Tak ada yang sia-sia dalam setiap kelahiran anak manusia. Masing-masing kita punya peran. Kita merupakan bagian-bagian tak terpisahkan dari sebuah peradaban. Saya hanya ingin ambil bagian, memperjuangkan peradaban. Jika Anda berkenan, mari bergabung dalam satu barisan. Jika Anda tidak berkenan, Anda tetaplah bagian dari sebuah peradaban, tetap diperjuangkan.

Istikhoroh

“Do’a istikhoroh ini kalian semua harus hafal karena ini penting. Suatu saat kalian pasti membutuhkan do’a ini. Banyak pilihan dalam hidup yang perlu istikhoroh. Pilihan-pilihan besar dan menentukan, misalnya apa? Selain kalau mau nikah memilih calon pasangan hidup? Nanti kalian akan memilih jurusan kuliah. Apa lagi? Memilih pekerjaan, memilih tempat tinggal atau rumah. Semua itu memerlukan istikhoroh. Tidak hanya dihafal tapi artinya juga harus difahami.”

Kira-kira seperti itu pesan guru agama kami waktu SMA. Pak Hamid Supriyatna memaksa kami menghafal do’a istikhoroh yang ternyata tidak terlalu dipaksakan untuk dihafal di kelas lain. Akhirnya satu per satu siswa kelas kami dites untuk melafalkannya tanpa teks alias hafalan. Benarlah nasihat beliau, banyak hal yang pada waktunya kudo’ai dengan do’a ini, bahkan ketika memilih jawaban ujian multiple choice, hehe...


Landasan syar’i disunnahkannya istikhoroh dalam memutuskan pilihan-pilihan dalam hidupdiriwayatkan oleh Bukhori dari Jabir bin Abdillah rodhiyallohu ‘anhu. Adapun teks Arabnya silakan cari di buku-buku do’a, berikut ini hanya artinya: 

Jabir bin Abdillah rodhiyallohu 'anhu berkata: Adalah Rosululloh shollallohu 'alaihi wa sallam mengajari kami sholat istikhoroh untuk memutuskan segala sesuatu, sebagaimana mengajari surah Al-Qur'an. Beliau bersabda: "Apabila seseorang di antara kamu mempunyai rencana untuk mengerjakan sesuatu, hendaklah melakukan sholat sunnah dua roka'at selain sholat fardhu, kemudian bacalah do'a ini: 'Ya Alloh, sesungguhnya aku minta pilihan yang tepat kepada-Mu dengan ilmu pengetahuan-Mu dan aku mohon takdir-Mu dengan kemahakuasaan-Mu, aku mohon kepada-Mu sesuatu dari anugerah-Mu yang agung. Sesungguhnya Engkau berkuasa, sedang aku tidak berkuasa. Dan Engkau mengetahui sedang aku tidak mengetahui. Dan Engkau Maha Mengetahui hal-hal yang ghoib. Ya Alloh, apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini (orang yang mempunyai hajat hendaklah menyebut persoalannya) baik untukku, dalam agamaku dan penghidupanku dan akibatnya terhadap urusanku -atau Nabi shollallohu 'alaihi wa sallam bersabda: di dunia atau akhirat (terdapat keraguan perawi hadits), maka takdirkanlah untukku dan permudahlah bagiku lalu berkahilah bagiku di dalamnya. Dan apabila Engkau mengetahui bahwa urusan ini buruk untukku, dalam agamaku dan penghidupanku dan akibatnya terhadap urusanku, maka jauhkanlah ia dariku dan jauhkanlah aku darinya dan takdirkanlah untukku kebaikan bagaimanapun keadaannya lalu buatlah aku ridho dengannya.'" (H.R. Bukhori 7/162)



Apakah harus mimpi?

Tidak ada satu keterangan pun yang menjelaskan bahwa hasil dari shalat istikharah berupa sebuah mimpi. Sejumlah ulama di antaranya Imam An-Nawawi menyatakan bahwa pilihan akan diberikan kepada orang yang melaksanakan shalat tersebut adalah dengan dibukakan hatinya untuk menerima atau melakukan suatu hal. 

Tetapi pendapat ini ditentang oleh sejumlah ulama di antaranya Al-'Iz ibn Abdis-Salam, Al-'Iraqi dan Ibnu Hajar. Bahwasanya orang yang telah melaksanakan shalat istikharah hendaklah melaksanakan apa yang telah diazamkannya, baik hatinya menjadi terbuka maupun tidak tidak. 

