"Sholat Jum'at Dulu Biar Tambah Ganteng" Ternyata Ada Dalilnya

“Sungguh di surga ada pasar yang didatangi penghuni surga setiap Jumat. Bertiuplah angin dari utara mengenai wajah dan pakaian mereka hingga mereka semakin indah dan tampan. Mereka pulang ke istri-istri mereka dalam keadaan telah bertambah indah dan tampan. Keluarga mereka berkata, ‘Demi Allah, engkau semakin bertambah indah dan tampan.’ Mereka pun berkata, ‘Kalian pun semakin bertambah indah dan cantik’” (HR. Muslim)

Meme "Sholat Jumat dulu biar tambah ganteng" yang populer dipakai sebagai DP BBM para pria menjelang sholat Jumat mengingatkan para lelaki bahwa kini saatnya sholat Jumat. Hentikan aktivitas! Hentikan jual beli! Mari pergi ke masjid agar Alloh ridho, agar masuk surga. Di surga nanti tiap Jumat ada pasar, laki-laki yang pergi ke pasar itu pulangnya nambah ganteng.

Dalam surat Al-Jumu'ah Alloh berfirman yang artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan sholat pada hari Jumat, maka segeralah kamu mengingat Alloh dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Jumu'ah: 9)

Ya! Jika kita mengetahui, benarlah firman Alloh. Mungkin benar juga yang dimaksud meme "Sholat Jumat dulu biar tambah ganteng". Kelak orang-orang yang meninggalkan jual beli untuk bersegera menuju masjid menunaikan sholat Jumat akan diberikan pasar yang jauh lebih baik di surga. Di pasar itu cowok-cowok keren jadi tambah keren saat kembali ke rumah bertemu istri-istri mereka yang juga nambah cantik setelah ditinggal suami mereka ke pasar.

So, masih ragu kalau sholat Jumat bisa bikin tambah ganteng? Ayo rajin berangkat sholat Jumat sob!

Allohu a'lam...

Pria Pendosa yang Sholih

Suatu malam Sultan Murod Ar-Robi` merasa sangat gundah. Dia tidak mengetahui sebabnya. Sang Sultan memanggil kepala penjaga dan memberitahukan kegundahannya.

Sultan mempunyai kebiasaan memeriksa keadaan rakyatnya scara sembunyi-sembunyi. Sultan berkata kepada kepala penjaga, "Mari kita keluar berjalan di antara penduduk (untuk memeriksa dan memantau keadaan mereka)."

Mereka berjalan hingga sampai di sebuah pemukiman. Sultan melihat seorang pria tergeletak di atas tanah. Sultan menggerak-gerakkannya dan ternyata pria itu telah tewas.

Anehnya orang-orang berlalu lalang di sekitarnya tidak mempedulikan pria itu. Sultan pun memanggil mereka tapi mereka tidak mengenali Sang Sultan. Mereka berseru, "Ada apa?"
"Kenapa pria ini tewas dan tak seorangpun membawanya? Siapa dia? Dan dimana keluarganya?"
Mereka berujar, "Ini orang zindiq (pendosa), suka minum khomar, dan pezina."
Sultan menimpali, "Bukankah dia dari golongan umat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam? Ayo bawa dia ke rumah keluarganya!"

Mereka membawa jenazah pria itu. Sesampai di rumah istri pria itu melihat suaminya dan langsung menangis. Orang-orang segera beranjak pergi kecuali Sang Sultan dan kepala penjaga.

Di tengah tangisannya sang istri berseru kepada dua pengantar jenazah yang belum juga pergi, "Semoga Allah merahmatimu wahai wali Allah, aku bersaksi bahwa Engkau sungguh wali Allah."
Sultan Murod terheran-heran mendengar ucapan wanita tersebut lalu berkata, "Bagaimana mungkin aku termasuk wali Allah sementara orang-orang berkata buruk terhadap si mayit hingga mereka enggan mengurusi mayatnya?"

