SEKALI DAYUNG

"Kira-kira apa alasan Bapak Ibu menyekolahkan putranya di sini?" tanya petugas pendaftaran saat mewawancara calon wali murid.
"Kami ingin anak kami jadi anak yang shalih, Ustadz."

"Baik. Kalau Bapak Ibu hanya ingin agar putranya menjadi anak yang shalih, sekolah lain mungkin banyak juga yang tujuan pendidikannya sesuai dengan harapan Bapak Ibu. Sayang kalau Bapak Ibu hanya ingin putranya menjadi anak yang shalih."
Kedua orang tua itu terdiam.

"Di sini," lanjut petugas.
"Kami berharap alasan orang tua menyekolahkan putra putrinya di sekolah ini sama dengan alasan kami mendirikan sekolah ini."
"Apa itu, Ustadz?" sang ibu penasaran namun merasa sedang berada di tempat yang tepat.

"Kita ingin tidak hanya mendidik anak yang shalih tapi sekaligus berusaha mendidik keturunan mereka menjadi keturunan yang shalih. Sayang jika doa kita hanya sampai pada anak-anak kita. Kalau bisa doa kita ditujukan sekalian untuk anak kita dan anak keturunannya."

Tak salah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu memilihkan istri untuk putranya. 'Ashim bin Umar dilamarkan seorang putri penjual susu. Seorang khalifah memilih menantu dari kalangan rakyat jelata. Apa yang sedang diharapkannya? Sesungguhnya khalifah Umar tidak hanya sedang memilihkan istri untuk putranya tapi calon penghulu shalihah untuk anak keturunannya.

Suatu malam Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu melakukan patroli dan mendengar dari luar rumah suara seorang putri menolak ide ibunya untuk mencampur susu dengan air agar penjualan susunya bisa mendapatkan untung lebih banyak. Rasa takutnya pada Allah membuat putri penjual susu itu nampak begitu istimewa di mata khalifah.
"Khalifah Umar tidak tahu, tapi Rabb-nya khalifah Umar Maha Tahu," tuturnya lembut pada sang ibu.

Kelak masyhur bahwa cucu dari manantu shalihah Umar bin Khatab radhiyallahu 'anhu itu menjadi sultan yang amil zakatnya kesulitan mencari mustahiq di seluruh negeri karena kesejahteraan rakyat sudah merata pada masa kepemimpinannya. Dialah Umar bin Abdul Aziz, sultan yang dijuluki khalifah kelima. Ia lahir sebagai jawaban atas doa kakek buyutnya, “Semoga lahir dari keturunan gadis ini bakal pemimpin Islam yang hebat yang akan memimpin orang-orang Arab dan 'Ajam.”

Rasulullah Muhammad, shalawat dan salam atasnya, utusan terakhir penutup para nabi, lahir dari garis keturunan bapaknya para nabi alaihimussalaam. Mungkin Nabi ibrahim tak pernah melihat pengabulan salah satu doanya itu usai meninggikan bangunaan Ka'bah, "Duhai Rabb, bangkitkanlah di tengah-tengah mereka (penduduk Makkah) seorang utusan dari golongan mereka yang membacakan mereka ayat-ayatmu dan mengajarkan mereka kebijaksanaan dan menyucikan mereka."

Dari jalur Siti Sarah, lahirlah Nabi Ishaq sebagai putra Nabi Ibrahim. Nabi Ishaq memiliki putra yang juga seorang nabi yaitu Nabi Ya'qub. Menjelang ajal Nabi Ya'qub mengaminkan doa kakeknya dengan mengumpulkan seluruh putranya. Ditanyakan kepada para putranya, "Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku?"

Nabi Ya'qub merasa tenteram mendengar jawaban para putranya, "Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya."

Iman Nabi Ibrahim yang lurus terus berlanjut. Nabi demi Nabi lahir dari garis keturunannya. Doa Nabi Ibrahim terpelihara dari generasi ke generasi. Sekian generasi dari doa itu dipanjatkan diutuslah di negeri Makkah seorang Nabi. Nabi itu menjadi tauladan hingga kini, shalawat dan salam teruntuk baginda Rasulullah Muhammad, semulia-mulia Nabi.

