan naza', maka Malaikat rahmat mengurusinya dan dosa-dosanya yang besar diampuni,"Katakanlah, 'Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."(QS.Az-Zumar:53).

Pelajaran-Pelajaran dan Faedah-Faedah Hadis
  1. Luasnya rahmat Allah dengan diterimanya taubat orang-orang yang bertaubat, walaupun dosa-dosa mereka besar dan kesalahan-kesalahan mereka banyak. Oleh karena itu, orang-orang yang berputus asa kepada Allah adalah orang-orang yang tidak mengetahui tentang Allah, dan tidak mengenal luasnya rahmat Allah.
  2. Diterimanya taubat seorang pembunuh jika dia bertaubat dengan benar. Sebagian ulama membantah hal ini, padahal hadis secara tegas menyatakan diterimanya taubat si pembunuh, dan ini tidak hanya berlaku untuk umat-umat terdahulu saja. Hal ini didukung oleh firman Allah,"Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barangsiapa melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipatgandakan adzab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalamadzab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal shalih."(Al Furqan:68-70). Allah telah mengecualikan orang-orang yang bertaubat dan berbuat kebaikan dari orang-orang yang dilipatgandakan adzabnya (kalangan orang-orang musyrik, para pembunuh, para penjahat, dan para pezina).
    Akidah Ahlus Sunnah menyatkan bahwa semua dosa selain syirik mungkin untuk diampuni. Jika Allah berkehendak, maka Allah mengadzab pelakunya. Dan jika Allah berkehendak maka Allah mengampuni pelakunya. "Sesungguhnya Allah tidak akan mengmpuni dosa syirik, dan Dia megampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, barangsiapa yang dikehendaki-Nya."(An-Nisa:48)
  3. Hendaknya seorang alim membimbing orang-orang yang bertaubat kepada amalan-amalan yang memantapkan iman di hati dan membebaskan mereka dari keburukan yang mereka lakukan, sebagaimana si alim ini menunjukkan laki-laki yang ingin bertaubat tersebut agar menianggalkan desanya kepada suatu kaum yang shalih untuk beribadah kepada Allah bersama mereka.
  4. Keunggulan oang alim di atas ahli ibadah. Si allim ini menjawab dengan ilmu, sementara si rahib menjawab dengan ngawur.
  5. Para Malaikat yang ditugaskan kepada bani Adam, bisa jadi ijtihad mereka dalam menentukan hukum berbeda. Bisa jadi mereka mangangkat masalah tersebut kepada Allah agar perkara yang mereka selisihkan bisa diputuskan.
  6. Allah mengkhususkan kelompok Malaikat yang menangani roh orang-orang mukmin ketika roh mereka dicabut, yang dikenal dengan Malaikat rahmat. Dan malaikat yang mengurusi nyawa orang fasik yang zhalim disebut Malaikat adzab.
  7. Kemampuan Malaikat untuk menjelma dalam wujud manusia seperti yang dilakukan oleh Malaikat yang menjadi hakim antara malaikat rahmat dan Malaikat adzab.
  8. Keutamaan bani Adam di mana Allah mengutus malaikat dalam wujud Bani Adam sebagai hakim di antara mereka.
  9. Seorang alim yang tidak menduduki kursi pengadilan tidak wajib menegakkan hukum Allah atas pelaku kejahatan. Laki-laki ini mengakui di depan orang alim itu bahwa ia telah membunuh seratus orang- tetapi si alim itu tidak memenjarakannya, tidak menyelidiki perkaranya, akan tetapi dia menyarankannya untuk bertaubat dan berhijrah.
Sumber: diadaptasi dari DR. Umar Sulaiman Abdullah Al-Asyqar, Shahih Qashashin Nabawi, atau Ensklopedia Kisah Shahih Sepanjang Masa, terj. Izzudin Karimi, Lc. (Pustaka Yassir, 2008), hlm. 278-285.
***

Seorang da'i bukan qodli atau hakim, seorang da'i bekerja menyeru dan menyeru, dia tidak menghakimi mad'u, dia tidak memvonis. Da'i tak terlalu memikirkan kapan mad'u bisa mendapat hidayah. Hikmah dari seorang da'i nasional yang mempopulerkan poligami di Indonesia dengan mengambil beberapa resiko, "Hakikat dakwah adalah memperbaiki diri sendiri, baiknya orang lain hanyalah efek yang muncul atas perbaikan diri kita" Kira-kira seperti itu. Hidayah hanya milik Alloh...


Harapan itu masih ada! 
Berikan senyum termanis pada setiap orang yang kita temui. 
Perlihatkan wajah yang berseri! 
Izinkan diri sendiri dan orang yang kita sapa merasakan betapa dahsyatnya harapan kita, harapan yang tak pernah padam.


Buang semua koleksi lagu memelas dan cemen! 
Ganti dengan Al-Qur'an!


Bakar koleksi puisi-puisi patah hati! 
Ganti dengan Al-Qur'an!

Al-Qur'an pelita harapan!
***

Penjelasan hadits kisah di atas selengkapnya silakan buka pejuangperadaban.blogspot.com atau buka URL asli kisah ini di alislamu.com

Pemimpin yang Baik

"Pemimpin-pemimpin kamu yang baik adalah pemimpin-pemimpin yang mencintai mereka (rakyat) dan mereka mencintai kamu, mereka mendoakan kamu dan kamu mendoakan mereka. Sedangkan pemimpin-pemimpin kamu yang tidak baik adalah para pemimpin yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu"
(H.R. Ahmad)

Semesta Memintakan Rohmat

"Sesungguhnya ALLOH Yang Maha Suci dan para malaikat-NYA serta semua penghuni langit dan bumi-NYA, sampai semut dalam lubangnya dan ikan di dasar laut sekalipun, niscaya senantiasa memintakan rohmat bagi orang-orang yang mengajar kebaikan kepada manusia."
(H.R. At-Tirmidzi dari Abi Umamah)