Ketika...

Ketika wajah penat memikirkan dunia, maka berwudhulah..
Ketika tangan letih menggapai cita, maka bertakbirlah..
Ketika pundak lelah menanggung beban, maka bersujudlah..
Krn Allah sll sdekat urat nadimu,wlpn engkau kdg mjauh dariNya
T****q; 09-Dec-08 07:23

Rosululloh Mengikatkan Batu di Perutnya

D saat khidupan duniamu trasa sempit, ingatlah keadaan Rasulullah ktika bliau mgikatkan batu d perutx krena mnahan lapar...
R****n; 18-Feb-09; 12:32

Pemimpin yang Baik

"Pemimpin-pemimpin kamu yang baik adalah pemimpin-pemimpin yang mencintai mereka (rakyat) dan mereka mencintai kamu, mereka mendoakan kamu dan kamu mendoakan mereka. Sedangkan pemimpin-pemimpin kamu yang tidak baik adalah para pemimpin yang kamu benci dan mereka membenci kamu, kamu melaknat mereka dan mereka melaknat kamu"
(H.R. Ahmad)

Mengemis Kasih

By Aa’ Gym

Alloh menciptakan manusia berpasang-pasangan dihisasi dengan cinta dan kasih sayang yang memperhalus hati, memperindah kehidupan. Tetapi cinta ini pula yang tak jarang membuat orang dililit nestapa, duka, lara bahkan berperilaku hina dan nista. Cinta manakah yang benar-benar membawa berkah? Cinta yang membawa berkah adalah cinta yang berbalut karena hati takut kepada ALLOH semata. Sedangkan cinta yang membawa nista adalah cinta yang berbaur hanya dengan nafsu syahwat belaka. Oleh karena itu, keindahan cinta akan terasa jikalau ijab qobul menjadi pengokoh cinta di jalan yang ALLOH ridhoi. Saudaraku, waspadalah terhadap cinta yang tidak diridhoi oleh ALLOH dan pilihlah cinta yang disukai yang membawa kepada rohmat dan kemuliaan di sisi ALLOH...


Tuhan dulu pernah aku menagih simpati kepada manusia yang alpa jua buta 
Lalu teririslah aku di lorong gelisah 
Luka hati yang berdarah kini jadi kian parah



Semalam sudah sampai ke penghujungnya 
Kisah seribu duka kuharap sudah berlalu 
Tak ingin lagi kuulangi kembali kerak dosa yang mengiris hati



Tuhan, dosaku menggunung tinggi tapi rohmat-Mu melangit luas 
Harga selautan syukurku hanyalah setitik nikmat-Mu di bumi



Tuhan, walau tobat sering ku mungkin namun pengampunanmu tak pernah bertepi 
Bila selangkah kurapat pada-Mu seribu langkah Kau-rapat padaku

BEKAL MENUJU KELUARGA BAHAGIA


oleh: ustadz Didik Purwodarsono 
diringkas oleh AKHID NUR SETIAWAN; 
mahasiswa Tarbiyah Tsaqofiyah Islamiyah rayon Sleman;semester V (lima); kelas C1-1; NIM: 06123113; 
sebagai tugas mata kuliah Rumah Tangga Muslim 1 
(Hmm... jadi pengen TTS lagi, harusnya dah lulus, tapi masih ada mata kuliah yang perlu diulang, tapi... mbayarnya dah mahal jhe, dah gak dapet gaji rutin nih, he3x...)



Bersyukurlah

Ada tiga peristiwa penting dalam kehidupan manusia yang menjadi rahasia ALLOH, yaitu: lahir, nikah, dan mati. Semestinya, kelahiran adalah tempat bertemunya tangis dengan senyum, bayi menangis, keluarga tersenyum bahagia. Semestinya, kematian adalah tempat bertemunya senyum dengan tangis, orang mati tersenyum dengan ikhlas meninggalkan dunia, orang-orang di sekitarnya menangis kehilangan. Sedangkan pernikahan semestinya adalah tempat bertemunya senyum dengan senyum, kedua mempelai tersenyum penuh makna, keluarga dan orang-orang di sekitarnya tersenyum larut dalam kebahagiaan.


Lahir adalah kepastian ALLOH yang telah berlalu, mati adalah kepastian ALLOH yang akan terjadi. Bagi yang belum menikah, pernikahan merupakan suatu probabilitas, kemungkinan, harapan dan impian yang penuh ketidakpastian. Artinya, setiap kita pasti sudah lahir dan setiap kita pasti akan mati, tetapi apakah setiap kita terutama yang belum menikah, pasti akan menikah? Bagi yang sudah menikah, pernikahan merupakan suatu nikmat yang perlu disyukuri agar melahirkan sakinah, mawaddah, rohmah, dan barokah.


Menikah demi masa depan

Sebagai wujud rasa syukur, jadikanlah pernikahan sebagai titik tolak untuk menatap masa depan. “Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada ALLOH, dan hendaknya setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (masa depan). Dan bertaqwalah kepada ALLOH, sesungguhnya ALLOH Maha Mengetahui apa yang telah kamu kerjakan” (Q.S. Al-Hasyr:18). Masa depan ada dua yaitu masa depan sebelum mati dan masa depan sesudah mati. Masa depan sebelum mati itu bersifat mungkin, sedangkan masa depan sesudah mati itu bersifat pasti.