Ibnu Az-Zamlakani berkata bahwa bila seseorang melaksanakan shalat istikharah dua rakaat karena sesuatu hal, maka hendaklah ia mengerjakan apa yang memungkinkan baginya, baik hatinya menjadi terbuka untuk melakukannya atau tidak. Karena sesungguhnya kebaikan ada pada apa yang dia lakukan meskipun hatinya tidak menjadi terbuka. Beliau berpendapat demikian karena dalam hadits Jabir tidak dijelaskan adanya hal tersebut. Untuk lebih jelasnya masalah ini silahkan rujuk kitabThabaqat Asy-Syafi'iyah oleh Ibnu As-Subki pada jilid 9 halaman 206. 

Sedangkan hadis Anas bin Malik yang dijadikan landasanoleh Imam An-Nawawi didhaifkan oleh sejumlah ulama, sebagaimana disebutkan di dalam kitab penjelasan shahih Bukhari, yaitu kitab Fathul Bari jilid 11 halaman 187. (Ahmad Sarwat, eramuslim.com)



Sudah istikhoroh koq masih bingung...

Jika sudah istikhoroh, yang perlu didengarkan bukanlah suara-suara di luar sana tapi suara di dalam “sini”! (ini pendapat saya)


Sebenarnya ada dua hal penting ketika kita dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit dan sangat berarti dalam hidup. Kita bisa menentukan pilihan terbaik dengan ISTISYAROH dan ISTIKHOROH.

Istisyaroh memungkinkan kita mengetahui kebaikan-kebaikan serta berbagai keburukan suatu opsi dengan memusyawarahkannya, mendengar pendapat sana-sini diramu dengan pendapat kita pribadi. Pada tahap ini bisa saja muncul kecenderungan terhadap salah satu pilihan atau bahkan sama sekali masih juga ragu.

Selanjutnya kita perlu istikhoroh. Inilah saat kita benar-benar minta dipilihkan oleh ALLOH. Apakah hati harus benar-benar netral terhadap pilihan-pilihan yang ada? Tidak juga! Silakan cenderung jika memang kita sudah memberatkan pada salah satu pilihan yang mungkin muncul setelah musyawarah. Yang terpenting adalah ketulusan dan keikhlasan hati dalam meminta petunjuk pada Alloh. Adapun pintu musyawaroh terhadap manusia bisa dikatakan sudah tertutup sejak kita mengakhirkan pilihan kita pada Alloh. Jika ada pendapat-pendapat lagi dari manusia, hakikatnya itu adalah petunjuk Alloh tapi yang jelas setelah istikhoroh kita hanya perlu berdialog dengan Alloh, dengarlah suara yang masuk melalui hati, mantapkan hati.

Satu hal yang cukup penting direnungi bahwa jika kita melakukan istikhoroh, pilihan kita sesungguhnya tidak terlalu berpengaruh terhadap takdir Alloh tentang pilihan kita. Bisa jadi pilihan kita memang sudah sesuai dengan apa yang di mata Alloh terbaik untuk kita, agama kita, penghidupan kita, akibat dari urusan-urusan kita, serta akhirat kita tapi bisa jadi pilihan kita belum sesuai dengan berbagai kebaikan tersebut. Inilah peranan istikhoroh! Seakan tidak pernah ada pilihan salah karena pilihan manapun yang kita ambil, ALLOH pasti menunjukkan yang terbaik.

Kesungguhan kita minta dipilihkan oleh ALLOH akan menentukan jalan bagi mudahnya kita menemui takdir terbaik. Pilihan kita bisa jadi dipersulit sehingga akhirnya kita dengan mudah menemui pilihan yang pada awalnya tidak kita pilih. Allohu a’lam...

Kesimpulannya, ISTISYAROH (bermusyawarohlah) lalu ISTIKHOROH (menyerahkan/ mengakhirkan pilihan kita pada ALLOH) lalu MEMILIH, BERAZAM dan TAWAKKAL. Sabarlah jika ternyata yang ditakdirkan ALLOH tidak sesuai keinginan kita karena ALLOH jauh lebih mengetahui yang terbaik daripada kita.


Firman Alloh: 
“...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqoroh: 216)


Apapun takdir yang akhirnya kita temui dalam pilihan kita, sesungguhnya ilmu pengetahuan Alloh itu mutlak, qodar dan kehendak Alloh itu mutlak, keadilan Alloh itu mutlak, dan hikmah Alloh itu mutlak.

Renungi kembali makna doa istikhoroh, sungguh doa yang dahsyat! Inilah ISLAM!

Allohu a’lam... Baarokallohu fiik...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar