Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Keluarga. Tampilkan semua postingan

Anak-Anak SD Semangat Berpuasa dan Shalat Malam Tanpa Disuruh

Anak-Anak SD Semangat Berpuasa dan Shalat Malam Tanpa Disuruh


Oleh Akhid Nur Setiawan


Dalam sebuah sesi halaqah seorang guru SD menyampaikan kebiasaan berpuasa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam kepada murid-muridnya. Ia bercerita bagaimana baginda Nabi gemar sekali berpuasa Senin dan Kamis. Para sahabat dan orang-orang shalih juga memiliki kebiasaan berpuasa sebagaimana Nabi teladankan.


Pekan-pekan setelahnya banyak sekali murid berusaha menjalankan puasa Senin dan Kamis padahal guru itu tak pernah mewajibkan mereka. Jangankan mewajibkan, sekedar memerintahkan atau menganjurkan pun tidak ia lakukan. Siapa yang sedang diikuti murid-murid itu? Betul sekali! Bukan guru yang mereka ikuti tapi Nabi, dari cerita gurunya tentang Nabi, shallallahu 'alaihi wasallam.


Di kesempatan lain guru muda itu menceritakan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tak pernah meninggalkan qiyamullail. Shalat malam itu hukumnya wajib bagi Nabi secara pribadi. Para sahabat dan orang-orang sholih mengikuti Nabi dengan senantiasa menghidupkan malam-malam mereka. Mereka memperbanyak shalat, dzikir, tilawah, dan munajat.


Kejadian serupa terulang, murid-murid SD itu berusaha bangun malam tanpa diminta. Bayangkan! Anak usia SD bangun tengah malam dan tidak tidur lagi, tidak hanya sekali dua kali. Betapa resahnya orang tua melihat anak-anak yang belum baligh mengurangi separuh jam tidur malam mereka atas kemauan sendiri.


Akhirnya para wali murid sepakat menghadap ke kepala sekolah, "Ustadz, kami sangat senang anak-anak kami rajin berpuasa Senin Kamis. Kami berterima kasih sekali, Ustadz. Tapi ustadz, kami tidak tega melihat anak-anak bangun tengah malam dan tidak tidur lagi."


Mungkin para wali murid berpikir, jika anak-anak bangun malam itu karena tugas dari guru di sekolah, barangkali bisa meminta untuk diringankan, toh bukan amalan wajib. Masalahnya, anak-anak itu berusaha bangun malam sendiri dan tidak mau tidur lagi, bukan atas perintah guru atau sekolah. Mereka dibangunkan oleh kecintaan pada Nabi, karena sangat inginnya meniru Nabi.


Apa kira-kira tanggapan kepala sekolah? Ah, rasanya jawaban sang kepala sekolah saat itu tidak perlu untuk dibahas. Bagaimana masa depan anak-anak itu kelak, mungkin juga tidak perlu dipertanyakan, karena sekolah dasar itu ada di jalur Gaza.


Guru yang membimbing halaqoh murid-murid itu sudah lumpuh dan harus memakai kursi roda sejak remaja karena cedera. Dalam keterbatasan fisiknya Allah karuniakan hikmah untuk menolong agama-Nya. Sepanjang hidup ia tak henti bergerak bersama rakyat, khususnya anak-anak muda di sana, berjuang untuk kemerdekaan Palestina. Ya, guru SD itu kemudian dikenal oleh dunia dengan panggilan Syaikh Ahmad Yassin.


https://pejuangperadaban.blogspot.com/2022/09/anak-anak-sd-semangat-berpuasa-dan-shalat-malam-tanpa-disuruh.html

Jangan Jadikan Mereka Tabulampot

Jangan Jadikan Mereka Tabulampot

Oleh Akhid Nur Setiawan


Jika kita melihat kegigihan keluarga para ulama menjalani kehidupan mereka hingga lahir permata-permata di zamannya, selain memuji atas kebesaran Allah tentu kita menjadi bertanya apakah keluarga kita juga bisa seperti mereka. Saat melihat potret sebuah keluarga yang hampir semuanya hafal Al Quran dan memiliki kompetensi di bidangnya masing-masing, muncul keraguan untuk meneladani mereka setelah melihat kenyataan bahwa sampai sekarang kita belum memulai apa-apa. Apakah bisa keluarga kita meniru apa yang ada pada keluarga mereka?


Rasanya terlalu melangit mengharapkan ayam bertelur emas padahal katanya buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Wajar saja, pantas saja, tidak mengherankan, dan kalimat-kalimat lain mungkin akan muncul saat menanggapi kondisi orang tua mereka yang sudah tidak harus memulai dari awal dalam mengasuh anak. Sedangkan kita? Raihan yang terlalu tinggi kadang justru memicu kita mematahkan galah karena ia terlalu berat untuk ditegakkan. Sebenarnya bukan targetnya yang terlalu tinggi, hanya otot lengan kita yang belum kuat mengimbangi.


Kita memang bukan Maryam yang suci sehingga tak mungkin anak kita lahir langsung bisa berkata-kata. Kita memang juga bukan Aminah yang selama kehamilannya ditemani ruh para nabi sehingga anak kita dibersihkan isi dadanya oleh malaikat meskipun tidak langsung kita bersamai masa kecilnya. Kita bukan ulama, kiai, atau ustadz, bahkan santri pun bukan. Apa yang bisa kita perbuat?


Salah satu jebakan kepengasuhan ialah orang tua menginginkan hasil yang dahsyat dalam waktu yang cepat. Jadilah para orang tua kelabakan menyetarakan diri dengan orang tua dari orang-orang hebat itu. Kesenjangan "modal" yang jauh antara kita dengan mereka membuat kita ingin melahap semua teori dan tips kepengasuhan. Semua contoh dari mereka ingin segera kita praktikkan.


Inilah godaan hawa nafsu yang bisa membuat kita salah jalan. Jika nafsu yang diperturutkan, kedamaian tak akan kita rasakan sekalipun anak-anak kita kaya akan capaian. Jalan dunia yang fana kita sangka jalan Tuhan. Berpayah-payah dalam lelah tanpa arah akhirnya bisa menjerumuskan kita dalam kalimat "Sudahlah, menyerah sajalah!"


Anak-anak yang pengasuhannya terlalu dipaksakan ibarat tabulampot, ia indah dan mengagumkan tapi akan segera mati saat asupan nutrisi mereka dihentikan. Yang kita harapkan pastinya anak-anak kita tumbuh bagai pohon yang akarnya menghujam ke dalam bumi, dahannya menjulang ke langit, memberikan keteduhan, dan menghadirkan buah yang manis untuk dimakan. Ia bisa bertahan di musim panas maupun musim hujan. Ia tak akan roboh oleh angin kencang. Ia tetap bertahan sekalipun sudah tidak mendapatkan perawatan. Hingga saatnya tiba, ia akan melahirkan pohon-pohon baru yang telah menyesuaikan diri dengan kondisi lahan.


"Warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiraa," begitulah penggalan doa kita untuk kedua orang tua. Ya Allah, kasihilah keduanya sebagaimana mereka mentarbiyah kami sewaktu kami kecil. Salah satu makna tarbiyah ialah menumbuhkembangkan sesuatu setahap demi setahap hingga mencapai kesempurnaan. Yang dilakukan para orang tua pada prinsipnya sama, dengan perlahan menyiapkan anak-anak untuk bisa menanggung beban kehidupan.


Proses tarbiyah setahap demi setahap membutuhkan waktu dan tidak bisa instan. Benar, pupuk-pupuk tambahan bisa membantu mempercepat tanaman menemukan jalan keseimbangan tapi bisa juga membuat kecanduan bahkan berujung kematian. Orang tualah yang paling tahu dosis pupuk yang diperlukan. Perlakuan apa saja yang dibutuhkan agar anak kita tumbuh kokoh di segala cuaca hingga berbuah manis melebihi orang tuanya?


Mungkin buku ini jawabannya…


www.kreasilila.com/parentingorganik

Pewarisan Mimpi Antargenerasi

Seorang kakek menangis haru usai mendengar salah seorang cucunya melantunkan surat An Naba'.

"Saya dulu baru sampai surat Al Ma'un, guru saya wafat. Alhamdulillah, sekarang sudah ada yang meneruskan," kata sang kakek.