Kecerdasan menatap dan bersikap terhadap masa depan sebelum dan sesedah mati sangat ditentukan ketika kita mampu meletakkan neraca keadilan, skala prioritas secara proporsional. “Dan carilah dengan apa yang dianugrahkan ALLOH kepadamu kebahagiaan di akhirat dan jangan kau lupakan kebahagiaanmu di dunia” (Q.S. Al-Qoshosh:77). Kejar yang pasti, jangan tinggalkan yang mungkin, termasuk di dalamnya adalah pernikahan. ALLOH melarang kita melupakannya, mengabaikannya apalagi meremehkannya.

“Bila seseorang telah melangsungkan pernikahan maka sungguh telah sempurna setengah dari agamanya, maka hendaklah ia bertaqwa untuk setengah dari sisanya” (H.R. Baihaqi).

Jika di dunia ini ada surga, itulah keluarga bahagia dan jika di dunia ini ada neraka, itulah rumah tangga yang tidak harmonis. Bagi Rosululloh, rumah tangganya yang sangat sederhana dibanggakan sebagai “Baitii jannati (Rumahku adalah surgaku)”. Keluarga surgawi itu seperti keluarganya Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, bukan seperti keluarganya Nabi Nuh dan Nabi Luth, bukan pula seperti keluarganya Raja Fir’aun, apalagi keluarganya Abu Lahab. Keluarga surgawi adalah keluarga yang mampu merealisasikan do’a “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami pasangan hidup kami dan keturunan kami sebagai penenang hati kami dan jadikanlah kami ini imam bagi orang-orang yang bertaqwa” (Q.S. Al-Furqon:74).

Dalam membentuk rumah tangga masa depan -baik sebelum mati maupun sesudah mati-, ada tiga pilihan model keluarga yang ada di sekitar kita, yaitu: model tradisional, model modern dan model islami. Model tradisional adalah keluarga masa lalu yang masih dipertahankan oleh generasi tua yang kolot, model modern adalah keluarga masa kini yang sedang dibudidayakan oleh generasi dewasa yang kebarat-baratan, sedangkan model islami adalah keluarga masa depan yang sedang diperjuangkan oleh pemuda-pemuda pelopor pergerakan islam. Sebagai pemuda, manusia masa depan, tidak ada alternatif lain kecuali kita harus membentuk rumah tangga yang islami.


Menikah itu membenturkan idealisme dalam realitas

Ketika sudah bertekad untuk membentuk keluarga yang islami, sebetulnya yang harus dimiliki adalah kesiapan untuk memasuki sebuah realitas. Banyak manusia yang salah dalam memandang makna sebuah pernikahan. Bagi mereka menikah disikapi dengan pandangan seorang wisatawan yang akan berekreasi ke sebuah gunung. Gunung itu sebuah keindahan yang sempurna, tempat yang teduh, yang nyaman, membuat tenang, bahkan bernuansa romantis. Mereka lupa bahwa gunung itu realitas alam, bahwa gunung ada jurangnya yang curam, tebingnya yang terjal, lembahnya yang licin dan becek, binatang-binatang buas yang siap menghadang, duri-duri tajam yang siap menusuk tubuh, dan lain-lain.


Pandanglah gunung dengan kaca mata seorang petualang atau pendaki. Dalam pandangan pendaki, gunung adalah realitas yang banyak tantangannya, sedangkan rintangan dan tantangannya bukan untuk dihindari melainkan untuk ditaklukkan. Sebelum mendaki gunung, mereka tahu apa yang harus dipersiapkan dan ketika masuk wilayah gunung mereka tahu apa yang harus dilakukan. Kebahagiaan bukan ketika melihat luasnya medan melainkan ketika mampu melewati kesulitan.

Kepuasan, kebanggaan, dan kebahagiaan berumah tangga bukan ketika selalu merasakan kerukunan, kemesraan, ketenangan, dan romantisme. Kebanggaan suami justru ketika mampu menjawab tantangan ekonomi, sosial, dan politik. Kebahagiaan seorang istri justru ketika sudah merasakan beratnya hamil, sakitnya melahirkan, lelahnya menyusui dan repotnya mengurus anak-anak. Indahnya gunung justru ketika ada jurang dan tebingnya, indahnya laut justru ketika ada gelombangnya dan indahnya jalan apabila ada naik dan turunnya, ada belok kanan dan kirinya.