Mendengar kata-kata sang Sultan yang merasa tidak mungkin wali Alloh menolong jenazah pendosa wanita itu mengatakan, "Aku sudah menduga hal itu. Sungguh suamiku setiap malam pergi ke penjual khomar lalu membeli seberapa banyak yang dia bisa beli kemudian membawanya ke rumah kami dan menumpahkan seluruh khomar ke toilet dan dia berkata, 'Semoga aku bisa meringankan keburukan khomar dari kaum muslimin.' Suamiku juga selalu pergi kepada para pelacur lalu memberinya uang dan berkata, 'Malam ini engkau kubayar dan jangan kaubuka pintu rumahmu hingga pagi.' Kemudian suamiku kembali ke rumah dan berujar, 'Alhamdulillah, semoga dengan begitu aku bisa meringankan keburukannya dari pemuda-pemuda muslim malam ini.' Sementara itu orang-orang menyaksikan dan mengetahui bahwa suamiku membeli khomar dan masuk ke rumah pelacur sehingga mereka membicarakan suamiku dengan penuh keburukan. Pernah suatu hari aku berkata pada suamiku, 'Sungguh jika seandainya engkau mati tentu tak ada orang yang akan memandikanmu, menyolatkanmu, dan menguburkanmu.' Suamiku tersenyum dan menjawab, 'Jangan khawatir Sayangku, pemimpin kaum muslimin yang akan menyolatkanku beserta para ulama dan pembesar-pembesar negeri lainnya.'"

Sultan pun menangis dan berkata, "Suamimu benar, demi Allah aku adalah Sultan Murod Ar-Robi', besok kami akan memandikan suamimu, menyolatkannya dan menguburkannya."

Akhirnya di antara yang menyaksikan jenazah pria itu ialah Sultan Murod, para ulama, para masyayikh dan seluruh penduduk kota.

*Sultan Murad IV adalah Sultan Khilafah Utsmaniyah ke-17 (1623-1640). Dia hidup pada tahun 1021-1049 H (1612-1640 M). Dia diangkat menjadi Sultan Kekhilafahan Utsmaniyah pada usia 11 tahun.

Umat Islam, Kita Ini Tokoh Utama

Kemarin di Jogja ada pameran expo anak, juga ada pameran islamic book fair. Yang di expo anak rame banget, nggak ada yang ngingetin sholat. Yang di islamic book fair ada yang ngingetin sholat tapi nggak serame yang di expo anak. Bagaimana sikap kita?

Bikin pameran sebesar expo anak sekaligus ada yang ngingetin sholat!

Selama ini dakwah kita selalu defensif. Dari zaman yang rame-rame baru kristenisasi, hingga islam radikal, islam liberal, NII, islam jamaah, ahmadiah, syiah, sampai ISIS, posisi kita selalu "Bagaimana ini? Bagaimana cara membentengi saudara-saudara kita? Dan sebagainya."

Setiap dilempar serangan (serangan selalu ada, hanya blow up nya yang pakai timing), kita seprti kebakaran jenggot. Musuh-musuh islam berhasil menggentarkan barisan kita dengan menyebar berita, "musuh ribuan di balik bukit", padahal cuma puluhan musuh berputar-putar dengan hentakan kaki kuda mereka menerbangkan debu sehingga nampak banyak.

Jika kita memang telah mengerjakan kewajiban kita berupa dakwah ilalloh, memperkenalkan dan mengajarkan islam kepada umat, insyaalloh tak gentar kita hingga menerbitkan buku, ceramah, mengadakan seminar, "ciri-ciri aliran sesat, bahaya ini, bahaya itu". Ibarat kita sibuk memompa jalan yang kebanjiran saat musim hujan karena selama ini kita belum bikin drainase yang baik.

Ketakutan, kegelisahan, dan kekhawatiran kita menunjukkan sebenarnya kita belum melakukan apa-apa, belum maksimal dalam menjalankan peran kita sebagai 'abid dan khalifah di muka bumi.

Banyaknya gempuran musuh semestinya tak hanya dibalas dan dibalas. Layaknya main badminton, kita hanya diombang-ambing kanan kiri kanan kiri tanpa punya determinasi bahwa kita yang harus menundukkan musuh.

"Pahami cara berpikir mereka, jangan berpikir sebagaimana mereka berpikir tentang cara kita berpikir"

Dilempar serangan blokir situs, rame kita bahas blokir situs. Dipancing konflik, kita ikut konflik. Ini semacam umpan, "test the water" bukan semata untuk mengetahui reaksi umat terhadap suatu isu/wacana, ini seperti mereka sedang menyusun kepingan puzzle. Pola gerak kita sedang dipolakan sehingga musuh akan tahu lebih banyak tentang kita, kelak lebih mudah bagi mereka untuk "membuat kita mengikuti mereka".