Sekitar tujuh tahun kemudian cucu dari kakek itu selesai menghafal 30 Juz Al Qur'an.

Usia dakwah terlalu panjang untuk ditopang oleh satu atau dua generasi. Dakwah membutuhkan banyak generasi. Dakwah harus terus bergulir hingga hari akhir.

Adakala suatu generasi hanya sempat menyemai benih, generasi berikutnya hanya sempat menyiangi rumput, generasi berikutnya mengairi. Generasi selanjutnya mungkin melihat tanaman saat sedang berbunga, selainnya Allah beri kesempatan bisa memetik buah. Terkadang satu generasi menemui tanaman layu hingga hanya bisa mempertahankan diri dari kepunahan, sembunyi. Setelahnya ada generasi yang menyuburkan ulang lahan lalu menyemai benih kembali.

Seakan mengajarkan bahwa jalan dakwah memang panjang, Nabi Ibrahim 'alaihissalaam tidak berdoa agar dakwah menang pada masa kenabiannya. Beliau berdoa pada Allah agar kelak di tengah-tengah penduduk Makkah diutus seorang Rasul yang membacakan ayat, mengajarkan hikmat, dan menyucikan jiwa umat. Cukuplah meninggikan bangunan Ka'bah menjadi salah satu proyek dakwah yang harus diselesaikan oleh generasinya.

Adanya kesadaran bahwa waktu yang tersedia amat singkat memaksa para da'i untuk memanfaatkan setiap kesempatan yang tiba. Kenyataan akan sumberdaya yang terbatas mengarahkan para da'i agar menyusun prioritas. Karena merasa perlu menyiapkan dakwah di masa depan, para da'i berusaha memperbanyak peluang dan memperbesar ruang gerak bagi generasi setelahnya.

Sebuah ungkapan mengatakan, "Orang biasa merencanakan Sabtu malam, orang besar merencanakan tiga generasi."

Kalau boleh menambahkan, "Orang beriman merencanakan hingga hari pembalasan."

Mimpi-mimpi dakwah tak mungkin selesai hanya dalam satu malam. Penting bagi para dai untuk mewariskan mimpi kepada generasi berikutnya. Kelak generasi itu akan melanjutkan apa yang telah dimulai oleh generasi pendahulu mereka.

"Kalau Abah masih ada, kira-kira apa yang akan Abah lakukan dengan kondisi kita saat ini?"

"Dari dulu simbah pengen banget begini."

"Ummi itu biasanya begini."

Mungkin itu kalimat-kalimat yang otomatis muncul dari anak keturunan ideologis saat mereka menghadapi masalah atau merumuskan strategi dakwah sepeninggal leluhurnya.

Jika pewarisan mimpi berhasil, ada manusia-manusia yang hidupnya singkat tapi umurnya panjang. Mimpi mereka terus berlanjut meskipun maut telah menjemput. Dakwah mereka berkesinambungan, tidak hanya selama mereka masih hidup tapi sambung menyambung antargenerasi setelah mereka mati.

Dengan pewarisan, para dai mutaakhir tidak harus memulai dakwah dari awal. Mereka hanya perlu melanjutkan apa yang telah dimulai sebelumnya. Susah payah para pendahulu meniscayakan mudah jalan para pembaharu.

Mereka yang masih bertahan harus menemukan jejak-jejak kebaikan para pendahulunya. Penelusuran jejak itu bukan untuk sekedar meneladani baiknya kepribadian tetapi berusaha agar bisa menyambung benang merah kerja-kerja dakwah. Semoga Allah bimbing kita semua.

Hanya Tinggal Klik

Pada suatu pagi saya terpaksa mengisi ember dengan air dari sumur depan rumah untuk mengisi bak kamar mandi di dalam rumah kami. Sejak malam harinya air keran tidak bisa mengalir. Sepertinya mesin pompa air kami rusak.

Saat hari sudah terang kami mencoba memperbaiki mesin pompa air kami. Saya sambungkan kabel dari mesin langsung ke stop kontak. Alhamdulillah mesinnya masih bisa menyala.

Masalahnya di mana? Saya pun mengecek saklar yang ada di dinding. Ternyata saklarnya sudah soak sehingga lempengan penghubung listriknya tidak bisa saling tersambung jika dinyalakan.

Karena tidak menemukan saklar pengganti yang pas, saya menyambungkan langsung kabel saklar itu tanpa saklar, hanya diberi selotip. Alhamdulillah mesin pompa air kami kembali bisa mengalirkan air dari dalam sumur naik masuk ke dalam bak penampungan. Ternyata masalahnya di bagian saklar. Mesin oke, sumber listrik oke, tapi hubungan keduanya terputus.

Di kesempatan lain saya dimintai tolong salah seorang teman untuk mengecek koneksi wifi laptop barunya. Laptop itu baru tapi sudah tangan kedua. Jujur saja saya tidak mengeceknya tapi langsung menawarkan solusi. Kebetulan istri saya memakai laptop yang koneksi wifinya menggunakan alat tambahan semacam USB kecil karena perangkat wifi asli dari laptop tidak bisa menangkap sinyal.

Setelah di toko online menemukan barang yang dimaksud, teman saya ragu karena harganya lumayan perlu diperhitungkan. Meskipun tidak terlalu mahal, jika ternyata alatnya tidak berfungsi tentu membelinya menjadi kesalahan belanja yang amat disayangkan. Saya pun menawarkan untuk mencobakan dulu USB wifi dari laptop yang dipakai oleh istri saya.

Setelah saya pasang USB wifi ke laptop teman saya, koneksinya tidak berubah sama sekali. Saya lalu mengecek troubleshoot koneksi wifi di laptop itu. Masyaallah, ternyata laptop itu memiliki saklar khusus untuk menyalakan perangkat wifinya. Koneksi wifi tidak tersambung hanya karena saklar belum dinyalakan.

"Klik!"

Alhamdulillah. Atas izin Allah akhirnya semua sinyal wifi bisa masuk ke laptop teman saya. Dicoba untuk berselancar juga langsung oke setelah mesin perambannya diperbarui. Masalah pun teratasi tanpa perlu biaya tambahan.

Mungkin banyak hal lain dalam hidup kita yang sebenarnya hanya butuh "klik" lalu semua akan berjalan sebagaimana mestinya. Di mana letak saklarnya, itulah yang terkadang kita belum menemukan. Barangkali ia terletak di tempat tersembunyi, barangkali ia sedang rusak, atau barangkali sekedar menunggu waktu yang tepat hingga yang seharusnya terhubung sudah sama-sama siap.

"...dan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula)."

Jika keduanya belum klik, bolehlah kita coba menyalakan saklarnya.

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), Maha Mengetahui."

Kalau sudah klik, insyaallah sakinah, insyaallah barakah.

Selamat menempuh tahun hidup baru 1443 Hijriyah 😍😍😍

Pertimbangan Memilihkan Sekolah Dasar

Sekolah dasar menjadi anak tangga pertama anak-anak menempuh pendidikan formal. Sekalipun semakin marak homeschooling dan sudah lebih dari satu tahun sekolahan tidak bisa menyelenggarakan pembelajaran tatap muka, tetap penting bagi orang tua memilih sekolah sebagai partner mendidik anak. Bagaimanapun juga sekolah telah berpengalaman mendidik sekian banyak generasi dibandingkan kita sebagai orang tua.

Sekolah seperti apa yang sebaiknya kita pilih? Enam tahun belajar di bangku sekolah dasar bukanlah waktu yang singkat. Banyak hal bisa didapat oleh anak-anak kita tapi juga ada banyak hal bisa terlewat selama waktu pendidikan itu.

Berikut ini beberapa pertimbangan yang penting untuk menentukan sekolah ananda.

1. Visi dan misi sekolah

Visi dan misi sekolah sangat penting menjadi pertimbangan. Sekolah yang memiliki visi selaras dengan visi orang tua akan lebih cocok dipilih dibandingkan sekolah dengan visi yang berbeda. Bagaimana mungkin kita menginginkan anak kita berjalan ke utara jika kita menyekolahkan mereka di sekolah yang mengajak berjalan ke arah selatan.

2. Komitmen dan dedikasi guru

Sebuah ungkapan menyatakan bahwa keberadaan guru lebih penting daripada metode pengajaran. Yang jauh lebih penting dari sekedar keberadaan guru adalah ruh dan jiwa guru itu sendiri. Sebaik apapun visi, misi, kurikulum, kegiatan, target lulusan, dan apapun yang tertulis di dalam dokumen akreditasi sekolah, semua itu tidak bermakna sama sekali tanpa guru-guru yang berdedikasi. Dari mana kita mengetahui kadar dedikasi mereka? Saat berkunjung ke sekolah coba berbincang ringan dengan pegawai-pegawai non akademik seperti tata usaha, satpam, pekarya, dan sebagainya. Jika kita bisa merasakan semangat dan antusias mereka meladeni pertanyaan-pertanyaan kita, barangkali sekolah itu cocok bagi anak kita.

3. Lama berdirinya sekolah

Bukan berarti mengesampingkan kualitas sekolah-sekolah yang baru berdiri, bisa bertahannya sekolah dalam jangka waktu lama bisa menunjukkan kualitas sekolah tersebut. Sebagus apapun konsep yang diusung sekolah-sekolah baru, sekolah-sekolah lama masih menang pengalaman. Sebuah hipotesis menyebutkan bahwa sekolah yang baru berdiri akan mengalami penurunan kinerja setelah sepuluh tahun. Jika sebuah sekolah mampu melewati masa itu, pertimbangkan sekolah itu untuk dipilih.

4. Profil alumni

Semakin banyak alumni yang lulus maka semakin bisa dibaca kualitas sebuah sekolahan. Sekolah tidak perlu memasang foto alumni berprestasi untuk menunjukkan kualitas proses pendidikan mereka. Masyarakat bisa menilai sekolah dari para alumni yang beredar di masyarakat, sekalipun tidak semua alumni berprestasi, dari mereka akan terbaca pola sekolah dalam mendidik anak.

5. Biaya pendidikan

"Jer basuki mawa beya"

Sesuatu yang berharga itu ada harganya. Jika kita memilih sekolah hanya berdasarkan murahnya, jangan banyak berharap selain mendapatkan kemurahannya. Para ulama bahkan menjual atap rumah, baju, dan apapun demi membeli kertas untuk menulis, demi mendatangi guru, demi menginap di rumah guru, demi ilmu. Guru sejati tak pernah meminta upeti, murid sejati tak pernah tak berbakti. Sekalipun begitu, jangan juga hanya memilih sekolah karena mahalnya. Mahal murah suatu sekolah tidak serta merta menunjukkan kualitas, bisa jadi hal tersebut hanya menunjukkan segmen pasar yang ditargetkan oleh sekolah.

6. Jarak lokasi sekolahan dengan rumah

Sekalipun jarak tak lagi jadi kendala di zaman sekarang, tentu kita tak ingin mengalami kesulitan dalam mengantarkan anak-anak kita bertemu guru mereka. Pendidikan bukan hanya mentransfer ilmu. Jika hanya itu, mesin telusur di internet mungkin jauh lebih berilmu. Apabila kita tetap ingin menyekolahkan anak kita di tempat yang jauh, pertimbangkanlah sekolah berasrama agar ilmu mereka tidak tercecer di jalan.

7. Kabar miring

Sebagaimana kita perlu mencari ulasan pembeli saat belanja di toko online, cobalah mengecek kabar-kabar miring yang beredar tentang sekolah yang sedang kita amati. Selain sebagai bentuk kewaspadaan, mengonfirmasi kabar tersebut kepada pihak sekolah akan lebih menenangkan kita. Semoga bukan mencari aib yang sedang kita lakukan karena kita akan bekerjasama dengan pihak lain terkait masa depan anak kita. Sudah menjadi kewajaran ketika kita perlu memastikan semuanya clear.

Semoga tulisan mengenai beberapa pertimbangan memilih sekolah dasar ini bermanfaat. Perlu diingat, sebaik apapun kualitas sekolah yang kita pilihkan untuk anak-anak kita, tak akan banyak berguna jika anak-anak tidak mendapat sentuhan langsung dari orang tua dalam proses pendidikan mereka.

SEKALI DAYUNG

"Kira-kira apa alasan Bapak Ibu menyekolahkan putranya di sini?" tanya petugas pendaftaran saat mewawancara calon wali murid.
"Kami ingin anak kami jadi anak yang shalih, Ustadz."

"Baik. Kalau Bapak Ibu hanya ingin agar putranya menjadi anak yang shalih, sekolah lain mungkin banyak juga yang tujuan pendidikannya sesuai dengan harapan Bapak Ibu. Sayang kalau Bapak Ibu hanya ingin putranya menjadi anak yang shalih."
Kedua orang tua itu terdiam.

"Di sini," lanjut petugas.
"Kami berharap alasan orang tua menyekolahkan putra putrinya di sekolah ini sama dengan alasan kami mendirikan sekolah ini."
"Apa itu, Ustadz?" sang ibu penasaran namun merasa sedang berada di tempat yang tepat.

"Kita ingin tidak hanya mendidik anak yang shalih tapi sekaligus berusaha mendidik keturunan mereka menjadi keturunan yang shalih. Sayang jika doa kita hanya sampai pada anak-anak kita. Kalau bisa doa kita ditujukan sekalian untuk anak kita dan anak keturunannya."

Tak salah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu memilihkan istri untuk putranya. 'Ashim bin Umar dilamarkan seorang putri penjual susu. Seorang khalifah memilih menantu dari kalangan rakyat jelata. Apa yang sedang diharapkannya? Sesungguhnya khalifah Umar tidak hanya sedang memilihkan istri untuk putranya tapi calon penghulu shalihah untuk anak keturunannya.

Suatu malam Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu melakukan patroli dan mendengar dari luar rumah suara seorang putri menolak ide ibunya untuk mencampur susu dengan air agar penjualan susunya bisa mendapatkan untung lebih banyak. Rasa takutnya pada Allah membuat putri penjual susu itu nampak begitu istimewa di mata khalifah.
"Khalifah Umar tidak tahu, tapi Rabb-nya khalifah Umar Maha Tahu," tuturnya lembut pada sang ibu.

Kelak masyhur bahwa cucu dari manantu shalihah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu itu menjadi sultan yang amil zakatnya kesulitan mencari mustahiq di seluruh negeri karena kesejahteraan rakyat sudah merata pada masa kepemimpinannya. Dialah Umar bin Abdul Aziz, sultan yang dijuluki khalifah kelima. Ia lahir sebagai jawaban atas doa kakek buyutnya, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan 'Ajam.”

Rasulullah Muhammad, shalawat dan salam atasnya, utusan terakhir penutup para nabi, lahir dari garis keturunan bapaknya para nabi alaihimussalaam. Mungkin Nabi ibrahim tak pernah melihat pengabulan salah satu doanya itu usai meninggikan bangunaan Ka'bah, "Duhai Rabb, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka (penduduk Makkah) seorang utusan dari golongan mereka yang membacakan mereka ayat-ayatmu dan mengajarkan mereka kebijaksanaan dan menyucikan mereka."

Dari jalur Siti Sarah, lahirlah Nabi Ishaq sebagai putra Nabi Ibrahim. Nabi Ishaq memiliki putra yang juga seorang nabi yaitu Nabi Ya'qub. Menjelang ajal Nabi Ya'qub mengaminkan doa kakeknya dengan mengumpulkan seluruh putranya. Ditanyakan kepada para putranya, "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

Nabi Ya'qub merasa tenteram mendengar jawaban para putranya, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Iman Nabi Ibrahim yang lurus terus berlanjut. Nabi demi Nabi lahir dari garis keturunannya. Doa Nabi Ibrahim terpelihara dari generasi ke generasi. Sekian generasi dari doa itu dipanjatkan diutuslah di negeri Makkah seorang Nabi. Nabi itu menjadi tauladan hingga kini, shalawat dan salam teruntuk baginda Rasulullah Muhammad, semulia-mulia Nabi.

Beliau yang mulia mengajarkan kita do'a, "Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman..."

Iman kita hari ini tidak bisa dilepaskan dari iman para pendahulu kita. Barangkali kita bisa melaksanakan shalat bukan semata-mata karena mendapat karunia hidayah melalui doa yang kita minta. Boleh jadi shalat itu merupakan pengabulan atas doa-doa orang tua kita, kakek nenek kita, buyut kita, atau bahkan pengabulan doa Nabi kita, "Ya Rabb, jadikanlah aku penegak shalat, dan juga keturunanku."

Sudah sewajarnya dan sepatutnya jika saat ini kita munajatkan doa serupa untuk anak keturunan kita, untuk generasi-generasi setelah kita, bukan hanya untuk anak-anak kita.

Mencari Jodoh Itu Seperti Mencari Masjid untuk Sholat Jumat

Yang pertama menikah itu bagian dari sebentuk ibadah kepada Alloh. Ia separuh agama yang niat dan caranya harus benar. Separuhnya lagi takwa. Kita menunaikan sholat Jumat bukan sekedar gaya-gayaan.

Mandi besar, potong kuku, cukur kumis, berpakaian rapi, beraroma wangi, baca surat Al-Kahfi, siap-siap menghadap Ilahi. Meski tak harus, mempersiapkan pernikahan membuat aktivitas kita lebih bernilai, pahala tercatat di sisi-Nya. Bukan sekedar biar seger ketemu sodara seiman di masjid, sekali lagi aktivitas preparation itu berpahala tersendiri.

Kadang seorang pria cukup menjangkah beberapa langkah untuk menemukan masjid di dekat rumahnya. Kadang ada yang perlu menjalani gang berliku-liku atau bahkan perlu naik bis beberapa kali karena ingin sholat Jumat di masjid tertentu. Kadang seorang pria sengaja mengagendakan ke masjid anu karena khotibnya ustadz anu, akhirnya bisa ketemu.

Ada pula perjalanan ke masjid idaman ternyata harus tertahan lantas seorang pria terpaksa sholat di masjid kecil pinggir jalan. Ada pria mendaki gunung melewati lembah ke masjid terpencil untuk berkhutbah. Ada juga pria sekedar sholat Jumat seperti biasa di tempat kerja. Ada para musafir dan pengusaha yang sholat Jumat di tengah kesibukannya.

"Innash sholaata kaanat 'alal mu'miniina kitaabam mauquuta"
Ketika sudah berkumandang adzan segeralah tinggalkan jual beli, sesungguhnya sholat itu atas orang-orang beriman telah ditetapkan waktunya. Orang Jawa bilang, "Yen wes mangsane rabi mbok yo ndang rabi."
Ada pria yang mempersiapkan Jumatnya sejak malam hari atau pagi buta. Ada pria tergesa-gesa ke masjid karena khutbah hampir usai. Ada pria yang menjalani hari Jumatnya biasa saja namun saat adzan berkumandang ia siap sedia.

Ada pria yang lalai bahkan lupa jika hari itu hari Jumat. Ada pria lupa sholat Jumat saking sibuknya. Ada yang tak kuasa melangkah ke masjid lalu mendapat rukhshoh-Nya. Ada yang tahu namun tak mau, ada yang mau namun tak mampu. Semua ada ceritanya.

Terkadang ada musafir kebingungan mencari masjid, bertanya kesana kemari, lalu diberitahukan kepadanya sebuah masjid sederhana. Terkadang juga ada para pria yang perlu diingatkan bahwa sebentar lagi adzan sholat Jumat. Ada yang menyesal berangkat terlambat sehingga dapat shof di halaman masjid yang panas mencekat. Tentu ada juga yang berlomba-lomba duduk di shof paling depan. Ada juga pria oportunis pencari celah kosong di antara dua saudaranya.

Jangan lupa, ada juga pria yang harus mendirikan masjid, mendakwahi orang-orang, lalu baru mendirikan sholat Jumat.

Bermacam-macam cara mencari masjid untuk sholat Jumat. Apakah ada bedanya? Berbagai upaya, cara, cerita para pria menemukan masjid seakan mirip dengan cara mereka menemukan jodoh. Bagaimanapun cara menemukan masjid, yang jelas sholat Jumat itu ibadah. Tidak peduli masjid kecil atau megah, siapa yang berkhutbah, jika sudah waktunya maka menikahlah. Dipersiapkan sesiap apapun, di masjid mana kita dihimpun, itu urusan-Nya.

Jangan tidak sholat Jumat hanya karena tidak di masjid sana. Paham kan maksud saya? :)

Kini Yang Tersisa Hanya Kalian Para Buruh

Mayday...

Kini yang tersisa hanya kalian para buruh
Buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota
Yang bersatu padu merebut demokrasi kala itu
Hanya buruh yang masih tetap buruh

Tani sudah kehilangan lahan
Mereka sudah bukan lagi tani
Sawah mereka berubah hotel apartemen dan perumahan

Mahasiswa sudah jadi akademisi
Mereka mendapat banyak beasiswa ke luar negeri
Mereka sudah jadi orang-orang penting di negeri ini

Rakyat miskin kota sudah tiada
Mereka berubah menjadi gelandangan tunawisma
Digusur disingkirkan dipulasara
Merusak keindahan dan ketertiban katanya

Kini tinggal buruh
Buruh yang bermutasi menjadi tenaga kerja terdidik
Buruh yang mulai paham bisnis
Buruh yang bukan sekedar sapi perah
Buruh yang dengan pengetahuan mampu bekerja lebih efektif dan efisien
Buruh yang berpenampilan layaknya pekerja kasar namun cara bicaranya intelek
Berpikirnya melek

Kelas buruh tercipta saat industrialisasi
Kelas buruh tersiksa selama kapitalisasi
Kelas buruh bertransformasi sejak reformasi
Kelak kelas itu tak akan ada lagi
Bukan karena punah atau mati
Buruh tetap buruh namun dengan independensi

Kita sama kita berkolaborasi
Hanya pemula atau ahli
Bukan majikan dengan kuli
Tak akan lagi ada industri
Yang ada paguyuban produksi

Akan terwujud kesetaraan dan kesejahteraan
Bukan karena terpenuhinya tuntutan
Namun karena kita berdampingan

Tangan buruh tangan melepuh yang dicium nabi

Salam dari kami
Buruh yang menikah empat tahun lalu tanggal 1 Mei

Akhid & Siti

Lima Solusi Masalah-masalah Berat (Sekolah Pendidikan Skripsi Karir Pekerjaan Asmara Jodoh Kesehatan Pernikahan Keturunan Penyakit Rezeki Bisnis Keuangan Utang dsb)

Sob, kalo ente merasa galau, kalut, banyak masalah, bagai telur di ujung tanduk, coba ini:

1. Perbaiki hubungan dengan Alloh. Mantepin ibadah wajib dan sunnah. Terus perjuangkan hingga merasa bahwa tugas manusia hanya beribadah. Masalah dunia nggak ada bandingannya sama tugas manusia untuk beribadah. Contoh action: lakukan satu ibadah saja yang khusus dan ikhlas, nggak perlu yang berat-berat. Apapun yang bisa dilakukan, lakukan!

2. Perbaiki hubungan dengan orang tua. Muliakan orang tua. Minta maaf sama orang tua. Maafkan mereka. Minta ridho keduanya. Doakan mereka. Muliakan saudara dan keluarga mereka. Contoh action: lakukan apa saja untuk memuliakan orang tua, termasuk orang tua ialah guru. Lakukan kebaikan yang menyenangkan mereka, terutama orang tua kandung, kakek, nenek, pakde, bude, paklil, bulik, dsb.

3. Stop dan jauhi maksiat. Tutup peluang-peluang maksiat. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk. Tobat setobat-tobatnya. Contoh action: istighfar sebanyak-banyaknya. Jaga mata, jaga mulut.

4. Penuhi kewajiban-kewajiban terhadap sesama. Yang punya utang dilunasin. Yang punya tanggungan diselesaiin. Yang punya janji dipenuhin. Contoh action: bayar gaji karyawan sesuai haknya. Renegosiasi kewajiban-kewajiban yang belum bisa diselesaikan.

5. Lakukan usaha untuk menyelesaikan masalah dibarengi doa sungguh-sungguh pada Alloh. Yang kelima ini baru dilakukan setelah yang nomor satu sampai empat dijalanin. Ketika sedang berproses melakukan nomor satu sampai empat, nggak usah mikirin yang kelima. Jangan ngandelin otak sama otot doang. Nggak usah mikir gimana-gimana dulu. Yakin bahwa solusi udah disiapin sama Alloh. Contoh action: pikir sendiri. Kalo mau minta tolong orang atau mencari jalan penyelesaian masalah, berdoalah seemosional mungkin di tengah perjalanan. Ingat, solusi hanya dari Alloh.

Coba deh sob, lima hal itu. Nggak perlu dalil-dalil dari ayat Al-Quran atau Al-Hadits kayaknya ya, insyaalloh shohih cespleng. Atas izin Alloh, beres semua masalah.

Kita dan Pengabulan Do'a Anak-anak Kita

Barangkali kebanggaan orang tua terhadap anak-anak mereka yang pandai sains, juara kelas, cakap bermain musik, menyanyi, dan menari mulai tergeser oleh kebanggaan orang tua terhadap banyaknya hafalan Al Quran anak-anak mereka. Subhanalloh.

Wahai ayah bunda, sedemikian mulianya, tapi mungkin di Palestina sana para orang tua tidak lagi bangga terhadap hafalan Al Quran anak-anak mereka, yang mereka banggakan ialah kematian anak-anak mereka di medan jihad.

Mereka mengajarkan anak-anak mereka Al Quran bukan untuk dibanggakan. Mereka menghapal Al Quran agar bisa berada di garis depan, dengan senapan di tangan kanan. Hanya ada dua pilihan: hidup mulia di atas kemenangan atau mati bahagia dalam kesyahidan.

Anak-anak dilahirkan bukan sekedar sarana penyejuk pandangan atau motif kebanggaan. Mereka ditempa untuk dikirim ke medan perjuangan.

Layaknya Al Khonsa mengutus satu per satu putra laki-lakinya ke medan juang, hingga keempatnya hanya raga tak bernyawa saat pulang, begitu juga semestinya kita.

"Warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo", semoga tulus doa anak-anak kita ketika mereka memohon pada Alloh agar tercurah kasih sayang-Nya bagi kita, sebagaimana kita mengasihi mereka, mendidik mereka, membina mereka sewaktu mereka masih kecil.

Orang tua membesarkan anak-anak mereka agar menjadi sarana turunnya rahmat Alloh, bukan agar anak-anak itu menjadi sesuatu yang membuat mereka bangga dan bahagia.

Dan ketika anak-anak kita memenuhi perintah Alloh untuk memelihara kita di masa tua, merekalah setetes rahmat Alloh bagi kita, yg sebenarnya ialah sebentuk pengabulan Alloh atas doa-doa mereka.

Mengajarkan Rukun Islam pada Anak

Mengajarkan Rukun Islam pada Anak

Rukun Islam menjadi bagian dari pokok ajaran Islam yang pertama-tama harus diajarkan kepada Anak. Bagaimana cara mengajarkan rukun Islam pada Anak? Tentu kita perlu mengajarkan rukun Islam pada anak sesuai kemampuan mereka.

Kali ini mari kita bahas cara mengajarkan rukun Islam pada anak melalui media syair. Terlepas dari perbedaan pendapat boleh tidaknya lagu dijadikan media belajar, semoga lagu yang bermaksud mengajarkan rukun Islam pada anak ini menjadi salah satu sarana belajar anak.

Seorang anak barangkali belum bisa mencerna banyak dalil aqli maupun naqli sehingga cukup kenalkan pada mereka kalimat-kalimat kunci terkait rukun Islam. Rukun Islam yang lima bisa diajarkan pada anak melalui syair berikut:

Rukun Islam
(disenandungkan dengan nada "Balonku")

Rukun Islam yang lima
Syahadat, Sholat, Puasa,
Zakat untuk si Papa,
Haji bagi yang kuasa

Siapa belum Sholat?
DOR!!!
Siapa belum Zakat?
Kan rugi di akhirat
Nanti Alloh melaknat

Semoga syair untuk mengajarkan rukun Islam pada anak ini bermanfaat bagi Anda. Silakan like & share jika Anda menyukainya...

Kestabilan Pergerakan Dakwah

Tidak ada gerakan dakwah yang tidak mengalami guncangan. Tabiat dakwah sendiri mengharuskan banyaknya halangan menjadi salah satu dinamikanya. Dengan berbagai fitnah cobaan yang menyertainya dakwah selalu saja bisa bertahan.

Dakwah terus bertahan dalam terpaan badai selain karena Alloh menghendaki demikian juga karena Alloh menurunkan pertolongan-Nya kepada para da'i. Turunnya pertolongan Alloh menjadi berita gembira bagi para pejuang yang senantiasa berusaha menjaga kestabilan gerakan dakwah. Ada hal-hal yang berada di wilayah ikhtiar manusia sebelum Alloh mengokohkan dakwah dengan pertolongannya.

Untuk menjaga kestabilan pergerakan dakwah setidaknya ada lima (5) hal yang harus kita usahakan agar kelimanya bisa terus berada dalam kondisi stabil. Dengan menjaga kestabilan lima hal berikut insyaalloh akan turun pertolongan Alloh untuk mengokohkan kestabilan sebuah pergerakan dakwah. Pertama, kita jaga kestabilan jiwa-jiwa kita. Kedua, kita jaga kestabilan keluarga-keluarga kita. Ketiga, kita jaga kestabilan masyarakat sekitar kita. Keempat, kita jaga kestabilan struktur dakwah kita. Kelima, kita jaga kestabilan aktivitas dakwah kita.

1. Istiqrorun nafsi
Sebuah bangunan yang kokoh tentu tersusun dari material-material berkualitas. Jiwa-jiwa yang stabil dan tenang muncul akibat ketakwaan pada Alloh. Pendekatan diri pada Alloh memegang peranan penting dalam proses menuju kestabilan jiwa. Seorang dai mutlak berusaha menjaga kebaikan hubungannya dengan Alloh.

2. Istiqrorul a'ili
Alloh menciptakan manusia saling berpasangan. Salah satu tujuan Alloh menjadikan manusia seperti itu dan menggariskan syariat pernikahan ialah agar pasangan-pasangan manusia bisa menggapai sakinah. Kestabilan keluarga menjadi penting bagi sebuah pergerakan dakwah. Keluarga berperan sebagai basis pergerakan.

Seorang dai perlu dukungan istri dan anak-anak dalam berdakwah. Sekedar panggilan apel siaga di hari libur atau permintaan mengisi majlis ta'lim di jam keluarga bisa memunculkan konflik jika sebuah keluarga tidak memiliki kestabilan. Posisi keluarga sangat strategis untuk menumbuhkan kestabilan pergerakan dakwah sehingga sebuah gerakan dakwah yang stabil senantiasa menjaga kestabilan keluarga kadernya. Termasuk dalam lingkup menjaga kestabilan keluarga ialah mendorong dan mengarahkan bagaimana para kader membentuk keluarga sesuai karakteristik yang dibutuhkan oleh gerakan dakwah. Mencarikan jodoh menjadi bagian dari upaya tersebut.

3. Istiqrorul ijtima'i
Dakwah akan terganggu kestabilannya jika lingkungan yang menjadi tempat tumbuh kembang gerakan dakwah tidak stabil. Hal ini mengharuskan dakwah tidak saja mengurusi masjid namun juga masalah-masalah keumatan di luar masjid. Sebisa mungkin para dai dan masyarakat ibarat singa dan hutan. Hutan menjadi sarang singa. Ketika posisi dakwah terancam, masyarakat akan membelanya.

4. Istiqrorut tandzimi
Sebuah bangunan kokoh tidak hanya membutuhkan material-material berkualitas, ia perlu struktur yang kuat. Struktur menjadi pokok penopang banyaknya material yang berikatan satu sama lain agar tidak saling merobohkan. Beban seberat apapun akan bisa ditopang kerangka-kerangka kecil asal perhitungan dan peletakan posisi strukturnya tepat. Struktur yang stabil berfungsi menghindarkan gerakan dakwah dari roboh akibat guncangan-guncangan tektonik. Bahkan jika seluruh bangunan hancur namun strukturnya masih kokoh, ia akan bisa dibangun ulang mengikuti struktur yang ada.

5. Istiqrorud da'awi
Hidup mati sebuah pergerakan dakwah nampak dari hidup matinya aktivitas dakwah. Sebaik dan sekokoh apapun kader, keluarga, masyarakat, dan struktur dakwah, tanpa stabilnya aktivitas dakwah ibarat rumah megah tak berpenghuni. Dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar harus senantiasa tegak. Selama aktivitas dakwah terus dijaga agar stabil, selama itu pula pergerakan dakwah akan melaju.

Sebuah sepeda akan berjalan stabil dan penumpang-penumpang di atasnya tidak akan terjatuh apabila ia terus bergerak melaju. Semakin cepat dan fokus laju sepeda, guncangan-guncangan di jalan berlubang tidak akan terlalu dirasa menyakitkan oleh para penumpang. Memang ada kalanya sepeda perlu berjalan melambat, namun ini strategi, bukan isyarat untuk berhenti.

Semoga kita bisa menjaga pergerakan dakwah agar terus dalam kondisi stabil dengan menjaga kestabilan diri, keluarga, masyarakat, struktur, dan dakwah itu sendiri.

Keluarga Ideologis

Selasa 22 April 2014 saya mengantar bapak dan ibu mertua saya ke komplek Kementrian Agama Kabupaten Sleman. Siang itu diadakan acara pengukuhan juara Keluarga Sakinah Teladan tingkat kabupaten Sleman. Mertua saya mewakili kecamatan Cangkringan hingga akhirnya menjadi tiga besar se-Sleman. Dari seleksi administrasi, wawancara, sampai penilaian kunjungan rumah menempatkan mertua saya pada perolehan nilai tiga besar tertinggi.

Hari sebelumnya tanggal 21 April 2014 ramai dibincangkan orang sebagai Hari Kartini. Di berbagai media muncul nuansa wanita dan ibu dikemas menjadi berita menarik terkait peranan wanita dan emansipasi. Hari itu teman sekantor saya mencari model untuk ditampilkan dalam salah satu marketing tools. "Saya butuh keluarga muslim untuk dijadikan model cover produk"

Tanpa panjang saya menimpali, "Keluarga biologis atau keluarga ideologis?

Hari sebelumnya dalam sebuah grup chatting yang saya ikuti muncul sedikit sentimen bujang-berkeluarga-anak. Saya menutup topik pembicaraan itu dengan pernyataan, "Anak biologis maupun ideologis"

Terminologi biologis dan ideologis (baca : agamis, Islami) saya ambil untuk membuka cakrawala pandang kita mengenai pengertian keluarga dan anak. Bahwa ada keluarga serta anak biologis, ada keluarga serta anak ideologis, akan kita bahas bersama. Apa maksud penggunaan istilah biologis dan ideologis?

Nabi Nuh, Luth, Ibrahim, Ismail, Muhammad 'alaihimussholatu wassallam akan menjadi model kita dalam memahami makna biologis dan ideologis. Saya kira sebagian besar dari kita telah memahami bagaimana istri dan anak kandung nabi Nuh tidak berada di pihak sang suami ketika diuji oleh Alloh. Begitu pula istri nabi Luth justru menentang sang suami. Keluarga nabi Ibrahim berbeda dengan sang ayah namun keturunannya ke bawah menjadi tauladan kita betapa sebuah keluarga bisa sangat kompak menaati Alloh, juga keluarga nabi Ismail dan seterusnya hingga ditutup kisah dahsyat nabi Muhammad.

Benar bahwa sebuah keluarga kelak akan bisa berkumpul di surga namun bagaimana dengan istri, anak, orang tua, dan keluarga para nabi yang ternyata tidak seideologi dengan sang nabi? Di sinilah berlaku firman Alloh "Harta dan keturunan tidak bermanfaat". Jika maut memisahkan sebuah keluarga dalam keadaan berbeda ideologi, niscaya di akhirat mereka tidak akan bertemu.

Rosululloh bersabda dan benarlah sabda beliau, "Nikahilah wanita yang penyayang dan banyak anak karena aku akan membanggakan banyaknya jumlah umatku dibanding nabi-nabi lain di akhirat kelak." Begitu sabda beliau atau sebagaimana beliau bersabda, mari kita endapkan. Ada beberapa clue agar tidak sempit kita memaknai kata-kata. Semoga ini bukan cara memahami hadits secara asal-asalan. Saya hanya ingin membuka wawasan agar tak ada yang berpotensi terpojokkan.

Pertama, NIKAH, lalu wanita penyayang, ketiga banyak anak, terakhir banyaknya jumlah umat Muhammad menjadi clue hadits tersebut menurut saya. Ide utama kalimat hadits tersebut bukanlah nikah, wanita penyayang, maupun banyak anak, namun jumlah umat Muhammad. Kembali merujuk kepada kisah para nabi, ternyata pernikahan, keluarga, keturunan, anak dan sifat baik tidak menjadi jaminan kebersamaan suami istri atau sebuah keluarga di akhirat. Dengan kata lain itu semua bukan faktor penentu "menambah jumlah", namun bisa jadi sangat menentukan. Mohon diluruskan jika saya salah. Saya akan membahas satu per satu clue di atas.

1. Nikah
Pernikahan menjadi ibadah atau sunnah yang menyempurnakan separuh agama. Luar biasa keutamaan orang yang menikah semestinya menarik minat para lajang untuk bersegera dan berjuang mati-matian menuju pernikahan. Bersyukurlah mereka yang telah menikah.

Kita ingat kembali main goal yang dipesankan oleh Nabi, jangan sampai main goal ini luput. Target utama dari pernikahan dalam hadits yang kita bahas ialah banyaknya jumlah umat Muhammad, kita catat itu. Pernikahan merupakan salah satu sarana mencapai target itu. Jadikan ia washilah semata.

Dengan persepsi bahwa pernikahan semata washilah, tak ada alasan bagi pemuda dan pemudi yang belum menikah untuk tidak "menambah jumlah". Adapun jika sudah mampu menjemput takdir pernikahan, itu jauh lebih baik insyaalloh. Cara pandang ini insyaalloh akan menyederhanakan geliat hati mereka yang masih dalam masa penantian menjemput atau dijemput.

2. Wanita penyayang
Al-waduud yang bermakna penyayang mewakili sifat-sifat baik sebagai prasyarat seseorang untuk menghadirkan "penambahan jumlah". Sifat ini tidak hanya melekat pada seorang wanita, pria pun sangat mungkin memiliki sifat waduud. Dengan sifat penyayang tentu menyertainya sifat sabar, azam, visioner, dan tekun. Sifat-sifat ini mutlak dimiliki seorang aktivis "penambah jumlah".

Wanita penyayang sangat ideal dinikahi (untuk menambah jumlah). Tabiat dasar wanita ialah penyayang, jika saat ini bermunculan wanita-wanita tak sesuai fitrah, barangkali ini efek kumulatif berbagai program "pengurangan jumlah". Seorang sahabat pernah diinterupsi oleh Rosululloh ketika sahabat tersebut hendak menikahi seorang janda. "Kenapa tidak dengan gadis?"

"Keluarga saya rata-rata bertabiat keras, saya butuh wanita seperti dia untuk mengimbangi dan melunakkan."

Nampak betul keinginan sang sahabat melakukan taghyir penambahan jumlah. Bukan sekedar kesenangan duniawi atau hitung-hitungan jumlah matematis. Sifat lembut sekali lagi hanya sarana untuk "menambah jumlah". Pria maupun wanita amat pantas memiliki sifat waduud.

3. Banyak anak
Ketika sepintas membaca hadits yang kita bahas mungkin orang langsung mengerucutkan topik pada bab nikah sub bab kriteria calon pasangan ideal. Jika tidak, orang akan mengarahkan pembahasan pada keutamaan menikah dan banyak anak. Tak salah memang kedua pandangan itu namun saya berusaha mengendapkan lalu menarik garis bawah pada kata "banyaknya jumlah umat Muhammad". Frasa tersebut bukan sekedar artifisial pelengkap kalimat tentang banyak anak namun justru menjadi pokok kalimat yang melatarbelakangi kalimat tentang banyak anak.