Tidak mungkin menjadi manusia tanpa masalah dan tidak menjadi masalah. Adapun masalah-masalah yang akan muncul setelah menikah di antaranya:
  1. Masalah internal
    Masalah internal yaitu masalah hubungan antara suami istri. Bersiap-siaplah menemukan perbedaan dari pasangan yang bisa berupa perbedaan biologis, psikologis, latar belakang sosiologis, historis, dan lain-lain. Untuk mengatasi masalah yang muncul butuh waktu, ilmu, dan kesabaran.
  2. Komunikasi antargenerasi
    Setiap komunitas, masyarakat yang normal, wajar dan standar selalu memiliki tiga generasi berdasarkan kelompok usia yaitu orang tua, orang dewasa, dan orang muda. Generasi tua merupakan generasi masa lalu yang suka bernostalgia, pandai bercerita, dan statis. Generasi dewasa merupakan generasi masa kini yang asyik dengan realita, sibuk berkarya, pragmatis, dan lupa sejarah. Sedangkan generasi muda adalah generasi masa depan yang idealis, kadang-kadang utopis dan suka memancang cita-cita yang kadang lebih cerdas melihat haknya ketimbang kewajibannya. Banyak terjadi keluarga muda harus mengalami konflik berkepanjangan dengan orang tua, mertua, saudara, dan tetangga. Masalah gap antargenerasi ini diperkuat oleh adanya konflik nilai.
  3. Konflik nilai
    Bangsa kita berada pada simpang tiga peradaban. Secara geografis kita sebagai bangsa timur yang masih tradisional, mistis, dan primitif. Taat pada tradisi ada ketakutan disebut kolot dan ketinggalan zaman. Secara historis saat ini kita berada di abad XXI, milenium III, peradaban modern yang sekuler dan materialistis. Ikut budaya barat ada ketakutan dicap tidak tahu adat dan terjebak maksiat. Sementara itu secara teologis kita bangsa beragama dan mayoritas mengaku muslim. Ketika konsisten dengan ajaran islam takut dicap ekstrem, fanatik bahkan bisa dituduh teroris. Kebingungan memilih membuat banyak generasi muda yang kehilangan identitas, split personality, dan krisis jati diri.
  4. Situasi dan kondisi zaman
    Ada tiga masalah yang selalu ada pada setiap zaman. Semakin bertambah situasi zaman semakin berkembang pula masalahnya yaitu masalah hati, otak, dan otot. Dalam bahasa lain persoalan abadi manusia berkisar pada masalah moralitas, kreativitas, dan kriminalitas. Kreativitas teknologi yang canggih banyak dimanfaatkan untuk merusak moralitas dan membantu kriminalitas.

Berorganisasilah yang baik

Salah satu prinsip berkeluarga adalah berorganisasi. Organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan bersama dengan cara kerjasama bukan sama-sama kerja. Di dalam organisasi harus ditegakkan prinsip the right man on the right place, menempatkan seseorang sesuai dengan tempatnya. Akan terjadi bencana atau setidak-tidaknya organisasi tidak berjalan dengan baik apabila kita serahkan sesuatu amanat kepada yang bukan ahlinya.


Rumah tangga atau keluarga dalam al-qur’an sering disebut sebagai al-ahlu (Q.S. At-Tahrim:6, Toha:132, Al-Ahzab:33) paling tidak masing-masing anggota harus ahli di bidangnya. Yang pria ahli sebagai suami dan bapak dengan segala konsekuensinya, yang wanita ahli sebagai istri dan ibu dengan segala tanggung jawabnya.

Untuk mewujudkan organisasi yang solid, mampu menangkap peluang-peluang kesuksesan maupun mengatasi tantangan yang menghadang, paling tidak membutuhkan empat hal, dua hal yang pertama merupakan kesamaan, dua hal berikutnya merupakan kebersamaan.
  1. Kesamaan tujuan dan panduan
    Bisa juga disebut kesamaan visi dan referensi, kesamaan anggaran dasar dan kesamaan anggaran rumah tangga. Bagi seorang muslim, kesamaan tujuan, misi, orientasi, dan cita-cita ditentukan oleh kesamaan aqidah yaitu tauhid. Suami isteri harus memiliki pemahaman dan penghayatan aqidah yang sama. Oleh karena itu kita dilarang menikah dengan orang yang berbeda aqidah (Q.S. Al-Baqoroh:221). Kesamaan tujuan harus dilengkapi dengan kesamaan fikroh artau dasar pemikiran. Referensi orang beriman yang paling pertama dan utama adalah al-qur’an dan as-sunnah (Q.S. An-Nisa’:59). Dua kesamaan tersebut harus disepakati sebelum menikah.
  2. Kebersamaan kecenderungan dan aktivitas
    Kebersamaan kecenderungan dan kebersamaan aktivitas baru disesuaikan setelah menikah. Setalah menikah kedua mempelai harus latihan untuk membangun kebersamaan syu’uriyah dan sulukiyah, perasaan dan perbuatan, selera dan kerja. Pernikahan dilakukan dengan orang yang berbeda bukan orang yang sama. Pria dan wanita meskipun secara substansial sama namun secara eksistensial berbeda (Q.S. Ali Imron:36).

    Kebersamaan ini tidak cukup dengan toleransi dan memaklumi melainkan harus lewat tawar menawar. Misalnya keyika suami istri sepakat untuk membangun kebersamaan dalam hidup sederhana. Padahal suaminya berasal dari keluarga miskin sementara istrinya berasal dari keluarga kaya. Mau tidak mau ukuran kesederhanaannya akan berbeda. Jalan tengahnya suami harus menaikkan standar kesederhanaan dan istri juga harus berlatih menurunkan standar kesederhanaan. Kebersamaan ini juga meliputi masalah kesenian, hobi dan lain-lain.

    Kebersamaan yang kedua adalah kebersamaan dalam beraktivitas, sulukiyah. Bila membentuk keluarga dengan kesepakatan bahwa suami aktif di luar rumah sementara istri aktif di rumah maka kebersamaan aktivitas mungkin tidak terlalu sulit asal masing-masing ahli di bidangnya. Tetapi ketika suami istri sama-sama sibuk di luar rumah, supaya tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan dan tidak diduga maka harus memiliki komitmen yang jelas.

Empat penentu keharmonisan

Rumah tangga yang sakinah, mawaddah, rohmah, dan barokah baru bisa terwujud jika memiliki empat sarana dan ada kemauan untuk memanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Empat hal tersebut adalah:

  1. Cinta naluri dan syahwat
    Pada awalnya ketertarikan terhadap lawan jenis lebih didominasi oleh cinta naluri dan syahwat, itulah yang disebut mawaddah. Setebal apapun iman seseorang, suami atau istri pasti akan merasakan kekecewaan bila mengetahui bahwa dirinya atau pasangannya ternyata tidak sehat secara biologis. Oleh karena itu jika bermasalah dalam hal ini, bersegeralah berikhtiar utuk mengatasinya dan bicarakanlah bik-baik dengan pasangan.
  2. Persoalan perut
    Manusia adalah homo economicus, yaitu makhluk yang mampu memiliki kesadaran dan tuntutan ekonomi. Oleh karena itu salah satu fungsi berkeluarga adalah fungsi ekonomis. Keharmonisan rumah tangga bisa terganggu dan terancam apaila masalah perekonomian tidak terselesaikan. Secara konvensional dan secara normal, dalam pandangan ekonomi keluarga, suami bertanggung jawab terhadap lancarnya pengadaan logistik atau barang dan istri bertanggung jawab terhadap lancarnya jasa dan servis. Dalam ajaran islam, nafkah itu kewajiban suami dan bapak, sebaliknya menjadi hak istri dan ibu. “Dan kewajiban ayah adalah memberi makan dan pakaian kepada ibu dengan cara yang ma’ruf” (Q.S. Al-Baqoroh:233). Seorang sahabat bertanya, “Ya rosululoh, apa kewajiban seorang dari kami terhadap istrinya? Rosululloh menjawab, ‘bahwa engkau beri makan dia makan bila engkau makan dan engkau beri dia pakaian apabila engkau berpakaian’” (H.R. Abu Daud dan Nasa’i).

    Memberi nafkah adalah sesuai kemampuan, bukan sesuai dengan kemauan, termasuk menikah pun disyariatkan kepada para pemuda yang sudah mampu, bukan kepada yang sudah mau. “Orang-orang yang mampu hendaklah memberi nafkah menurut kemampuannya dan orang-orang yang disempitkan rizqinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan ALLOH kepadanya. ALLOH tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang ALLOH berikan kepadanya” (Q.S. Ath-Tholaq:7).

    Tidak ada dalil-dalil agama yang memerintahkan atau menganjurkan seorang istri atau ibu untuk mencari nafkah seperti yang diperintahan kepada suami atau bapak. Meskipun demikian kita juga tidak menemukan larangan atau celaan kepada istri atau ibu yang membantu mencari penghasilan demi tegaknya mekanisme rumah tangga.

    Rumah tangga akan terasa indah dan harmonis jika ketika suami pulang dari mencari nafkah, yang di samping lelah, banyak masalah, mungkin juga banyak godaan wanita jalanan yang nampak siap untuk melayani. Sesampainya di rumah disambut seorang istri yang sholihah yang siap dengan jasanya, servis dan pelayanannya. “Sebaik-baik istri ialah jika kamu memandangnya maka kamu akan terhibur, jika kamu suruh ia akan menuruti dan patuh, jika kamu bersumpah agar ia melakukan sesuatu maka dipenuhinya dengan baik dan jika kamu bepergian dijaganya dirinya dan hartamu.” (H.R. Nasa’I dan lain-lain).

    Agar seorang istri dan ibu profesional pada bidangnya, dibutuhkan suami yang bertanggung jawab dalam bidang nafkah. Kepemimpinan yang adil dan berwibawa. Memiliki kemauan dan kemampuan untuk menilai, menghargai, dan memuji prestasi keistrian dan keibuan, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik kepada istri” (H.R. Tirmidzi) “dan bergaullah dengan mereka dengan cara makruf, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal ALLOH menjadikan kepadanya kebaikan yang banyak.” (Q.S. An-Nisa’:19).
  3. Persoalan otak
    Otak manusia adalah alat untuk berhubungan dengan IPTEK, ilmu dan teknologi. Mengandalkan aspek biologis dan ekonomis tanpa dukungan IPTEK akan membuat rumah tangga kita nampak tradisional, terbelakang, dan primitif. Untuk itu, membangun rumah tangga dituntut berbekal ilmu dan wawasan. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengarang, penglihatan, dan hati, semuanya itu diminta pertanggungjawabannya” (Q.S. Al-Isro’:36).

    Ilmu yang dibutuhkan diantaranya ilmu syar’i yang dengannya mampu membedakan tauhid-syirik, ibadah-maksiat, halal-haram, baik-buruk, benar-salah, hak-kewajiban, syukur-kufur, dan lain-lain. Ilmu psikologi, ilmu gizi, ilmu sosial, ilmu pendidikan anak yang bisa mendukung status suami-istri dan bapak-ibu. Ilmu untuk menantu, anak, ipar, saudara, dan sebagai tetangga yang baik.

    Perceraian, broken home, konflik berkepanjangan dan lahirnya anak-anak yang nakal pada dasarnya diakibatkan oleh keberanian (nekat) meenikah tanpa berbekal ilmu. “Adakah sama orang yang mengetahui (berilmu) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (berilmu)” (Q.S. Az-Zumar:9) oleh karena itu setelah menikah lebih bersemangatlah mencari ilmu. Jangan jadikan peristiwa menikah sebagai hambatan dan penghalang untuk terus mencari ilmu.

    Teknologi yang kita miliki hendaknya lebih menekankan fungsi, bukan gengsi. Teknologi yang berfungsi akan memudahkan urusan kita sedangkan teknologi yang bernilai gengsi sering merepotkan kita. Bedakan antara teknologi yang kita butuhkan dengan teknologi yang kita inginkan.
  4. Persoalan hati
    Hati adalah alat untuk menangkap, memahami, dan menghayati iman dan taqwa (IMTAQ). Hati yang berkembang secara positif akan melahirkan pola pikir, pola sikap, dan pola tindak yang positif pula. IMTAQ inilah yang menjadi penentu barokahnya rumah tangga. “Jikalau sekiranya penduduk negri-negri beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat kami itu, maka akan kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (Q.S Al-A’rof:96).