Di wilayah konflik sebagaimana Palestina, Mesir, dan sebagainya yang dakwahnya sangat butuh amniyah, tentu kondisinya tak sedemokratis Indonesia. Kita pernah berada di masa seperti mereka, dakwah perlu hati-hati. Namun nampaknya kita lupa. Inilah jebakan demokrasi, kita masih gagap hidup di alam demokrasi. Kita terlalu larut dalam fatamorgana, asyik dengan drama. Mindset kita masih ODB (Orang Demokrat Baru), meminjam istilah OKB (Orang Kaya Baru). Sebagaimana kekayaan harta dunia hanya alat, demokrasi juga demikian. Semoga bisa ditangkap maksudnya.

Di alam orde baru yang represif gerakan-gerakan dakwah mengakar kuat di bawah tanah tanpa bisa diberangus. Di alam pascareformasi yang serba demokrasi semua gerakan muncul ke permukaan, sangat mudah didata. Sangat mudah dibaca arah geraknya.

Gerakan-gerakan kecil digebuk dengan cap teroris (sekarang ISIS), petugas negaranya Densus 88. Gerakan-gerakan yang sudah besar dipermalukan dengan cap koruptor, petugasnya KPK. Kelompok-kelompok Islam yang tak populis siap-sia digerebek Densus. Kelompok Islam yang populis siap-siap ditelanjangi oleh media. Semuanya merupakan bagian dari resiko perjuangan dan bukan itu fokus kita.

Apapun yang sedang kita hadapi, musuh berupa siapapun yang sedang dibabakkan dalam episode perjalanan dakwah kita, kita harus punya narasi. Kita yang harus menguasai jalan cerita, firman ilahiyah dan sabda nubuwah yang jadi skenario kita.

Umat islam ini tokoh utama, jangan mau dikerjai oleh figuran-figuran konyol yang membuat tokoh antagonis tertawa di balik layar. Jangan mau nampak bodoh di atas panggung. Jangan larut dalam tiap adegan. Mari kita buat tokoh antagonis dan para penonton selalu waspada, bukan sebaliknya. Bila perlu buatlah, "Kok begitu? Kok diam? Apa yang direncanakan mereka?" Mereka tak boleh tahu bagaimana cara kita akan membalik keadaan hingga akhirnya kita yg menguasai jalan cerita.

"Mereka merasa telah membuat makar terbaik. Sesungguhnya Alloh lah sebaik-baik pembuat makar."

Hasbunalloh wa ni'mal wakiil, ni'mal maula wa ni'man nashiir, laa haula wa laa quwwata illaa billah al'aliy al'adhim.

Salam...

Kita dan Pengabulan Do'a Anak-anak Kita

Barangkali kebanggaan orang tua terhadap anak-anak mereka yang pandai sains, juara kelas, cakap bermain musik, menyanyi, dan menari mulai tergeser oleh kebanggaan orang tua terhadap banyaknya hafalan Al Quran anak-anak mereka. Subhanalloh.

Wahai ayah bunda, sedemikian mulianya, tapi mungkin di Palestina sana para orang tua tidak lagi bangga terhadap hafalan Al Quran anak-anak mereka, yang mereka banggakan ialah kematian anak-anak mereka di medan jihad.

Mereka mengajarkan anak-anak mereka Al Quran bukan untuk dibanggakan. Mereka menghapal Al Quran agar bisa berada di garis depan, dengan senapan di tangan kanan. Hanya ada dua pilihan: hidup mulia di atas kemenangan atau mati bahagia dalam kesyahidan.

Anak-anak dilahirkan bukan sekedar sarana penyejuk pandangan atau motif kebanggaan. Mereka ditempa untuk dikirim ke medan perjuangan.

Layaknya Al Khonsa mengutus satu per satu putra laki-lakinya ke medan juang, hingga keempatnya hanya raga tak bernyawa saat pulang, begitu juga semestinya kita.

"Warhamhumaa kamaa robbayaani soghiiroo", semoga tulus doa anak-anak kita ketika mereka memohon pada Alloh agar tercurah kasih sayang-Nya bagi kita, sebagaimana kita mengasihi mereka, mendidik mereka, membina mereka sewaktu mereka masih kecil.

Orang tua membesarkan anak-anak mereka agar menjadi sarana turunnya rahmat Alloh, bukan agar anak-anak itu menjadi sesuatu yang membuat mereka bangga dan bahagia.

Dan ketika anak-anak kita memenuhi perintah Alloh untuk memelihara kita di masa tua, merekalah setetes rahmat Alloh bagi kita, yg sebenarnya ialah sebentuk pengabulan Alloh atas doa-doa mereka.

Malaikat Menampakkan Diri Sebagai Pengemis


Bukhari-Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya dari Abu Hurairah bahwa dia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

"Sesungguhnya ada tiga orang dari Bani Israil, yaitu: penderita lepra, orang berkepala botak, dan orang buta. Allah ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka malaikat.

Pertama-tama datanglah malaikat itu kepada si penderita lepra dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rupa yang elok, kulit yang indah, dan apa yang telah menjijikkan orang-orang ini hilang dari tubuhku.' Maka diusap-usaplah penderita lepra itu dan hilanglah penyakit yang dideritanya, serta diberilah ia rupa yang elok dan kulit yang indah. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Unta dan sapi.' Maka diberilah ia seekor unta yang bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.'

Kemudian malaikat itu mendatangi orang berkepala botak dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Rambut yang indah dan hilang dari kepalaku apa yang telah menjijikkan orang-orang.' Maka diusaplah kepalanya, dan ketika itu hilanglah penyakitnya serta diberilah ia rambut yang indah. Malaikatpun bertanya lagi kepadanya, 'Kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Sapi atau Unta.' Maka diberilah ia seekor sampi bunting dan didoakan, 'Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu dengan sapi ini.'

Selanjutnya malaikat tadi mendatangi si buta dan bertanya kepadanya, 'Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?' Ia menjawab, 'Semoga Allah berkenan mengembalikan penglihatan-ku sehingga aku dapat melihat orang-orang.' Maka diusaplah wajahnya, dan ketika itu dikembalikan oleh Allah penglihatannya. Malaikat pun bertanya lagi kepadanya, 'Lalu, kekayaan apa yang paling kamu senangi?' Jawabnya, 'Kambing.' Maka diberilah seekor kambing bunting.

Waktu berselang, maka berkembang biaklah onta, sapi dan kambing tersebut, sehingga orang pertama mempunyai selembah unta, orang kedua mempunyai selembah sapi, dan orang ketiga mempunyai selembah kambing.

Kemudian datanglah malaikat itu lagi kepada orang yang sebelumnya menderita lepra dengan menyerupai dirinya dan berkata, 'Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizqi) dalam perjalananku, sehingga aku tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian dengan pertolongan Anda. Demi Allah yang telah memberi Anda rupa yang elok, kulit yang indah, dan kekayaan ini, aku meminta kepada anda seekor onta saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Tetapi dijawab, 'Hak-hak (tanggunganku) banyak.' Malaikat yang menyerupai orang penderita lepra itu pun berkata, 'Sepertinya aku mengenal anda. Bukankah anda ini yang dulu menderita lepra, orang-orang jijik kepada anda, lagi pula anda orang melarat, lalu Allah memberi Anda kekayaan?' Dia malah menjawab, 'Sungguh, harta kekayaan ini hanyalah aku warisi turun-temurun dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat.' Maka malaikat itu berkata kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah mengembalikan anda kepada keadaan anda semula.'

Lalu malaikat tersebut mendatangi orang yang sebelumnya botak dengan menyerupai dirinya, dan berkata kepadanya seperti yang dia katakan kepada orang yang pernah menderita lepra. Namun ia ditolaknya sebagaimana telah ditolak oleh orang pertama itu. Maka berkatalah malaikat yang menyerupai dirinya itu kepadanya, 'Jika anda berkata dusta, niscaya Allah akan mengembalikan anda kepada keadaan semula.'

Terakhir, malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta dengan menyerupai dirinya pula, dan berkatalah kepadanya, 'Aku adalah seorang miskin, kehabisan bekal dalam perjalanan dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalanan ini, sehingga aku tidak akan dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah, kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku meminta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku.' Orang itu menjawab, 'Sungguh, aku dahulu buta, lalu Allah mengembalikan penglihatanku. Maka, ambillah apa yang anda sukai dan tinggalkan apa yang anda sukai. Demi Allah, sekarang ini aku tidak akan mempersulit anda dengan memintamu mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil karena Allah.' Malaikat yang menyerupai orang buta itupun berkata, 'Peganglah kekayaan anda, karena sesungguhnya kalian ini hanyalah diuji oleh Allah. Allah telah ridha kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda.'"

Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari dalam Kitab Ahadisil Anbiya', bab hadits tentang orang berpenyakit lepra, orang buta dan orang botak di kalangan Bani Israil (6/500 no. 3464). Dan Bukhari menyebutkannya secara ringkas sebagai penguat dalam Kitabul Iman wan Nudzur, (11/540), no. 6653.

Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya dalam Kitabuz Zuhd war Raqaiq (4/2275), no. 2964. Hadis ini dalam Syarah Shahih Muslim An-Nawawi, 18/398.