Beliau yang mulia mengajarkan kita do'a, "Ya Rabb kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam iman..."

Iman kita hari ini tidak bisa dilepaskan dari iman para pendahulu kita. Barangkali kita bisa melaksanakan shalat bukan semata-mata karena mendapat karunia hidayah melalui doa yang kita minta. Boleh jadi shalat itu merupakan pengabulan atas doa-doa orang tua kita, kakek nenek kita, buyut kita, atau bahkan pengabulan doa Nabi kita, "Ya Rabb, jadikanlah aku penegak shalat, dan juga keturunanku."

Sudah sewajarnya dan sepatutnya jika saat ini kita munajatkan doa serupa untuk anak keturunan kita, untuk generasi-generasi setelah kita, bukan hanya untuk anak-anak kita.

MENUNGGU GURU

Seorang santri duduk sendiri di baris belakang mushala dekat pintu masuk. Ia menunggu kiainya yang sedang menyelesaikan wirid. Ia memiliki pertanyaan penting yang ingin ditanyakan kepada sang kiai. Santri itu baru mendekat kepada sang kiai saat tanpa berbalik badan sang kiai memanggilnya.

Kejadian serupa pernah saya alami. Saya mendatangi salah satu guru saya di kantornya. Saya menunggu guru saya di luar kantor dengan harapan guru saya sudah selesai urusannya lalu bersedia menemui saya. Saya sudah membuat janji untuk bertemu beliau sebelumnya.

Seseorang datang dan bertanya pada saya, "Mau ketemu siapa?"
"Mau ketemu ustadz."
"Sudah janjian belum?"
"Sudah."
"Jam berapa janjiannya?"
"Pagi."
"Kalau janjian itu dipastikan jamnya!"
"Nggih. Saya tunggu saja."

Seketika saya merasa bingung. Apakah salah jika saya menunggu dan membiarkan guru saya menyelesaikan urusannya lalu baru bertemu dengan saya saat waktunya luang? Apakah kepada ustadz saya boleh meminta cepat atau memaksanya hadir pada jam yang tepat? Oh, mungkin saya salah menempatkan diri karena saya sedang berada di lingkungan industri, bukan sedang menjadi santri. Begitu saja saya berpikir waktu itu.

Lama sekali saya berusaha mencari pembenaran atas kata-kata orang itu. Bagi saya, memandang rumah guru tanpa melanjutkan niat bertemu dengannya itu terkadang sudah menjadi jawaban tersendiri atas pertanyaan yang rencananya ingin saya tanyakan pada guru saya. Mungkin terlalu aneh ya? Terlalu menunggu kesempatan, tidak menciptakan momentum? Entahlah, menurut saya menunggu guru itu bagian dari adab.

Bertemu dengan guru, bercakap-cakap, bertanya, berkesempatan menimba ilmu, menurut saya semua itu sama misterinya dengan perkara jodoh. Saya sangat bersyukur ketika Allah mempertemukan saya dengan seorang guru karena barangkali ada ilmu yang tak akan pernah bisa saya pahami dari salah seorang guru namun mudah tersingkap begitu saja saat bertemu dengan seorang guru yang lain. Kata salah satu guru saya, "Sesungguhnya tidak ada yang namaya murid bodoh. Dia hanya belum bertemu dengan guru yang tepat."
Saya tambahkan, "atau waktunya belum tepat," sebagaimana Nabi Musa berguru kepada Nabi Khidir 'alaihimassalaam.

Saya pun teringat kisah Sunan Kalijaga. Beliau diminta menunggu gurunya kembali ke tempat mereka bertemu sampai seluruh tubuh Sunan Kalijaga dipenuhi lumut di pinggir sungai. Syaikh Abdulqadir AlJilani juga harus menetap di bantaran sungai tepi kota Baghdad sebelum akhirnya diizinkan bertemu dan bermulazamah dengan gurunya. Menunggu guru itu bagian dari tarbiyah ilahiyah, masih menurut saya.