    Paling tidak, IMTAQ bisa diwakili oleh delapan sikap. Empat sikap merupakan simbol hablumminalloh dan empat sikap sebagai simbol hablumminannas. “Mereka diliputi kehinaan di mana saja berada, kecuali jika mereka berpegang pada tali (agama) ALLOH dan tali (hubungan) dengan manusia” (Q.S. Ali Imron:112). Jika ingin meraih barokah ALLOH, perbaiki hubungan dengan ALLOH melalui empat aktivitas yaitu memperbanyak dzikir kepada ALLOH di mana saja, kapan saja, dan dalam keadaan apa saja. Berinteraksilah dengan ayat-ayat ALLOH, bacalah al-quran dengan memahami maknanya, bacalah sunnah-sunnah rosul-NYA karena keduanya sebagai buku petunjuk operasional dan teknisi instruktur opereasional untuk manusia. Tumbuhkan ketawakalan pada ALLOH, tidak cukup dengan percaya tetapi menaruh kepercayaan setelah ikhtiar maksimal jangan lupa selalu berdoa. Yang terakhir jangan sampai melalaikan sholat-sholat sunnat, itulah hak-hak ALLOH terhadap kita sebagai orang yang beriman (Q.S. Al-Anfal:2-4)

    Yang harus dibudayakan dalam kehidupan sehari-hari adalah empat sikap yaitu: tumbuhkanlah sikap kedermawanan, suka memberi, membantu dan sadar terhadap kewajiban asasi. Tingkatkanlah kemampuan mengendalikan diri, sabar. Jadilah manusia pemaaf bukan pendendam dan yang terakhir adalah latihan budaya introspeksi, muhasabah, sensitif dengan penyimpangan dan kemaksiatan (Q.S. Ali Imron:133-135)

    Apabila IMTAQ sudah menjadi fondasi bangunan rumah tangga, insya'alloh akan mendapat fasilitas dari ALLOH berupa jalan keluar atau solusi dari persoalan yang sudah di ambang jalan buntu atau deadlock. Akan dimudahkan untuk mendapat rizqi bahkan akan ditunjukkan adanya rizqi yang di luar dugaan dan perhitungan. Segala kebutuhan kita akan dimudahkan, posisi sosial kita dimuliakan dan diberi pahala yang berlipat-lipat (Q.S. Al-Jumu’ah:2-5) dengan demikian rumah tangga kita akan menjadi medan untuk meraih idealisme kita yaitu: “Ya tuhan kami, berikan kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka” (Q.S. Al-Baqoroh:201).
---end of this session---

Rapatkan Barisan

Wahid! Itsnain! Tsalatsa!


Rapatkan barisan! 
Rapatkan barisan! 
Rapatkan dan luruskan!



Perhatikan kakimu! 
Perhatikan bahumu! 
Luruskan dengan saudaramu!



Samakan langkahmu! 
Samakan lajumu! 
Pimpinan kita hanya satu!



Sesungguhnya ALLOH mencintai 
Pasukan yang berbaris rapi 
Seolah-olah bagaikan bangunan 
Satu sama lain... saling menguatkan!


Showwu shufufakum!


Bergerak searah 
Serentak melangkah 
Jangan sampai berpecah-belah



Dengarkan instruksi! 
Dengarkan dan taati! 
Laksanakan sepenuh hati!



Kuatkan ukhuwah! 
Perkokoh jama'ah! 
Asy-syaithonu ma'al-wahidah



Iltizam bisy-syari'ah 
Iltizam bil-jama'ah 
'Alal-qur'an was-sunnah


Allohu akbar!

Berdiri yang Dianjurkan

Banyak hadits shohih dan praktik para sahabat yang menunjukkan bolehnya berdiri untuk menyambut orang yang baru datang. Mari kita perhatikan hadits-hadits berikut:
  1. Rosululloh berdiri untuk menyambut putrinya, Fathimah, bila dia datang berkunjung ke rumah beliau; dan dia pun akan berdiri untuk menyambut Rosululloh bila beliau datang berkunjung ke rumahnya. Berdiri yang dilakukan oleh Rosululloh dan putrinya itu adalah berdiri untuk menyambut tamu. Hal itu dibolehkan berdasarkan hadits Nabi (artinya): “Barang siapa beriman kepada Alloh dan hari akhir, hendaklah dia menghormati tamunya!” (Hadits ini adalah muttafaqun ‘alaih) Tentu dibolehkan berdiri menyambut tamu itu hanyalah si pemilik rumahnya.
  2. “Berdirilah kalian (untuk memberi pertolongan) kepada pemimpin kalian!” (Hadits ini muttafaqun ‘alaih) Dalam riwayat lain: “...Kemudian turunkanlah dia!”
    Hadits tersebut muncul berkenaan dengan Sa’ad, (pemimpin kaum Anshor) yang waktu itu terluka, yang dalam kondisi seperti itu diminta oleh Rosululloh memberi keputusan hukum dalam perkara orang Yahudi. Lalu, Sa’ad pun mengendarai khimar (=keledai). Ketika sampai di tempat tujuan Rosululloh berkata kepada orang-orang Anshor: “Berdirilah (untuk memberi pertolongan) kepada pemimpin kalian dan turunkanlah!”

