Masihkah Mencari Rukhshoh?

Aku memilih duduk di pojok kiri depan usai menunaikan dua roka'at sunnah. Ada yang aneh! Kenapa semua jama'ah memilih menunggu iqomat di belakang? Hanya seorang muadzin di barisan terdepan. Kusimpan rasa penasaranku.

Takbir kedua - iqomat membuatku beranjak berdiri satu bahu sebelah kiri di belakang posisi imam. Aku tidak biasa berdiri tepat di belakang imam jika berjama'ah dalam perjalanan. Kagetlah aku, jama'ah yang tadi duduk di belakang tidak semua berdiri, banyak dari mereka menuju shoff pertama sambil duduk. Subhanalloh, ternyata mereka adalah karyawan sebuah yayasan non muslim di dekat masjid itu. Yayasan itu memang menampung, membina dan mempekerjakan orang-orang (maaf) cacat. Rata-rata kaki mereka kurang normal, kurang lengkap, bahkan tiada sama sekali.

Ya Alloh, tiga orang di samping kiriku sholat sambil duduk, di ujung shoff sebelah kanan juga. Anggota jama'ah saat itu sebagian besar merupakan orang cacat. Yang lebih mengagetkan adalah sang imam. Awalnya aku heran kenapa beliau menuju tempat imam dengan "engklek" (berjalan dengan melipat salah satu kaki), ternyata kaki beliau memang hanya satu. Subhanalloh, beliau pun menjadi imam menggunakan gerakan sholat normal, dengan bertumpu pada satu kaki!

Aku merasa "makjlebb", teringat diri yang suka menunda ke masjid menunggu iqomat, teringat malasnya adzan di masjid sendiri karena tak pernah, jarang sekali ada jama'ah merasa terpanggil. Ketika SMA aku sering mengalami cidera kaki. Mungkin lebih dari tiga kali sendi mata kaki kananku dislokasi. Hikmah yang kuambil waktu itu selalu "Mungkin karena aku enggan melangkah ke masjid."

Tak malukah kita pada mereka? Dengan segala keterbatasan mereka masih menyempatkan diri hadir sholat jama'ah bahkan sebelum iqomat berkumandang. Nampaknya mereka jauh lebih pandai mensyukuri nikmat fisik yang terbatas dibanding kita yang dikaruniai nikmat fisik yang begitu lengkap.


Seorang teman pernah menceritakan kisah pemuda bernama Ibrahim. Ibrahim dikaruniai tubuh yang kurang sempurna oleh Alloh. Hebatnya, ia sangat taat. Suatu saat Ibrahim menangis dalam pembaringan. Ia menangis ketika ditemui beberapa masyayikh dan ditanyai perihal keadaannya. "Wahai Ibrahim, apa sekiranya yang akan kau lakukan jika Alloh memberimu jasmani yang sempurna?" kira-kira pertanyaannya seperti itu. 

Sesenggukan Ibrahim, hampir tak kuasa menjawab, lalu ia berkata, "Saya akan lebih banyak lagi beribadah pada Alloh dibanding sekarang."


Kita, dengan segala kesempurnaan penciptaan-Nya, lebih giat atau justru lebih lalai dibanding mereka? Sungguh mahal nikmat yang diberikan-Nya pada kita. Kita diberi cuma-cuma, hanya perlu bersyukur, tapi sepertinya... Ah, yang menulis ini juga masih kurang bersyukur. Semoga Alloh tidak murka, saya berlindung pada Alloh dari keburukan pribadi dan amal saya. Mari kita tingkatkan kuantitas dan kualitas ibadah kita...

(Anda bisa menemui suasana di awal tulisan ini jika sholat jama'ah dzuhur di masjid As-Sa'adah jalan Kaliurang km 13,8. Masjid itu biasa digunakan teman-teman aktivis dakwah kampus UII untuk konsolidasi, kajian, dsb ketika mereka berada di luar kampus)

2 komentar:

Anonim mengatakan...

subhanalloh akhi tulisa dan pengalaman antum luar biasa...semoga kita selalu bisa memperbaiki segala akhlak dan tingkah laku kita karena keadan kita lebih baik dibanding mereka...kalo mereka bisa kenapa kita tidak...he....wah dah mulai katif diBlok ini yo...jadi gak bisa cating2 lagi di Facebook...yaudah yang penting tetep sumuangad...

Akhid Nur Setiawan mengatakan...

Insya'alloh besok facebook saya aktifkan lagi kalo perlu nge-tag undangan walimah, hehe... Baarokalloh... :)

Posting Komentar