Dengan berkembangnya metode pembelajaran jarak jauh, semoga tidak melunturkan adab para penuntut ilmu dalam memuliakan guru. Kesempatan untuk berkomunikasi dengan guru melalui jalur pribadi yang bisa dilakukan sewaktu-waktu tak boleh menafikan bahwa guru memiliki privasi yang merupakan bagian dari adab untuk dihormati. Jangan sampai ilmu kita terhalang untuk masuk ke dalam sanubari hanya karena guru yang tidak ridho tersebab kita terlalu menuntut cepat hingga guru kita tak punya cukup waktu untuk beristirahat atau menjadi terhambat memenuhi hajat.

Abu ‘Ubaid Al Qosim bin Salam berkata, “Aku tidak pernah sekalipun mengetuk pintu rumah seorang dari guruku, karena Allah berfirman,
'Dan sekiranya mereka bersabar sampai engkau keluar menemui mereka, tentu akan lebih baik bagi mereka. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.'" (Al Hujurat: 5)

PERPUSTAKAAN DARING

Sejak ada kebijakan sekolah dari rumah atau sekolah jarak jauh anak saya asyik menikmati meminjam dan membaca buku di perpustakaan daring. Bagaimana itu perpustakaan daring? Ia mirip sekali dengan perpustakaan biasa, hanya saja serba dalam jaringan. Di perpustakaan daring kita mendaftar sebagai anggota, memilih buku, menjelajahi katalog, mengecek jumlah ketersediaan buku, mengantri buku jika stok habis, membaca melalui perangkat, mengembalikan buku, bahkan bisa berkenalan dengan sesama pengunjung.

Anak saya sangat terkesan dengan buku-buku serial "Ana Solehah" yang bisa dibacanya tanpa biaya. Maklum, komik berwarna dengan tema keseharian anak pondok itu harganya cukup spesial di toko buku. Awalnya anak saya hanya bisa meminjam dua buku dalam sehari. Sekejap selesai membaca dan ingin mengembalikan buku, ternyata tidak bisa, lama peminjaman minimal sehari. Betapa gembiranya ia ketika beberapa hari kemudian bisa meminjam lebih dari dua buku dalam sehari.

Alhamdulillah, kami turut merasa bersyukur bisa agak menghemat anggaran membeli buku. Jika sudah ke toko buku rasanya memang sulit menolak untuk tidak membawa ke kasir buku-buku yang dimasukkan anakanak ke dalam keranjang. Minusnya, koleksi buku di perpustakaan kami jadi tidak bertambah.

Perpustakaan daring bisa diunduh di Google Play Store dengan judul "iPusnas". Anda bisa juga mengunjunginya dengan mengeklik bit.ly/perpusdaring. Aplikasi ini diluncurkan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dan tidak berbayar. Pendaftaran untuk masuk ke aplikasi ini bisa menggunakan akun facebook atau surat elektronik.

Selain mempermudah para pembaca menikmati buku-buku tanpa harus membeli, perpustakaan daring juga berguna mencegah pembajakan buku. Para penulis dan penerbit banyak dirugikan dengan adanya buku bajakan yang dijual murah. Dengan perpustakaan daring kita bisa menikmati buku secara gratis dan legal, hanya membutuhkan jaringan internet yang memadai.

WISUDA

Wisuda bukan lagi upacara istimewa untuk para sarjana. Anak TK pun kini diwisuda, lengkap dengan toga dan samirnya. Para orang tua bisa berbahagia dan bangga lebih dini tanpa harus menunggu anaknya selesai mengerjakan revisi skripsi.

Kompetensi demi kompetensi dikoleksi. Amal demi amal dijalani. Capaian demi capaian disyukuri, sampai tiba wisuda akhir kita nanti.

Wisuda akhir bukanlah ketika tali kuncir di kepala digeser ke kanan oleh guru kita. Wisuda akhir tiba saat tali kuncir di kepala kita dilepaskan ikatannya. Saat itu toga kita akan berwarna putih bersih, tidak lagi hitam kelam.

Orang-orang akan bersaksi tentang kehidupan kita. Proses studi kita dipenuhi kebaikan atau keburukan, orang lain yang merasakan. Sebagian orang akan menangis kehilangan karena teringat semua kenangan.

Bagaimana keadaan kita saat itu? Persis sebagaimana usai menjalani wisuda sarjana, hari-hari penuh kegelisahan serta merta menggantikan semua kebahagiaan. Gelap gulita penuh tanda tanya menyelimuti kita.

Berbagai pertanyaan diajukan pada kita sepulang wisuda, "Kamu lanjut S2? Kerja dimana? Sudah ada calon belum? Kapan nikahnya?"

Selesai prosesi wisuda akhir, tak ada satupun kawan saat dua malaikat mengajukan pertanyaan, "Siapa Rabb-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu?"

Kegelisahan akan pertanyaan-pertanyaan itu terus berlangsung hingga tiba hari yudisium akbar. Itulah hari penentuan kelulusan yang sesungguhnya. Pada hari itu mulut-mulut akan dikunci. Tangan dan kaki diminta menjadi saksi. Tiada pembicaraan kecuali yang diizinkan oleh Yang Maha Rahman.

Tak sedikit yang tidak lulus karena lalai selama masa studi. Ada mahasiswa berprestasi yang merugi karena nilai bagusnya dianggap nol, "kadzdzabta!"
Ada juga yang diluluskan tapi harus menjalani remidiasi. 

Mereka yang dicintai dosen pembimbing bisa mendapat syafaat lulus cepat. Boleh jadi bukan sebab bagusnya nilai mereka tapi karena kecintaan, adab, sopan santun, ketekunan, dan kesungguhannya selama menjalani bimbingan. Mereka yang nilainya kurang bagus tapi gemar mengerjakan tugas secara berkelompok bisa terbantu dengan nilai kolektif kelompoknya.

Pada akhirnya semua yang memenuhi syarat akan diluluskan. Mereka diluluskan bukan karena hebat dan bisanya tapi atas rahmat dan kasih sayang-Nya. Para malaikat pun mengucap salam selamat untuk mereka.

Wisuda akbar akan diselenggarakan di dalam surga. Akan hadir di sana para Nabi, Rasul, Aulia, Syuhada, Shadiqin, Shalihin, Mukhlisin, Shabirin, Muttaqin, Mu'minin, dan orang-orang yang telah diberi nikmat semuanya. Kebahagiaan tebesar akan dirasakan wisudawan wisudawati ketika mereka diberi kesempatan berjumpa langsung dengan Allah 'azza wa jalla.

Apa yang telah kita siapkan untuk menghadiri hari wisuda itu?

HALAL

"Nyuwun halale nggih," pamit kang Abas setelah menerima upah atas pekerjaannya.

Kalimat itu terasa berat terdengar bagi saya. Bukan karena berat untuk menghalalkan tapi berat mengingat betapa banyak keharaman yang tanpa sadar saya ambil dari orang lain. Seberapa sering saya meminta halal pada orang yang saya pergauli?

Yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, di antara keduanya ada perkara meragukan. Minta halal menjadi sebentuk upaya agar urusan yang berada di wilayah samar bergeser ke wilayah halal. Minta halal mungkin sederhana tapi sangat penting dan pasti ada perhitungannya.

Ini bukan bab meminta sesuatu yang nampak harus dihalalkan seperti memetik daun singkong milik tetangga karena kita butuh hijau-hijauan untuk sayur. Ini bukan juga seperti kisah "Slilit Sang Kiai" yang menggambarkan kesusahan seorang kiai di alam kubur karena telah tanpa izin mematahkan selidi bambu dari pagar tuan rumah untuk membersihkan makanan yang terselip di giginya seusai menikmati hidangan hajatan. Ini tentang muamalah yang di dalamnya memuat syarat ridho sama ridho.