    Berdiri dalam kondisi seperti itu jelas dianjurkan karena memang diperlukan untuk menolong Sa’ad, pemimpin para sahabat Anshor yang waktu itu terluka, yaitu menolongnya untuk turun dari punggung khimar agar tidak terjatuh. Rosullulloh sendiri tidak ikut berdiri, begitu juga sahabat-sahabat yang lain. 

    Tersebut dalam sebuah hadits bahwa suatu ketika seorang sahabat nabi yang bernama Ka’ab bin Malik masuk masjid sedangkan para sahabat lainnya sedang duduk-duduk. Melihat Ka’ab masuk, salah seorang sahabat yang bernama Thalhah berdiri, lalu berlari-lari kecil bergegas untuk memberi kabar gembira lantaran taubatnya diterima oleh Alloh. (Sebelumnya dia dikucilkan oleh Rosululloh dan para sahabatnya) karena tidak ikut berperang. 

    Berdiri semacam itu diperbolehkan, karena untuk memberi kabar gembira kepada orang yang sedang merasakan kesedihan, yaitu menyampaikan kabar kalau taubatnya telah diterima oleh Alloh.


    Berdiri untuk menyambut orang yang baru datang dari perjalanan jauh seraya memeluknya juga diperbolehkan. Kalau kita perhatikan hadits-hadits yang membolehkan berdiri kepada seseorang adalah dengan lafal “Ilaa sayyidikum”, “Ilaa Tholhah”, “Ilaa Faathimah” Sedangkan hadits-hadits yang melarangnya adalah menggunakan lafal “lahu”. Ada perbedaan yang sangat jauh antara kedua lafal tersebut. “Qooma ilaihi” berarti bergegas menuju seseorang untuk menolong atau untuk menyambut dan memuliakannya; sedangkan “Qooma lahu” artinya ialah berdiri di tempat untuk mengagungkan seseorang.
Dikutip dari Al-Firqotun Najiyah: Jalan Hidup Golongan yang Selamat karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu diterjemahkan oleh Abu Shafiya diterbitkan oleh Media Hidayah tahun 2003

Larangan Berdiri untuk Menghormati Seseorang


Pernahkah Antum melihat para tamu undangan berdiri ketika mempelai yang mengadakan walimah memasuki ruangan? 
Pernahkah Antum melihat peserta pertemuan berdiri ketika orang penting, pejabat, atau tamu istimewa memasuki ruangan? 
Pernahkah Antum melihat pelayat berdiri ketika jenazah hendak diberangkatkan ke makam? 
Pernahkah Antum melihat peserta upacara berdiri ketika lagu tertentu dinyanyikan? 
Hal-hal tersebut yang menimbulkan pertanyaan dalam diri ana beberapa waktu lalu, "Untuk apa? Penting ya?" 

Ah, mungkin orang-orang akan menilai ana tidak punya tata krama atau unggah-ungguh atau entahlah. Hal lain yang membuat ana risih adalah ketika ana berada di sebuah pondok pesantren dan kebetulan pondok kami kedatangan tamu seorang, beberapa orang kiyai, syaikh atau habib, mungkin juga ketika ana bertamu ke sebuah pondok pesantren lalu menemui sang kiyai, para santri biasanya berebut mencium tangan dan berbagai tingkah lain yang menurut ana terlalu berlebihan. Baiklah jika alasannya bahwa mereka adalah orang-orang berilmu dan perlu dihormati, tapi apakah perlu dengan cara-cara se-ta'dzim itu?

Ana pernah membaca sebuah buku yang ana lupa judulnya karena sudah sejak SMP mungkin, di sana ada kisah ketika Rosululloh menolak dicium tangannya oleh para sahabat. Allohu a'lam... akhirnya kegundahan hati terobati dengan belajar dan belajar. Ulama', kiyai, syaikh, habib, ustadz, atau siapapun yang berilmu dan berkedudukan penting memang perlu dihormati tapi tidak sampai berlebihan, kesimpulan ana seperti itu.


Berikut ini sepenggal bab dalam buku Al-Firqotun Najiyah: Jalan Hidup Golongan yang Selamat karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu diterjemahkan oleh Abu Shafiya diterbitkan oleh Media Hidayah tahun 2003. Semoga kita bisa beroleh ibroh dari yang sedikit ini:

Larangan Berdiri untuk Menghormati Seseorang


Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda (artinya): “Barang siapa suka dihormati orang lain dengan berdiri, maka hendakliah siap mendiami neraka.” (Hadits di atas shohih; diriwayatkan oleh Amad) 

Anas rodliyallohu ‘anhu berkata, “Tidak ada seorangpun yang lebih dicintai oleh para sahabat daripada rosululloh. Meskipun begitu, bila mereka melihat rosululloh (datang), mereka tidak berdiri (untuk menghormati beliau). Sebab mereka tahu bahwa beliau membenci hal itu.” (Hadits ini shohih; diriwayatkan oleh At-Tirmidzi).


Hadits nabi di atas menjelaskan kepada kita bahwa seorang muslim yang suka dihormati dengan berdiri ketika dia hendak masuk ke suatu majlis, maka hendaklah siap masuk ke neraka. Para sahabat rodliyallohu ‘anhum sangat mencintai rosululloh. Meskipun begitu, ketika rosululloh masuk ke dalam majlis mereka, mereka tidak berdiri untuk menghormati beliau. Karena mereka mengetahui bahwa rosululloh membenci hal semacam itu.