Logika sederhananya tentu jika banyak anak dan terdidik dengan baik maka jumlah umat Muhammad semakin banyak. Dengan menikahi wanita yang banyak anak satu washilah teroptimalkan. Raw material telah siap tersedia untuk diolah.

Pertanyaan yang muncul, "Bagaimana cara mengetahui bahwa seorang wanita banyak anak?"

Jawaban mudah dan sangat kasat mata, "Nikahilah janda yang banyak anaknya"

Luar biasa heroik andai kita benar-benar terobsesi "menambah jumlah" lalu menikahi janda-janda beranak banyak. Tengoklah Rosululloh, tercatat hanya 'Aisyah rodhiyallohu 'anha yang dinikahinya dalam kondisi masih gadis. Tak perlu bersusah payah menunggu, bahan baku penambah jumlah telah siap olah. Apalagi jika janda itu penyayang, pastilah anak-anaknya merupakan bahan baku pilihan.

Ingat, para nabi pun tak bisa menjamin kesamaan ideologi para putra kandung mereka. Putra tiri seideologi akan lebih menambah jumlah daripada putra kandung tak seideologi. Hubungan darah hanya sarana agar upaya penambahan jumlah menjadi lebih natural.

Sejenak kita simak kisah nabi Ibrahim yang akhirnya beliau menikah untuk kedua kali dengan salah satu latar belakangnya yaitu ketiadakunjungan hadirnya putra. Beliau berikhtiar menikah lagi atas saran sang istri hingga akhirnya setelah istri kedua melahirkan Ismail disusul istri pertama melahirkan Ishaq. Seakan Alloh ingin menunjukkan pada kita bahwa keturunan dan anak adalah sama ghoib misteriusnya dengan perihal jodoh. Menanti kepastian keturunan sama dengan menanti kepastian jodoh dan pernikahan.

Mari terbang ke Palestina dan ke beberapa negeri konflik yang saya juga belum pernah ke sana. Konon di sana penambahan jumlah mujahid ialah dengan mengusahakan kelahiran sebanyak mungkin. Angka pernikahan dan kelahiran ditingkatkan. Di wilayah-wilayah inilah perintah memaksimalkan jumlah dua tiga dan empat barangkali menjadi wajib.

Di negeri hidden conflict seperti Indonesia strategi penambahan jumlah (dengan menambah) anak dan pernikahan sama masyru'. Ada kesamaan syariat meskipun karakter antarnegeri berbeda-beda. Disyariatkan pria menikahi dua tiga empat atau satu saja wanita yang disukainya. Bukan, bukan sekedar jumlah anak biologis yang menjadi tujuan pernikahan pertama kedua dan seterusnya.

Sangat manusiawi dan merupakan solusi syar'i apa yang dicontohkan nabi Ibrahim. Ketika bersama istri pertama tak kunjung berputra beliau menikahi istri kedua. Sekali lagi bukan sekedar anak biologis harapannya. Simak saja doa-doa beliau dalam Al-Quran, bukan doa pribadi. Bahkan beliau berdoa menembus generasi hingga dikabulkan doa beliau oleh Alloh beribu tahun kemudian dengan lahirnya Muhammad.

Ada banyak manusia lain yang juga telah renta namun tetap dikaruniai putra oleh Alloh. Siti Maryam tak menikah namun dikaruniai putra oleh Alloh. Semuanya menjadi cara Alloh menegakkan eksistensi dan menambah jumlah khalifah di muka bumi.

Lagi-lagi perkara anak menjadi urusan Alloh. Bukan wilayah kita menentukan berapa jumlah anak. Hanya ikhtiar manusiawi yang bisa kita lakukan. Tinggal bagaimana kita mengisi kertas-kertas putih karunia Alloh menjadi kertas warna-warni Ilahiyah.

Kalaupun harus menunggu kehadiran anak biologis, hal itu bukanlah berarti "penambahan jumlah" tidak bisa terjadi dalam masa menunggu. Logika penambahan jumlah anak biologis ialah logika matematis sederhana tentang deret ukur. Tanpa penambahan faktor luar, faktor internal saling dikalikan menjadi berlipat-lipat.

Penambahan jumlah bisa melalui deret ukur maupun deret hitung. Deret hitung memungkinkan penambahan jumlah dari luar. Kita mengenalnya dengan istilah rekruitmen. Deret ukur yang merupakan perkalian internal kita kenal sebagai kaderisasi. Efek deret ukur memang jauh lebih berlipat dari deret hitung, wajar saja karena prosesnya juga lebih berat. Dengan menggabungkan deret hitung dan deret ukur insyaalloh penambahan jumlah akan signifikan.

Tak sedikit orang-orang sholih ditakdirkan berada dalam kondisi menunggu hadirnya seorang Ishaq. Ketika pilihan mengarah pada jalan nabi Ibrahim menikahi Siti Hajar, bukan peristiwa mudah bagi banyak orang. Tidak mudah menerima pilihan itu bagi suami maupun istri, terlebih keluarga besar dan lingkungan sekitar.

Hadirnya Ismail dan Ishaq menjadi sebentuk reward Alloh atas cinta mereka kepada Alloh yang melebihi cinta mereka kepada selain-Nya. Selama ini banyak kalangan menyudutkan pria dalam bab ta'adud. Tidakkah terbayang dalam benak kita bahwa suami istri yang memilih jalan itu sama-sama merasakan berat? Hingga mereka lebih mencintai Alloh, Rosul dan Jihad, mereka terus berusaha mengolah cinta kepada pasangan menjadi sebentuk ketaatan. Jika harus direndahkan mereka akan merendah tunduk pada ketentuan Alloh dan Rosul-Nya. Yang ada dalam dasar hati mereka bukan semata-mata kesenangan dan kehadiran anak.

Sangat manusiawi seorang anak manusia merindu hadirnya dzurriyyah yang menyejukkan hati. Akan tetapi itu bukan tujuan utama sebuah pernikahan. Bisa disimpulkan bahwa ending dari semuanya ialah banyaknya jumlah umat Muhammad, bukan banyaknya jumlah istri atau anak. Begitu pentingnya anak ideologis, sampai-sampai nabi Ya'qub kembali harus memastikan ideologi anak-anaknya menjelang beliau wafat. "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

4. Jumlah umat Muhammad
Semacam penutup pembahasan kita, kita kembali mengingat keinginan Rosululloh membanggakan jumlah umatnya yang lebih banyak dibanding nabi-nabi lain di akhirat kelak. Semua clue menjadi sunnah tak terbantahkan. Sebisa mungkin seluruh sabda nabi kita iyakan dan kita amalkan.

Dari semua yang bisa kita upayakan ada hal-hal di luar kendali yang tidak bisa kita pastikan untuk mencapai goal "banyaknya jumlah umat Muhammad". Pernikahan dan anak menjadi misteri dan rahasia Alloh tersendiri. Kasih sayang dan "penambahan jumlah" menjadi wilayah ikhtiari yang bisa diusahakan sesiapa saja tanpa melihat status berkeluarga atau belum, berputra atau belum.

Dari uraian panjang kita semoga kita bisa memposisikan lebih jernih apa itu keluarga dan anak biologis, apa itu keluarga dan anak ideologis. Keduanya (biologis dan ideologis) menjadi elemen penting dalam upaya "penambahan jumlah umat Muhammad" namun yang jauh lebih penting ialah elemen ideologis. Sedekat apapun hubungan darah, ideologi yang akan menyatukan atau memisahkan mereka di akhirat.

Allohu a'lam...

Pasrah Bongkokan


Judul di atas bisa bermakna totalitas menyerahkan semua urusan kita. Kepada siapa? Kepada sesiapa yang kita pasrahi. “Pokoknya saya sudah pasrah bongkokan.”
Bongkokan berarti terikat, layaknya beberapa batang ranting yang diikat jadi satu dengan kuat dan sangat sulit dilepaskan. Istilah dalam bahasa umum: “terima jadi”.

Pernahkah Anda merasa begitu percaya pada seseorang sehingga menaruh semua urusan pada orang tersebut? Misalnya dalam membangun rumah Anda menyerahkan dari desain hingga finishing, bahkan anggaran biayanya pada pemborong. Yang penting Anda punya rumah.