Penggunaan kata halal sering saya dengar dari para jamaah haji yang menceritakan pengalaman mereka tinggal di tanah suci. Asal sudah dibilang halal, berarti boleh diambil, dipakai, atau dimakan. Saat berbelanja di sana, halal artinya sepakat dengan harga yang ditawar. Dengan kata "halal" pemilik barang merelakan perpindahan kepemilikan barangnya kepada orang lain secara ridho.

"Monggo Mas, halal!"
Terdengar begitu menenteramkan bukan? Ada dua hal terlahir dalam satu kata halal: halal barangnya dan halal kepemilikannya.

Barangkali karena di tengah masyarakat kita belum umum orang saling menghalalkan saat berinteraksi dalam pergaulan sehari-hari, diciptakanlah tradisi halal bil halal setahun sekali. Tradisi ini semacam ikrar sapu jagat agar semua masyarakat terbebas dari perkara yang tidak halal satu sama lain.
"Pokoknya, apa-apa yang mungkin haram atau belum jelas kehalalannya di antara kita selama satu tahun ini, sejak sekarang mohon dihalalkan ya," begitu kira-kira.

NB:
Selamat Idul Fitri 1441 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
Kami sekeluarga minta halalnya ya
πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

Enam Suara Istimewa dalam Kehidupan

Saya mencermati setidaknya ada enam suara yang harus betul-betul kita istimewakan dalam kehidupan kita sehari-hari. Keenamnya perlu mendapat perhatian khusus dari setiap muslim. Ibarat pertanyaan pembawa acara saat membagikan doorprize, harus kita simak dan kita sikapi dengan tepat. Jika ingin beruntung mendapatkan doorprize, kita harus jeli mendengar suara pembawa acara di antara teriakan penonton lain di sekitar kita.
Pertama, suara adzan harus bisa menghentikan kita dari segala aktivitas. Barangsiapa yang mendengar dan menjawab adzan, lalu berdoa setelahnya, baginya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam janjikan syafaat nanti di hari kiamat. Jangan sampai kita mengabaikan suara adzan, apalagi menjadikannya olok-olok, permainan, atau senda gurau.
Kedua, suara seseorang menyebut nama Nabi Muhammad shallalahu 'alaihi wa sallam harus membuat kita serta merta membaca shalawat. Barangsiapa tidak membaca shalawat saat nama beliau shallallahu 'alaihi wa sallam disebut, maka orang itu termasuk orang yang pelit. Barangsiapa membaca shalawat sekali, Allah tetapkan baginya shalawat sepuluh kali.
Ketiga, suara orang membaca Al Quran harus membuat kita menyimak dan memperhatikan. Barangsiapa diperdengarkan Al Quran maka hendaklah ia menyimak dan memperhatikan agar dirahmati oleh Allah. Mendengarkan bacaan Al Quran bisa menambah keimanan.
Keempat, suara panggilan orang tua, terutama suara panggilan ibu harus bisa membuat seorang anak segera datang memenuhi panggilan itu. Seorang anak yang tidak bersegera memenuhi panggilan orang tua bisa kehilangan keridhaan orangtua. Kehilangan ridha orang tua bisa mengakibatkan masalah-masalah yang tidak terduga. Ridha Allah sesuai ridha orang tua, begitu juga murka-Nya. Serupa dengan itu, suara panggilan suami kepada istrinya.
Kelima, suara seorang guru yang menyampaikan ilmu di hadapan muridnya harus bisa membuat murid mengabaikan apa yang mengganggu konsentrasinya saat sedang memperhatikan pelajaran. Tidak rombongan sirkus lewat, tidak pasukan bregada karnaval lewat, tidak juga penjual tahu bulat lewat, semua itu tak boleh mengalihkan perhatian murid dari menyimak penjelasan guru. Para sahabat diam bagai menjaga burung di atas kepala mereka agar tidak terbang saat berada di hadapan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Keenam, suara pemimpin yang memberi perintah harus bisa membuat makmum yang dipimpinnya mendengar lagi taat. Ketaatan kepada pemimpin menjadi bagian dari ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Selama perintah pemimpin tidak menyalahi perintah dan larangan Allah, "Sami'naa wa atha'naa."
Jika suara yang kita dengar sehari-hari penuh dengan kebisingan, mari coba jadikan enam suara tadi sebagai modulasi utama kita. Dengan mengutamakan enam suara tersebut semoga kelak di akhirat kita tidak akan mendengar suara yang sia-sia ataupun perkataan-perkataan dusta. Jangan sampai karena menyepelekan enam suara itu, nanti saat di hari penghamparan tiba kita dijadikan sibuk dengan urusan kita hingga tidak mendengar suara lembut Al Musyaffa' yang hendak mengajak kita menuju syafaatnya.