Orang-orang biasa berdiri untuk menghormati sesamanya; lebih-lebih ketika ada seorang Syaikh datang untuk memberikan ta’lim atau ketika dia datang ke suatu tempat pertemuan tertentu. Begitu juga, ketika ada seorang guru masuk ke kelas biasanya para muridnya akan segera berdiri memberi hormat kepadanya. Biasanya seorang murid yang tidak mau berdiri menghormat gurunya akan dikatakan sebagai anak yang tidak tahu adab dan tidak mau menghormati gurunya. 

Diamnya syaikh atau guru terhadap orang-orang yang berdiri menghormatinya atau mencela seorang murid yang tidak mau melakukan perbuatan tersebut menunjukkan bagwa syaikh atau guru tadi memang suka dihormati dengan cara berdiri dan sudah tentu siap juga untuk masuk neraka. Kalau mereka tidak suka atau benci dihormati dengan cara berdiri seperti itu tentu dia akan mengajari para muridnya dan menegur mereka ketika mereka berdiri untuk menghormatinya, serta menyampaikan kepada mereka hadits-hadits yang melarang hal itu.



Membiasakan berdiri untuk menghormati orang lain atau orang yang masuk ke suatu majlis akan menanamkan pada hati orang tersebut rasa senang dihormati dengan berdiri dan dia akan merasa kurang lega kalau tidak dihormati dengan cara berdiri. Orang-orang yang memberi penghormatan dengan cara berdiri itu telah membantu setan dalam melanggengkan tindakan semacam itu. Padahal rosululloh bersabda (artinya): “Janganlah kalian menjadi penolong setan dalam memperdaya saudara kalian” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori) 

Orang-orang yang biasa memberi penghoratan dengan berdiri itu berkata, “Kami berdiri menghormati guru atau syaikh adalah karena keutamaan ilmunya.” 

Kita balik bertanya kepada mereka, “Bukankah tidak kita ragukan lagi keilmuan Rosululloh dan adab para sahabat terhadap beliau? Meskipun begitu, bukankah para sahabat tidak berdiri dalam mengekspresikan rasa hormat mereka terhadap beliau?" 

Islam tidak mengajarkan cara menghormati seseorang dengan berdiri. Islam mengajarkan, bahwa menghormati seseorang adalah dengan taat dan mematuhi perintahnya, serta dengan mengucap salam dan menjabat tangannya.



Jangan diikuti perkataan seorang penyair yang bernama Syauqi yang berkata: 
Berdirilah untuk sang guru, 
Penuhilah penghormatan untuknya 
Hampir saja seorang guru itu 
Seperti seorang rosul


Karena perkataan di atas bertentangan dengan perkataan Rosululloh yang ma’shum dan beliau sendiri membenci seseorang yang berdiri untuk menghormati orang lain. Barang siapa yang suka melakukan tindakan tersebut berarti dia siap masuk ke neraka.

Banyak kita temuai di pertemuan-pertemuan, jika ada orang kaya masuk, maka orang-orang pun serentak berdiri. Tetapi bila yang masuk orang yang miskin, maka tak seorang pun yang sudi berdiri untuk menghormatinya. Perlakuan semacam itu jelas akan membuat hati si miskin merasa iri terhadap si kaya dan dongkol terhadap para hadirin lain yang tidak mau berdiri menghormatinya.

Akhirnya akan terjadi saling membenci di atara sesama orang Islam, yang disebabkan oleh masalah berdiri. Padahal bisa jadi si miskin yang tidak dihormati dengan berdiri itu jauh lebih mulia dari si kaya yang mendapat penghormatan dengan berdiri. Hal itu dikarenakan Allah telah berfirman (artinya): “Sesungguhnya orang yang termulia di antara kalian menurut pandangan Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurot:13)


Mungkin ada yang berkata, “Jika kita tidak berdiri untuk menghormati orang yang masuk ke suatu pertemuan, maka dikhawatirkan akan menimbulkan rasa tidak enak pada dirinya terhadap orang-orang yang tidak mau berdiri menghormatinya.” 

Kita katakan saja kepadanya, “Bila begitu halnya, kita jelaskan saja kepada orang yang baru datang ke pertemuan itu bahwa kecintaan itu adanya pada hati. Dan kita ingin meneladani rosululloh yang tidak menyukai para sahabatnya berdiri untuk menghormati beliau. Kami tidak ingin masuk neraka gara-gara (berdiri untuk menghormati) orang yang datang itu.”


Terkadang kita mendengar sebagian syaikh mengatakan bahwa Hisan, salah seorang penyair rosululloh pernah berkata dengan syairnya: “Berdiri untuk menghormatiku adalah wajib.” Perkataan syaikh tadi tidaklah benar.