Dalam dunia pendidikan kita banyak melihat kecenderungan fenomena ini. Wali siswa sudah pasrah bongkokan kepada para pengajar di sekolah perihal pendidikan anaknya. Seakan-akan mereka sudah kewalahan menghadapi anak sendiri. “Apapun yang diberikan oleh sekolah insyaalloh baik untuk anak saya, “ anggap mereka.

Mungkin sebuah sekolah memang bagus, berhasil mendidik anak-anak sehingga berprestasi, juara sana-sini, hafal ayat-ayat dalam kitab suci dan sebagainya. Tapi apakah itu artinya kita menyandarkan semua urusan terkait pendidikan anak kita pada sekolah itu? Rasanya tidak seperti itu semestinya.

Bagaimanapun juga, kewajiban mendidik anak merupakan kewajiban orang tua. Orang tua lah yang akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak. Adapun para pendidik di sekolah insyaalloh mendapat pahala tersendiri di sisi Alloh.

Akan aneh ketika seorang ayah sibuk mengurusi bisnis bersama sang istri sedangkan anaknya “dititipkan” di sekolah elit dari pagi hingga petang. Aneh karena kedua orang tua tidak melakukan apa-apa tapi anaknya begitu sholih berkat pendidikan di sekolah. Tentu kita akan bertanya, sebenarnya anak itu anak siapa?

Aneh juga ketika anak lima tahun dikirim ke pesantren untuk menghafalkan Al-Qur’an, orang tua berharap hanya dari tumpukan Rupiah yang mereka infakkan di pesantren itu akan membuahkan seorang anak penghafal Al-Qur’an. Sungguh ironi tak terperi jika sampai para orang tua saling membanggakan jumlah hafalan anak-anak mereka padahal mereka tak melakukan muroja’ah bahkan satu ayat saja. Anak-anak sholih itu atas jerih payah siapa?

Baguslah jika kita mampu menyekolahkan anak kita di sekolah terbaik. Pastinya kita ingin anak kita jadi anak-anak yang baik dan berprestasi. Sepatutnya orang tua dan sekolah berkolaborasi. Sudah seharusnya orang tua dan sekolah berkongsi menjadi satu tim.

Tidak selayaknya orang tua menyerahkan begitu saja urusan pendidikan anak-anak mereka kepada sekolah. Semoga kita tidak menjadi bagian dari orang tua yang karena kekurangpahaman mereka, kemerasabodohan mereka, kemerasamiskinan mereka akhirnya membiarkan anak-anak dididik oleh sekolah tanpa visi. “Yang penting anakku sekolah setinggi-tingginya supaya mudah dapat kerja.”

“Kenapa Anda ingin menyekolahkan anak Anda di sini?” seharusnya pertanyaan ini selalu muncul dari seorang kepala sekolah saat hendak menerima siswa baru. Dari situlah akan muncul kesepakatan-kesepakatan antara orang tua dengan sekolah sehingga orang tua tidak hanya pasrah bongkokan atas pendidikan anak-anak mereka.

Kesimpulan kita dari tulisan ini adalah jangan pernah pasrah bongkokan kepada siapapun kecuali hanya pada Alloh subhanahu wa ta’ala. Allohu a’lam.

Faktor Penghambat Anak Belajar (Al-Quran)

Siang itu kami berbincang di kantor seperti biasanya. Kami rapat diselingi kisah keseharian kami masing-masing. Topik yang kami bicarakan adalah kondisi anak-anak di Taman Pendidikan Al-Qur'an saat ini. Berbagai macam anak dengan karakteristik dan keunikan membutuhkan kesabaran yang luar biasa dari para asatidz.

"Tempat saya itu ada anak yang beda dengan anak-anak lain. Teman-temannya itu lumayan bisa mengikuti hafalan surat-surat pendek. Anak itu bahkan Al-Fatihah pun gak apal-apal. Saya heran dengan anak itu. Saya penasaran hingga saya melakukan penyelidikan," cerita ustadz Endri.

"Setelah saya amati lingkungan di rumah anak itu, masyaalloh. Barangkali ini yang membuat anak itu susah ngapalin Qur'an. Lha gimana mau hafal Qur'an, gimana pelajaran mau masuk, kalau tiap hari pagi siang sore di rumah selalu disetelin jathilan dan ndangndut," kira-kira seperti itu ungkap ustadz Endri.

Di kesempatan lain seorang guru SD bercerita pada saya mengenai anak didiknya.
"Rata-rata siswa di tempat saya bisa mengikuti pelajaran, hanya dua anak yang parah gak ketulungan. Anak itu sukanya njathil, kebetulan dekat sekolahan ada paguyuban kesenian jathilan. Dua anak itu benar-benar susah menerima pelajaran dibanding anak-anak pada umumnya," tutur mas Woko.

Bukan mengkambinghitamkan jathilan dan dangdut, kedua kisah di atas hanya menjadi semacam sampel. Mungkin kita tahu efek musik klasik pada perkembangan kecerdasan otak seorang anak. Mungkin kita tahu efek dzikir, doa dan bacaan Al-Qur'an pada anak semenjak dalam kandungan. Mungkin kita pernah membaca efek kata-kata baik dan buruk pada senyawa air. Kira-kira kita akan menyimpulkan apa?

Baiklah jika kita menganggap bahwa jathilan dan dangdut itu merupakan sebuah seni. Baiklah keduanya budaya Indonesia. Budaya merupakan hasil cipta rasa karsa manusia. Budaya haruslah berupa kebaikan, dalam bahawa Arab budaya sering disebut sebagai 'urf. 'Urf merupakan kebiasaan, keumuman, atau yang luas diketahui orang.

Antara 'urf dan ma'ruf itu harus beriringan. Dalam sebuah ayat Alloh menyuruh kita memerintahkan yang ma'ruf, di ayat lain Alloh menyuruh kita memerintahkan yang 'urf. Kebaikan itu harus dibudayakan. Kebaikan harus dikenal sebagai kebaikan oleh banyak orang. Kita menyebutnya sebagai syiar. Jathilan dan dangdut yang destruktif, apakah bisa disebut budaya?

Kembali pada pembahasan faktor yang menghambat anak menghafal Al-Qur'an. Jika demikian, mari kita simpulkan bahwa asupan lingkungan yang baik insyaalloh akan menjadikan perkembangan anak baik. Sebaliknya, asupan lingkungan yang tidak baik, dalam hal ini lagu/ musik yang urakan, sepertinya memang mengakibatkan perkembangan anak cenderung terganggu atau bahkan terhambat.

Dalam surat Luqman ayat enam (6) Alloh berfirman yang artinya, "Dan di antara manusia ada orang yang menggunakan percakapan kosong untuk menyesatkan manusia dari jalan Alloh tanpa ilmu dan menjadikannya olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan."

Dahulu orang kafir Quraisy menyewa para penyanyi atau penyair perempuan untuk menarik perhatian orang-orang agar mereka tidak mendengarkan Al-Qur'an. Dalam ayat berikutnya Alloh berfirman yang artinya, "Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, dia berpaling dengan menyombongkan diri seolah-olah dia belum mendengarnya, seakan-akan ada sumbatan di kedua telinganya. Maka gembirakanlah dia dengan azab yang menghinakan."

Jika terlalu banyak suara negatif dikonsumsi anak, bukan tidak mungkin anak akan terhambat perkembangan dan proses belajarnya. Bahkan Alloh mengancam orang yang menggunakan perkataaan kosong untuk memalingkan diri dari ayat Alloh. Alloh mengancam mereka dengan azab yang menghinakan.

Semakin dinasihati, semakin bagai tersumbat telinga mereka. Na'udzubillahi min dzalik. Semoga putra-putri kita tidak termasuk yang demikian. Jika putra-putri kita mulai susah menerima pelajaran, susah diberi pemahaman dan nasihat, barangkali bisa dilacak apakah ada suaa negatif atau sia-sia yang memalingkannya dari ayat-ayat Alloh.

Atas studi kasus di awal tulisan ini, bolehlah kita simpulkan pula bahwa lagu/ musik urakan akan menghambat anak dalam menghafal Al-Qur'an. Allohu a'lam.