Pelatihan Hapal Al Quran Metode Tikrar Komunitas Merapi Menghafal

Hanya satu mushaf Al Quran tersisa dari 33 mushaf yang disiapkan panitia. Semua peserta "Pelatihan Menghafal Quran Metode Tikrar Komunitas Merapi Menghafal" mendapat satu mushaf Tikrar dari para donatur. Peserta berasal dari beberapa kecamatan di lereng merapi wilayah selatan seperti Cangkringan, Pakem, Ngemplak, dan Ngaglik.
Dalam sambutannya bapak Eko Mardiono selaku takmir Masjid Al Madina komplek kantor pemerintah kecamatan Cangkringan sangat mengapresiasi kegiatan menghafal Al Quran yang digalakkan oleh komunitas Merapi Menghafal. Dengan senang hati beliau mempersilahkan jika Masjid Al Madina dijadikan basecamp komunitas Merapi Menghafal. Tak hanya memberi sambutan, beliau juga ikut serta dalam praktik menghafal metode tikrar bersama peserta yang lain.
Pelatihan Menghafal Quran metode Tikrar Komunitas Merapi Menghafal diadakan pada Ahad 19 Januari 2020 dari pukul 08.00 sampai 11.00 di masjid Al Madina. Kang Wawan Funtahsin trainer tikrar dari Syamil Quran sekaligus pendiri Yayasan Sahabat Al Quran Nusantara memulai pelatihan dengan membongkar paradigma sulitnya belajar Al Quran. Allah telah menjadikan Al Quran mudah untuk dipelajari, juga untuk dihafal. Mudahnya menghafal Al Quran akhirnya terbukti dengan mempraktikkan metode tikrar selama pelatihan.
Atas izin Allah para peserta berhasil menghafalkan ayat 80 dari surat An Nahl padahal belum ada peserta yang hafal sebelumnya. Kunci menghafal Al Quran metode tikrar ialah mengulang-ulang bacaan dengan melihat mushaf serta mengulang-ulang melafalkannya, minimal 40 kali. Ada tiga tips yang bisa dilakukan tiap hendak memulai menghafalkan Al Quran yaitu berdoa, menarik nafas 10 kali, dan meminum air putih.
Usai pelatihan komunitas Merapi Menghafal atau Merapi Menghafal Tahfidz Club (MMTC) akan melanjutkan program menghafal Al Quran dengan membentuk tiga titik penyetoran hafalan di wilayah lereng Merapi bagian selatan. Selain itu setiap Ahad Wage akan diadakan penyimakan bersama dilanjutkan dengan pengajian di Masjid Al Madina komplek kantor pemerintah kecamatan Cangkringan. Komunitas Merapi Menghafal terbuka untuk semua golongan dan tidak membeda-bedakan organisasi, madzhab, ataupun gerakan dakwah yang diikuti oleh seseorang. Silakan bergabung dengan grup WhatsApp komunitas Merapi Menghafal melalui tautan berikut: bit.ly/merapimenghafal .