Alangkah indah apa yang dikatakan oleh murid Ibnu Bathah Al-Hanbali: 
Bila sehat nurani kita 
Buat apa kita menyusah-nyusahkan badan 
Jangan bebani saudaramu, saat bertemu 
Dengan menghalalkan apa yang haram untukmu 
Setiap kita percaya terhadap kecintaan murni saudaranya 
Maka, atas dasar apa kita bersusah payah


Mars Korsad


(Jejak)
by Maidany



Menapaki langkah-langkah berduri 
Menyusuri rawa lembah dan hutan 
Berjalan di antara tebing curam 
Semua dilalui demi perjuangan



Letih tubuh di dalam perjalanan 
Saat hujan dan badai merasuki badan 
Namun jiwa harus terus bertahan 
Karena perjalanan masih panjang



Kami adalah tentara ALLOH 
Siap melangkah menuju ke medan juang 
Walau tertatih kaki ini berjalan 
Jiwa perindu syahid tak akan tergoyahkan



Wahai tentara ALLOH bertahanlah 
Jangan menangis walau jasadmu terluka 
Sebelum engkau bergelar syuhada' 
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah 
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah 
Tetaplah bertahan dan bersiap siagalah



Gunung tinggi menjulang, samudra luas membentang, adalah lahan peneguhan 
Hutan rimba, padang gersang, jadi ajang pembuktian 
Hujan badai, terik panas kerontang, pasti 'kan hiasi perjalanan 
Saat langkah telah diayunkan, pantang surut ke belakang, hingga sampai ke tujuan 


Bertahanlah dan bersiap siagalah!

Pandu Keadilan

by Ar-Ruhul-Jadid


Bergerak pandu keadilan 
Serentak satukan barisan 
Tak gentar maju ke hadapan 
Tegakkan kebenaran



Bersiapsiagalah pandu keadilan 
Serentak satukan kekuatan 
Tak goyah menghalau rintangan 
Melawan kebatilan



Berbekal takwa dan iman 
Hancurkan kedzoliman 
Islam sebagai panduan 
Satu komando satu perjuangan 
Satu komando satu tujuan



Alloh tujuan kami 
Muhammad rosul teladan kami 
Alquran suci pedoman kami 
Jihad adalah jalan hidup kami 
Ketho'atan jadikan keutamaan dalam setiap langkah perjuangan 
Kesabaran menjadi pegangan tuk raih kemenangan



Alloh ghoyatuna 
Muhammad ar-rosul qudwatuna 
Al-qur'anul-karim dusturuna 
Al-Jihad sabiluna 
Syahid asma amanina



Alloh tujuan kami 
Muhammad rosul teladan kami 
Alquran suci pedoman kami 
Jihad adalah jalan hidup kami 
Syahid adalah cita kami tertinggi 
Syahid adalah cita kami tertinggi

Harapan Itu Masih Ada

by Shoutul-Harokah


Tatap tegaklah masa depan 
Tersenyumlah tuk kehidupan 
Dengan cinta dan sejuta asa 
Bersama membangun indonesia



Pegang teguhlah kebenaran 
Buang jauh nafsu angkara 
Berkorban dengan jiwa dan raga 
Untuk tegaknya keadilan



Bangkitlah negeriku!
Harapan itu masih ada
Berjuanglah bangsaku!
Jalan itu masih terbentang



Slama matahari bersinar 
Slama kita terus berjuang 
Slama kita satu berpadu 
Jayalah negeriku! 
Jayalah!

Ah, Ustadz bisa aja...

Tidur Nelentang Bisa Mati

Suatu malam, di sebuah villa di kawasan puncak, para peserta dauroh (training) yang terlihat letih bersama Ustadz Rahmat Abdullah, berniat merebahkan tubuh mereka untuk beristirahat. Sang ustadz yang melihat mereka berbaring di atas lantai tak lupa berpesan, "Hei, kalian tidur jangan nelentang ya. Kalian bisa mati nanti."

Mendengar perkataan yang sepertinya serius itu, mereka buru-buru memperbaiki posisi tidur mereka. Tapi nasehat ini terasa aneh, sehingga membuat mereka terdiam dan berpikir.
Salah seorang peserta memberanikan diri bertanya, "Lho kok begitu, Ustadz?"

Sang ustadz yang ditanya diam tak berkomentar. Sementara yang lain sibuk memikirkan apa yang dimaksud ustadz sebenarnya. Tak lama kemudian, mereka semua tergelak tertawa, sebab ternyata yang dimaksud nelentang oleh sang ustadz bukanlah posisi terlentang seperti yang mereka sangka. Tetapi yang dimaksud adalah nelen tang (nama alat temennya obeng).

Nelen biskuit sambil tiduran saja bisa keselek, apalagi nelen tang!.*****
Hehehe... =D

Sang Murobbi

by: Izzatul Islam


Ribuan langkah kau tapaki 
Pelosok negri kau sambangi 
Ribuan langkah kau tapaki 
Pelosok negri kau sambangi



Tanpa kenal lelah jemu 
Sampaikan firman Tuhanmu 
Tanpa kenal lelah jemu 
Sampaikan firman Tuhanmu



Terik matahari 
Tak surutkan langkahmu 
Deru hujan badai 
Tak lunturkan azzammu



Raga kan terluka 
Tak jerikan nyalimu 
Fatamorgana dunia 
Tak silaukan pandangmu



Semua makhluk bertasbih 
Panjatkan ampun bagimu 
Semua makhluk berdoa 
Limpahkan rahmat atasmu



Duhai pewaris nabi 
Duka fana tak berarti 
Surga kekal dan abadi 
Balasan ikhlas di hati



Cerah hati kami 
Kau semai nilai nan suci 
Tegak panji Illahi 
Bangkit generasi Robbani..


Semesta Memintakan Rohmat

"Sesungguhnya ALLOH Yang Maha Suci dan para malaikat-NYA serta semua penghuni langit dan bumi-NYA, sampai semut dalam lubangnya dan ikan di dasar laut sekalipun, niscaya senantiasa memintakan rohmat bagi orang-orang yang mengajar kebaikan kepada manusia."
(H.R. At-Tirmidzi dari Abi Umamah)